Umi Cinta, 1 Juta, dan Tidak!

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah orang keluar dari kediaman Umi Cinta (Sumber: Instagram | Foto: Tangkapan layar)
Sejumlah orang keluar dari kediaman Umi Cinta (Sumber: Instagram | Foto: Tangkapan layar)

Seorang kawan menyapa dan bertanya saat bertemu di pinggir jalan Manis Cibiru Bandung, tepatnya di pudunan Masjid Al-Hidayah

"Tidak menulis kasus yang viral di Bekasi. Ajaran Umi Cinta, masuk surga bayar sejuta?"

"Hente acan!"

"Kenapa biasanya rajin nulis soal pemahaman keagamaan?"

"Masih milarian info sareng ngantosan kaputusan MUI"

"Iya, harus hati-hati. Cek dan ricek. Jangan asal tulis yang viral. Apalagi kalau ternyata hoaks"

"Muhun. Asal tong hohoak wae!"

Wanita berinisial PY alias Umi Cinta angkat bicara terkait pengajiannya yang dinarasikan menjanjikan masuk surga bayar Rp 1 juta di Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi.

Umi Cinta membantahnya. "Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Bapak Ketua MUI dan jajaran, itu tidak benar (soal Rp 1 juta). Semua berita yang simpang siur selama ini, membayar Rp 1 juta dijamin masuk surga, itu tidak benar," ujarnya.

Umi Cinta mengaku sudah bersumpah di atas Al-Qur'an dan menegaskan informasi terkait 'masuk surga bayar sejuta' hoax.

"Saya sudah bersumpah tadi di atas Al-Qur'an, itu tidak benar. Semua berita-berita yang sudah viral sampai ke YouTube, itu tidak benar. Yang benar tidak ada menyimpang, tidak ada pembayaran 1 juta dijamin masuk surga dari saya itu, tidak benar," imbuhnya.

Dalam penjelasannya uang yang diberikan jemaahnya itu dalam bentuk sedekah. Umi mengaku tidak mematok besaran uang untuk sedekah yang diberikan. "Kalau sedekah itu di kotak amal itu saya nggak tahu. Ada yang ngasih Rp 5.000, Rp 2.000 kok buktinya dibuka itu, ya segitu saya nggak tahu," imbuhnya.

Simpulan MUI

Logo Majelis Ulama Indonesia. (Sumber: Dok. MUI)
Logo Majelis Ulama Indonesia. (Sumber: Dok. MUI)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi telah melakukan pertemuan dengan wanita berinisial PY alias Umi Cinta terkait kontroversi pengajian yang diviralkan 'masuk surga bayar sejuta'. MUI Kota Bekasi menyatakan pengajian Umi Cinta tidak melenceng dari ajaran Islam.

"Bahwa pengajian tersebut tidak ada indikasi melenceng dari ajaran Islam. Saya ulangi, pengajian tersebut tidak ada indikasi melenceng dari ajaran Islam," kata Ketua MUI Kota Bekasi Saifuddin Siroj.

Kegiatan pengajian di rumah Umi Cinta dihentikan sementara untuk mengurus perizinan. Pengajian akan dipindahkan ke Masjid Al-Muhajirin, Cimuning.

"Untuk sementara, pengajian yang dilaksanakan di rumah Ibu Putri ini dihentikan untuk selanjutnya meminta izin warga untuk mengurus perizinan terhadap warga," tuturnya.

Pihak kepolisian bersama Pemkot Bekasi dan MUI Kota Bekasi akan terus melakukan pendampingan. (detikNews Kamis, 14 Agu 2025 17:25 WIB)

Kemunculan aliran dan kelompok agama baru merupakan salah satu peristiwa yang menonjol dalam dinamika sosial, politik dan agama di Jaw Barat pada beberapa tahun terakhir di era reformasi. Jumlahnya di Bumi Pasundan ini cukup signifikan.

Dalam data yang disampaikan Nahdhatul Ulama (NU), pada rentang 2001-2007 terdapat sekitar 250 aliran keagamaan yang muncul di Indonesia dengan 50 kelompok aliran keagamaan diantaranya muncul dan berkembang di Jawa Barat.

Jumlah lebih banyak dikemukakan Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kemenag) Jawa Barat, Saeroji yang menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 200 aliran keagamaan yang berkembang di Tanah Parahiyangan.

Kemunculan aliran dan kelompok agama baru tidak hanya terjadi pada umat Islam tetapi juga pada Jamaat agama Kristen di Jawa Barat. (Julian Millie dan Dede Syarif [Editor], 2015:30)

Pemicu Tumbuh Suburnya Aliran

Memang kehadiran aliran, sekte, keagamaan baru ini dianggap cukup meresahkan masyarakat, lembaga agama (ulama, pemuka agama), bahkan terkadang merepotkan negara.

Ini yang diyakini oleh Abdul Djamil, lahirnya kelompok-kelompok “keagamaan baru” ini akibat persoalan panjang dari berkurangnya dimensi profetis agama untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, membebaskan manusia dari ketertindasan secara sosial, ekonomi, politis, dan kultural.

