Betapa Menyebalkan Pungutan Liar Wisata di Jawa Barat

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Situs Bersejarah Stadion Malabar Gunung Puntang (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Situs Bersejarah Stadion Malabar Gunung Puntang (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Jawa Barat adalah provinsi yang kaya akan khazanah kuliner. Masyarakat yang demikian kreatif, selalu tahu bagaimana cara mengolah makanan dengan baik. Selain kuliner, Jawa Barat juga memiliki keunggulan alam asri yang membentang sangat luas, hal inilah yang memicu masyarakat lokal maupun mancanegara tertarik dengan sejumlah Wisata Jawa Barat.

Bandung sebagai Ibu Kota Jawa Barat memiliki wisata dengan konsep modern seperti Braga, Kiara Artha Park, Dago Dreamland, The Nice Park, Wahoo Waterland, beberapa museum dan bangunan sejarah yang bisa menjadi pilihan. Namun tidak semua orang suka dengan keramaian, beberapa di antaranya lebih memilih wisata yang asri, sejuk, tenang dan jauh dari keramaian.

Secara garis besar biasanya wisata bernuansa alam terletak di Kab. Bandung dan KBB. Beberapa destinasi seperti gunung, hutan pinus, kebun, danau, kawah, perkemahan dan wisata alam buatan lainnya tersaji di kawasan ini. Seluruh kawasan ini biasanya dikelola oleh berbagai instansi seperti Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani).

Meski demikian, wisata Jawa Barat sejak lama terkenal dengan kegiatan pungli (pungutan liar). Beberapa kasus yang pernah tersebar di media sosial misalnya, pemerasan yang melibatkan joki dan pemandu jalur alternatif Kawasan Wisata Cisarua pada (22/12) yang meminta salah satu pengunjung yang berasal dari Tangerang membayar biaya Rp.850.000 untuk jasa transportasi menuju SPBU Tugu menggunakan motor.

Informasi Tiket Masuk Berg dan Kawasan Radio Malabar (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Informasi Tiket Masuk Berg dan Kawasan Radio Malabar (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Kasus lain pernah terjadi di Kebun Binatang pada (29/12), seorang supir bus pariwista diminta Rp.150.000 oleh oknum untuk membayar parkir dan membeli sejumlah masker untuk masuk kawasan Kebun Binatang.

Bahkan beberapa lokasi yang pada mulanya tidak ada tarif khusus alias gratis atau bayar dengan tiket masuk Rp.5000 saja bisa melonjak tiba-tiba dengan adanya oknum preman di tempat wisata.

Misalnya satu tahun ke belakang kawasan Upas Hill (Puncak Upas) menjadi sorotan bagi pecinta alam yang ingin menikmati alam dan tebing di kawasan Gunung Tangkuban Perahu. Wisata ini makin populer setelah sejumlah konten kreator tiktok ikut meramaikan kegiatan mendaki secara tek-tok. Lonjakan peminat Upas Hill makin meramaikan media sosial, tak heran masyarakat umum jadi tertarik untuk mendatangi tempat tersebut.

Sebelum viral, beberapa tiktoker memberikan informasi bahwa tiket masuk Upas Hill hanya berkisar Rp.5000 saja dan pembayaran berada di pintu masuk Upas Hill trek 11 Sukawana. Namun setelah ramai pengunjung, satu bulan terakhir terdengar bahwa di bagian puncak Upas Hill terdapat pungutan liar oleh sejumlah oknum dengan biaya tambahan Rp.40.000/ orang.

Sejumlah Pengunjung Kafe Berg (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejumlah Pengunjung Kafe Berg (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Berdasarkan video yang viral di tiktok, salah satu konten kreator menampilkan percakapan dengan sejumlah pihak yang mengaku dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Dalam video tersebut mendadak pihak yang bersangkutan memasang sejumlah papan himbauan yang bertuliskan " Dilarang Masuk Tanpa Izin, Anda Sedang Berada di Kawasan TWA Gunung Tangkuban Perahu".

Meski pihak tersebut mengaku bahwa ini bukan pungutan liar karena baru berlaku sejak tanggal 18 Juli 2025 tapi kekecewaan pengunjung tak bisa terobati. Beberapa netizen malah mengajak memboikot wisata ini sebagai bahan pembelajaran bagi pihak terkait. Ada juga beberap netizen yang menghimbau naik gunung lain saja yang tarifnya lebih masuk akal.

Sabtu, 7 September 2025 saya beserta seorang teman mengunjungi salah satu Kawasan Bersejarah Radio Malabar yang berada dalam kawasan Gunung Puntang. Di pintu masuk sudah ada seorang perempuan tanpa seragam meminta tarif Rp.64.000 untuk dua orang. Namun setelah saya memberikan uang pecahan Rp.50.000 dua lembar, petugas mengembalikan satu lembar uang tersebut dan mengatakan "tidak apa-apa teh, Rp.50.000 saja".

Jujur saya kaget, kok bisa pemberian harga tiket tidak konsisten. Kecurigaan saya bertambah ketika saya minta bukti karcis/ tiket masuk, petugas tidak memberikan dan justru menghimbau kami untuk segera masuk.

Sesampainya di parkiran, kami langsung mencari petunjuk dan menemukan tempat yang menginformasikan bahwa untuk masuk ke kawasan bersejarah Radio Malabar, Cafe dan curug pengunjung harus membayar kembali biaya sebesar Rp.10.000. Meski janggal tapi saya cukup puas karena petugas memberikan bukti pemabayaran tiket yang bertuliskan Rp.10.000.

Sisa Bangunan Radio Malabar (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sisa Bangunan Radio Malabar (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Setelah membayar tiket Rp.10.000 pengunjung bisa langsung menikmati kawasan curug, Kafe Berg dan Kawasan Bersejerah Radio Malabar. Sejumlah pengunjuk tampak memadati kawasan Kafe Berg yang menjual sejumlah aneka makanan dan minuman sambil menikmati indahnya Gunung Puntang.

Saya beserta teman mengabadikan lewat kamera beberapa puing sejarah Radio Malabar yang masih tersisa. Bagian bangunan tersebut menjadi bukti nyata tonggak sejarah teknologi telekomunikasi di Indonesia yang mampu menghubungkan komunikasi antara Hindia Belanda (Indonesia) dan Belanja. Radio Malabar juga menjadi saksi bisu awal kemajuan teknik radio di Tanah Air.

Tapi sangat disayangkan beberapa bangunan terdapat vandalisme yang bertuliskan nama seseorang dan pada bagian bangunan yang lain bertuliskan "bahasa jorok".

Menurut saya ini menjadi masukan bagi pihak pengelola untuk mengedepankan transparansi bukti tiket untuk menghindari adanya kecurigaan pengunjung. Bahkan untuk beberapa kawasan wisata lain yang masih ada pungutan liar untuk segera dibenahi agar Jawa Barat tidak kehilangan kredibiltasnya.

Juga turut menjadi perhatian bagi para pengunjung untuk tidak melakukan aksi vandalisme di setiap wisata yang dikunjungi, terlebih beberapa situs sejarah yang mestinya menjadi perhatian untuk tetap dijaga keotentikannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)