Umi Cinta, 1 Juta, dan Tidak!

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah orang keluar dari kediaman Umi Cinta (Sumber: Instagram | Foto: Tangkapan layar)
Sejumlah orang keluar dari kediaman Umi Cinta (Sumber: Instagram | Foto: Tangkapan layar)

Seorang kawan menyapa dan bertanya saat bertemu di pinggir jalan Manis Cibiru Bandung, tepatnya di pudunan Masjid Al-Hidayah

"Tidak menulis kasus yang viral di Bekasi. Ajaran Umi Cinta, masuk surga bayar sejuta?"

"Hente acan!"

"Kenapa biasanya rajin nulis soal pemahaman keagamaan?"

"Masih milarian info sareng ngantosan kaputusan MUI"

"Iya, harus hati-hati. Cek dan ricek. Jangan asal tulis yang viral. Apalagi kalau ternyata hoaks"

"Muhun. Asal tong hohoak wae!"

Wanita berinisial PY alias Umi Cinta angkat bicara terkait pengajiannya yang dinarasikan menjanjikan masuk surga bayar Rp 1 juta di Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi.

Umi Cinta membantahnya. "Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Bapak Ketua MUI dan jajaran, itu tidak benar (soal Rp 1 juta). Semua berita yang simpang siur selama ini, membayar Rp 1 juta dijamin masuk surga, itu tidak benar," ujarnya.

Umi Cinta mengaku sudah bersumpah di atas Al-Qur'an dan menegaskan informasi terkait 'masuk surga bayar sejuta' hoax.

"Saya sudah bersumpah tadi di atas Al-Qur'an, itu tidak benar. Semua berita-berita yang sudah viral sampai ke YouTube, itu tidak benar. Yang benar tidak ada menyimpang, tidak ada pembayaran 1 juta dijamin masuk surga dari saya itu, tidak benar," imbuhnya.

Dalam penjelasannya uang yang diberikan jemaahnya itu dalam bentuk sedekah. Umi mengaku tidak mematok besaran uang untuk sedekah yang diberikan. "Kalau sedekah itu di kotak amal itu saya nggak tahu. Ada yang ngasih Rp 5.000, Rp 2.000 kok buktinya dibuka itu, ya segitu saya nggak tahu," imbuhnya.

Simpulan MUI

Logo Majelis Ulama Indonesia. (Sumber: Dok. MUI)
Logo Majelis Ulama Indonesia. (Sumber: Dok. MUI)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi telah melakukan pertemuan dengan wanita berinisial PY alias Umi Cinta terkait kontroversi pengajian yang diviralkan 'masuk surga bayar sejuta'. MUI Kota Bekasi menyatakan pengajian Umi Cinta tidak melenceng dari ajaran Islam.

"Bahwa pengajian tersebut tidak ada indikasi melenceng dari ajaran Islam. Saya ulangi, pengajian tersebut tidak ada indikasi melenceng dari ajaran Islam," kata Ketua MUI Kota Bekasi Saifuddin Siroj.

Kegiatan pengajian di rumah Umi Cinta dihentikan sementara untuk mengurus perizinan. Pengajian akan dipindahkan ke Masjid Al-Muhajirin, Cimuning.

"Untuk sementara, pengajian yang dilaksanakan di rumah Ibu Putri ini dihentikan untuk selanjutnya meminta izin warga untuk mengurus perizinan terhadap warga," tuturnya.

Pihak kepolisian bersama Pemkot Bekasi dan MUI Kota Bekasi akan terus melakukan pendampingan. (detikNews Kamis, 14 Agu 2025 17:25 WIB)

Kemunculan aliran dan kelompok agama baru merupakan salah satu peristiwa yang menonjol dalam dinamika sosial, politik dan agama di Jaw Barat pada beberapa tahun terakhir di era reformasi. Jumlahnya di Bumi Pasundan ini cukup signifikan.

Dalam data yang disampaikan Nahdhatul Ulama (NU), pada rentang 2001-2007 terdapat sekitar 250 aliran keagamaan yang muncul di Indonesia dengan 50 kelompok aliran keagamaan diantaranya muncul dan berkembang di Jawa Barat.

Jumlah lebih banyak dikemukakan Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kemenag) Jawa Barat, Saeroji yang menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 200 aliran keagamaan yang berkembang di Tanah Parahiyangan.

Kemunculan aliran dan kelompok agama baru tidak hanya terjadi pada umat Islam tetapi juga pada Jamaat agama Kristen di Jawa Barat. (Julian Millie dan Dede Syarif [Editor], 2015:30)

Pemicu Tumbuh Suburnya Aliran

Memang kehadiran aliran, sekte, keagamaan baru ini dianggap cukup meresahkan masyarakat, lembaga agama (ulama, pemuka agama), bahkan terkadang merepotkan negara.

Ini yang diyakini oleh Abdul Djamil, lahirnya kelompok-kelompok “keagamaan baru” ini akibat persoalan panjang dari berkurangnya dimensi profetis agama untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, membebaskan manusia dari ketertindasan secara sosial, ekonomi, politis, dan kultural.

