Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

5 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Meluasnya peristiwa kebencanaan seolah sebagai kado tersedih yang diterima bagi negeri kita.

  • Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

  • Langkah sederhananya, kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah juga, LSM dan organisasi nirlaba lainnya yang menginisiasi pembentukan percepatan dan terpadu.

Meluasnya peristiwa kebencanaan seolah sebagai kado tersedih yang diterima bagi negeri kita. Di NTT terjadi gempa bumi hingga memberikan trauma panjang bagi masyarakat di sekitar, korban dari bencana ini jumlahnya semakin bertambah hingga banyak empati berdatangan.

Di Kalimantan tak kalah traumanya, berhektar-hektar luasnya terkena dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Terbakarnya kawasan hutan dan lahan meski ditengarai karena el nino, namun faktor manusia pula yang menjadi sorotan. Korbannya pun bukan hal remeh melainkan mayoritas penduduknya mengalami ISPA.

Situasinya semakin kritis dan naas berakibat pada aktivitas masyarakat yang mandek dan statis, tidak dapat berbuat apa-apa selain menunggu kebijakan dari pemerintah untuk menyelesaikan problematika yang menahun ini.

Berdasarkan data BNPB menyebutkan bahwa dari 1.532 bencana memberi dampak kepada 3.8 juta masyarakat. Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Sebab langkah mengantisipasi kebencanaan ini untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu mencegah ketika bencana mengguncang. Oleh karena itu, kita wajib menyoroti hal ini secara mendalam.

Sebab kebencanaan yang sering terjadi perlu mendapatkan perhatian paling serius. Selain dari program yang sudah ada di BNPB, tentunya diperlukan pendidikan mitigasi kebencanaan yang tertib dan dipahami oleh masyarakat.

Bencana di Indonesia sudah tidak bisa dianggap sebagai rutinitas tahunan, melainkan kewaspadaan yang wajib diberi label secara tanggap dan cepat. Situasi bencana memang tidak mudah tetapi pencegahan yang serius itu perlu disiapkan secara aktif dan koordinatif. Upayanya agar masyarakat mengerti bahwa bencana bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan diperlukan kesiapsiagaan yang semestinya.

Berkaca ke Jepang

Apakah kita bisa menyesuaikan diri dengan peristiwa kebencanaan? Kita sudah tahu bahwa Jepang adalah negara yang sudah memastikan menjadi negara yang selalu melindungi warganya ketika bencana terjadi.

Ibaratnya belajar dari Jepang sebenarnya perkara mudah, belajar dari cara mengatasi bencana di wilayah-wilayah dan cara mengatasi pasca bencana secara holistik dan beraturan.

Jepang bukan sekadar negara yang siap tanggap terhadap bencana, lebih dari itu. Membekali masyarakatnya dengan segenap keilmuan kebencanaan sejak dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Masyarakatnya pun mau belajar dan siap menerima himbauan dan informasi menyeluruh dari pemerintah daerah hingga pusat. Artinya Jepang bukan negara yang baru kemarin sore menggagas dan berinovasi atas kebencanaan yang kerap menimpanya.

Alhasil, Jepang berpredikat sukses sebagai negara yang melindungi masyarakatnya dengan sigap dan cepat. Tak ada lagi kata bencana gagal diatasi oleh Jepang. Mewaspadai hal itu, Indonesia bisa belajar dengan serius.

Berkaca dari setiap peristiwa kebencanaan di Indonesia, Jepanglah yang dapat diprioritaskan untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kebencanaan. Sesungguhnya kita tidak kekurangan ahli di bidang kebencanaan. Ahli-ahli tersebut dapat mempelajari program yang dicanangkan Jepang untuk warganya.

Bencana alam tanah longsor di Kampung Condong, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Bencana alam tanah longsor di Kampung Condong, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Dari setiap program itu kemudian diarahkan diduplikasi dan diimplementasikan di Indonesia. Mulai dari pra bencana, persiapan saat terjadi bencana, hingga penanganan pasca bencana.

