Bandung dan Gagalnya Imajinasi Kota Hijau

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Taman Film di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Taman Film di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Bandung selalu punya daya tarik yang ambigu, memesona sekaligus ironis. Di satu sisi, ia tampak seperti laboratorium urban yang penuh gagasan. Katanya kota kreatif, kota pendidikan, kota kuliner, kota mode. Namun di sisi gelapnya, di bawah semua citra dan slogan estetiknya itu, Bandung menunjukkan paradoks yang menohok.

Ketika muncul daftar pemeringkatan seperti UI Green City Metric, Bandung tidak tampak di barisan atas, bahkan tidak menonjol sama sekali. Kegagalan ini bukan sekadar soal angka tapi cermin dari cara kota ini dalam memahami dirinya sendiri. Sebuah kota yang terjebak di antara idealisme hijau, di puncak peradaban Priangan dan Sunda modern, yang disebut-sebut sejuk dan bersahaja.

Di permukaan, kegagalan Bandung mudah dibaca dari indikator teknis. Tapi yang menarik justru soal semua itu yang terhubung oleh benang merah yang lebih dalam. Ialah krisis struktural, kultural, dan epistemik, cara berpikir yang salah arah tentang menjadi “hijau”.

Bandung, dalam banyak hal, hanya belajar mengeja keberlanjutan. Ia belum mampu mengucapkannya dengan penuh kesadaran.

Yang Kasat Masa

Coba kita lihat dari ruang kota yang paling kasat mata, taman-taman. Pada masa Ridwan Kamil menjabat wali kota, taman-taman tematik menjamur. Terkenal Taman Jomblo, Taman Film, Taman Lansia, semuanya dibingkai dalam narasi inovasi dan kebanggaan warga. Tapi beberapa tahun kemudian, sebagian besar taman itu tampak rusak, sepi, bahkan ditinggalkan.

Kita disuguhi wajah kota yang sibuk menanam simbol, bukan menumbuhkan makna. Ruang terbuka hijau tidak pernah benar-benar menjadi ruang hidup ekologis. Ia lahir dari proyek dan berakhir sebagai hiasan. Di sinilah terlihat betapa keberlanjutan di Bandung sering berhenti pada wacana tren semata.

Bandung juga belum pernah benar-benar menata relasi antara pembangunan dan lingkungan. Kawasan resapan air terus digerus menjadi permukiman padat, perbukitan disulap menjadi resort dan vila, drainase kota hilang. Maka tak mengherankan kalau hujan dua jam saja sudah cukup membuat air menggenangi jalan Soekarno-Hatta, Pasteur, dan banyak titik lain. Kota ini hidup di dalam cekungan, tapi lupa bahwa lanskapnya punya logika alam sendiri. Ketika nalar itu diabaikan, bencana menjadi konsekuensi.

Dalam hal energi dan perubahan iklim, Bandung bahkan belum memulai langkah dasar. Tak ada peta jalan menuju transisi energi terbarukan. Seluruh listrik masih bertumpu pada jaringan berbasis batubara. Tidak ada insentif untuk panel surya, tidak ada upaya serius menurunkan emisi penggunaan kendaraan pribadi.

Kita punya jargon “Bandung Smart City”, tapi yang dimaksud pintar hanyalah administrasi digital, bukan tata kelola sistem energi yang efisien. Padahal kota yang berlangsung di era krisis iklim seharusnya menjadikan efisiensi energi sebagai etika baru, bukan sekadar proyek teknologi.

Masalah sampah barangkali adalah cermin paling brutal dari gagalnya sistem perkotaan Bandung. Krisis TPA Sarimukti yang terbakar menjadi simbol betapa rapuhnya pengelolaan sampah kita. Sampah diangkut setiap hari, tapi tidak pernah benar-benar dikelola. Daur ulang hanya jadi wacana, pemilahan di sumber hampir nihil.

Pemerintah dan warga sama-sama terjebak dalam ilusi bahwa ketika truk sampah datang, masalah selesai. Padahal yang terjadi hanyalah perpindahan bencana ekologis dari halaman rumah ke gunung sampah di pinggiran kota. Bandung, kota dengan begitu banyak universitas, komunitas, dan inisiatif kreatif, seharusnya bisa jadi pelopor ekonomi sirkular. Tapi sayangnya justru masih berkutat di logika konsumsi linear. Pakai, buang, angkut, dan lupakan.

