Ibadah Haji, Momentum Tunduk dan Berserah Diri

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Rabu 04 Jun 2025, 11:12 WIB
Ilustrasi ibadah haji. (Sumber: Pexels/Mido Makasardi)

Ilustrasi ibadah haji. (Sumber: Pexels/Mido Makasardi)

Sejatinya Ibadah haji merupakan momentum yang sangat tepat untuk belajar tentang makna tunduk, patuh, pasrah, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Pasalnya melalui proses spiritual ini, seseorang dapat meraih derajat penyucian diri sebagai puncak dari ketakwaan, yang tercermin dalam predikat haji mabrur.

Namun, perjalanan menuju haji mabrur tidak dapat ditempuh dengan jalan pintas, cara ilegal, termasuk sikap tergesa-gesa. Justru, dengan ketaatan pada aturan pemerintah dan pembiasaan budaya antre dalam menunaikan rukun Islam kelima menjadi bagian penting dari proses ibadah yang benar dan sah.

Jangan tergiur ajakan berhaji secara ilegal, karena melanggar hukum dan sangat berisiko (berbahaya) yang dapat menghilangkan nilai kesakralan ibadah menuju baitullah itu sendiri.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah mengonfirmasi satu Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial SM meninggal dunia di wilayah gurun Jumum, Makkah, setelah mencoba memasuki Kota Makkah secara ilegal melalui jalur gurun pasir. Dua WNI (J dan S) lainnya, ditemukan dalam kondisi dehidrasi berat dan berhasil diselamatkan oleh aparat keamanan Arab Saudi.

Peristiwa naas ini terjadi, Selasa (27/5/2025). Ketiganya menggunakan visa ziarah multiple dan mencoba masuk ke Makkah tanpa dokumen haji resmi dengan menumpang taksi gelap. Sopir taksi yang takut tertangkap patroli memaksa mereka turun di tengah gurun, dengan suhu ekstrem menjadi ancaman serius. (www.kemenag.go.id)

Padahal haji adalah puncak dan klimaks taqarub, bentuk totalitas kepasrahan diri kepada Sang Pencipta Semesta.

Bukan Sekadar Ibadah

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Dalam buku Sejuta Kenangan Haji: Amazing Journey, Kholif Diniawati, Guru MAN 3 Bantul menuliskan Haji, Titian Kepasrahan Jiwa Raga.

Haji adalah puncak kenikmatan bagi umat Islam, meski sebenarnya ibadah lainnya lebih nikmat andai kita bisa memaknai dan merasakan keiklhasan dalam melaksanakannya.

Namun entah mengapa dengan bisa berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji rasanya menjadi sesuatu yang sangat beda. Mungkin karena tidak mudahnya untuk mendapatkan kesempatan mengingat antrean yang begitu panjang atau mungkin juga karena harus mengeluarkan tidak sedikit materi dan juga tenaga dalam melaksanakan peribadahan ini.

Bermula ketika kami mendaftar tahun 2009, kami kehabisan kuota untuk DIY namun keinginan dan hasrat menggebu kami, akhirnya kami bisa mendaftar melalui kuota Jawa Tengah saat itu. Upaya kami untuk mempercepat berangkat haji melalui lintas jaur ternyata tidak diridai Allah, terbukti dengan dibatalkannya keberangkatan kami karena tidak sesuai dengan domisili kami.

Surat perjalanan haji dari bank yang sudah kami lunasipun hanya tinggal lembaran kertas yang tidak ada maknanya. Pembayaran kami dikembalikan utuh dan kami gunakan untuk mendaftar lagi, namun ternyata Allah punya rencana hebat. Kami tidak bisa berangkat tahun 2009 maupun 2010 tetapi kami akhirnya berangkat tahun 2011.

