Tasikmalaya sebelum Kota Benar-benar Terbangun

7 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Salah satu sudut Kota Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Djoko Subinarto)
Salah satu sudut Kota Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Djoko Subinarto)

TANDA waktu di ponselku menunjukkan pukul 05.34 saat aku menyeret kakiku menuju halaman depan Masjid Agung Tasikmalaya, Jawa Barat. Langit belum sepenuhnya terang. Udara masih menyisakan kesejukan yang beberapa jam lagi mungkin bakal menghilang bersama padatnya kendaraan dan riuhnya aktivitas warga.

Kala aku mendekati Masjid Agung itu, Tasikmalaya belum benar-benar bangun. Jalanan di depan masjid yang siang hari dipenuhi sepeda motor dan mobil kini hanya sesekali dilintasi kendaraan. Yang lebih banyak kulihat justru sejumlah orang yang memilih memulai hari dengan tubuh yang bergerak. Ada yang berjalan santai. Ada yang berlari dengan langkah teratur, serta beberapa yang menggunakan sepeda kayuh dan melintas menikmati jalan yang masih lapang.

Tidak ada klakson yang saling bersahutan. Tidak terdengar suara pedagang menawarkan dagangan. Kota seolah sedang menarik nafas panjang sebelum memulai kesibukan hari itu.

Masjid Agung Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)
Masjid Agung Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Di seberang jalan, tak begitu jauh dari pagar sisi timur Masjid Agung, aku melihat seorang petugas kebersihan sedang menunaikan tugasnya. Sampah yang semalam berserakan mulai disapu dan dimasukkannya ke dalam tong sampah. Perlahan, trotoar dan bahu jalan terlihat bersih, seakan tidak pernah menjadi tempat lalu lalang ribuan orang beberapa jam sebelumnya.

Ketika pandanganku bergeser ke sisi jalan yang berbatasan dengan taman kota, tepat di seberang Masjid Agung, kondisi terlihat sedikit berbeda. Di sana, sampah berupa kantong plastik, gelas minuman, bungkus makanan, dan puntung rokok, yang merupakan sisa aktivitas semalam, masih menghiasi trotoar dan bahu jalan lantaran belum sempat dibersihkan. Sampah itu tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kota selalu memiliki cerita yang berbeda hanya dalam jarak beberapa puluh meter.

Jalan KHZ Mustofa di pagi hari. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)
Jalan KHZ Mustofa di pagi hari. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Sebagian ruas jalan di depan taman itu, sepanjang siang hingga malam, biasa menjadi tempat mangkal para pedagang, khususnya pedagang makanan. Pagi itu para pedagang belum datang dan beraktivitas. Taman pun masih sunyi.

 Tanpa banyak polesan

Jujur saja, aku selalu menyukai suasana kota pada waktu-waktu sebelum banyak aktivitas rutin dilakukan, di kala matahari belum tinggi, dan keramaian belum mengambil alih, serta kehidupan masih bergerak dengan tempo yang alon

Pada jam-jam awal itulah kota – seperti Tasikmalaya – terasa memperlihatkan kepribadiannya tanpa banyak polesan, sebuah kota yang apa adanya, yang  tenang dan lalu perlahan-lahan bersiap menyambut hari yang sebentar lagi akan benar-benar dimulai.

Dari depan Masjid Agung, aku beringsut ke mulut Jalan KHZ Mustofa. Bagi warga Tasikmalaya, nama jalan ini tentu tidak asing. Inilah salah satu urat nadi pusat kota Tasikmalaya. Di kiri dan kanan jalan berjajar pertokoan,serta berbagai usaha yang setiap hari menjadi tujuan ribuan orang. Namun, pagi itu, sebagian besar pintu-pintunya masih tertutup rapat. Jalan yang biasanya sibuk justru terasa lapang.

Replika kelom gelis. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)
Replika kelom gelis. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Trotoar Jalan KHZ Mustofa cukup lebar. Berjalan di atasnya menghadirkan rasa nyaman karena tidak harus berebut ruang dengan kendaraan. Pagi itu, sesekali hanya terdengar suara rantai sepeda yang berputar atau langkah kaki para pejalan pagi. Di kejauhan, cahaya matahari mulai menyentuh ujung bangunan, memberi warna sedikit keemasan yang pelan-pelan memupus sisa-sisa gelap malam.

