Parpol Indonesia di Persimpangan, Pilih Dinasti atau Meritokrasi?

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Bahlil Lahadalia. (Sumber: Kementerian ESDM)
Bahlil Lahadalia. (Sumber: Kementerian ESDM)

Pertemuan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada awal Agustus lalu menjadi perbincangan publik.

Banyak yang menilai momen ini menegaskan posisi Bahlil sebagai figur penting di panggung politik nasional. Apalagi tidak lama berselang, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipurna dari Presiden Joko Widodo, sebuah penghargaan yang menandai kontribusinya dalam pemerintahan dan politik.

Dua momentum ini menjadi simbol keberhasilan Bahlil dalam menahkodai Golkar yang selama ini dikenal sebagai partai tua dengan dinamika internal yang kompleks.

Yang menarik, kepemimpinan Bahlil menghadirkan pesan berbeda. Ia bukanlah pewaris keluarga politik, bukan pula bagian dari trah lama yang biasa menghiasi kursi elite. Latar belakangnya sederhana, perjalanan hidupnya ditempa oleh dunia usaha dan organisasi kepemudaan.

Justru dari situ, ia memperlihatkan bahwa kepemimpinan partai besar tidak harus lahir dari privilese darah biru, melainkan dari kemampuan nyata membangun jaringan, strategi, dan pencapaian konkret.

Setahun memimpin, ia berhasil mengantarkan Golkar meraih kemenangan di sejumlah pilkada strategis, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi Selatan. Tidak hanya mengandalkan tokoh senior, ia memberi ruang kepada kader muda untuk tampil.

Salah satu contohnya adalah Sashabila Mus Sasha yang berhasil maju sebagai calon kepala daerah di Taliabu, Maluku Utara. Kebijakan ini mencerminkan upaya serius menyiapkan regenerasi politik yang tidak bergantung pada nama besar keluarga, melainkan pada kapasitas personal.

Fenomena ini jelas berbeda dengan praktik di beberapa partai lain. Kaesang Pangarep diangkat menjadi Ketua Umum PSI dalam usia muda, terutama karena statusnya sebagai putra presiden. Agus Harimurti Yudhoyono menduduki kursi Ketua Umum Partai Demokrat melalui garis keturunan politik keluarga besar Cikeas.

Kedua contoh ini memperlihatkan bagaimana politik dinasti masih menjadi jalan pintas yang sah dalam sistem demokrasi kita. Tidak melanggar hukum, tetapi menimbulkan keraguan publik mengenai kualitas demokrasi yang sesungguhnya.

Politik dinasti, sebagaimana diteliti oleh sejumlah akademisi, melemahkan prinsip meritokrasi. Akses kepemimpinan menjadi terbatas, kompetisi politik berkurang, dan kader partai yang telah berproses lama sering kali tersisih. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis kepercayaan publik pada partai politik.

Sebaliknya, jika meritokrasi dijadikan prinsip, kaderisasi akan berjalan lebih sehat dan masyarakat dapat melihat bahwa siapa pun, dengan kemampuan dan dedikasi, berhak memimpin.

Bahlil Lahadalia. (Sumber: Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral)
Bahlil Lahadalia. (Sumber: Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral)

Golkar dengan Bahlil mencoba memberi contoh bahwa jalan meritokrasi masih mungkin ditempuh. Strategi ini sekaligus menjadi pembeda di tengah citra partai-partai lain yang cenderung menguatkan politik keluarga. Model kepemimpinan seperti ini memberi harapan bahwa partai tidak hanya milik elite, tetapi juga milik kader yang berangkat dari bawah.

Jika melihat praktik internasional, kita menemukan banyak figur besar yang lahir dari jalur meritokrasi. Angela Merkel di Jerman muncul sebagai ilmuwan yang meniti karier politik dari nol, bukan dari dinasti. Lula da Silva di Brasil lahir dari keluarga miskin dan bekerja keras hingga menjadi presiden dua periode.

Mahathir Mohamad di Malaysia juga tidak berasal dari keluarga politik, tetapi berhasil membangun reputasi lewat kapasitas pribadi. Mereka adalah contoh bahwa demokrasi yang sehat selalu membuka ruang selebar-lebarnya bagi siapa pun.

Pelajaran dari luar negeri ini sejalan dengan apa yang sedang dirintis Golkar di bawah Bahlil. Kemenangan dalam sejumlah pilkada menjadi bukti bahwa rakyat merespons positif figur baru yang lahir bukan dari keturunan elite, melainkan dari kerja keras nyata. Ke depan, keberanian partai untuk menempuh jalur meritokrasi akan menentukan kualitas demokrasi Indonesia.

Namun tantangan tentu masih besar. Tradisi politik keluarga sudah mengakar, terutama di daerah. Banyak kepala daerah yang menyiapkan anak atau kerabat untuk meneruskan kekuasaan. Fenomena ini sering dianggap wajar oleh masyarakat, padahal pada akhirnya mempersempit ruang kompetisi.

Untuk memutus rantai tersebut, partai politik harus berani mengambil sikap. Rekrutmen kader berbasis kapasitas dan rekam jejak harus dijalankan secara konsisten. Mekanisme demokratis internal partai perlu diperkuat, bukan sekadar formalitas.

Buku-buku politik modern menegaskan bahwa demokrasi hanya akan bertahan jika partai sebagai institusi utama benar-benar terbuka. Jika tidak, publik akan semakin apatis. Demokrasi kehilangan maknanya ketika pilihan rakyat hanyalah pilihan yang sudah ditentukan oleh lingkaran elite.

Karena itu, kisah Bahlil di Golkar seharusnya dibaca bukan hanya sebagai kisah personal, tetapi juga sebagai momentum perubahan paradigma. Apabila partai-partai lain menempuh jalan serupa, Indonesia bisa melahirkan lebih banyak pemimpin meritokratis yang muncul dari berbagai latar belakang. Demokrasi kita pun akan lebih sehat, lebih segar, dan lebih sesuai dengan cita-cita reformasi.

Akhirnya, pertanyaan penting bagi masa depan politik kita adalah apakah partai-partai lain berani meninggalkan jalan pintas dinasti dan memilih jalur meritokrasi. Jika jawabannya ya, maka publik akan kembali percaya bahwa partai politik benar-benar menjadi rumah bersama, bukan milik keluarga tertentu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)