Bisnis Kehijau-Hijauan, Green Marketing atau Greenwashing?

7 menit baca
S. Jan Christian Hasudungan J.
Ditulis oleh S. Jan Christian Hasudungan J. diterbitkan
Praktik greenwashing, pencitraan perusahaan untuk menipu publik. (Sumber: Pexels/Image Hunter)
Praktik greenwashing, pencitraan perusahaan untuk menipu publik. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Belakangan ini, isu lingkungan telah menjadi masalah yang cukup besar dan mengambil perhatian masyarakat secara global. Perubahan iklim yang tidak menentu, polusi, pencemaran, dan isu-isu lingkungan lainnya terlalu sering terjadi, seperti sudah menjadi hal yang biasa.

Berdasarkan laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suhu global meningkat dengan signifikan secara terus-menerus sejak 2023 hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh dampak-dampak negatif yang disebabkan oleh aktivitas manusia sendiri, terutama di sektor bisnis. Misalnya, deforestasi pepohonan di hutan, pengerukan lahan hijau, dan lain-lain.

Semuanya dilakukan untuk kebutuhan bisnis pribadi, padahal kehidupan kita sendiri sangat bergantung pada kestabilan dan kesehatan lingkungan alam. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, semua pihak dan sektor, terutama sektor bisnis, perlu dituntut untuk ikut serta membantu mengatasi permasalahan ini. Dunia bisnis jangan hanya menjadi penyebab isu lingkungan, tetapi juga harus berkontribusi menjadi pemberi solusi akan isu ini.

Salah satu bentuk kontribusi yang bisa dilakukan oleh para pebisnis dalam mengatasi isu lingkungan adalah dengan melakukan dan menerapkan konsep green marketing. Menurut penelitian Pudjianta dan Sabrina (2019) tentang penerapan green marketing, konsep ini merupakan strategi pemasaran yang mempertimbangkan kesehatan lingkungan pada semua aspek pemasarannya.  

Green marketing bisa dilakukan dengan memilih praktik yang ramah lingkungan dalam setiap proses bisnisnya, mulai dari proses pemilihan bahan baku, produksi, hingga penjualan kepada para konsumen. Misalnya, memilih bahan baku plastik daur ulang untuk membuat kursi, meja, dan perabotan rumah lainnya.

Pada dasarnya, tujuan utama dari konsep ini mengajak para konsumen untuk ikut serta dalam memiliki inisiatif hijau/inisiatif untuk menjaga lingkungan alam kita secara kolektif.

Melalui green marketing, perusahaan tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan alam, tetapi juga bisa menjadikannya sebagai nilai jual dan identitas dari produk mereka.

Di zaman teknologi ini, banyak konten-konten di sosial media tentang permasalahan lingkungan dan banyak tren-tren yang mendorong masyarakat untuk lebih menjaga dan menyayangi lingkungannya. Sehingga, banyak dari masyarakat (yang juga berperan sebagai konsumen) mulai terpengaruhi dan memilih untuk membeli produk-produk dengan bahan baku yang ramah lingkungan sebagai salah satu cara menjaga lingkungan.

Hal ini menciptakan peluang baru bagi para pebisnis untuk meningkatkan profitabilitas perusahaannya. Jadi, jika diterapkan dengan jujur, tepat, dan konsisten, green marketing memiliki potensi yang sangat besar di dunia bisnis. Terutama dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan isu lingkungan yang terjadi ini. 

Green Marketing vs Greenwashing

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa selalu ada celah negatif di dalam setiap hal, dan ini juga berlaku pada green marketing. Banyak pengusaha yang menyalahgunakan konsep ini secara sengaja, yang bisa disebut sebagai greenwashing. Becker-Olsen & Potucek (2013) menyatakan bahwa praktik ini merupakan upaya perusahaan untuk mempromosikan citra ramah lingkungan yang palsu atau menyesatkan. Mereka mengklaim bahwa mereka peduli dengan kesehatan lingkungan, padahal justru sebenarnya mereka tidak melakukan praktik keberlanjutan alam.

Dalam banyak kasus, para pelaku greenwashing ini tetap merusak lingkungan, seperti membuang limbah sembarangan, menyumbang banyak emisi gas, dan lain-lain. Hal ini pernah dilakukan oleh perusahaan besar, yaitu Nestle. Mereka mengklaim bahwa botol plastik mereka menggunakan bahan dasar plastik daur ulang.

Perusahaan ini menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk mengurangi limbah plastik.  Padahal, kenyataannya, laporan dari organisasi lingkungan seperti Break Free From Plastic (2021) menunjukkan bahwa Nestlé secara konsisten menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Dan bahkan bukan hanya Nestlé saja, tetapi banyak juga perusahaan lainnya yang melakukan praktik-praktik penipuan hijau seperti ini. 