Bakiak cantik

Di sepanjang Jalan KHZ Mustofa terpasang replika payung Tasik. Bentuknya sederhana, tetapi mudah menarik perhatian. Di sepanjang trotoar juga dipasang replika kelom geulis (secara harfiah berarti bakiak cantik), yang sekaligus difungsikan sebagai bangku atau tempat duduk. 

Payung Tasik dan kelom geulis sendiri lahir dari tradisi kerajinan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tasikmalaya. Maka, ketika replika keduanya dihadirkan di ruang publik, boleh jadi ia bukan sekadar ornamen. 

Warga berolahraga di Jalan KHZ Mustofa. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)
Warga berolahraga di Jalan KHZ Mustofa. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton dan aspal, tetapi juga oleh ingatan kolektif tentang keterampilan, budaya, dan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap kota memang memiliki caranya sendiri untuk memperkenalkan diri. Ada yang melakukannya melalui gedung pencakar langit. Ada yang lewat taman-taman kota. Ada pula yang memilih menghadirkan simbol-simbol budaya di ruang publik seperti yang aku lihat pagi itu di Jalan KHZ Mustofa. 

Pedestrian bergaya Malioboro

Dari Jalan KHZ Mustofa, aku langkahkan kaki menuju Jalan Cihideung, yang juga menjadi urat nadi kehidupan pusat Kota Tasikmalaya. 

Kini, wajah Jalan Cihideung sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam. Kawasan yang dahulu didominasi kendaraan bermotor itu telah bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih ramah bagi pejalan kaki. Banyak orang bahkan menyebutnya sebagai kawasan pedestrian bergaya Malioboro karena suasananya yang mengundang orang untuk berjalan santai sambil menikmati deretan toko dan aktivitas di sekitarnya.

Kawasan pedestrian Cihideung. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)
Kawasan pedestrian Cihideung. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Koridor pedestrian sepanjang sekitar 370 meter di Jalan Cihideung dilapisi batu andesit yang membuat langkah kaki terasa lebih nyaman. Dari lebar jalan sekitar 12 meter, sebagian besar ruang kini diberikan kepada pejalan kaki dan aktivitas niaga. Jalur kendaraan dipersempit menjadi sekitar tiga meter sehingga kendaraan tetap bisa melintas, tetapi tidak lagi mendominasi ruang jalan.

Pagi itu, kawasan Cihideung belum dipadati pengunjung. Yang lebih dulu hadir justru para pedagang. Beberapa di antaranya sedang menurunkan kardus dan karung plastik dari motor. Sebagian lain mendorong troli berisi barang dagangan menuju jongko masing-masing. Ada pula yang sibuk membuka rolling door

Suasananya mengingatkanku bahwa sebuah kawasan perdagangan sebenarnya mulai hidup jauh sebelum pembeli berdatangan. Sebelum etalase tertata rapi dan lampu toko dinyalakan, ada banyak tangan yang bekerja dalam senyap. 

Aku berhenti sejenak memperhatikan aktivitas di Cihideung. Tidak ada keramaian seperti yang biasa terlihat menjelang siang atau sore. Namun, justru pada jam-jam seperti inilah denyut kehidupan Jalan Cihideung terasa paling nyata. Aku bisa menyaksikan proses bagaimana sebuah kawasan perdagangan perlahan sedang membangunkan dirinya sendiri.

Akrab aroma kuliner

Dari Cihideung aku lantas menyusuri kawasan Pasar Wetan dan kemudian berbelok ke kanan ke Jalan Yudanegara. Jika Jalan KHZ Mustofa dan Jalan Cihideung identik dengan kawasan perdagangan, Jalan Yudanegara terasa lebih akrab dengan aroma kuliner, yang biasanya mulai memenuhi udara ketika matahari semakin tinggi. Akan tetapi, pagi itu, jalan tersebut masih menyimpan kesunyian pula.

Beberapa kendaraan memang mulai melintas, tetapi jumlahnya masih bisa dihitung jari. Deretan kedai dan gerai makanan yang pada siang hingga malam hari menjadi magnet bagi warga maupun pendatang masih tertutup pintunya. Tidak ada antrean. Tidak ada kepulan asap dari dapur. Belum terdengar denting peralatan makan saling beradu.

Sulit membayangkan bahwa beberapa jam lagi kawasan ini akan berubah wajah. Kursi-kursi akan terisi. Obrolan akan mengalir dari satu meja ke meja lain. Aroma kopi, soto, bubur ayam, hingga harum aneka jajanan akan bercampur menyesaki udara. Jalan yang pagi itu terasa lengang perlahan bakal menjadi salah satu titik paling hidup di pusat Kota Tasikmalaya.