Apalagi masyarakat tengah mengalami himpitan di sana-sini, sementara solusi alternatif dari insitusi agama yang ada kurang memuaskan.

Dari sinilah, menjadi penting untuk memahami lebih jauh tentang akar-akar sosial, ekonomi, dan kultural atas keberadaan kelompok-kelompok agama baru yang sangat marak dewasa ini.

Upaya ini menjadi prasyarat untuk melakukan langkah-langkah yang lebih mendasar dalam memahami golongan ini. Usaha ini sangat diperlukan dalam kerangka membangun dialog antarkomunitas agama, maupun mencarikan jalan keluar dengan pemberdayaan dan tranformasi kehidupan keagamaan di tanah air menuju kehidupan agama yang lebih mencerahkan. (M. Mukhsin Jamil, 2008:viii)

Kehadiran agama-agama yang mapan (established religions, organized religions) mampu atau tidak menawarkan kepada komunitas kampung-dunia (global village), khususnya pasar-raya keagamaan (religious market place) suatu konstruk tenda-pengayom suci (sacred canopy) yang sanggup memberikan keamanan (security) bagi kehidupan manusia dan memberitahukan makna dan maksud mewujudnya di dunia ini serta memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya di dunia ini.

Konsep metafora tentang tenda-pengayom suci ini biasanya dinilai ampuh ketika masyarakat yang diayomi itu masih homogen, terbatas jumlahnya, dan terletak jauh dari interaksi dengan masyarakat luar.

Saat masyarakat itu semakin besar jumlah anggotanya, heterogen, dan mulai berinteraksi dengan masyarakat dan budaya lain, maka metafora sacred canopy itu menghadapi sejumlah tantangan. Masyarakat yang heterogen tidak lagi mudah puas mendapatkan jawaban dari satu sumber, sehingga mendorong lahirnya upaya pencarian jawaban alternatif.

Salah satu bentuknya dengan memunculkan gerakan keagamaan sempalan ini. Interaksi dengan masyarakat dan budaya luar yang semakin intensif lantaran kemajuan teknologi transportasi, informasi menyebabkan konsep-konsep, ide-ide dari suatu tradisi keagamaan dengan mudahnya diperbandingkan, dinilai, dimodifikasi, dipertukarkan, bahkan dibuang oleh pemilik asalnya.

Bagi M. Atho Mudzhar, menjelaskan kemunculan gerakan keagamaan tidak selalu hanya karena faktor-faktor keagamaan di dalam, melainkan dapat juga bergabung dengan faktor lain yang sifatnya ingin mengubah sistem lingkungan yang ada di sekitarnya.

Biasanya suatu organized religion mempunyai empat kepentingan yang dituntut harus ada dalam lingkungan di sekitarnya. Kalau tidak maka agama itu akan melakukan gerakan yang bersifat keluar (exogenous religious movements)

Keempat kepentingan itu diantaranya: pertama, lingkungan sekitar harus memberikan jaminan akan keberlangsungan hidup agama. Jika tidak maka agama itu akan memunculkan reaksi; kedua, kepentingan-kepentingan ekonomi agama itu harus terlayani.

Jika tidak maka agama itu akan bereaksi; ketiga, lingkungan itu harus memberikan ruang yang cukup untuk agama itu berperan. Jika tidak maka agama itu akan bereaksi; dan keempat, lingkungan sekitar itu harus berideologi sesuai dengan agama. Jika tidak maka agama itu akan bereaksi.

Ketika suatu gerakan keagamaan yang bersifat exogenous itu muncul, biasanya agama itu keluar dengan menggandeng gerakan-gerakan sosial pada umumnya sambil memberikan legitimasi keagamaan atas gerakan-gerakan itu.

Jenis gerakan lain dalam rangka merespon tantangan modernisasi terhadap agama ialah sekularisasi kegiatan publik dan privatisasi agama.Untuk mengurus soal-soal publik, masyarakat pemeluk suatu agama tidak ingin lagi bertanya kepada konsep yang ditawarkan oleh sacred canopy, tetapi langsung disusunnya sendiri, bahkan dengan kewaspadaan penuh agar tawaran jawaban dari sacred canopy jangan sampai ada yang masuk ke dalamnya.

Jalan ini biasanya ditempuh oleh masyarakat suatu negara-bangsa yang para warganya heterogen dari segi agama agar mereka dapat hidup bersama dalam tata aturan yang sama.

Sebagai konsekuensinya, masalah kehidupan keagamaan (ritual, hukum agama tentang makanan, dll.) harus disimpan dalam kehidupan pribadi, tidak boleh dibicarakan sebagai masalah (di depan) publik, sehingga pendidikan agama pun tidak boleh diajarkan di sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah. Hal yang bersifat agama itu baru boleh dibuka ketika mereka berkumpul dengan sesama mereka. (Nuhrison M. Nuh ed., 2011: XI-XVI)

Martin van Bruinessen tentang aliran (gerakan sempalan) menguraikan, “gerakan sempalan berarti bertolak dari suatu pengertian tentang ortodoksi, mainstream (aliran induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Tanpa tolok ukur ortodoksi, istilah sempalan tidak ada artinya. Untuk menentukan mana yang sempalan, kita pertama-tama harus mendefinisikan mainstream yang ortodoks. Dalam kasus umat Islam Indonesia masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap diwakili oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama MUI, Majelis Tarjih Muhammadiyah, Syuriah NU, dan sebagainya.”

