Tujuh belas Agustus tahun ini sepertinya tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramai dengan perlombaan, ramai dengan karnaval, ramai dengan lomba tumpengan. Semua memeriahkan kemerdekaan yang telah kita raih selama 80 tahun. Istana pun tetap merayakannya dengan khidmat dan penuh sukacita. Para pejabat masih berpakaian perlente, rapi, wangi, dan menunjukkan kelasnya sebagai jajaran elite masyarakat. Masyarakat kita juga khidmat dalam upacara tujuhbelasan. Semua hadir dengan menggunakan seragam, tetap menghormati Sang Merah Putih, dan pulang dengan gembira karena upacara tidak dilaksanakan terlalu lama.
Semua telah dipersiapkan jauh sebelum 17 Agustus 2026 mendentingkan waktunya. Ada yang selama sebulan penuh fokus mendesain patung karnaval untuk ditampilkan. Para pengurus pemerintah setempat mulai melakukan sosialisasi dan penagihan kepada warga untuk mendukung kegiatan yang dianggap sebagai bentuk kegembiraan dalam menyambut hari kemerdekaan. Namun, sampai hari itu dimulai, tidak semua warga merasakan kegembiraan yang dicita-citakan. Mereka hanya ditagih untuk mendukung, bukan untuk berpartisipasi. Mereka seolah dipasung untuk melihat kegembiraan yang diciptakan oleh segelintir orang yang berkepentingan. Pada akhirnya, mereka selalu terjebak dalam pola dan situasi yang sama setiap tahunnya.

Ironi adalah kalimat yang kontradiktif dan enggan didengar oleh sebagian masyarakat. Bahwa perayaan kemerdekaan tak lain merupakan simbol bahwa kita pernah menang melawan penjajah asing secara fisik, tetapi tidak dengan pikiran! Bagi masyarakat, perayaan adalah katarsis massal. Tidak peduli seberapa cekat-cekatnya kondisi ekonomi atau seberat apa beban hidup, berpartisipasi dalam lomba 17-an adalah hal yang dianggap wajib karena merupakan bagian dari rangkaian solidaritas kampung, tawa tiruan, serta gengsi sosial. Kebisingan ini seolah-olah mampu meredam suara keluhan di dapur yang kian hari kian nyaring akibat harga bahan pokok yang terus merangkak naik.
Ketika lampu Agustusan padam, realitas pahit kembali menyapa tanpa permisi. Bagi mereka yang terjebak dalam “nasib sial yang tak kunjung usai”, kemerdekaan terasa seperti milik orang lain. Selanjutnya, dampak pascaperayaan yang sering dijumpai dan menjadi drama tragis bangsa kita adalah, pertama, ironi ekonomi. Esok hari setelah memenangkan lomba, tagihan utang pinjol tetap menanti di depan pintu. Sertifikasi guru masih belum cair karena ruwetnya birokrasi. Lalu, siklus sial. Lapangan kerja yang sulit dan PHK massal membuat perayaan terasa hambar bagi para pengangguran. Bahkan, dalam salah satu unggahan di Instagram, seorang warga dengan sengaja mempertontonkan kepada pemerintah daerah persoalan janji 19 juta lapangan kerja. Terakhir, sebuah komedi getir. Hadiah panci atau kompor dari lomba kampung tidak cukup untuk menambal kebocoran nasib buruk selama setahun penuh. Perayaan ini memperlihatkan kemampuan adaptasi psikologis yang luar biasa sekaligus menyedihkan: kemampuan untuk tetap berdansa di tengah badai kemiskinan dan kesialan hidup.
Maka, Agustus tahun ini adalah ekspresi untuk menertawakan kesialan bersama. Agustusan yang tetap ramai di tengah nasib sial yang berlanjut merupakan bentuk pertahanan diri terbaik bangsa ini. Masyarakat tidak sedang melupakan masalah mereka, melainkan sedang mengumpulkan energi untuk menghadapi kesialan berikutnya. Di atas panggung 17-an, semua orang berhak menjadi pemenang, bahkan mereka yang dalam kehidupan nyata selalu kalah oleh keadaan. (*)