Siapa yang tidak mengenal klub sepakbola besar Persib Bandung? tentunya semua kalangan usia mengetahui klub yang satu ini. Klub kebanggaannya masyarakat Bandung bahkan warga Jawa Barat ini telah memecahkan rekor juara tiga kali berturut-turut yang belum pernah dicapai oleh klub mana pun di Indonesia pada era sepakbola modern (1994-2026).
Persib Bandung begitu dicintai oleh semua kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang tua yang lanjut usia, mulai dari generasi baby boomers, generasi X, generasi milenial, generasi Z hingga generasi alpha. Kepopuleran Persib Bandung bukan hanya saat ini saja, jauh sebelum adanya media sosial dan arus teknologi informasi, klub ini selalu dikenal secara luas bukan hanya karena permainan dan prestasinya saja yang membanggakan, melainkan juga menjadi sebuah budaya turun temurun antar generasi. Sehingga, penyebaran kecintaannya justru dilahirkan dari pondasi terdekat dalam hidup yakni keluarga itu sendiri, dari sang ayah, ibu, atau bahkan kakek nenek yang mengenalkan kecintaan terhadap klub sepakbola ini.
Dibalik kemewahan klub besar ini, tentu banyak supporter yang begitu mencintainya, termasuk penulis yang sedari kecil diperlihatkan, diperkenalkan, dipertemukan oleh sang ayah kepada para pemain persib, dari mulai zaman Robbi Darwis, Lorenzo Cabanas, hingga Hilton Moreira. Kecintaan para supporter terhadap klub Persib Bandung ini tidak bisa diutarakan dengan kata-kata, karena rasa cinta terhadap Persib Bandung mengalir didalam darah dan dada, terbukti pada saat momentum krusial laga melawan Persija sebagai ajang gengsi ketika menonton itu terasa dada bergetar dan darah menjadi dingin karena ingin sekali melihat Persib Bandung memenangkan pertandingan.
Penulis merasakan setidaknya 4 kali momentum Persib Bandung Juara Liga Indonesia yakni tahun 2014, 2024, 2025, 2026. Dari semua momentum juara itu hanya satu kali penulis merasakan konvoi kejuaraan di Kota Bandung. Bukan tidak bisa mengikuti konvoi di tahun-tahun selanjutnya, sebagai orang pasirkoja penulis memandang bahwa konvoi Persib Bandung tidak selalu melahirkan kebaikan untuk diri penulis pribadi khususnya. Karena pada faktanya banyak sekali orang terlibat merasakan kemenangan dan kejuaraan Persib Bandung ini.
Euforia selalu menjadi momen yang ditunggu oleh setiap orang dalam menyambut Persib Bandung sebagai sang Juara apalagi memecahkan rekor baru hattrick. Tetapi, euforia berlebihan pun tidak baik, ada satu kondisi dimana seseorang harus bisa menjaga dirinya, menenangkan dirinya, dan memastikan juga tidak mengganggu orang lain. Terlebih, jika menganggu keamanan serta kenyamanan para pemain dan official Persib Bandung.

Sebagai supporter dan atau seseorang yang sama-sama mencintai klub ini, seharusnya setiap dari kita bisa menjaga euforia tersebut agar tidak menimbulkan kesan buruk khususnya dihadapan para pemain terlebih para pemain asing yang notabene nya mereka sedang menilai dan merekam bagaimana kita menjaga budaya dan tradisi ini, hal itu bisa tercermin dari sikap kita semua sebagai pecinta bola.
Terjadi kehilangan ponsel salah seorang pemain Persib, terlalu dekatnya dengan pemain hingga membuat tidak nyaman, dan kurangnya keamanan yang baik ini merupakan tanda evaluasi, bukan hanya evaluasi birokrasi atau administrasi tetapi juga evaluasi diri masing-masing. Bahwa, euforia berlebihan sejatinya tidak melahirkan kebaikan justru menimbulkan keburukan dan kerugian bagi semua pihak. Alangkah lebih dewasanya jika seseorang mencintai dan mengekspresikannya dengan bijak, sederhana dan ini terlihat elegan.
Opini ini bukan untuk menyudutkan pihak manapun, tetapi ini menjadi catatan bersama bagaimana merawat kecintaan dan menampilkan rasa cinta itu harus dari hati dan sampai ke hati (diterima dengan baik) oleh pihak yang kita cintai juga, jangan malah menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan orang-orang yang justru sedang kita cintai bersama! (*)
