Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Ibadah Haji, Momentum Tunduk dan Berserah Diri

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Rabu 04 Jun 2025, 11:12 WIB
Ilustrasi ibadah haji. (Sumber: Pexels/Mido Makasardi)

Ilustrasi ibadah haji. (Sumber: Pexels/Mido Makasardi)

Sejatinya Ibadah haji merupakan momentum yang sangat tepat untuk belajar tentang makna tunduk, patuh, pasrah, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Pasalnya melalui proses spiritual ini, seseorang dapat meraih derajat penyucian diri sebagai puncak dari ketakwaan, yang tercermin dalam predikat haji mabrur.

Namun, perjalanan menuju haji mabrur tidak dapat ditempuh dengan jalan pintas, cara ilegal, termasuk sikap tergesa-gesa. Justru, dengan ketaatan pada aturan pemerintah dan pembiasaan budaya antre dalam menunaikan rukun Islam kelima menjadi bagian penting dari proses ibadah yang benar dan sah.

Jangan tergiur ajakan berhaji secara ilegal, karena melanggar hukum dan sangat berisiko (berbahaya) yang dapat menghilangkan nilai kesakralan ibadah menuju baitullah itu sendiri.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah mengonfirmasi satu Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial SM meninggal dunia di wilayah gurun Jumum, Makkah, setelah mencoba memasuki Kota Makkah secara ilegal melalui jalur gurun pasir. Dua WNI (J dan S) lainnya, ditemukan dalam kondisi dehidrasi berat dan berhasil diselamatkan oleh aparat keamanan Arab Saudi.

Peristiwa naas ini terjadi, Selasa (27/5/2025). Ketiganya menggunakan visa ziarah multiple dan mencoba masuk ke Makkah tanpa dokumen haji resmi dengan menumpang taksi gelap. Sopir taksi yang takut tertangkap patroli memaksa mereka turun di tengah gurun, dengan suhu ekstrem menjadi ancaman serius. (www.kemenag.go.id)

Padahal haji adalah puncak dan klimaks taqarub, bentuk totalitas kepasrahan diri kepada Sang Pencipta Semesta.

Bukan Sekadar Ibadah

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Dalam buku Sejuta Kenangan Haji: Amazing Journey, Kholif Diniawati, Guru MAN 3 Bantul menuliskan Haji, Titian Kepasrahan Jiwa Raga.

Haji adalah puncak kenikmatan bagi umat Islam, meski sebenarnya ibadah lainnya lebih nikmat andai kita bisa memaknai dan merasakan keiklhasan dalam melaksanakannya.

Namun entah mengapa dengan bisa berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji rasanya menjadi sesuatu yang sangat beda. Mungkin karena tidak mudahnya untuk mendapatkan kesempatan mengingat antrean yang begitu panjang atau mungkin juga karena harus mengeluarkan tidak sedikit materi dan juga tenaga dalam melaksanakan peribadahan ini.

Bermula ketika kami mendaftar tahun 2009, kami kehabisan kuota untuk DIY namun keinginan dan hasrat menggebu kami, akhirnya kami bisa mendaftar melalui kuota Jawa Tengah saat itu. Upaya kami untuk mempercepat berangkat haji melalui lintas jaur ternyata tidak diridai Allah, terbukti dengan dibatalkannya keberangkatan kami karena tidak sesuai dengan domisili kami.

Surat perjalanan haji dari bank yang sudah kami lunasipun hanya tinggal lembaran kertas yang tidak ada maknanya. Pembayaran kami dikembalikan utuh dan kami gunakan untuk mendaftar lagi, namun ternyata Allah punya rencana hebat. Kami tidak bisa berangkat tahun 2009 maupun 2010 tetapi kami akhirnya berangkat tahun 2011.

