Ibadah Haji, Momentum Tunduk dan Berserah Diri

12 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi ibadah haji. (Sumber: Pexels/Mido Makasardi)
Ilustrasi ibadah haji. (Sumber: Pexels/Mido Makasardi)

Sejatinya Ibadah haji merupakan momentum yang sangat tepat untuk belajar tentang makna tunduk, patuh, pasrah, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Pasalnya melalui proses spiritual ini, seseorang dapat meraih derajat penyucian diri sebagai puncak dari ketakwaan, yang tercermin dalam predikat haji mabrur.

Namun, perjalanan menuju haji mabrur tidak dapat ditempuh dengan jalan pintas, cara ilegal, termasuk sikap tergesa-gesa. Justru, dengan ketaatan pada aturan pemerintah dan pembiasaan budaya antre dalam menunaikan rukun Islam kelima menjadi bagian penting dari proses ibadah yang benar dan sah.

Jangan tergiur ajakan berhaji secara ilegal, karena melanggar hukum dan sangat berisiko (berbahaya) yang dapat menghilangkan nilai kesakralan ibadah menuju baitullah itu sendiri.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah mengonfirmasi satu Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial SM meninggal dunia di wilayah gurun Jumum, Makkah, setelah mencoba memasuki Kota Makkah secara ilegal melalui jalur gurun pasir. Dua WNI (J dan S) lainnya, ditemukan dalam kondisi dehidrasi berat dan berhasil diselamatkan oleh aparat keamanan Arab Saudi.

Peristiwa naas ini terjadi, Selasa (27/5/2025). Ketiganya menggunakan visa ziarah multiple dan mencoba masuk ke Makkah tanpa dokumen haji resmi dengan menumpang taksi gelap. Sopir taksi yang takut tertangkap patroli memaksa mereka turun di tengah gurun, dengan suhu ekstrem menjadi ancaman serius. (www.kemenag.go.id)

Padahal haji adalah puncak dan klimaks taqarub, bentuk totalitas kepasrahan diri kepada Sang Pencipta Semesta.

Bukan Sekadar Ibadah

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Dalam buku Sejuta Kenangan Haji: Amazing Journey, Kholif Diniawati, Guru MAN 3 Bantul menuliskan Haji, Titian Kepasrahan Jiwa Raga.

Haji adalah puncak kenikmatan bagi umat Islam, meski sebenarnya ibadah lainnya lebih nikmat andai kita bisa memaknai dan merasakan keiklhasan dalam melaksanakannya.

Namun entah mengapa dengan bisa berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji rasanya menjadi sesuatu yang sangat beda. Mungkin karena tidak mudahnya untuk mendapatkan kesempatan mengingat antrean yang begitu panjang atau mungkin juga karena harus mengeluarkan tidak sedikit materi dan juga tenaga dalam melaksanakan peribadahan ini.

Bermula ketika kami mendaftar tahun 2009, kami kehabisan kuota untuk DIY namun keinginan dan hasrat menggebu kami, akhirnya kami bisa mendaftar melalui kuota Jawa Tengah saat itu. Upaya kami untuk mempercepat berangkat haji melalui lintas jaur ternyata tidak diridai Allah, terbukti dengan dibatalkannya keberangkatan kami karena tidak sesuai dengan domisili kami.

Surat perjalanan haji dari bank yang sudah kami lunasipun hanya tinggal lembaran kertas yang tidak ada maknanya. Pembayaran kami dikembalikan utuh dan kami gunakan untuk mendaftar lagi, namun ternyata Allah punya rencana hebat. Kami tidak bisa berangkat tahun 2009 maupun 2010 tetapi kami akhirnya berangkat tahun 2011.