Mundurnya keberangkatan kami, sempat menjadikan kami bertanya-tanya, apa maksud Allah, apa skenario Allah. Berbagai pertanyaan akhirnya terjawab karena ternyata di tahun 2009 putra kami yang tinggal satu-satunya (karena 4 putra-putri kami lainnya sudah kembali kepada Allah), juga diminta kembali untuk mendahului kami menuju surga-Nya, Insya Allah. Kesyukuran di tengah cobaan tetap kami sanjungkan karena dengan ditundanya keberangkatan kami berhaji ternyata Allah inginkan kami hantarkan anak kami tercinta ke peristirahatannya terakhir. Subhanallah, hikmah ini tidak akan pernah kami lupakan.

Dengan berbekal kepasrahan hidup karena cobaan tersebut, akhirnya kami berangkat haji tahun 2011. Keberangkatan yang benar-benar istimewa bagi kami, karena sejak persiapan haji kami bertekat memohon kepada Allah untuk diwafatkan di depan Ka'bah atau di Raudah atau saat melempar jumrah atau dimanapun asal di tanah haram. Kepasrahan kami benar-benar total hingga seluruh peribadahan lahir batin kami selama melaksanakan rangkaian ibadah haji menjadi maksimal.

Kami tergabung dalam gelombang 2 yang artinya kami langsung menuju Makkah karena kedatangan kami H-10 pelaksanaan haji saat itu. Berbekal pengetahuan dari tempat bimbingan haji kami Multazam dan juga berbagai pengalaman yang disampaikan saudara dan sahabat yang pernah berhaji, kami merasa siap lahir batin. Terlebih dengan adanya bimbingan dari Kementerian Agama yang senantiasa memberikan pengarahan saat kita melaksanakan ibadah dan juga dalam kami beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan dan situasi yang baru.

Selama di Makkah, kami menempati hotel Maabdah yang berjarak sekitar 3 KM dari Masjidil Haram. Beruntungnya hotel kami menjadi titik awal berangkatnya bus yang akan mengantar kami ke masjid, sehingga kami senantiasa mendapatkan tempat duduk meski harus berdesakan dengan jamaah lainnya. Begitupun ketika pulang, kami turun tepat di depan hotel, jadi kami merasa sangat nyaman.

Pertama kali memasuki Masjidil Haram untuk melakukan tawaf Qudum dengan dipandu ketua rombongan dan pembimbing, hatiku sudah tidak tenang. Perasaan penasaran tentang Ka'bah tak bisa digambarkan dengan apapun, kubayangkan akan melihat sebuah Ka'bah yang luar biasa besarnya mengingat Ka'bah menjadi kiblat sholat bagi umat Islam sedunia. Namun ketika melihat Ka'bah pertama kalinya sambil berdoa aku merasa sungguh kaget, bukan takjub namun terkejut dan heran ternyata Ka'bah secara fisik tidak sesuai dengan yang kubayangka.

“Kok kecil ya,” kalimat itu sempat terucap dari bibirku. Saat kami mulai melakukan tawaf Qudum sambil melantunkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, hatiku seperti terkoyak, aku benar benar memaknai apa yang aku ucapkan, batinku bergejolak, ya Allah betapa maha segalanya Engkau, betapa kecil dan hinanya hamba.

Kebetulan atas izin-Nya, tawaf Qudum kami memang sangat nyaman karena belum banyak jamaah yang tiba di Mekah. Sholat 2 rakaat di depan maqom Ibrahim pun bisa kami laksanakan dengan sangat leluasa sehingga kami benar-benar serasa berhadapan langsung dengan Allah yang kubayangkan Allah berada di atas Ka'bah dan mengabulkan doa-doa kami saat memohon di depan maqom Ibrahim.

Kesaksian spiritual lain datang dari Khori Suhadaningsih, dalam kisahnya bertajuk Bukan Ibadah Biasa.

Semua insan yang pernah beribadah haji pasti tak akan melupakan ibadah terindah di tanah suci. Perjalanan yang akan terkenang sepanjang masa. Sungguh, ini merupakan ibadah yang spesial, ibadah yang luar biasa.