Mundurnya keberangkatan kami, sempat menjadikan kami bertanya-tanya, apa maksud Allah, apa skenario Allah. Berbagai pertanyaan akhirnya terjawab karena ternyata di tahun 2009 putra kami yang tinggal satu-satunya (karena 4 putra-putri kami lainnya sudah kembali kepada Allah), juga diminta kembali untuk mendahului kami menuju surga-Nya, Insya Allah. Kesyukuran di tengah cobaan tetap kami sanjungkan karena dengan ditundanya keberangkatan kami berhaji ternyata Allah inginkan kami hantarkan anak kami tercinta ke peristirahatannya terakhir. Subhanallah, hikmah ini tidak akan pernah kami lupakan.

Dengan berbekal kepasrahan hidup karena cobaan tersebut, akhirnya kami berangkat haji tahun 2011. Keberangkatan yang benar-benar istimewa bagi kami, karena sejak persiapan haji kami bertekat memohon kepada Allah untuk diwafatkan di depan Ka'bah atau di Raudah atau saat melempar jumrah atau dimanapun asal di tanah haram. Kepasrahan kami benar-benar total hingga seluruh peribadahan lahir batin kami selama melaksanakan rangkaian ibadah haji menjadi maksimal.

Kami tergabung dalam gelombang 2 yang artinya kami langsung menuju Makkah karena kedatangan kami H-10 pelaksanaan haji saat itu. Berbekal pengetahuan dari tempat bimbingan haji kami Multazam dan juga berbagai pengalaman yang disampaikan saudara dan sahabat yang pernah berhaji, kami merasa siap lahir batin. Terlebih dengan adanya bimbingan dari Kementerian Agama yang senantiasa memberikan pengarahan saat kita melaksanakan ibadah dan juga dalam kami beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan dan situasi yang baru.

Selama di Makkah, kami menempati hotel Maabdah yang berjarak sekitar 3 KM dari Masjidil Haram. Beruntungnya hotel kami menjadi titik awal berangkatnya bus yang akan mengantar kami ke masjid, sehingga kami senantiasa mendapatkan tempat duduk meski harus berdesakan dengan jamaah lainnya. Begitupun ketika pulang, kami turun tepat di depan hotel, jadi kami merasa sangat nyaman.

Pertama kali memasuki Masjidil Haram untuk melakukan tawaf Qudum dengan dipandu ketua rombongan dan pembimbing, hatiku sudah tidak tenang. Perasaan penasaran tentang Ka'bah tak bisa digambarkan dengan apapun, kubayangkan akan melihat sebuah Ka'bah yang luar biasa besarnya mengingat Ka'bah menjadi kiblat sholat bagi umat Islam sedunia. Namun ketika melihat Ka'bah pertama kalinya sambil berdoa aku merasa sungguh kaget, bukan takjub namun terkejut dan heran ternyata Ka'bah secara fisik tidak sesuai dengan yang kubayangka.

“Kok kecil ya,” kalimat itu sempat terucap dari bibirku. Saat kami mulai melakukan tawaf Qudum sambil melantunkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, hatiku seperti terkoyak, aku benar benar memaknai apa yang aku ucapkan, batinku bergejolak, ya Allah betapa maha segalanya Engkau, betapa kecil dan hinanya hamba.

Kebetulan atas izin-Nya, tawaf Qudum kami memang sangat nyaman karena belum banyak jamaah yang tiba di Mekah. Sholat 2 rakaat di depan maqom Ibrahim pun bisa kami laksanakan dengan sangat leluasa sehingga kami benar-benar serasa berhadapan langsung dengan Allah yang kubayangkan Allah berada di atas Ka'bah dan mengabulkan doa-doa kami saat memohon di depan maqom Ibrahim.

Kesaksian spiritual lain datang dari Khori Suhadaningsih, dalam kisahnya bertajuk Bukan Ibadah Biasa.

Semua insan yang pernah beribadah haji pasti tak akan melupakan ibadah terindah di tanah suci. Perjalanan yang akan terkenang sepanjang masa. Sungguh, ini merupakan ibadah yang spesial, ibadah yang luar biasa.