Di sisi lain, Bandung juga kehilangan relasi spiritualnya dengan air. Sungai Cikapundung dan Citarum yang dulu menjadi sumber kehidupan kini menjadi saluran limbah. Kualitas air memburuk, konservasi tidak berjalan. Drainase kota tidak mampu menampung hujan yang datang, dan banjir menjadi peristiwa rutin.

Semua ini menunjukkan betapa kita telah kehilangan rasa hormat terhadap unsur yang dulu dianggap sakral. Air tidak lagi dimaknai sebagai sumber identitas dan kehidupan. Padahal di titik inilah krisis ekologis menjadi krisis spiritual. Ketika manusia berhenti menghormati air, ia sebenarnya berhenti memahami dirinya sendiri sebagai bagian dari alam.

Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bus Damri di halte Jalan Elang Raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Mobilitas kota pun memperlihatkan wajah serupa. Macet, penuh asap. Transportasi publik di Bandung tidak terintegrasi. DAMRI dan angkot berjalan sendiri-sendiri, tanpa sistem yang menyatu. Jalur sepeda dan pejalan kaki dibangun tapi terputus-putus, lebih sering dijadikan latar swafoto ketimbang jalur perjalanan yang otentik. Akibatnya, kendaraan pribadi tetap jadi pilihan utama. Emisi meningkat, udara menurun kualitasnya.

Di ujung semua masalah itu, kita menemukan persoalan yang paling mendasar. Ialah tata kelola. Pemerintah kota seringkali tampak aktif dalam pencitraan hijau, tapi lemah dalam membangun sistem yang transparan dan partisipatif. Kewilayahan hanya dipahami dalam batas dan zona sistem administrasi modern, bukan ruang hidup yang saling terhubung.

Banyak program lingkungan yang berhenti sebagai proyek jangka pendek. Kolaborasi dengan kampus dan komunitas ada, tapi tidak pernah berkelanjutan. Partisipasi publik sering diundang sekadar untuk legitimasi, bukan untuk perumusan arah yang bermakna. Di sini lahir semacam greenwashing governance, pemerintahan yang tampak hijau di permukaan, tapi tidak memiliki kesadaran epistemik tentang keberlanjutan.

Tamparan Keras

Semua ini tidak bisa hanya dibaca sebagai kegagalan administratif. Di baliknya, Bandung sedang mengalami krisis yang lebih dalam. Krisis budaya dan pengetahuan.

“Hijau” di Bandung lebih sering tampil sebagai gaya, bukan kesadaran yang membimbing laku hidup. Ia menjadi bagian dari estetika kota, bukan etika hidup. Taman, mural, dan slogan “Go Green” muncul sebagai simbol modernitas, tapi tidak terhubung dengan nilai-nilai lokal yang dulu pernah menjiwai relasi manusia dengan lingkungan.

Padahal Bandung memiliki sejarah panjang tentang keseimbangan alam. Dari kosmologi Sunda sebagaimana tampak pada sasakala Tangkuban Parahu, hingga tradisi makan lalapan yang tampak sepele. Keberlanjutan yang tidak berpijak pada akar ini akan selalu tampak dibuat-buat, artifisial. Ia bisa dirancang, tapi belum tentu bisa hidup dalam jangka panjang.

Bandung perlu mengembalikan makna keberlanjutan ke tanahnya sendiri. Bukan sekadar meniru indeks atau peringkat, tapi menumbuhkan kesadaran yang khas, yang mendialogkan sains, kemanusiaan, budaya, dan religi lokal.

Jika kota ini ingin benar-benar hijau, maka hijau itu harus tumbuh dari bawah, dari kebiasaan warga, dari sistem pendidikan, dari kampus, dari komunitas, dari pasar, dari gaya hidup yang tidak hanya “ramah lingkungan” tapi juga penuh hormat kepada kehidupan. Ia harus menjadi praktik, bukan pertunjukan.

Maka ketika Bandung gagal masuk UI Green City Metric, mungkin itu justru saatnya berhenti melihat daftar peringkat sebagai tujuan. Karena yang lebih penting dari semua itu adalah keberanian untuk mengakui kegagalan, bahwa selama ini kita hanya membangun “green” sebagai citra.

Dan dari pengakuan itu, semoga lahir Bandung yang baru. Bukan kota yang sekadar ingin tampak hijau, tapi kota yang benar-benar belajar hidup dalam kelestarian. Sebuah kota yang tidak hanya menanam pohon di taman, tapi juga menanam kesadaran dalam diri manusianya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!