Mundurnya keberangkatan kami, sempat menjadikan kami bertanya-tanya, apa maksud Allah, apa skenario Allah. Berbagai pertanyaan akhirnya terjawab karena ternyata di tahun 2009 putra kami yang tinggal satu-satunya (karena 4 putra-putri kami lainnya sudah kembali kepada Allah), juga diminta kembali untuk mendahului kami menuju surga-Nya, Insya Allah. Kesyukuran di tengah cobaan tetap kami sanjungkan karena dengan ditundanya keberangkatan kami berhaji ternyata Allah inginkan kami hantarkan anak kami tercinta ke peristirahatannya terakhir. Subhanallah, hikmah ini tidak akan pernah kami lupakan.

Dengan berbekal kepasrahan hidup karena cobaan tersebut, akhirnya kami berangkat haji tahun 2011. Keberangkatan yang benar-benar istimewa bagi kami, karena sejak persiapan haji kami bertekat memohon kepada Allah untuk diwafatkan di depan Ka'bah atau di Raudah atau saat melempar jumrah atau dimanapun asal di tanah haram. Kepasrahan kami benar-benar total hingga seluruh peribadahan lahir batin kami selama melaksanakan rangkaian ibadah haji menjadi maksimal.

Kami tergabung dalam gelombang 2 yang artinya kami langsung menuju Makkah karena kedatangan kami H-10 pelaksanaan haji saat itu. Berbekal pengetahuan dari tempat bimbingan haji kami Multazam dan juga berbagai pengalaman yang disampaikan saudara dan sahabat yang pernah berhaji, kami merasa siap lahir batin. Terlebih dengan adanya bimbingan dari Kementerian Agama yang senantiasa memberikan pengarahan saat kita melaksanakan ibadah dan juga dalam kami beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan dan situasi yang baru.

Selama di Makkah, kami menempati hotel Maabdah yang berjarak sekitar 3 KM dari Masjidil Haram. Beruntungnya hotel kami menjadi titik awal berangkatnya bus yang akan mengantar kami ke masjid, sehingga kami senantiasa mendapatkan tempat duduk meski harus berdesakan dengan jamaah lainnya. Begitupun ketika pulang, kami turun tepat di depan hotel, jadi kami merasa sangat nyaman.

Pertama kali memasuki Masjidil Haram untuk melakukan tawaf Qudum dengan dipandu ketua rombongan dan pembimbing, hatiku sudah tidak tenang. Perasaan penasaran tentang Ka'bah tak bisa digambarkan dengan apapun, kubayangkan akan melihat sebuah Ka'bah yang luar biasa besarnya mengingat Ka'bah menjadi kiblat sholat bagi umat Islam sedunia. Namun ketika melihat Ka'bah pertama kalinya sambil berdoa aku merasa sungguh kaget, bukan takjub namun terkejut dan heran ternyata Ka'bah secara fisik tidak sesuai dengan yang kubayangka.

“Kok kecil ya,” kalimat itu sempat terucap dari bibirku. Saat kami mulai melakukan tawaf Qudum sambil melantunkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, hatiku seperti terkoyak, aku benar benar memaknai apa yang aku ucapkan, batinku bergejolak, ya Allah betapa maha segalanya Engkau, betapa kecil dan hinanya hamba.

Kebetulan atas izin-Nya, tawaf Qudum kami memang sangat nyaman karena belum banyak jamaah yang tiba di Mekah. Sholat 2 rakaat di depan maqom Ibrahim pun bisa kami laksanakan dengan sangat leluasa sehingga kami benar-benar serasa berhadapan langsung dengan Allah yang kubayangkan Allah berada di atas Ka'bah dan mengabulkan doa-doa kami saat memohon di depan maqom Ibrahim.

Kesaksian spiritual lain datang dari Khori Suhadaningsih, dalam kisahnya bertajuk Bukan Ibadah Biasa.

Semua insan yang pernah beribadah haji pasti tak akan melupakan ibadah terindah di tanah suci. Perjalanan yang akan terkenang sepanjang masa. Sungguh, ini merupakan ibadah yang spesial, ibadah yang luar biasa.