Mengingatnya membuat aku ingin melesat ke sana saat ini juga. Terbang ribuan mil dari tanah air menuju Makkah Madinah. Bagaimana tidak? Antrean panjang ke Raudoh, perjalanan tujuh kilo meter untuk melempar jumroh, wukuf di Arofah, perjalanan melewati ribuan manusia ketika menuju Mina dari Muzdalifah, menginap di Zamzam Tower, serta meninggalkan buah hati yang berumur 4,5 bulan adalah kenangan yang tak akan mungkin terlupakan dari ingatan. Pasti akan terpatri kuat dalam relung hati terdalam.

Baca Juga: Ibadah Kurban, antara Kesungguhan dan Batas Kemampuan

Tahun 2014 kami mendapat panggilan suci. Seharusnya aku berangkat besama suami dan kedua orang tuaku. Namun Allah berkehendak lain. Ada pemotongan jamaah jamaah karena pembangunan di Masjidil Haram. Sedangkan ibu mertuaku yang seharusnya berangkat tahun 2013, akhirnya bisa beribadah bersama kami. Tak hanya itu, kami berangkat bersama dua belas keluarga dari pihak suami. Allahu Akbar! Tak tergambar bahagia di wajah kami. Meskipun dari dua belas saudara itu, kami hanya berempat yang bisa menjadi satu regu. Namun demikian, tak mengurangi kebahagiaan kami.

Ketika mau berangkat, kegalauan muncul. Buah hati yang kami nanti selama sembilan tahun harus kami tinggalkan. Padahal usianya baru 4,5 bulan. Haru biru mewarnai hari. Bayi mungil itu akhirnya kami pasarahkan, dengan berharap penuh pada Allah SWT untuk menjaganya. Kutinggalkan dalam gendongan Ibu dengan linangan air mata. Namun aku selalu mengingat nasihat yang diberikan ibu, untuk mempercayakan buah hati kami kepada Ibu. Kata beliau, kalau aku terlalu memikirkan, bisa jadi anak malah ikut tidak tenang.

Sesampai di Madinah, kami segera menyesuaikan diri meskipun suasana begitu berbeda dengan di tanah air. Hotelku di Nabawi berada di sebelah tenggara masjid. Tiap berangkat dan pulang kami melewati Makam Baqi. Hari-hari di Madinah merupakan hari-hari yang penuh perjuangan. Jarak antara hotel dan Masjid Nabawi sejauh 2 KM. Wilayah ini berada di luar kesepakan yang seharusnya ditempati jamaah dari Indonesia. Akhirnya pada saat akan kembali ke tanah air, kami mendapat pengembalian uang 300 real.

Cuaca pun cukup terik, mencapai 41 derajad. Dengan kondisi tersebut, kami memang harus benar-benar menjaga kesehatan. Untuk menghemat tenaga kami akhirnya hanya pulang ke hotel selepas salat dhuha dan selepas isyak. Masih terasa, ketika salat duhur di luar pagar pelataran Masjid Nabawi, terik menyengat.

Kegiatan selama wukuf di Arofah tak kalah berkesan. Inilah puncaknya haji. Kebetulan tahun itu wukuf pada hari Jumat. Banyak yang menyebut ini merupakan haji akbar. Kita berada di sana dari siang hingga mentari tenggelam. Ketika mentari tenggelam, kami menghadap kiblat seraya berdoa. Tetes-tetes bening tak kuasa kami tahan. Sesenggukan, berderai air mata di pipi.

Setalah wukuf di Arofah, kita bermalam di Muzdalifah. Memanjatkan doa di alam terbuka tanpa atap dan sekat ruangan. Perjalanan dari Muzdalifah ke Mina aku melihat begitu banyak manusia berpakaian putih. Masya Allah, aku membayangkan, seperti inilah manusia besok dikumpulkan di padang Mahsyar. Jutaan manusia berada dalam satu tempat. Sepanjang jalan menuju Mina pun demikian, penuh dengan manusia yang berjalan kaki.