Mengingatnya membuat aku ingin melesat ke sana saat ini juga. Terbang ribuan mil dari tanah air menuju Makkah Madinah. Bagaimana tidak? Antrean panjang ke Raudoh, perjalanan tujuh kilo meter untuk melempar jumroh, wukuf di Arofah, perjalanan melewati ribuan manusia ketika menuju Mina dari Muzdalifah, menginap di Zamzam Tower, serta meninggalkan buah hati yang berumur 4,5 bulan adalah kenangan yang tak akan mungkin terlupakan dari ingatan. Pasti akan terpatri kuat dalam relung hati terdalam.

Baca Juga: Ibadah Kurban, antara Kesungguhan dan Batas Kemampuan

Tahun 2014 kami mendapat panggilan suci. Seharusnya aku berangkat besama suami dan kedua orang tuaku. Namun Allah berkehendak lain. Ada pemotongan jamaah jamaah karena pembangunan di Masjidil Haram. Sedangkan ibu mertuaku yang seharusnya berangkat tahun 2013, akhirnya bisa beribadah bersama kami. Tak hanya itu, kami berangkat bersama dua belas keluarga dari pihak suami. Allahu Akbar! Tak tergambar bahagia di wajah kami. Meskipun dari dua belas saudara itu, kami hanya berempat yang bisa menjadi satu regu. Namun demikian, tak mengurangi kebahagiaan kami.

Ketika mau berangkat, kegalauan muncul. Buah hati yang kami nanti selama sembilan tahun harus kami tinggalkan. Padahal usianya baru 4,5 bulan. Haru biru mewarnai hari. Bayi mungil itu akhirnya kami pasarahkan, dengan berharap penuh pada Allah SWT untuk menjaganya. Kutinggalkan dalam gendongan Ibu dengan linangan air mata. Namun aku selalu mengingat nasihat yang diberikan ibu, untuk mempercayakan buah hati kami kepada Ibu. Kata beliau, kalau aku terlalu memikirkan, bisa jadi anak malah ikut tidak tenang.

Sesampai di Madinah, kami segera menyesuaikan diri meskipun suasana begitu berbeda dengan di tanah air. Hotelku di Nabawi berada di sebelah tenggara masjid. Tiap berangkat dan pulang kami melewati Makam Baqi. Hari-hari di Madinah merupakan hari-hari yang penuh perjuangan. Jarak antara hotel dan Masjid Nabawi sejauh 2 KM. Wilayah ini berada di luar kesepakan yang seharusnya ditempati jamaah dari Indonesia. Akhirnya pada saat akan kembali ke tanah air, kami mendapat pengembalian uang 300 real.

Cuaca pun cukup terik, mencapai 41 derajad. Dengan kondisi tersebut, kami memang harus benar-benar menjaga kesehatan. Untuk menghemat tenaga kami akhirnya hanya pulang ke hotel selepas salat dhuha dan selepas isyak. Masih terasa, ketika salat duhur di luar pagar pelataran Masjid Nabawi, terik menyengat.

Kegiatan selama wukuf di Arofah tak kalah berkesan. Inilah puncaknya haji. Kebetulan tahun itu wukuf pada hari Jumat. Banyak yang menyebut ini merupakan haji akbar. Kita berada di sana dari siang hingga mentari tenggelam. Ketika mentari tenggelam, kami menghadap kiblat seraya berdoa. Tetes-tetes bening tak kuasa kami tahan. Sesenggukan, berderai air mata di pipi.

Setalah wukuf di Arofah, kita bermalam di Muzdalifah. Memanjatkan doa di alam terbuka tanpa atap dan sekat ruangan. Perjalanan dari Muzdalifah ke Mina aku melihat begitu banyak manusia berpakaian putih. Masya Allah, aku membayangkan, seperti inilah manusia besok dikumpulkan di padang Mahsyar. Jutaan manusia berada dalam satu tempat. Sepanjang jalan menuju Mina pun demikian, penuh dengan manusia yang berjalan kaki.