Mengingatnya membuat aku ingin melesat ke sana saat ini juga. Terbang ribuan mil dari tanah air menuju Makkah Madinah. Bagaimana tidak? Antrean panjang ke Raudoh, perjalanan tujuh kilo meter untuk melempar jumroh, wukuf di Arofah, perjalanan melewati ribuan manusia ketika menuju Mina dari Muzdalifah, menginap di Zamzam Tower, serta meninggalkan buah hati yang berumur 4,5 bulan adalah kenangan yang tak akan mungkin terlupakan dari ingatan. Pasti akan terpatri kuat dalam relung hati terdalam.

Baca Juga: Ibadah Kurban, antara Kesungguhan dan Batas Kemampuan

Tahun 2014 kami mendapat panggilan suci. Seharusnya aku berangkat besama suami dan kedua orang tuaku. Namun Allah berkehendak lain. Ada pemotongan jamaah jamaah karena pembangunan di Masjidil Haram. Sedangkan ibu mertuaku yang seharusnya berangkat tahun 2013, akhirnya bisa beribadah bersama kami. Tak hanya itu, kami berangkat bersama dua belas keluarga dari pihak suami. Allahu Akbar! Tak tergambar bahagia di wajah kami. Meskipun dari dua belas saudara itu, kami hanya berempat yang bisa menjadi satu regu. Namun demikian, tak mengurangi kebahagiaan kami.

Ketika mau berangkat, kegalauan muncul. Buah hati yang kami nanti selama sembilan tahun harus kami tinggalkan. Padahal usianya baru 4,5 bulan. Haru biru mewarnai hari. Bayi mungil itu akhirnya kami pasarahkan, dengan berharap penuh pada Allah SWT untuk menjaganya. Kutinggalkan dalam gendongan Ibu dengan linangan air mata. Namun aku selalu mengingat nasihat yang diberikan ibu, untuk mempercayakan buah hati kami kepada Ibu. Kata beliau, kalau aku terlalu memikirkan, bisa jadi anak malah ikut tidak tenang.

Sesampai di Madinah, kami segera menyesuaikan diri meskipun suasana begitu berbeda dengan di tanah air. Hotelku di Nabawi berada di sebelah tenggara masjid. Tiap berangkat dan pulang kami melewati Makam Baqi. Hari-hari di Madinah merupakan hari-hari yang penuh perjuangan. Jarak antara hotel dan Masjid Nabawi sejauh 2 KM. Wilayah ini berada di luar kesepakan yang seharusnya ditempati jamaah dari Indonesia. Akhirnya pada saat akan kembali ke tanah air, kami mendapat pengembalian uang 300 real.

Cuaca pun cukup terik, mencapai 41 derajad. Dengan kondisi tersebut, kami memang harus benar-benar menjaga kesehatan. Untuk menghemat tenaga kami akhirnya hanya pulang ke hotel selepas salat dhuha dan selepas isyak. Masih terasa, ketika salat duhur di luar pagar pelataran Masjid Nabawi, terik menyengat.

Kegiatan selama wukuf di Arofah tak kalah berkesan. Inilah puncaknya haji. Kebetulan tahun itu wukuf pada hari Jumat. Banyak yang menyebut ini merupakan haji akbar. Kita berada di sana dari siang hingga mentari tenggelam. Ketika mentari tenggelam, kami menghadap kiblat seraya berdoa. Tetes-tetes bening tak kuasa kami tahan. Sesenggukan, berderai air mata di pipi.

Setalah wukuf di Arofah, kita bermalam di Muzdalifah. Memanjatkan doa di alam terbuka tanpa atap dan sekat ruangan. Perjalanan dari Muzdalifah ke Mina aku melihat begitu banyak manusia berpakaian putih. Masya Allah, aku membayangkan, seperti inilah manusia besok dikumpulkan di padang Mahsyar. Jutaan manusia berada dalam satu tempat. Sepanjang jalan menuju Mina pun demikian, penuh dengan manusia yang berjalan kaki.