Aku benar-benar menikmati suasana Jalan Yudanegara dalam keadaan seperti ini. Ada semacam jeda yang membuat mata lebih leluasa menangkap hal-hal kecil. Rambu-rambu jalan terlihat lebih jelas. Bentuk bangunan tidak tertutup keramaian. Bahkan cericit burung liar masih mampu mengalahkan deru kendaraan yang mulai berdatangan.

Perjalanan pagi itu membuat aku berpikir bahwa setiap kota sebenarnya memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama adalah yang biasa dilihat orang banyak—ramai, sibuk, penuh transaksi dan pertemuan. Kehidupan kedua berlangsung beberapa jam sebelumnya, ketika kota masih bergerak pelan, seolah sedang melakukan pemanasan sebelum memasuki ritme yang lebih cepat.

Memiliki jam terbaiknya

Banyak pelancong datang ke sebuah kota pada jam-jam ketika semua aktivitas sudah berjalan. Mereka melihat restoran yang penuh, toko yang ramai, dan lalu lintas yang padat. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja, mereka mungkin melewatkan satu bab yang menarik, yakni ketika kota masih berbicara dengan suara yang jauh lebih lirih.

Aku pun jadi teringat dengan kebiasaanku dalam bersepeda jarak jauh. Hampir setiap perjalanan bersepedaku selalu dimulai sebelum matahari terbit. Awalnya, semata-mata untuk menghindari panas. Lama-kelamaan, aku menyadari ada “hadiah” lain yang datang tanpa direncanakan, yakni kesempatan melihat kota-kota dalam suasana yang belum banyak disentuh hiruk-pikuk.

Pada momen seperti itulah aku sering menemukan hal-hal sederhana yang tak jarang kemudian mengendap lama dalam ingatanku. Misalnya, seorang penyapu jalan yang bekerja tanpa banyak suara, penjual bubur yang baru membuka gerobaknya, atau seorang nenek yang sedang berjemur bersama cucu di depan rumahnya.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak bakal pernah masuk brosur wisata. Pun tidak ada yang menjadikannya objek swafoto. Tidak ada pula papan penunjuk yang mengarahkan orang untuk datang melihatnya. Namun, justru di momen seperti itulah sebuah kota memperlihatkan dirinya secara alami, tanpa perlu dipolas-poles untuk menyenangkan pengunjung.

Aku percaya bahwa setiap kota, kecil maupun besar, memiliki jam terbaiknya sendiri. Dan khusus, bagi Tasikmalaya, setidaknya dari jalan kaki singkat yang aku lakukan pagi itu, pesonanya di mataku muncul beberapa saat setelah azan Subuh usai berkumandang, ketika jalanan masih memberi ruang untuk berjalan perlahan dan udara masih menyimpan kesejukan malam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Agu 2026, 19:39

Jejak Rasa di Garis Depan: Menelusuri Kaitan Erat Aantara Kuliner, Logistik Perang, dan Kedaulatan Indonesia

Kuliner dan kemerdekaan Indonesia berkelindan secara berkelanjutan.

ilustrasi Sukarno dan buku "Mustikarasa". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 02 Agu 2026, 15:52

Ingatan Kolektif Bangsa dan Sejarah

Bagaimana kita menghidupkan ingatan sejarah? Karena dari situlah bangsa terlahir dan menuju peradaban maju.

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat terletak di Jalan Dipati Ukur Nomor 48, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 02 Agu 2026, 14:44

5 Pilihan Empal Gentong Cirebon untuk Wisata Kuliner

Sedang wisata ke Cirebon? Jangan lewatkan lima empal gentong terbaik yang terkenal dengan kuah gurih, daging empuk, dan resep turun-temurun.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 02 Agu 2026, 11:34

Air Mengalir Gratis: Menagih Konsistensi Keadilan Sumber Daya

Permasalahan kekeringan menjadi satu hal yang tidak dapat dibiarkan terjadi setiap tahunnya.

Warga mengambil air sumur yang berada di trotoar Jalan Cipaganti, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Agu 2026, 09:05

Tasikmalaya sebelum Kota Benar-benar Terbangun

Tasikmalaya belum benar-benar bangun. Jalanan di depan masjid yang siang hari dipenuhi sepeda motor dan mobil kini hanya sesekali dilintasi kendaraan.