Apalagi masyarakat tengah mengalami himpitan di sana-sini, sementara solusi alternatif dari insitusi agama yang ada kurang memuaskan.

Dari sinilah, menjadi penting untuk memahami lebih jauh tentang akar-akar sosial, ekonomi, dan kultural atas keberadaan kelompok-kelompok agama baru yang sangat marak dewasa ini.

Upaya ini menjadi prasyarat untuk melakukan langkah-langkah yang lebih mendasar dalam memahami golongan ini. Usaha ini sangat diperlukan dalam kerangka membangun dialog antarkomunitas agama, maupun mencarikan jalan keluar dengan pemberdayaan dan tranformasi kehidupan keagamaan di tanah air menuju kehidupan agama yang lebih mencerahkan. (M. Mukhsin Jamil, 2008:viii)

Kehadiran agama-agama yang mapan (established religions, organized religions) mampu atau tidak menawarkan kepada komunitas kampung-dunia (global village), khususnya pasar-raya keagamaan (religious market place) suatu konstruk tenda-pengayom suci (sacred canopy) yang sanggup memberikan keamanan (security) bagi kehidupan manusia dan memberitahukan makna dan maksud mewujudnya di dunia ini serta memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya di dunia ini.

Konsep metafora tentang tenda-pengayom suci ini biasanya dinilai ampuh ketika masyarakat yang diayomi itu masih homogen, terbatas jumlahnya, dan terletak jauh dari interaksi dengan masyarakat luar.

Saat masyarakat itu semakin besar jumlah anggotanya, heterogen, dan mulai berinteraksi dengan masyarakat dan budaya lain, maka metafora sacred canopy itu menghadapi sejumlah tantangan. Masyarakat yang heterogen tidak lagi mudah puas mendapatkan jawaban dari satu sumber, sehingga mendorong lahirnya upaya pencarian jawaban alternatif.

Salah satu bentuknya dengan memunculkan gerakan keagamaan sempalan ini. Interaksi dengan masyarakat dan budaya luar yang semakin intensif lantaran kemajuan teknologi transportasi, informasi menyebabkan konsep-konsep, ide-ide dari suatu tradisi keagamaan dengan mudahnya diperbandingkan, dinilai, dimodifikasi, dipertukarkan, bahkan dibuang oleh pemilik asalnya.

Bagi M. Atho Mudzhar, menjelaskan kemunculan gerakan keagamaan tidak selalu hanya karena faktor-faktor keagamaan di dalam, melainkan dapat juga bergabung dengan faktor lain yang sifatnya ingin mengubah sistem lingkungan yang ada di sekitarnya.

Biasanya suatu organized religion mempunyai empat kepentingan yang dituntut harus ada dalam lingkungan di sekitarnya. Kalau tidak maka agama itu akan melakukan gerakan yang bersifat keluar (exogenous religious movements)

Keempat kepentingan itu diantaranya: pertama, lingkungan sekitar harus memberikan jaminan akan keberlangsungan hidup agama. Jika tidak maka agama itu akan memunculkan reaksi; kedua, kepentingan-kepentingan ekonomi agama itu harus terlayani.

Jika tidak maka agama itu akan bereaksi; ketiga, lingkungan itu harus memberikan ruang yang cukup untuk agama itu berperan. Jika tidak maka agama itu akan bereaksi; dan keempat, lingkungan sekitar itu harus berideologi sesuai dengan agama. Jika tidak maka agama itu akan bereaksi.

Ketika suatu gerakan keagamaan yang bersifat exogenous itu muncul, biasanya agama itu keluar dengan menggandeng gerakan-gerakan sosial pada umumnya sambil memberikan legitimasi keagamaan atas gerakan-gerakan itu.

Jenis gerakan lain dalam rangka merespon tantangan modernisasi terhadap agama ialah sekularisasi kegiatan publik dan privatisasi agama.Untuk mengurus soal-soal publik, masyarakat pemeluk suatu agama tidak ingin lagi bertanya kepada konsep yang ditawarkan oleh sacred canopy, tetapi langsung disusunnya sendiri, bahkan dengan kewaspadaan penuh agar tawaran jawaban dari sacred canopy jangan sampai ada yang masuk ke dalamnya.

Jalan ini biasanya ditempuh oleh masyarakat suatu negara-bangsa yang para warganya heterogen dari segi agama agar mereka dapat hidup bersama dalam tata aturan yang sama.

Sebagai konsekuensinya, masalah kehidupan keagamaan (ritual, hukum agama tentang makanan, dll.) harus disimpan dalam kehidupan pribadi, tidak boleh dibicarakan sebagai masalah (di depan) publik, sehingga pendidikan agama pun tidak boleh diajarkan di sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah. Hal yang bersifat agama itu baru boleh dibuka ketika mereka berkumpul dengan sesama mereka. (Nuhrison M. Nuh ed., 2011: XI-XVI)

Martin van Bruinessen tentang aliran (gerakan sempalan) menguraikan, “gerakan sempalan berarti bertolak dari suatu pengertian tentang ortodoksi, mainstream (aliran induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Tanpa tolok ukur ortodoksi, istilah sempalan tidak ada artinya. Untuk menentukan mana yang sempalan, kita pertama-tama harus mendefinisikan mainstream yang ortodoks. Dalam kasus umat Islam Indonesia masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap diwakili oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama MUI, Majelis Tarjih Muhammadiyah, Syuriah NU, dan sebagainya.”