Tenda kami selama di Mina lumayan jauh, sekitar 7 km. Jalan kaki untuk melempar jumroh memerlukan keselarasan fisik dan batin. Jauh dan berdesakan harus dijalani dengan ikhlas. Sepanjang jalan menuju lempar jamarot banyak kita lihat orang-orang berada di tebing-tebing, orang menyebutnya haji koboi. Askar laki-laki begitu suka ketika kami semprot pakai botol sprai yang kami gunakan untuk menyemprot wajah jika terasa penat.

Alhamdulillah kami merasakan cuaca yang bersahabat. Ketika towaf pun terasa nyaman. Hanya memang kita harus tetap waspada karena situasi demikian padat. Tangan kami selalu bergandengan untuk saling menguatkan. Saat sa'i, kita akan merasakan lantai yang begitu dingin. Ketika kita berlai-lari, kita tidak akan merasa gerah. Sungguh, nikmat yang tiada tara. Ini merupakan karuani Allah yang tiada terkira.

Satu lagi kenangan yang ingin kuceritakan. Kenangan yang tak mungkin kuulang di dunia, karena bulikku sudah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Waktu itu, Bulik Tugiyem, adiknya ibu menginap di Zamzam Tower beserta Om Musiran, suaminya.

Zamzam Tower yang merupakan menara tertinggi di Mekah ini menjadi bagian dari Abraj Albait. Zamzam tower merupakan salah satu ikon kota Makkah. Gedung ini terlihat dari berbagai penjuru kota. Aku dan suami sempat tidur semalam di sana. Kami bisa melihat dari kamar di lantai 54 indahnya Masjidil Haram. Semoga kesempatan menginap di sana bisa terulang lagi, mengingat biaya menginap di sini tak bisa dikatakan murah. (Ambarsih, dkk, Bramma Aji Putra [Editor] 2020:103-105 dan 111-117).

Dimensi Sosial, Spiritual

Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Asep Dadan Muhanda)
Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju Allah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Asep Dadan Muhanda)

Dalam buku Merawat haji Mabrur Makna Spiritual dijelaskan haji adalah momen pembersihan diri (spiritual rebirth), dimana jamaah kembali dalam keadaan suci seperti bayi yang baru lahir sehingga jemaah haji menjadi pribadi yang lebih baik setelah pulang ke tanah air. Ibadah haji menjadi momen untuk membangun dan mengubah karakter Jemaah haji mencapai tingkat akhlak al-karimah yang disebut dengan kemabruran.

Dampak positif haji mabrur bukan hanya pada diri yang bersangkutan, tetapi juga di dalam masyarakat luas. Haji mabrur dapat menjadi kader yang handal di dalam menyelesaikan berbagai problem masyarakat dan bangsa.

Dengan demikian, perwujudan haji mabrur patut diperjuangkan semua pihak. "... Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (QS. al-An'am:6:162).

Diharapkan dengan penunaian haji (umrah) kita sudah menyimpan memori simbolik berupa suasana batin, yaitu bagaimana rasanya kita hadir dan tersungkur di Baitullah, di depan Ka'bah, seolah-olah kita berada di sebuah alam yang amat lain dengan alam syahadah yang selama ini menyelimuti diri kita.

Sungguhpun di sana kita berdesak-desakan karena begitu padatnya umat Islam di sana, tetapi pada saat yang bersamaan kita juga merasakan kelapangan dada untuk mengerti sekaligus memaafkan semuanya. Sungguhpun ada diantara mereka yang betul-betul menyenggol dan menyakiti badan tetapi terasa tidak ada dendam dan amarah. Ini menggambarkan saat orang sedang ber-tawajjuh dengan Tuhannya semuanya terasa lapang dan tidak ada ganjalan dan sumbatan.

Karena itu, sebelum kita menuju ke hadapan Baitullah terlebih dahulu kita menanggalkan simbol-simbol keduniaan dan alam syahadah kita berupa pakaian dan atribut sosial-budaya kita. Yang tersisa hanya uniform ihram yang melekat di badan berupa kain putih polos. Ini juga melambangkan bahwa siapapun yang ingin mencapai puncak tawajjuh ia juga harus menanggalkan atribut keduniawian yang menghijab dirinya selama ini.