Banyak pebisnis yang seringkali mengklaim bahwa perusahaan mereka adalah bisnis hijau, tetapi mereka jarang menyertakan fakta-fakta atau data-data konkrit terkait hal tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa masih banyak perusahaan yang tidak transparan akan klaim keberlanjutannya. Dan contoh kasus tersebut juga menunjukkan bahwa strategi green marketing itu bisa dimanipulasi sebagai alat pencitraan dengan mudah oleh para pelaku bisnis. Alih-alih menjadi solusi kestabilan lingkungan alam, green marketing malah disalahgunakan dan justru menambah masalah lagi dengan menyesatkan dan menipu para konsumen yang memang ingin menjaga lingkungan alam.

Akibatnya, para konsumen menjadi kesulitan membedakan mana perusahaan yang memang benar-benar berkelanjutan, dan mana perusahaan yang menipu hanya untuk menarik minat mereka. Konsumen juga menjadi memiliki keraguan dan kesulitan untuk percaya kepada para pelaku bisnis.

Baca Juga: Perang Melawan Narkoba: Refleksi 26 Juni

Apabila greenwashing ini terus dilakukan, dampak negatif yang disebabkan bukan hanya akan berpengaruh kepada aspek sosial saja. Tetapi kembali lagi, hal ini juga akan tetap berpengaruh pada kesehatan lingkungan alam kita. Jika praktik ini terus dinormalisasi, akan semakin banyak perusahaan yang akan melakukan strategi serupa, dan kepercayaan publik akan terus menurun terhadap inisiatif hijau yang selama ini dilakukan. Ketika hal itu terjadi, tujuan utama dari green marketing juga akan terhambat. Karena, strategi yang seharusnya digunakan untuk menjaga alam, malah disalahgunakan, dan merusak kesehatan alam itu sendiri. 

Padahal, praktik greenwashing ini juga berdampak negatif dan bisa berbahaya bagi reputasi perusahaan jika ketahuan oleh publik. Dan hal ini memang sudah pernah kejadian kepada salah satu perusahaan mobil besar, Volkswagen. Berdasarkan pernyataan Franks (2015), Volkswagen menggunakan perangkat lunak untuk mencurangi tes uji emisi terkait mobil-mobilnya, yang ternyata melanggar regulasi batas standar emisi di Amerika.

Padahal, mereka mengklaim bahwa mobilnya lebih ramah lingkungan. Skandal yang disebut-sebut sebagai “Dieselgate” ini sangat besar dan terkenal pada tahun 2015. Saking besarnya, Volkswagen sampai dikatakan mengalami kerugian finansial sebesar $40 miliar. Maka itu, pemerintah sebagai pihak yang berwenang, perlu untuk memperkuat regulasi-regulasi terkait green marketing untuk mengurangi adanya praktik-praktik penipuan seperti greenwashing.

Tips-Tips Mengatasi Greenwashing sebagai Konsumen 

Praktik greenwashing, pencitraan perusahaan untuk menipu publik. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Praktik greenwashing, pencitraan perusahaan untuk menipu publik. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Sementara mengharapkan pergerakan dan ketegasan dari pemerintah, kita sebagai konsumen yang ingin menjaga lingkungan alam juga perlu untuk menjadi lebih kritis dalam menghadapi hal-hal terkait. Ada beberapa cara dari saya untuk melakukan hal tersebut, antara lain yaitu dengan memperhatikan transparansi informasi dari perusahaan-perusahaan hijau.

Kita perlu mengetahui informasi-informasi dasar seperti klaim keberlanjutannya, laporan dampak lingkungannya, kredibilitas, dan juga sertifikasi-sertifikasi yang valid dari lembaga-lembaga lingkungan yang resmi. Setelah itu, kita bisa melihat dan membandingkan antara klaim-klaim dan informasi-informasi tersebut dengan kenyataannya di lapangan. 

Kita juga bisa lebih selektif dalam memilih produk-produk hijau yang dijual di pasaran, misalnya dengan mencari tahu bahan-bahan bakunya. Apakah bahan-bahan tersebut itu ramah lingkungan, atau justru tidak. Kita juga harus menghindari produk-produk hijau yang memiliki klaim berkelanjutan, tetapi tidak ada penjelasan konkritnya.

Hal tersebut bisa saja merupakan praktik penipuan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jika ragu, anda bisa memastikannya melalui website organisasi-organisasi lingkungan seperti Greenpeace, Break Free From Plastic, ataupun website-website lainnya. Biasanya, mereka sering membuat laporan-laporan tentang perusahaan yang melakukan praktik greenwashing, meskipun tidak memuat semua perusahaan.

Selain itu, kita tidak boleh hanya memercayai produk produk dengan tulisan “eco friendly”, “natural”, “sustainable”, dan semacamnya. Melainkan, kita juga perlu mengenali dan label-label/sertifikasi produk produk hijau yang benar-benar diakui secara internasional, maupun nasional.