Bukankah Indonesia mampu menggelontorkan dana besar untuk bencana? Maka dana prioritas atas penanggulangan bencana ini merupakan pengharapan dari masyarakat Indonesia. Secara keseluruhan, kita meyakini pemerintah mampu memaksimalkan peristiwa kebencanaan ditangani lebih spesifik dan komprehensif.

Hakikatnya kita berkebangsaan tentu tidak bisa dipisahkan dari peranan masing-masing dan berkolaborasi untuk menyelesaikan tragedi bencana yang tak kunjung selesai dan tuntas.

Faktanya, menyisakan pertanyaan, setiap terjadi bencana di Indonesia, apakah pemerintah sudah menganggarkan dana yang besar dan tepat sasaran? Mengingat dana yang disalurkan terkadang masih berputar-putar di lingkaran yang tak menentu keputusannya, kebijakan birokrasi mengalahkan dana darurat yang dibutuhkan oleh masyarakat terdampak.

Refleksi Sampai Aksi

Tidak ada salahnya, saran sederhana, ambillah langkah dari setiap peristiwa dengan merefleksi. Peristiwa demi peristiwa seolah terjadi sebagai teguran dan kewaspadaan.

Pencegahan lebih baik dari sekadar mengusulkan program baru di tengah bencana yan berlangsung. Kebutuhan masyarakat terganggu. Bantuan yang belum optimal akibat dari infrastruktur yang rusak.

Langkah sederhananya, kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah juga, LSM dan organisasi nirlaba lainnya yang menginisiasi pembentukan percepatan dan terpadu.

Kondisinya tidak boleh instan, melainkan kolaborasi yang dibentuk ad hoc. Upayanya menangani dengan mencegah. Teknologi wajib mendampingi agar setiap masyarakat tahu bahwa bencana terjadi namun masyarakat sudah mendapatkan sinyal dari gawainya.

Refleksi sampai beraksi kembali. Pertanyaan dalam refleksi ini di antaranya, jika kebencanaan ini diwaspadai, bagaimana langkah konkritnya? Benarkah dapat diberi sinyal kebencanaan di setiap gawai masing-masing.

Melalui kolaborasi dengan komdigi, setiap nomor seluler yang terdaftar dan digunakan oleh masyarakat, maka setiap kali muncul bencana akan memberi sinyal langsung kepada masyarakat, menyesuaikan alamat lengkap dan domisili masyarakat.

Sejauh ini, program pemerintah mengatasi karhutla dari memproduksi tepung dari singkong bukan solusi jangka panjang. Sementara kebencanaan selalu hadir di bumi Indonesia tidak hanya di bulan tertentu.

Maka dari itu, kelebihan dari gagasan nomor seluler sebenarnya sudah diterapkan di negara-negara maju. Sejak itu, pemerintah bisa menyiapkan diri. Betulkah kesempatan memperbaiki kualitas layanan kebencanaan akan mengiringi pencegahannya.

Masyarakat Indonesia mengidamkan kepada pemerintah untuk mau belajar dari negara yang sudah mengatasi kebencanaan secara berkala dan memudahkan masyarakat bersiap-siap ketika bencana datang.

Alternatifnya sekarang, pemerintah bisa menggerakkan semuanya, mulai dari hal sederhana hingga memutuskan agar bencana di tahun-tahun mendatang tak akan ada lagi. Terutama, jika bencana hadir pun sudah tentu masyarakat mengantisipasinya.

Singkatnya, kita tidak ingin durasi kemerdekaan ternodai oleh peristiwa bencana. Kita tidak siap menerima kenyataan kalau bencana di bulan kemerdekaan cukup memprihatinkan. Langkah kecil agar ketika bencana datang, namun masyarakat merasa tenang.