Tenda kami selama di Mina lumayan jauh, sekitar 7 km. Jalan kaki untuk melempar jumroh memerlukan keselarasan fisik dan batin. Jauh dan berdesakan harus dijalani dengan ikhlas. Sepanjang jalan menuju lempar jamarot banyak kita lihat orang-orang berada di tebing-tebing, orang menyebutnya haji koboi. Askar laki-laki begitu suka ketika kami semprot pakai botol sprai yang kami gunakan untuk menyemprot wajah jika terasa penat.

Alhamdulillah kami merasakan cuaca yang bersahabat. Ketika towaf pun terasa nyaman. Hanya memang kita harus tetap waspada karena situasi demikian padat. Tangan kami selalu bergandengan untuk saling menguatkan. Saat sa'i, kita akan merasakan lantai yang begitu dingin. Ketika kita berlai-lari, kita tidak akan merasa gerah. Sungguh, nikmat yang tiada tara. Ini merupakan karuani Allah yang tiada terkira.

Satu lagi kenangan yang ingin kuceritakan. Kenangan yang tak mungkin kuulang di dunia, karena bulikku sudah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Waktu itu, Bulik Tugiyem, adiknya ibu menginap di Zamzam Tower beserta Om Musiran, suaminya.

Zamzam Tower yang merupakan menara tertinggi di Mekah ini menjadi bagian dari Abraj Albait. Zamzam tower merupakan salah satu ikon kota Makkah. Gedung ini terlihat dari berbagai penjuru kota. Aku dan suami sempat tidur semalam di sana. Kami bisa melihat dari kamar di lantai 54 indahnya Masjidil Haram. Semoga kesempatan menginap di sana bisa terulang lagi, mengingat biaya menginap di sini tak bisa dikatakan murah. (Ambarsih, dkk, Bramma Aji Putra [Editor] 2020:103-105 dan 111-117).

Dimensi Sosial, Spiritual

Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Asep Dadan Muhanda)
Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Asep Dadan Muhanda)

Dalam buku Merawat haji Mabrur Makna Spiritual dijelaskan haji adalah momen pembersihan diri (spiritual rebirth), dimana jamaah kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru lahir sehingga jemaah haji menjadi pribadi yang lebih baik setelah pulang ke tanah air. Ibadah haji menjadi momen untuk membangun dan mengubah karakter Jemaah haji mencapai tingkat akhlak al-karimah yang disebut dengan kemabruran.

Dampak positif haji mabrur bukan hanya pada diri yang bersangkutan, tetapi juga di dalam masyarakat luas. Haji mabrur dapat menjadi kader yang handal di dalam menyelesaikan berbagai problem masyarakat dan bangsa.

Dengan demikian, perwujudan haji mabrur patut diperjuangkan semua pihak. "... Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (QS. al-An'am:6:162).

Diharapkan dengan penunaian haji (umrah) kita sudah menyimpan memori simbolik berupa suasana batin, yaitu bagaimana rasanya kita hadir dan tersungkur di Baitullah, di depan Ka'bah, seolah-olah kita berada di sebuah alam yang amat lain dengan alam syahadah yang selama ini menyelimuti diri kita.

Sungguhpun di sana kita berdesak-desakan karena begitu padatnya umat Islam di sana, tetapi pada saat yang bersamaan kita juga merasakan kelapangan dada untuk mengerti sekaligus memaafkan semuanya. Sungguhpun ada diantara mereka yang betul-betul menyenggol dan menyakiti badan tetapi terasa tidak ada dendam dan amarah. Ini menggambarkan saat orang sedang ber-tawajjuh dengan Tuhannya semuanya terasa lapang dan tidak ada ganjalan dan sumbatan.

Karena itu, sebelum kita menuju ke hadapan Baitullah terlebih dahulu kita menanggalkan simbol-simbol keduniaan dan alam syahadah kita berupa pakaian dan atribut sosial-budaya kita. Yang tersisa hanya uniform ihram yang melekat di badan berupa kain putih polos. Ini juga melambangkan bahwa siapapun yang ingin mencapai puncak tawajjuh ia juga harus menanggalkan atribut keduniawian yang menghijab dirinya selama ini.