Tenda kami selama di Mina lumayan jauh, sekitar 7 km. Jalan kaki untuk melempar jumroh memerlukan keselarasan fisik dan batin. Jauh dan berdesakan harus dijalani dengan ikhlas. Sepanjang jalan menuju lempar jamarot banyak kita lihat orang-orang berada di tebing-tebing, orang menyebutnya haji koboi. Askar laki-laki begitu suka ketika kami semprot pakai botol sprai yang kami gunakan untuk menyemprot wajah jika terasa penat.

Alhamdulillah kami merasakan cuaca yang bersahabat. Ketika towaf pun terasa nyaman. Hanya memang kita harus tetap waspada karena situasi demikian padat. Tangan kami selalu bergandengan untuk saling menguatkan. Saat sa'i, kita akan merasakan lantai yang begitu dingin. Ketika kita berlai-lari, kita tidak akan merasa gerah. Sungguh, nikmat yang tiada tara. Ini merupakan karuani Allah yang tiada terkira.

Satu lagi kenangan yang ingin kuceritakan. Kenangan yang tak mungkin kuulang di dunia, karena bulikku sudah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Waktu itu, Bulik Tugiyem, adiknya ibu menginap di Zamzam Tower beserta Om Musiran, suaminya.

Zamzam Tower yang merupakan menara tertinggi di Mekah ini menjadi bagian dari Abraj Albait. Zamzam tower merupakan salah satu ikon kota Makkah. Gedung ini terlihat dari berbagai penjuru kota. Aku dan suami sempat tidur semalam di sana. Kami bisa melihat dari kamar di lantai 54 indahnya Masjidil Haram. Semoga kesempatan menginap di sana bisa terulang lagi, mengingat biaya menginap di sini tak bisa dikatakan murah. (Ambarsih, dkk, Bramma Aji Putra [Editor] 2020:103-105 dan 111-117).

Dimensi Sosial, Spiritual

Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Asep Dadan Muhanda)
Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Asep Dadan Muhanda)

Dalam buku Merawat haji Mabrur Makna Spiritual dijelaskan haji adalah momen pembersihan diri (spiritual rebirth), dimana jamaah kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru lahir sehingga jemaah haji menjadi pribadi yang lebih baik setelah pulang ke tanah air. Ibadah haji menjadi momen untuk membangun dan mengubah karakter Jemaah haji mencapai tingkat akhlak al-karimah yang disebut dengan kemabruran.

Dampak positif haji mabrur bukan hanya pada diri yang bersangkutan, tetapi juga di dalam masyarakat luas. Haji mabrur dapat menjadi kader yang handal di dalam menyelesaikan berbagai problem masyarakat dan bangsa.

Dengan demikian, perwujudan haji mabrur patut diperjuangkan semua pihak. "... Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (QS. al-An'am:6:162).

Diharapkan dengan penunaian haji (umrah) kita sudah menyimpan memori simbolik berupa suasana batin, yaitu bagaimana rasanya kita hadir dan tersungkur di Baitullah, di depan Ka'bah, seolah-olah kita berada di sebuah alam yang amat lain dengan alam syahadah yang selama ini menyelimuti diri kita.

Sungguhpun di sana kita berdesak-desakan karena begitu padatnya umat Islam di sana, tetapi pada saat yang bersamaan kita juga merasakan kelapangan dada untuk mengerti sekaligus memaafkan semuanya. Sungguhpun ada diantara mereka yang betul-betul menyenggol dan menyakiti badan tetapi terasa tidak ada dendam dan amarah. Ini menggambarkan saat orang sedang ber-tawajjuh dengan Tuhannya semuanya terasa lapang dan tidak ada ganjalan dan sumbatan.

Karena itu, sebelum kita menuju ke hadapan Baitullah terlebih dahulu kita menanggalkan simbol-simbol keduniaan dan alam syahadah kita berupa pakaian dan atribut sosial-budaya kita. Yang tersisa hanya uniform ihram yang melekat di badan berupa kain putih polos. Ini juga melambangkan bahwa siapapun yang ingin mencapai puncak tawajjuh ia juga harus menanggalkan atribut keduniawian yang menghijab dirinya selama ini.