Ketersediaan wawasan kebencanaan juga dapat dibuat oleh masyarakat pendidik dan dihimbau untuk digunakan menyeluruh. Peranan komunitas yang berfokus kebencanaan dapat membantu mewujudkan refleksi sampai aksinya.

Merdeka dari kebencanaan adalah kado terindah, semoga di tahun mendatang terealisasi paling cepat di awal Januari. Kelak kita akan berkata kepada penerus bangsa, tongkat estafet menangani kebencanaan akan diambil alih oleh generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alpha.  

Usaha dari refleksi memitigasi bencana tidak dapat dihindari dan wajib diagendakan serta dibekali pelbagai informasi. Dengan menganut dua iklim pun warga Indonesia cepat memeroleh hasil tanpa tahu bahwa hasil belajar mitigasi pun sebagai belajar yang menyenangkan dan menggerakkan masyarakat mencintai diri sendiri dan tidak berkegiatan ilegal.

Gerakan masyarakat peduli Aceh, NTT, dan Kalimantan dapat dimaknai bahwa kebencanaan di era kemerdekaan dapat diartikan sebagai teguran dan ada hikmahnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muh Husen Arifin
Dosen Aktif di Prodi PGSD UPI Kampus Cibiru

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Sep 2026, 12:04

Dampak Depresiasi Rupiah Terhadap Ketahanan Operasional dan Profitabilitas UMKM

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merupakan sebuah fenomena ekonomi yang krusial yang sedang terjadi sekarang ini.

Penggunaan uang rupiah di ranah UMKM. (Sumber: Pexels | Foto: rakhmat suwandi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 10:49

Wartawan Kok Minta Uang, Inilah yang Membuat Profesi Jurnalis Terancam

Sebuah kartu pers, nama media, dan kemungkinan sebuah berita yang ditayangkannya dapat menimbulkan tekanan sosial yang besar.

Aksi solidaritas atas kekerasan terhadap Jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 09:14

Pentingnya Penerapan Aset Tetap untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia

Banyak UMKM di Indonesia yang mengalami kerugian hingga berakhir bangkrut akibat minimnya pengetahuan dalam mengelola aset tetap.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 18:53

Perang Kata-Kata

Hal ini terjadi diantara perang bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak awal tahun 2026.

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 17:05

‘Jomblo’: Kisah Lajang yang Mencari Cinta di Soreang, Banjaran, dan  Pangalengan

Kata jomblo diserap dari bahasa Sunda yang awalnya bermakna ‘gadis tua atau barang dagangan yang belum laku’.

Lagu "Jomblo" yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Yayan Jatnika diperkirakan dirilis secara digital antara tahun 2016–2017 melalui album kompilasi “Pria Unggulan Pop Sunda”. (Sumber: Youtube)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 16:28

Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

Di balik kartu pilihan lagu dan suara penyiar, radio pada masanya menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan pendengar, persahabatan, dan kenangan hingga melampaui batas kota.

Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 15:58

Menjelajah Mozaik Budaya dan Rekonstruksi Genius Lokal Grobogan

Grobogan bukan sekadar wilayah agraris, melainkan mozaik sejarah dan budaya yang memperlihatkan bagaimana genius lokal membentuk ketahanan masyarakat, merawat keberagaman, dan peluang ekonomi.

Badiatul Muchlisin Asti sebagai penyunting buku menunjukkan buku berjudul "Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Generate AI)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 13:54

Merefleksi Mitigasi Kebencanaan di Bulan Kemerdekaan

Rentetan bencana di bulan Agustus tahun 2026 ini mengingatkan kita bahwa mitigasi kebencanaan memerlukan pendekatan dan metode yang tepat, demi terwujudnya langkah mengantisipasi kebencanaan.

Pengunjung saat berwisata ke Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang berada di kawasan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 12:16

Cicaheum, Eka Jaya, dan Bungbulang

Cicaheum memang berhenti menjadi terminal bus AKAP dan AKDP. Eka Jaya hanya tinggal nama dalam ingatan. Bungbulang tetap menjadi kampung halaman yang selalu memanggil pulang.

