Eksploitasi Sumber Daya Alam, Sebuah Pilihan Sulit di Tengah Ekologi Sosial

6 menit baca
Willfridus Demetrius Siga
Ditulis oleh Willfridus Demetrius Siga diterbitkan
Ilustrasi eksploitasi sumber daya alam. (Sumber: Pexels/Tom Fisk)
Ilustrasi eksploitasi sumber daya alam. (Sumber: Pexels/Tom Fisk)

Eksploitasi alam selalu punya dampak merusak karena ada kehidupan yang diambil, dibuang, bahkan dipaksa untuk mati.  Sudah lama kita telah meyakini apa yang disebut sebagai saintisme kearifan lokal. Kepercayaan berlebih terhadap sains sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Dalam banyak kasus, hal itu telah menciptakan bentuk baru dari monopoli pengetahuan dan teknologi yang seringkali mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dan spiritualitas masyarakat. Bentuk yang sedang dipertontonkan kepada kita saat ini adalah saintisme yang terinstitusionalisasi melalui kebijakan yang mereduksi kearifan lokal dalam pengelolaan pangan, energi, dan lingkungan.

Timothy Morton (1968 – sekarang), seorang filsuf kontemporer asal Inggris mengembangkan konsep dark ecology (2016). Konsep dark ecology mengkritik pendekatan “ekologi cerah” (bright green ecology) yang menyederhanakan masalah lingkungan menjadi proyek teknologi ramah lingkungan sebagai sebuah solusi atas krisis iklim, polusi, dan kehancuran ekosistem atau habitat. Morton mengajak kita untuk tidak menyangkal keterlibatan kita dalam kerusakan ekologis, dan justru menjadikan kesadaran bahwa kita dan alam adalah satu (koeksistensi).

Faktanya, sebagian besar masyarakat dengan mudah terjebak ke dalam euforia technopoly (Neil Postman, 1931-2003) yang sering kali mengeksploitasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan konsumtif atau industri tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem. Meskipun dapat membawa banyak manfaat, teknologi juga dapat menjadi penghambat bagi pemahaman ekologis yang lebih dalam.

Misalnya, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produksi dengan mengabaikan dampak ekologis yang dihasilkan oleh proses produksi, seperti polusi, penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, dan kerusakan lingkungan. Dalam konteks ini, teknologi tidak digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi lebih untuk mempercepat laju konsumsi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak berkelanjutan.

Arne Naess (1912–2009), filsuf Norwegia menyebutnya dengan deep ecology sebuah bentuk penekanan pada nilai intrinsik alam (aku dan alam adalah setara). Pandangannya bertentangan dengan ekologi shallow (dangkal), yang lebih mengutamakan pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan manusia yang seringkali tidak memperhatikan kelangsungan hidup jangka panjang ekosistem itu sendiri. Hal senada juga diutarakan oleh Rob Nixon (1954 – sekarang), kritikus budaya dan penulis asal Amerika yang dikenal atas pemikirannya tentang slow violence (kekerasan lambat), sebuah konsep untuk menggambarkan krisis lingkungan yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama dan tidak terlihat secara langsung oleh masyarakat luas.

Dalam bukunya yang berjudul Slow Violence and the Environmentalism of the Poor (2011), Nixon menjelaskan bagaimana krisis lingkungan, seperti perubahan iklim, polusi, deforestasi, dan kerusakan ekosistem, berlangsung secara lambat dan sering kali tidak dapat segera dirasakan dampaknya, meskipun konsekuensinya sangat besar.

Konteks eksploitasi sumber daya alam (lingkungan hutan, tanah, laut dan ekosistemnya) memunculkan pertanyaan, mengapa potensi sumber daya alam ada di hampir seluruh pulau di Nuasantara? Selain alasan alamiah dan ilmiah seperti dikelilingi oleh cincin api (ring of fire), sebagian besar pulau masih masuk dalam kawasan non-industri dimana masyarakat masih mengandalkan lapangan kerja pada sektor tradisional seperti pertanian, peternakan dan perikanan. Tentunya hal ini sangat terkait erat dengan dampaknya terhadap penduduk miskin, angka kemiskinan, dan Indeks Pembangunan Manusia.

Baca Juga: Transformasi Minyak Jelantah Jadi Biodiesel, Solusi Berkelanjutan untuk Energi Ramah Lingkungan

Selain itu, salah satu niatan dari eksploitasi sumber daya alam juga mengarah pada sebuah idealisme besar yaitu pengentasan kemiskinan. Kita seolah sangat yakin, bahwa kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan akan selesai urusannnya dengan mengeksploitasi alam. Dengan mengeskploitasi alam pembangunan akan merata dan mengalami akselerasi pertumbuhan ekonomi atas nama “kesejahteraan dan keadilan”.

Pada titik ini, kita dihadapkan dengan pilihan yang sulit: mau tetap nyaman dengan kemiskinan atau mau keluar dari kondisi itu? Mau tetap terbelakang, tertinggal, atau menjadi populer karena mengeksploitasi sumber daya alam secara serampangan? Salah satu prinsip utama deep ecology yang digagas oleh  Arne Naess (1912–2009) adalah bahwa keseimbangan ekologis yang mencakup kelestarian spesies, ekosistem, dan proses alam memiliki nilai yang lebih tinggi daripada sekadar memaksimalkan keuntungan ekonomi. Keharmonisan alam harus dijaga karena itu adalah bagian dari kehidupan yang berharga, bukan semata-mata karena manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan dari sumber daya alam.