Jika segalanya sudah terlepas dan kita seperti "telanjang" di hadapan Tuhan, maka kita dengan mudah juga akan ber-tawajjuh dan menyaksikan-Nya di mana pun kita berada melalui maujud dalam mana la memediakan dirinya. Inilah yang dimaksud dalam ayat: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah/2:115).

Suasana batin yang seperti inilah membuat seseorang sering mengucapkan ungkapan, misalnya "Ka'bah itu ada di dahi kita". Bagi orang awam dan asing dengan makna simbolis, sulit menerima pernyataan tersebut karena segalanya akan diukur dengan logika atau legal formal. Akan tetapi orang-orang yang diberi kemuliaan Allah dalam wujud kesadaran spiritual tingkat tinggi, istilah-istilah seperti itu, bahkan lebih dari itu, bisa ia maklumi. Mereka sadar bahwa Allah Swt itu serba meliputi (al-Muhith), tidak bisa kita bicara apapun tanpa melibatkan atau mengaitkan Tuhan di dalamnya.

Salah satu makna spiritual ibadah haji ialah melatih batin kita untuk mengerti, memahami, dan menghayati makna tersirat di balik segala sesuatu yang tersurat. Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati lebih dalam firman Allah Swt:

"Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar se-suatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". (Q.S. al- Baqarah/2:149).

Simbol-simbol haji (umrah) memiliki makna yang berlapis-lapis. Pemahaman atas makna ini akan menghadirkan suasana sakralisasi haji. Unsur sakralitas haji dapat dengan mudah terlihat pada pengamalan rukun haji seperti berpakaian ihram menuju padang Arafah untuk melaksanakan wuquf. Di sana kita mengakui persamaan diri dengan orang lain dan sekaligus menyatakan secara jujur akan segala kelemahan diri.

Saat bermalam di Muzdalifah sambil memungut batu-batu kecil untuk persiapan keesokan harinya untuk melempar jumrah. Setelah itu dilanjutkan dengan thawaf dan sa'i di Masjid.

Haji sebagai lambang drama kosmik, yang menceritakan jatuhnya nenek moyang kita Adam dari surga kenikmatan ke bumi penderitaan. Haji adalah miniatur Al-Qur'an, yang melukiskan darma kosmik, hubungan antara alam semesta (makrokosmos) dan anak manusia (mikrokosmos). Haji merupakan drama kosmik yang menceritakan hubungan interaktif antara alam semesta, manusia dan makhuk spiritual, seperti malaikat, jin, dan setan.

Baca Juga: Mirip Bentuk Tanda Baca Apostrof dan Petik Tunggal, Gunanya Ternyata Beda

Pertunjukan drama kosmik diperankan oleh malaikat, jin, syetan, manusia, dan binatang dengan mengambil lokasi Arasy, Baitul Ma'mur, bumi, alam barzakh, surga, dan neraka. Sedangkan yang bertindak sebagai pemeran utama ialah Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, dan Iblis. Yang bertindak sebagai Sutradara tidak lain adalah Allah Swt. Di sana, Iblis sebagai aktor paling berpengaruh. (Kemenag RI Ditjen PHU, 2025:1-13).

Dengan demikian, Ibadah haji menjadi lambang persatuan bagi seluruh umat Islam, tanpa memedulikan asal negara, warna kulit, mazhab yang dianut, dan kekayaan. Saat ibadah haji kita hanya memakai selembar kain putih tanpa jahitan.

Mari kita maknai ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci Mekah, tetapi sebagai puncak kepasrahan spiritual, wujud ketaatan total, dan komitmen keimanan seorang hamba yang bersimpuh dengan penuh kerendahan, ketundukan, berserah diri di hadapan Baitullah. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)