Bruinessen menegaskan: “Dalam pendekatan sosiologis, ortodoksi dan sempalan bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi, mainstream adalah faham yang dianut mayoritas umat —lebih tepat, mayoritas ulama; golongan ulama yang dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam faham dominan--pergeseran yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat; gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan sekaligus merupakan protes sosial, politik.” (Harmoni, Jurnal Multikultural & Multireligius Volume VIII, Nomor 31, April - Juni 2009:5-6)

Suasana senja di Masjid Raya Al Jabbar (Sumber: Ayo Bandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Suasana senja di Masjid Raya Al Jabbar (Sumber: Ayo Bandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mencari Keseimbangan Baru dalam Sistem Sosial yang Ada

Dalam catatan sejarah Indonesia terdapat aliran-aliran “sempalan” dari Islam: Al-Qiyadah Al-Islamiyah, aliran Kitab Suci, Ajaran Mahdi, Amanat Keagungan Ilahi, Hidup Di Balik Hidup, Al-Haq, Pengajian Nurul Yaqin, Islam Baru, Islam Sejati, Ahmadiyah; Kristen: Children of God, Sidang Jemaat Kristus, Aliran Kepribadian, Aliran Kepercayaan Manunggal, Siswa Alkitab Saksi Yehova, Gereja Setan, sekte Hari Kiamat; Buddha: Nichiren Sosu Indonesia, Buddha Mahayana; Hindu: Hare Krishna, Aliran Sadar Mapan.

Secara sosial agama memiliki lima fungsi (the social functions of religion), yaitu: pertama, fungsi sebagai perekat social bagi para pemeluknya karena mempercayai yang sama dan beribadah dengan cara yang sama secara berulang-ulang; kedua, fungsi memberikan arti (nilai) bagi hidup manusia dengan memperkenalkan konsep pahala dan adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia ini; ketiga, sebagai pemberi dukungan psikologis dalam siklus kehidupan manusia baik suka maupun duka; keempat, fungsi sebagai kontrol sosial melalui ajaran nilai dan hukum agama; dan kelima, fungsi mendorong perubahan sosial melalui bimbingan etika dan hukum agama yang terus mengajak pemeluk agama untuk memperhatikan nasib sesama.

Dengan demikian, jenis gerakan ini akan menggantikan (membuang) agama itu sama sekali, termasuk gerakan melarang agama dipeluk oleh suatu masyarakat di suatu negeri. Gerakan ini biasanya dapat terjadi hanya dengan tekanan politik dan kekuasaan, karena agama nampaknya tidak dapat dihilangkan dari kehidupan manusia di dunia ini.

Meskipun, gerakan-gerakan keagamaan itu dilakukan untuk mencari keseimbangan baru dalam sistem sosial yang ada. Seperti halnya pemberlakuan hukum dan sanksinya dalam masyarakat dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan baru dalam masyarakat, maka terjadinya gerakan sempalan dan respon terhadap gerakan itu juga bertujuan untuk mencari keseimbangan baru dalam suatu masyarakat.

Bila keseimbangan masyarakat itu disebut dengan social equilibrium, yaitu suatu posisi keseimbangan di mana berbagai kekuatan, kecenderungan yang saling bertentangan kemudian dapat saling menetralisir satu sama lain. Maka ketika keseimbangan itu tidak terganggu, keadaan itu disebut static equilibrium, dan ketika keseimbangan itu terganggu dan gangguan itu kemudian diakomodasi sebagai varian di dalamnya, maka keadaan kedua itu disebut dengan moving equilibrium dan itulah yang disebut perubahan sosial yang tertib (an orderly process of social change). (Nuhrison M. Nuh ed., 2011:XVI-XVIII)

Tentunya, keberadaan aliran-aliran ini mengundang perhatian seluruh elemen masyarakat sekaligus dipersepsikan sebagai ancaman bagi mereka yang dikategorikan sebagai mayoritas besar.

Kiranya, dalam menyikapi maraknya “aliran ganjil” (termasuk Umi Cinta) ini diperlukan keterlibatan seluruh komponen bangsa yang harus mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat mulai dari tokoh pemuka agama, tokoh masyarakat, sampai kepada pemerintah (polisi, pejabat, politisi) yang tidak harus ikut dalam posisi menyatakan sesat atau tidak sesat. Apalagi ikut andil dalam melakukan tindakan kekerasan, pengrusakan tempat ibadah dan pembunuhan.

Terwujudnya masyarakat Jabar yang adil, damai, menghargai perbedaan menjadi cita-cita bersama dalam membangun bangsa dan negara yang beradab ini. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)