Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Di Wonocolo Minyak Bumi Dikelola secara Mandiri

T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Kamis 19 Jun 2025, 16:00 WIB
Kesibukan pagi di penambangan minyakbumi di Wonocolo. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Kesibukan pagi di penambangan minyakbumi di Wonocolo. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)

Truk besar tanpa ban, lebih menyerupai rongsokan, diparkir di dekat lubang bor. Ketika saya mendekat, mesin truk baru saja dinyalakan. Seling baja menggulung di salah satu pelek. Bila putaran roda bergerak maju, seling baja yang disangga oleh menara dari tiga kayu gelondong, akan mengulur ke dalam lubang bor puluhan hingga ratusan meter. Dan, saat mesin truk itu digerakan mundur, seling baja akan kembali menggulung di pelek. 

Seling baja itu di ujungnya digantungi silinder baja 50 cm, yang berguna sebagai ember untuk menimba lantung, minyak mentah yang bercampur air. 

Agar petugas penumpah lantung tidak telat mendorong, sekitar dua atau tiga meter sebelum selinder baja itu, diikatkan kantong keresek warna hitam. Petugas penumpah lantung yang duduk di saung dekat lubang bor, akan segera mendorongkan tongkat bercagak. Selinder baja akan terdorong sekitar satu meter dari lubang bor. 

Setelah itu, sopir sebagai pengatur, dengan cepat akan mengulur seling baja, hingga silinder baja itu jatuh dengan keras di tembok, menumpahkan lantung dan air ke dalam bak penampungan.

Sebelum menggunakan truk untuk mengulur dan menarik lantung dengan seling baja, para penambang berkelompok antara 8 orang sampai 12 orang untuk setiap sumur. Tugasnya mengulur dan menarik kawat baja dari kedalaman lubang bor sedalam ratusan meter. Ada juga yang menarik kawat bajanya menggunakan sapi. 

Inilah penambangan rakyat yang masih berlangsung di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Jawa Timur. Toponim Wonocolo merupakan gabungan dari kata wono yang berarti hutan, dan colo yang berarti gunung. Hutan di gunung (kapur).

Di hutan kawasan karst inilah sejarah awal pengelolaan sumur minyak bumi tradisional di Wonocolo. Kepandaian masyarakat dalam menambang lantung, terkait dengan sejarah penambangan minyak bumi di Cepu pada zaman kolonial Belanda. 

Tahun 1880 diketahui adanya rembesan cairan hitam (lantung) yang mudah menyala. Itulah sebagai penanda adanya ladang minyak bumi di sana. 

Tahun 1887, dilakukan pengeboran minyak di Kuti dan Kruka. Berita penemuan lantung akhirnya sampai ke Belanda. Adrian Stoop dan menugaskan untuk memastikan adanya sumber minyak tersebut. 

Pada Januari 1893, Adrian Stoop menyusuri Bengawan Solo menuju Ngareng dan Cepu, melakukan penyelidikan ladang minyak berkualitas tinggi di Panolan. 

Pada tahun 1893 juga, Adrian Stoop melakukan pengeboran di Desa Ledok, Kecamatan Sambong. Sumur pertama berhasil mengeluarkan minyak pada kedalaman 94 m. Hasilnya diolah di kilang kecil di daerah Ledok. 

Inilah kilang pertama dan tertua di Cepu. Inilah minyak bumi yang terbentuk sejak 25 juta tahun yang lalu hingga 1,6 juta tahun yang lalu, yang berasal dari bahan organik tumbuhan darat, plankton, alga hijau, dan Botryococcus braunii

Baca Juga: Kini 10 Netizen Terpilih Dapat Total Hadiah Rp1,5 Juta dari Ayobandung.id setiap Bulan

Penambangan lantung di Wonocolo berlokasi di puncak-puncak bukit, yang menjadi bukti keberadaan jebakan minyak antiklinal, yang di dalamnya menyimpan kandungan minyak.

Pascakemerdekaan, masyarakat Wonocolo kembali menambang lantung dengan cara yang mereka ingat saat menjadi pekerja tambang di perusahaan Belanda. Mereka menambang lantung secara turun menurun di sumur-sumur tua yang terbengkalai. Namun, ada yang mengebor sendiri, dengan rata-rata kedalamannya 300 m. 

Cara yang dilakukan masyarakat dalam menyuling lantung tampak sederhana. Mula-mula, lantung dimasukan ke dalam drum, kemudian dipanaskan di atas tungku. Api pemanasnya berasal dari gas alam yang disambungkan dengan selang ke mulut tungku. Drum berisi lantung itu ditutup rapat, di bagian tutupnya dibuat lubang yang dapat disambungkan dengan pipa yang dikubur dengan tanah. Uap hasil pemanasan lantung disalurkan ke dalam dua batang pipa panjang yang terendam air. Di ujung pipa, keluarlah cairan jernih berupa minyak tanah (kerosin), solar, dan residu atau kerak. Semuanya laku dijual.

Dari satu drum lantung yang bagus, setelah disuling, menghasilkan lima gebés (jeriken) yang isinya 35 liter, dan satu gebés solar, serta satu keranjang kerak. Pengolahan satu drum lantung memerlukan waktu 4 jam. Minyak olahan rakyat ini sudah ada yang siap membeli, lalu diangkut dengan rengké di atas motor bebek.   

Itulah yang dikerjakan oleh Gino yang berasal dari Banyuurip. Juga oleh Yasin. Mereka memasak lantung menjadi minyak tanah dan solar. Dalam sehari dihasilkan minyak tanah tidak kurang dari 5 drum. Dari satu drum dihasilkan 5 gebés (jeriken) minyak tanah dan 1 gebés solar. Yasin mengolah sendiri lantung yang dia beli dari pengebor, yang diantar ke tempat pengolahan. Tidak semua pekerja di tambang rakyat berasal dari wilayah setempat. 

Minyak tanah dan solar itu kemudian diangkut dengan sepeda-sepeda motor yang dilengkapi dengan réngkék, wadah yang terbuat dari anyaman bambu tempat menaruh gebés yang dipasang di atas jok belakang sepeda motor.

Sebagian hasil produksi tambang minyak ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Sebagian lainnya dijual ke luar. Penampung minyak mentah selalu ada di tempat penambangan. Sutopo, pengepul minyak lantung dari penambang mengatakan bahwa rata-rata per hari dia menampung lantung 25 drum untuk dijual lagi ke pihak lain di Cepu. Dia membeli per drum lantung, dan akan menjualnya kembali per bulk. Satu tangki sama dengan lima bulk. Satu bulk sama dengan lima drum. 

Wonocolo merupakan satu tempat kegiatan eksplorasi migas yang dikelola oleh masyarakat setempat secara mandiri. Inilah cermin, bagaimana minyak bumi Indonesia dikelola. 

Penambangan minyak lantung ini melibatkan begitu banyak orang, yang secara langsung turut menikmati keberkahan dari dalam buminya. Sementara, di sepanjang jalan, pompa angguk milik pemodal raksasa, sepi sendiri di hutan jati. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)