Ada banyak sertifikasi resmi yang bisa dijadikan sebagai patokan untuk produk-produk hijau, mulai dari sertifikasi nasional, hingga internasional. Misalnya, seperti FSC (Forest Stewardship Council), Ecolabel, USDA Organic (United States Department of Agriculture) untuk produk-produk internasional. Sedangkan untuk sertifikasi lokal bisa dari lembaga lingkungan GPCI (Green Product Council Indonesia).

Kembali lagi, konsep green marketing memang membuka peluang-peluang baru bagi para pebisnis di dalam dunia bisnis sekaligus menjaga kesehatan lingkungan. Tetapi, jika konsep dan praktiknya tidak sejalan, maka  perusahaan hanya melakukan greenwashing.

Praktik tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep green marketing. Yang satu bertujuan untuk menciptakan keberlanjutan, sedangkan yang satu lagi dilakukan hanya dengan pencitraan untuk keuntungan pribadi, dan malah merusak alam. Oleh karena itu, diperlukan tindakan-tindakan penyelesaian masalah dari pihak-pihak yang terkait. Mulai dari pemerintah, para pebisnis, bahkan hingga diri kita sendiri sebagai konsumen. 

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Jika semua pihak-pihak bisa bekerjasama dengan baik, maka diharapkan dapat terbentuk ruang bisnis hijau yang jujur, bertanggung jawab, transparan, dan berkomitmen pada kesehatan lingkungan secara nyata. Karena pada akhirnya, keberlanjutan lingkungan di dalam dunia bisnis bukan hanya menjadi tanggung jawab para pebisnis seorang, tetapi menjadi tanggung jawab kita juga sebagai konsumen yang menginginkan keberlanjutan lingkungan.

Melalui pemahaman terkait perbedaan antara green marketing dan greenwashing, semoga kita semua bisa lebih baik dalam menjalankan tanggung jawab kita untuk menjaga lingkungan alam ini. Dan semoga para pebisnis juga bisa menyadari bahwa bahwa kepercayaan konsumen bukan sesuatu yang bisa dibangun dengan klaim palsu, melainkan dengan tindakan nyata yang berkelanjutan. Maka dari itu, ayo lebih kritis dalam membeli produk hijau dan basmi praktik greenwashing. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

S. Jan Christian Hasudungan J.
Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Prodi Administrasi Bisnis

News Update

Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 18:45

Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

Mengkritisi kesenjangan antara ambisi transformasi digital Indonesia dan rapuhnya fondasi infrastruktur energi.

Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 17:57

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Tantangan berat sektor pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen.

Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 13:04

Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:49

Radio Nirom Rancaekek, Saksi Hidup Siaran Radio Hindia Belanda

NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschaapij) merupakan siaran radio swasta yang didirikan pada tahun 1928.

Stasiun Malabar Di gunung Puntang (Sumber: muspen.komdigi.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:08

Menelusuri Jejak Masa Lalu Rumah Indis dan Pabrik Gula Sewugalur

Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar.

kondisi pabrik gula sewugalur pada masa masih beroprasi tahun 1917. (KITLV/kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 11:59

Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

Perjalanan para eksil Orde Baru dalam mendirikan Restaurant Indonesia pada 1982.

Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 11:22

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket, Wahana, dan Koleksi Satwa

Gembira Loka Zoo Yogyakarta menawarkan ratusan koleksi satwa, wahana keluarga, Zona Cakar, hingga Kereta Taring. Simak panduan lengkap sebelum berkunjung.

Gembira Loka Zoo Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 10:43

Analisis Konteks Historis Dibalik Pembuatan Film Kuldesak 1998

Artike lini membahas tentang latar belakang historis dari pembuatan Film Kuldesak 1998

Cuplikan adegan aktor Ryan Hidayat dan Iwa K dalam film Kuldesak 1998. (Sumber: Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia, Facebook. facebook.com)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 09:28

Ayobandung sebagai Inspirasi Literasi di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi, apakah literasi semakin bagus atau kian redup.

Ilustrasi website Ayobandung.id. (Sumber: Pexels/gravity cut)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:58

Pengembangan Mainan Anak Bercorak Tradisional

Perlu strategi komersialisasi produk mainan tradisional dengan  menerapkan kemasan  yang menarik.

Permainan tradisional Sunda di halaman Gedung Pakuan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:42

Menerobos Aturan di Simpang: Salah Pengendara atau Desain Jalan?

ATCS Dishub Kota Bandung mencatat ratusan pelanggaran di 10 lokasi simpang dengan tingkat pelanggaran tertinggi setiap bulan.

Dua pengendara sepeda motor kedapatan berhenti di zebra cross (4/5/2026). (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sejarah 23 Jun 2026, 16:25

Hikayat Ngamplang, dari Pusat Pemulihan Paru Pertama Hingga Pemberi Julukan Swiss Van Java

Dibangun pada 1912 sebagai sanatorium, Ngamplang kemudian berkembang menjadi wisata yang mendunia.

Salah satu sudut bangunan Sanatorium Ngamplang Garut yang kini berubah fungsi jadi lapangan golf. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)