Jika segalanya sudah terlepas dan kita seperti "telanjang" di hadapan Tuhan, maka kita dengan mudah juga akan ber-tawajjuh dan menyaksikan-Nya di mana pun kita berada melalui maujud dalam mana la memediakan dirinya. Inilah yang dimaksud dalam ayat: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah/2:115).

Suasana batin yang seperti inilah membuat seseorang sering mengucapkan ungkapan, misalnya "Ka'bah itu ada di dahi kita". Bagi orang awam dan asing dengan makna simbolis, sulit menerima pernyataan tersebut karena segalanya akan diukur dengan logika atau legal formal. Akan tetapi orang-orang yang diberi kemuliaan Allah dalam wujud kesadaran spiritual tingkat tinggi, istilah-istilah seperti itu, bahkan lebih dari itu, bisa ia maklumi. Mereka sadar bahwa Allah Swt itu serba meliputi (al-Muhith), tidak bisa kita bicara apapun tanpa melibatkan atau mengaitkan Tuhan di dalamnya.

Salah satu makna spiritual ibadah haji ialah melatih batin kita untuk mengerti, memahami, dan menghayati makna tersirat di balik segala sesuatu yang tersurat. Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati lebih dalam firman Allah Swt:

"Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar se-suatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan". (Q.S. al- Baqarah/2:149).

Simbol-simbol haji (umrah) memiliki makna yang berlapis-lapis. Pemahaman atas makna ini akan menghadirkan suasana sakralisasi haji. Unsur sakralitas haji dapat dengan mudah terlihat pada pengamalan rukun haji seperti berpakaian ihram menuju padang Arafah untuk melaksanakan wuquf. Di sana kita mengakui persamaan diri dengan orang lain dan sekaligus menyatakan secara jujur akan segala kelemahan diri.

Saat bermalam di Muzdalifah sambil memungut batu-batu kecil untuk persiapan keesokan harinya untuk melempar jumrah. Setelah itu dilanjutkan dengan thawaf dan sa'i di Masjid.

Haji sebagai lambang drama kosmik, yang menceritakan jatuhnya nenek moyang kita Adam dari surga kenikmatan ke bumi penderitaan. Haji adalah miniatur Al-Qur'an, yang melukiskan darma kosmik, hubungan antara alam semesta (makrokosmos) dan anak manusia (mikrokosmos). Haji merupakan drama kosmik yang menceritakan hubungan interaktif antara alam semesta, manusia dan makhuk spiritual, seperti malaikat, jin, dan setan.

Baca Juga: Mirip Bentuk Tanda Baca Apostrof dan Petik Tunggal, Gunanya Ternyata Beda

Pertunjukan drama kosmik diperankan oleh malaikat, jin, syetan, manusia, dan binatang dengan mengambil lokasi Arasy, Baitul Ma'mur, bumi, alam barzakh, surga, dan neraka. Sedangkan yang bertindak sebagai pemeran utama ialah Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, dan Iblis. Yang bertindak sebagai Sutradara tidak lain adalah Allah Swt. Di sana, Iblis sebagai aktor paling berpengaruh. (Kemenag RI Ditjen PHU, 2025:1-13).

Dengan demikian, Ibadah haji menjadi lambang persatuan bagi seluruh umat Islam, tanpa memedulikan asal negara, warna kulit, mazhab yang dianut, dan kekayaan. Saat ibadah haji kita hanya memakai selembar kain putih tanpa jahitan.

Mari kita maknai ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci Mekah, tetapi sebagai puncak kepasrahan spiritual, wujud ketaatan total, dan komitmen keimanan seorang hamba yang bersimpuh dengan penuh kerendahan, ketundukan, berserah diri di hadapan Baitullah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.