Hikayat Kopi Javaco Bandung, Harta Karun Legendaris Sejak 1928

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Toko Kopi Javaco
Toko Kopi Javaco

AYOBANDUNG.ID - Kopi sekarang kebanyakan jadi gaya hidup. Harus diseduh manual, diminum perlahan, sambil selfie dan update caption puitis. Tapi Javaco tak butuh semua itu. Ia sudah eksis sejak 1928, diseruput diam-diam oleh para sinyo dan noni di Hindia Belanda, bukan anak senja pemburu estetika. Tak ada latte art, tak ada sofa empuk. Yang ada cuma rasa yang tidak pernah bohong sejak zaman kolonial.

Javaco bukan merek kopi kekinian yang suka pakai nama asing dan logo daun berembun. Ia justru lahir dari zaman saat orang belum kenal cappuccino, dan barista masih terdengar seperti nama penyakit. Berdiri sejak 1928, kopi ini lebih tua dari kemerdekaan negeri, dan nyaris seusia dengan kebijakan kolonial yang gemar bikin pabrik tapi ogah kasih merdeka.

Kunci pabriknya bahkan diwariskan dengan cara sentimental: langsung dari tangan ayah ke anak. “Kunci pabrik Kopi Javaco telah diberikan kepada saya setelah lulus SMA. Sejak hari itu, bapak sudah tidak pernah datang ke pabrik lagi hingga beliau meninggal,” ujar Hermanto, pemilik generasi keempat, seakan mewarisi kerajaan kecil berbentuk bubuk hitam harum.

Pabrik kopi ini dulunya terdaftar resmi dalam buku telepon Jawa-Madura tahun 1930. Bayangkan: saat sekarang nomor di ponsel hanya dipakai OTP, dulu orang mendaftar pabrik ke buku telepon layaknya orang masuk ensiklopedia. Dalam buku itu tertulis: Koffiefabriek Javaco Dir Lie Kim Gwan, beralamat di Postweg Tjikakak 44–46. Lokasinya masih sama, meski kota sudah berubah, dan pengaspalan jalan tak kunjung sempurna.

Tapi toko resminya pindah ke Jalan Kebonjati nomor 69 dan menempati bangunan dua lantai bergaya art nouveau. Arsitekturnya masih kokoh, dengan jendela hijau dan dominasi putih yang bikin kedai ini tampak seperti rumah hantu stylish.

Pendiri pertama Javaco adalah Lie Khay Hoo, pengusaha multi-genre: jualan tepung, gula, dan tentu saja kopi. Namun panggung kejayaan justru datang ketika tampuk usaha diserahkan pada anaknya, Lie Kim Gwan. Ceritanya agak sinetron. Gwan ini awalnya kuliah kedokteran di London sekitar tahun 1920. Tapi demi menyelamatkan usaha keluarga, ia pulang kampung dan memutuskan jadi tukang giling kopi ketimbang jadi dokter.

“Lie Kim Gwan datang dan membawa banyak perubahan. Meski punya gelar kedokteran, tapi tidak pernah jadi dokter. Beliau lebih memilih meneruskan usaha keluarga,” kenang Hermanto. Gwan juga sempat membuka percetakan dan usaha teh. Jelas, ia bukan tipe orang yang suka rebahan.

Hermanto resmi mengelola Javaco sejak 1982. Kalau sekarang para pengusaha suka pamer di Instagram, Hermanto lebih suka memamerkan mesin penggiling kopi tua dari tahun 1930, empat di antaranya bermerek Hobart dari Amerika. Masih bisa menyala, katanya, tapi voltasenya 110. "Kalau sekarang sudah menggunakan voltase 220," katanya, seakan mesin tua itu adalah harta karun yang harus disakralkan, bukan dipensiunkan.

Baca Juga: Dari Bandung Kopi Purnama, Ke Hindia Ku Berkelana

Cara atau metode pengolahan kopinya juga masih old school. Biji-bijinya datang dari perkebunan Jawa Timur, tempat yang sama sejak zaman kolonial. Mereka digiling dengan teknik wet Indische bereiding dan Oost Indische bereiding. Metode ini terdengar seperti mantra sihir, tapi hasilnya memang sihir beneran: kopi yang aromanya bikin mata melek sebelum alarm berbunyi.

“Dari zaman dulu selalu digiling medium. Kalau medium semua karakter rasa dan aroma kopi akan keluar maksimal. Pahit dan kental, itu baru kopi,” ujar Hermanto, seolah menolak tren cold brew dengan rasa jeruk atau kopi dalgona yang lebih cocok jadi cemilan.

Kemasannya juga unik. Bukannya pakai plastik kinclong, Javaco tetap setia pakai kertas coklat. Alasannya sederhana dan filosofis: agar aroma kopi tidak dirampok oleh bahan kimia modern.

Soal rasa, Javaco punya tiga varian: arabika, robusta (alias melange), dan tiptop. Menurut Hermanto, arabika adalah jagoannya. “Asam tapi tetap nyaman di lambung.” Melange? Itu robusta yang lebih jinak, kayak macan yang sudah kenyang.

Lucunya, Hermanto tidak doyan promosi. Ia bukan tipe pengusaha yang rajin endorse selebgram atau bikin giveaway. Kopinya dijual di beberapa supermarket seperti Yogya dan Setiabudi, tapi toko resmi tetap jadi jantung distribusi. Harganya pun murah meriah: Rp25.000 sampai Rp35.000 per 250 gram. Bahkan lebih murah dari kopi sachet yang diklaim bisa meningkatkan stamina.

Distributor pun datang sendiri, tanpa diundang. Seolah kopi Javaco punya daya tarik magis. “Mereka datang sendiri dan membeli kopi hingga ratusan pax. Rezeki sudah ada yang mengatur dan saya enggak mau serakah dengan mengambil semua lini penjualan. Saling berbagi lebih enak,” ujar Hermanto. Filosofi dagang yang lebih cocok diajarkan di pesantren ketimbang fakultas ekonomi.

Javaco memang bukan kopi buat nongkrong-nongkrong lucu di kafe. Ia adalah kopi yang jujur, lahir dari tangan generasi demi generasi yang lebih percaya pada mesin tua dan rasa asli, ketimbang algoritma media sosial.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)