Salah satu sudut Kota Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Djoko Subinarto)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 21:58

Bandung Mesti Ramah Disabilitas, Jangan Serobot Fasilitas Mereka!

Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan inovator teknologi untuk mewujudkan pembangunan inklusif untuk disabilitas

Ilustrasi kaum disabilitas di Kota Bandung (Sumber: Kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 20:49

Ketika Sempadan Sungai Tergusur, Bandung Kehilangan Nilai Luhur

Bandung lestari alamnya jika segenap warga kota terus berusaha memuliakan air dan memahami siklus hidrologi.

Salah satu aliran sungai di Kota Bandung yang tidak punya sempadan dan ekosistemnya rusak akibat pencemaran berat. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 18:40

Kamp Konsentrasi Jepang di Lembang

Kamp konsentrasi Jepang atau kamp interniran adalah tempat penahanan yang didirikan oleh tentara Kekaisaran Jepang pada masa Perang Dunia II.

Nisan para korban kekejaman Jepang (dari Kamp Lembang) yang berlokasi di Ereveld Ancol, Jakarta. (Foto: Anggara)
Wisata & Kuliner 31 Jul 2026, 16:44

8 Kuliner Legendaris Sukabumi yang Wajib Dicoba

Temukan 8 kuliner legendaris Sukabumi lengkap dengan lokasi, jam buka, harga, dan cerita di balik tempat makan yang bertahan puluhan tahun.

Skoteng SIngapore Sukabumi. (Sumber: YouTube Bang Mpin)
Ikon 31 Jul 2026, 15:12

BEC Pusat Elektronik di Kota Bandung

Bandung Electronic Center (BEC) masih menjadi pusat elektronik favorit di Bandung dengan ribuan pilihan gadget, aksesoris, hingga layanan servis.

BEC pusat elektronik di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 15:06

Ketika Air Tinggal Sepercik

Kekeringan alias berkurangnya air atau bahkan hilang sedang melanda beberapa wilayah termasuk Bandung Raya

Sawah yang mengering akibat kemarau di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 30 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 13:01

Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 31 Jul 2026, 12:01

Bandung, Kota dengan Budaya Sepak Bola yang Kental

Bandung memiliki budaya sepakbola yang kuat, mulai dari Monumen Sepakbola, Persib Bandung, hingga lapangan dan SSB yang tersebar di berbagai wilayah.

Monumen Sepak Bola di persimpangan Jalan Tamblong dan Jalan Lembong. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 11:01

Integrasi Wisata Sungai Citarik, Taman Sumaba dan Stadion GBLA

Masyarakat desa di sekitar Citarik setuju jika desanya bertransformasi menjadi ekowisata.

Pemandangan sempadan anak sungai Citarik dan pematang sawah di daerah aliran sungai. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 10:18

Ci Mahi, Sungai yang Mengalirkan Air Susu Keagungan dan Kemuliaan

Toponim Cimahi berasal dari dua kata bahasa Sunda, yaitu ci atau cai, dan mahi.

Muara Sungai Mahi di Teluk Kambhat, Laut Arab. (Sumber: Istimewa)
Beranda 31 Jul 2026, 09:26

Dalam 43 Hari Dua Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno Hatta, B2W Bandung Desak Jalur Terproteksi

B2W Bandung desak pemerintah bangun jalur sepeda terproteksi di Soekarno Hatta setelah dua pesepeda tewas dalam rentang waktu kurang dari dua bulan.

Kecelakaan di Jalan Soekarno-Hatta pada Rabu, 29 Juli 2026 mengakibatkan seorang pesepeda meninggal dunia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 09:16

Perlindungan Pekerja Migran Dimulai dari Tata Kelola, Bukan Sekadar Penindakan

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka.

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 08:32

Jalan Raya Kita Bukan untuk Pesepeda

Negara kita khsusunya Kota Bandung memang belum siap menjadikan jalan raya sebagai tempat yang ramah dengan sepeda.

Pengecatan ulang jalur khusus sepeda untuk meningkatkan kenyamanan dan juga meningkatkan keselamatan lalulintas pengguna sepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 18:40

Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah

Panduan lengkap wisata Dieng mulai Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna, harga tiket terbaru, rute, dan tips berkunjung.

Panorama Dieng. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 18:30

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Melalui sentuhan-sentuhan, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan sajian dengan kedalaman rasa dan istimewa.

Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)