Suasana warung di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 10:49

Dipungut Rp600 Ribu Gara-gara Bikin Konten di Rumah Pengabdi Setan, Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Sebuah destinasi wisata bisa membayar iklan untuk memperoleh perhatian. Tetapi ia juga bisa memperoleh perhatian tanpa membayar media secara langsung.

Ilustrasi konten kreator di sebuah lokasi wisata. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Wisata & Kuliner 02 Sep 2026, 10:45

Panduan Wisata Kareumbi Cicalengka, Hutan Konservasi untuk Kemah Estetik Bandung Timur

Kareumbi Cicalengka menawarkan trekking hutan, penangkaran rusa, glamping, camping, dan wisata edukasi konservasi. Simak harga tiket, lokasi, dan jam bukanya.

Wisata Kareumbi Cicalengka. (Sumber: Google Review (Vina Rostiana))
Ayo Netizen 02 Sep 2026, 08:03

Ketika Data Mengubah Nasib Keluarga

Perubahan desil, akses bansos dan PBI JK, hingga risiko pendidikan anak menunjukkan bahwa akurasi data perlindungan sosial bukan sekadar persoalan administratif.

Anak-anak memanfaatkan lorong rumah deret Tamansari untuk bermain, Sabtu 25 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 18:08

Awal Penemuan Teh dan Awal Penanamannya di Indonesia

Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan.

Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 17:11

September Ceria, Ikoniknya Vina Panduwinata

Nama bulan September melambungkan dengan tinggi nama Penyanyi Vina Panduwinata.

Vina Panduwinata. (Sumber: Musica Studio)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 16:10

Ketaatan Standar Cerobong Asap dan Pengendalian Pencemaran Udara di Bandung

Kota Bandung yang secara geografis berada di wilayah cekungan memiliki risiko tinggi terhadap akumulasi polutan

Ilustrasi Dinas Lingkiungan Hiup sedang melakukan pengukuran kualitas udara. (Sumber: kreasi Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 15:06

Ketika Anak Tumbuh di Balik Layar: Sudahkah Mereka Aman?

Menjaga anak di ruang digital tak cukup dengan pembatasan. Edukasi digital perlu bergeser dari larangan menuju kemampuan mengenali mengenali risiko dan melindungi diri di balik layar.

Belajar menggunakan open source secara bijak di rumah (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Bayu HP)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 13:58

Ojol dan Negara: Batas Kabur antara Pekerja dan Pengawas Kota

Ojol bukan aparat. Juga bukan relawan keamanan. Mereka adalah pekerja ekonomi digital yang pendapatannya bergantung pada order, dan bukan pada fungsi sosial keamanan.

Pengemudi ojol sedang berkumpul di Balai Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Purta)
Linimasa 01 Sep 2026, 12:05

Menjelajah Jalan Rusak yang Disentil Marsya VOB

Lebih dari satu dekade rusak, jalan Banjarwangi-Singajaya-Peundeuy Garut kembali menjadi sorotan setelah unggahan Marsya VOB.

Kondisi jalan di Garut penghubung Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy dan Cibalong yang telah mengalami kerusakan parah puluhan kilometer. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 01 Sep 2026, 11:18

Peran Militer dalam Proyek Strategis Nasional, Perlu Apresiasi atau Antisipasi?

Peran militer dalam Proyek Strategis Nasional bisa menjadi indikator, kemana pembangunan Indonesia akan dibawa?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)
Beranda 01 Sep 2026, 10:11

Ratusan Ton Sampah per Hari Bisa Lenyap Jika Warga Bandung Kelola Sisa Makanan Sendiri

Selama tujuh tahun (2018–2024), jumlah sisa makanan yang dibuang warga Bandung selalu berada di kisaran 660 sampai 780 ton per hari.

Pengolahan sampah organik di di TPS Gedebage menjadi kompos. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)