Eskalasi Kekecewaan terhadap MBG: Perspektif Kualitas Kebijakan

5 menit baca
Sulistianingsih
Ditulis oleh Sulistianingsih diterbitkan
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber: Pemprov Jateng)
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber: Pemprov Jateng)

Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program inisiasi dari Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming sebagai janji kampanye mereka kala pemilihan Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029.

Tentu saja kebijakan itu menuai harapan rakyat-rakyat kecil yang haus akan kebijakan yang riil dan langsung menyentuh tangan rakyat. Bagaimana tidak, salah satu janji yang didengungkan tersebut langsung memberikan energi persentase yang membuat elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran meningkat.

Hal tersebut didukung hasil survei yang menunjukkan bahwa mayoritas responden yakin program makan bergizi gratis di era Prabowo-Gibran akan berjalan dengan baik. Sebanyak 57,3 persen responden percaya program itu akan terwujud (Litbang Kompas, 2024).

Hasil Pemilihan Umum 2024, Prabowo-Gibran terpilih secara resmi menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029. Tepat setelah seratus hari program kerjanya, tanggal 29 Januari 2025, beberapa program telah dilakukan dan sejumlah kebijakan telah diambil oleh pemerintah.

Penghapusan utang UMKM merupakan kebijakan besar yang diambil pemerintah di awal masa kerjanya. Selanjutnya beberapa kebijakan pemerintah diantaranya penyelenggaraan pilkada serentak, peningkatan kesejahteraan guru, kenaikan upah minimum nasional, penurunan harga tiket pesawat, kenaikan harga pembelian pemerintah dan penghentian impor beras, peluncuran paket stimulus ekonomi, makan bergizi gratis, penurunan biaya haji, pembaharuan kebijakan devisa hasil ekspor, pembangunan infrastruktur, penanganan cepat bencana, efisiensi anggaran, serta mendorong investasi dan memperkuat kerja sama luar negeri.

Sejak 6 Januari 2025, program MBG dimulai secara resmi di sejumlah daerah di Indonesia, dengan telah melalui uji coba sebelumnya. Target program prioritas pemerintah ini ialah siswa PAUD hingga SMA, santri, ibu hamil, dan ibu menyusui untuk meningkatkan gizi dan kualitas sumber daya manusia. Pada pelaksanaannya, MBG tidak berjalan dengan mulus dan lancar.

Data pemerintah melalui Badan Gizi Nasional, Kementerian Kesehatan, dan BPOM sudah tercatat total korban dari kasus keracunan MBG ini berada di kisaran 5 ribu orang. Gejala yang dirasakan oleh korban keracunan ini mulai dari diare, gatal-gatal di seluruh badan, mual muntah, bengkak wajah, gatal tenggorokan, sesak nafas, pusing, sampai sakit kepala.

Keracunan menu MBG hingga September 2025 ini mencakup beberapa daerah, diantaranya Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Bombana, Kabupaten Cianjur, Kota Bogor, Kabupaten Lebong, Kabupaten Banggai Kepulauan, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Ketapang.

Kondisi yang cukup memprihatinkan ini tentu saja jangan diabaikan dan dianggap sepele, karena menimbulkan eskalasi kekecewaan rakyat terutama “emak-emak” yang banyak menyuarakan hal ini melalui media sosial. Ada yang membuat status “berikan mamak 15ribu, MBG akan disulap menjadi menu hotel dan restoran”. Ada juga yang membuat status “jika memang 10ribu atau 15ribu malah tidak sesuai ekspektasi, lebih baik alihkan saja dana MBG untuk keperluan daerah terpencil, dsb”.

Kekecewaan yang timbul terhadap program ini berakar dari beberapa faktor. Pertama, sering terjadi ketidaksesuaian antara janji dan realita. Makanan yang disediakan terkadang tidak memenuhi standar gizi yang dijanjikan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Para orang tua yang secara langsung merasakan dampak kekurangan gizi pada keluarganya, tentu sangat berharap agar bantuan ini benar-benar membantu, bukan justru menjadi beban tambahan.

Kedua, adanya masalah distribusi dan transparansi pelaksanaan program. Banyak orang tua mengeluhkan ketidakmerataan penerimaan bantuan, bahkan ada laporan adanya penyalahgunaan dana atau korupsi yang membuat makanan bergizi tersebut tidak sampai ke tangan yang membutuhkan. Hal ini memperparah rasa ketidakadilan dan kekecewaan, terutama di kalangan masyarakat yang sangat bergantung pada bantuan tersebut.

Selain itu, kurangnya komunikasi yang efektif dari pihak penyelenggara program membuat aspirasi dan keluhan orang tua tidak terdengar dengan baik. Mereka merasa suaranya diabaikan sehingga rasa frustrasi pun bertambah. Ibu-ibu, sebagai ujung tombak keluarga dalam mengatur pola makan dan kesehatan, merasa dikecewakan ketika program yang seharusnya mendukung mereka justru tidak berjalan optimal.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)

Program MBG sejatinya menjadi langkah strategis pemerintah untuk memastikan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak, mendapatkan asupan nutrisi yang cukup demi menunjang kesehatan dan tumbuh kembang. Namun, ironisnya, dalam pelaksanaannya, program ini sering kali menimbulkan kekecewaan yang semakin meningkat dari masyarakat.

Alangkah lebih baiknya jika kebijakan MBG ini dimonitor dan dievaluasi. Monitoring dilakukan karena program MBG ini sudah berjalan selama sembilan bulan lebih. Evaluasi dilakukan untuk meninjau hal apa saja yang menjadi permasalahan dari kebijakan MBG ini, untuk selanjutnya dapat dilakukan perbaikan.