Bruinessen menegaskan: “Dalam pendekatan sosiologis, ortodoksi dan sempalan bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi, mainstream adalah faham yang dianut mayoritas umat —lebih tepat, mayoritas ulama; golongan ulama yang dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam faham dominan--pergeseran yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat; gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan sekaligus merupakan protes sosial, politik.” (Harmoni, Jurnal Multikultural & Multireligius Volume VIII, Nomor 31, April - Juni 2009:5-6)

Suasana senja di Masjid Raya Al Jabbar (Sumber: Ayo Bandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Suasana senja di Masjid Raya Al Jabbar (Sumber: Ayo Bandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mencari Keseimbangan Baru dalam Sistem Sosial yang Ada

Dalam catatan sejarah Indonesia terdapat aliran-aliran “sempalan” dari Islam: Al-Qiyadah Al-Islamiyah, aliran Kitab Suci, Ajaran Mahdi, Amanat Keagungan Ilahi, Hidup Di Balik Hidup, Al-Haq, Pengajian Nurul Yaqin, Islam Baru, Islam Sejati, Ahmadiyah; Kristen: Children of God, Sidang Jemaat Kristus, Aliran Kepribadian, Aliran Kepercayaan Manunggal, Siswa Alkitab Saksi Yehova, Gereja Setan, sekte Hari Kiamat; Buddha: Nichiren Sosu Indonesia, Buddha Mahayana; Hindu: Hare Krishna, Aliran Sadar Mapan.

Secara sosial agama memiliki lima fungsi (the social functions of religion), yaitu: pertama, fungsi sebagai perekat social bagi para pemeluknya karena mempercayai yang sama dan beribadah dengan cara yang sama secara berulang-ulang; kedua, fungsi memberikan arti (nilai) bagi hidup manusia dengan memperkenalkan konsep pahala dan adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia ini; ketiga, sebagai pemberi dukungan psikologis dalam siklus kehidupan manusia baik suka maupun duka; keempat, fungsi sebagai kontrol sosial melalui ajaran nilai dan hukum agama; dan kelima, fungsi mendorong perubahan sosial melalui bimbingan etika dan hukum agama yang terus mengajak pemeluk agama untuk memperhatikan nasib sesama.

Dengan demikian, jenis gerakan ini akan menggantikan (membuang) agama itu sama sekali, termasuk gerakan melarang agama dipeluk oleh suatu masyarakat di suatu negeri. Gerakan ini biasanya dapat terjadi hanya dengan tekanan politik dan kekuasaan, karena agama nampaknya tidak dapat dihilangkan dari kehidupan manusia di dunia ini.

Meskipun, gerakan-gerakan keagamaan itu dilakukan untuk mencari keseimbangan baru dalam sistem sosial yang ada. Seperti halnya pemberlakuan hukum dan sanksinya dalam masyarakat dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan baru dalam masyarakat, maka terjadinya gerakan sempalan dan respon terhadap gerakan itu juga bertujuan untuk mencari keseimbangan baru dalam suatu masyarakat.

Bila keseimbangan masyarakat itu disebut dengan social equilibrium, yaitu suatu posisi keseimbangan di mana berbagai kekuatan, kecenderungan yang saling bertentangan kemudian dapat saling menetralisir satu sama lain. Maka ketika keseimbangan itu tidak terganggu, keadaan itu disebut static equilibrium, dan ketika keseimbangan itu terganggu dan gangguan itu kemudian diakomodasi sebagai varian di dalamnya, maka keadaan kedua itu disebut dengan moving equilibrium dan itulah yang disebut perubahan sosial yang tertib (an orderly process of social change). (Nuhrison M. Nuh ed., 2011:XVI-XVIII)

Tentunya, keberadaan aliran-aliran ini mengundang perhatian seluruh elemen masyarakat sekaligus dipersepsikan sebagai ancaman bagi mereka yang dikategorikan sebagai mayoritas besar.

Kiranya, dalam menyikapi maraknya “aliran ganjil” (termasuk Umi Cinta) ini diperlukan keterlibatan seluruh komponen bangsa yang harus mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat mulai dari tokoh pemuka agama, tokoh masyarakat, sampai kepada pemerintah (polisi, pejabat, politisi) yang tidak harus ikut dalam posisi menyatakan sesat atau tidak sesat. Apalagi ikut andil dalam melakukan tindakan kekerasan, pengrusakan tempat ibadah dan pembunuhan.

Terwujudnya masyarakat Jabar yang adil, damai, menghargai perbedaan menjadi cita-cita bersama dalam membangun bangsa dan negara yang beradab ini. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)