Tanpa menjaga keseimbangan ekologis, keuntungan ekonomi pun tidak akan dapat bertahan lama, karena kerusakan lingkungan akan membatasi kemampuan untuk memperoleh sumber daya tersebut. Keseimbangan ekologis, yang mencakup keseimbangan antara spesies, keanekaragaman hayati, kualitas udara, air, dan kelestarian sumber daya alam, tetap menjadi prioritas utama. Ekosistem yang sehat adalah dasar untuk kelangsungan hidup kita. Oleh karena itu, merawat keseimbangan ekologis adalah kewajiban dan tanggung moral terhadap alam.

Eksploitasi alam itu selalu punya dampak merusak karena ada kehidupan yang diambil, dibuang bahkan dipaksa untuk mati. (Sumber: Pexels/Vlad Chețan)
Eksploitasi alam itu selalu punya dampak merusak karena ada kehidupan yang diambil, dibuang bahkan dipaksa untuk mati. (Sumber: Pexels/Vlad Chețan)

Apa yang perlu kita lakukan? Perlu kolaborasi konkret penerapan kebijakan dan praktik yang berfokus pada keberlanjutan. Hal ini terkait pengurangan konsumsi, penggunaan energi yang lebih efisien, dan pencarian alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menggantikan teknologi yang merusak lingkungan. Apabila eksplotasi sumber daya alam secara analisis dampak lingkungan lebih banyak merusak, kita masih memiliki potensi alam lain yang lebih ramah pemanfaatanya, seperti energi termal surya dan energi gelombang laut yang bisa saja secara hitung-hitungan bisnis tidak menguntungkan korporasi.

Eksploitasi sumber daya alam juga otomatis akan merusak estetika dan keindahan alam Indonesia. Kegiatan penambangan di daerah pariwisata, cagar budaya, hutan konservasi menguatkan cara kita berpikir bahwa kegiatan tambang jauh lebih menguntungkan ketimbang pariwisata premium karena konsistensi kita mempertahankan orisinalitas dan kearifan lokal. Dengan demikian, keseimbangan ekologis harus menjadi dasar dari kebijakan ekonomi, bukan semata alasan pertumbuhan ekonomi.

Sependapat dengan pandangan Murray Bookchin (1921–2006) seorang teoritikus sosial Amerika, bahwa merusak alam adalah proyeksi bagaimana manusia saling menindas. Konsep ekologi sosial menekankan perlunya rekonstruksi sosial secara ekologis, sebuah ajakan untuk rekonstruksi sosial melalui jalur-jalur ekologis. Ia menegaskan bahwa memperbaiki krisis ekologis harus dilakukan melalui perubahan struktural masyarakat, bukan sekadar etika individu.

Solusinya adalah “tindakan kolektif dan gerakan sosial besar” yang menantang sumber sosial krisis ekologis. Bentuk konkretnya adalah bukan soal sebatas perang wacana tetapi membangun kesadaran bersama bahwa teknologi (yang tentunya mendukung pertumbuhan ekonomi) harus dirancang, dikontrol, dan dikelola secara demokratis melalui struktur yang terdesentralisasi dan partisipatif dengan wajib memprioritaskan kebaikan bersama (bonum commune) dan kelestarian ekosistem alam.

Partisipasi masyarakat tidak hanya bergerak menolak segala bentuk eksploitasi alam, tetapi juga perlu alternatif lain untuk menciptakan sektor-sektor ekonomi baru yang tepat guna dan berpihak pada rakyat. Jika memang intensinya adalah untuk pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan maka fokus kita bukan hanya pada eksplotasi sumber daya alam saja tetapi juga pada pengembagan sektor ekonomi riil seperti penguatan UMKM, pemenuhan infrastruktur transportasi, peningkatan daya saing lokal, dan pengembangan sektor industri pengolahan dan jasa yang maksimal.

Pendekatan dan pengembangan ini bisa dimotori oleh semua pemangku kepentingan dengan mengusung konsep inovasi hexa helix yang mengintegrasikan unsur Academic, business/industry, government, community, sosial environment (media), dan UMKM dalam skema kolaborasi yang berkelanjutan.

Baca Juga: Entrok: Representasi Perempuan, Pendidikan, dan Masa Kelam Orde Baru

Bagian terakhir tulisan ini, menaruh perhatian lebih pada peran perempuan. Vandana Shiva (1952 – sekarang) ilmuwan, aktivis ekologi, dan feminis asal India Shiva mempopulerkan konsep ecofeminism dan pentingnya menghubungkan kearifan lokal dalam upaya menjaga keberlanjutan alam. Korporatisasi pangan merupakan bentuk penjajahan baru (neo-colonialism) yang mengancam kedaulatan benih, keanekaragaman hayati, dan kedaulatan pangan lokal yang berdampak pada kemiskinan petani kecil, terutama perempuan petani, yang kehilangan kontrol atas proses produksi dan distribusi pangan.

Eksploitasi alam melalui melalui berbagai bentuk proyek yang merusak juga tentunya mengancam ketahanan pangan secara nasional. Peran perempuan petani menjadi penting sebagai garda terdepan ketahanan pangan sejak mempersiapkan lahan pertanian, panen, dan mengelola hasil pangan untuk kepentingan domestik (rumah tangga). Maka suara dan peran mereka diperlukan demi keberlanjutan untuk menentukan sendiri sistem pangan dan pertaniannya. 

Para perempuan hadir untuk mengingatkan soal ancaman globalisasi pangan yang membuat komunitas lokal kehilangan kendali atas produksi, konsumsi, dan distribusi makanan mereka sendiri (konsep food-feminisme). Kita tentunya berharap dengan cara-cara ini struktur sosial dapat diubah menuju masyarakat yang lebih demokratis, egaliter, dan ekologis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)