Jika segalanya sudah terlepas dan kita seperti "telanjang" di hadapan Tuhan, maka kita dengan mudah juga akan ber-tawajjuh dan menyaksikan-Nya di mana pun kita berada melalui maujud dalam mana la memediakan dirinya. Inilah yang dimaksud dalam ayat: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah/2:115).

Suasana batin yang seperti inilah membuat seseorang sering mengucapkan ungkapan, misalnya "Ka'bah itu ada di dahi kita". Bagi orang awam dan asing dengan makna simbolis, sulit menerima pernyataan tersebut karena segalanya akan diukur dengan logika atau legal formal. Akan tetapi orang-orang yang diberi kemuliaan Allah dalam wujud kesadaran spiritual tingkat tinggi, istilah-istilah seperti itu, bahkan lebih dari itu, bisa ia maklumi. Mereka sadar bahwa Allah Swt itu serba meliputi (al-Muhith), tidak bisa kita bicara apapun tanpa melibatkan atau mengaitkan Tuhan di dalamnya.

Salah satu makna spiritual ibadah haji ialah melatih batin kita untuk mengerti, memahami, dan menghayati makna tersirat di balik segala sesuatu yang tersurat. Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati lebih dalam firman Allah Swt:

"Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar se-suatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". (Q.S. al- Baqarah/2:149).

Simbol-simbol haji (umrah) memiliki makna yang berlapis-lapis. Pemahaman atas makna ini akan menghadirkan suasana sakralisasi haji. Unsur sakralitas haji dapat dengan mudah terlihat pada pengamalan rukun haji seperti berpakaian ihram menuju padang Arafah untuk melaksanakan wuquf. Di sana kita mengakui persamaan diri dengan orang lain dan sekaligus menyatakan secara jujur akan segala kelemahan diri.

Saat bermalam di Muzdalifah sambil memungut batu-batu kecil untuk persiapan keesokan harinya untuk melempar jumrah. Setelah itu dilanjutkan dengan thawaf dan sa'i di Masjid.

Haji sebagai lambang drama kosmik, yang menceritakan jatuhnya nenek moyang kita Adam dari surga kenikmatan ke bumi penderitaan. Haji adalah miniatur Al-Qur'an, yang melukiskan darma kosmik, hubungan antara alam semesta (makrokosmos) dan anak manusia (mikrokosmos). Haji merupakan drama kosmik yang menceritakan hubungan interaktif antara alam semesta, manusia dan makhuk spiritual, seperti malaikat, jin, dan setan.

Baca Juga: Mirip Bentuk Tanda Baca Apostrof dan Petik Tunggal, Gunanya Ternyata Beda

Pertunjukan drama kosmik diperankan oleh malaikat, jin, syetan, manusia, dan binatang dengan mengambil lokasi Arasy, Baitul Ma'mur, bumi, alam barzakh, surga, dan neraka. Sedangkan yang bertindak sebagai pemeran utama ialah Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, dan Iblis. Yang bertindak sebagai Sutradara tidak lain adalah Allah Swt. Di sana, Iblis sebagai aktor paling berpengaruh. (Kemenag RI Ditjen PHU, 2025:1-13).

Dengan demikian, Ibadah haji menjadi lambang persatuan bagi seluruh umat Islam, tanpa memedulikan asal negara, warna kulit, mazhab yang dianut, dan kekayaan. Saat ibadah haji kita hanya memakai selembar kain putih tanpa jahitan.

Mari kita maknai ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci Mekah, tetapi sebagai puncak kepasrahan spiritual, wujud ketaatan total, dan komitmen keimanan seorang hamba yang bersimpuh dengan penuh kerendahan, ketundukan, berserah diri di hadapan Baitullah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)