Ditinjau dari perspektif kualitas kebijakan, tentu ada hal yang terabaikan dalam perumusan kebijakan MBG ini. Empat dimensi dalam mengukur kualitas kebijakan tentu dapat menjadi pedoman dalam evaluasi kebijakan ini. Dimensi pertama, dalam perencanaan kebijakan, dapat digambarkan bahwa keterlibatan pemangku kepentingan dan kelompok sasaran kebijakan masih belum maksimal, padahal orang tua dapat dilibatkan dalam penyusunan kebijakan ini. Selain itu, adanya keterbatasan petunjuk teknis yang sistematis dalam mengatur program MBG secara detail.

Implementasi kebijakan sebagai dimensi yang kedua, pengabaian dapat terjadi dari distribusi makanan yang tidak merata dan terlambat sehingga mempengaruhi kualitas makanan (menjadi basi dan kurang segar). Selain itu kurangnya pengawasan mutu selama proses produksi dan distribusi sehingga menimbulkan buruknya kualitas makanan bahkan sampai menimbulkan keracunan bagi penerima makanan.

Dimensi ketiga yaitu evaluasi dan keberlanjutan, bentuk pengabaian dapat terjadi dengan sistem evaluasi yang belum rutin dan sistematis, minimnya pemantauan dan pelaporan berkala yang transparan untuk memperbaiki program, bahkan perencanaan anggaran belum pasti dan belum jelasnya keberlanjutan program ke depannya, walaupun ada angin surga bahwa Kementerian Keuangan akan menganggarkan kembali MBG ini di tahun 2026 nanti.

Yang terakhir dimensi transparansi dan partisipasi publik, pengabaian dapat terjadi pada informasi tentang pelaksanaan, anggaran, dan mekanisme pengadaan yang kurang terbuka untuk publik. Selanjutnya kurangnya mekanisme pengaduan dan partisipasi aktif masyarakat dalam pemantauan program.

Belum efektifnya komunikasipun membuat harapan publik tidak realistis dan menimbulkan kekecewaan. Yang tidak kalah pentingnya yaitu minimnya keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan evaluasi, sehingga program kurang responsif terhadap kebutuhan lokal.

Kebijakan MBG ini harus didekati dengan prinsip partisipatif, adaptif, dan berbasis data. Tanpa melibatkan pihak paling terdampak (seperti ibu-ibu), program bisa kehilangan arah dan kepercayaan publik.

Secara keseluruhan, eskalasi kekecewaan ini bukan hanya sekadar masalah administratif, tetapi telah menjadi cerminan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Pemerintah harus melakukan evaluasi serius dan mendengar langsung suara orang tua sebagai perwakilan masyarakat agar program MBG benar-benar dapat memberikan manfaat maksimal dan menjadi solusi nyata untuk masalah gizi di masyarakat.

Untuk itu, kembali lagi, apakah pemerintah akan menampung eskalasi kekecewaan masyarakat terhadap MBG ini melalui perbaikan kebijakan MBG? Harapannya, MBG adalah bentuk pertolongan perbaikan gizi siswa, ibu hamil dan ibu menyusui, tanpa adanya korban lagi dalam pelaksanaan MBG ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sulistianingsih
Tentang Sulistianingsih
Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:45

Touring Tidak Selalu tentang Healing, tetapi Juga Ruang Sosial dan Psikologis

Touring bukan sekadar hobi berkendara atau perjalanan untuk healing. Di balik perjalanan dan biaya yang dikeluarkan, touring menjadi ruang untuk menjaga kesehatan sosial dan psikologis.

Touring bukanlah sekadar hobi berkendara yang menguras materi, melainkan ruang sosial dan psikologis. (Sumber: magnific.com | Foto: bublikhaus)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:21

Melawan Greenwashing untuk Mendorong Sikap Kritis terhadap Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing mengancam kepercayaan konsumen dan investor serta mengganggu alokasi modal. Transparansi, audit ESG, dan sikap kritis pasar menjadi kunci membangun bisnis berkelanjutan di masa depan.

Fenomena greenwashing didefinisikan sebagai persilangan antara kinerja lingkungan yang buruk dengan komunikasi positif yang menyesatkan. (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:43

Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

Mengenang Majalah Hai, teman generasi 1980-an dan 1990-an yang tak hanya menghadirkan musik, komik, dan cerita, tetapi juga memperluas wawasan serta membentuk selera dan imajinasi anak muda Indonesia.

Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Beranda 13 Agu 2026, 10:32

Pohon di Kota Bandung Ditebang Ilegal, Tapi Anggaran Beli Lahan RTH 2026 Malah Tak Ada

Puluhan pohon di Kota Bandung ditebang liar, giliran anggaran beli lahan RTH 2026 malah nihil. Kini janji ruang hijau kota terancam cuma angan-angan di atas kertas.

Sisa pohon yang ditebang di Jalan LLRE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:03

Pohon, Bisnis, dan Kehidupan

Saat pohon tumbang, yang jatuh bukan hanya batang, dahan, daun, justru yang ikut runtuh sederetan cerita, petuah, pamali, ingatan, hingga khazanah lokal.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 15:24

Merawat Hutan, Menjaga Warisan Peradaban di Jawa Barat

Kondisi hutan di Jawa Barat saat ini berada dalam status darurat atau sinyal lampu merah yang berakibat dari kerusakan dan penyusutan tutupan hutan yang masif.

Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 13:38

Cuaca Ekstrem Kota Bandung Akan Menimbulkan Kerawanan Bahaya Kebakaran

Cuaca ekstrem acapkali menjadi peringatan alam, bukan hanya sekadar perubahan musim tetapi peningkatan suhu mengakibatkan kekeringan yang memiliki potensi besar untuk terjadinya kerawanan kebakaran

Sawah mengalami kekeringan di musim Kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)