Ketika Rusia Punya Bom Atom yang Sama Destruktif dengan Milik Amerika Serikat

6 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Joseph Stalin pada tahun 1949. (Sumber: German Federal Archive | Foto: Flickr/Segunda Guerra Mundial)
Joseph Stalin pada tahun 1949. (Sumber: German Federal Archive | Foto: Flickr/Segunda Guerra Mundial)

Ditulis oleh Jatmika Aji Santika

AYOBANDUNG. ID – Sains di Soviet tidak berbeda dengan di negara lainnya, digunakan untuk memperkuat kekuatan militer. Di tahun 1939, Stalin bersiap untuk berperang, riset sains didorong untuk menjadi penopang militer Soviet.

Salah satunya ialah senjata nuklir yang dipersiapkan Soviet. Di awal Oktober 1938, pertemuan khusus diadakan oleh sekumpulan fisikawan di Akademi Sains yang sudah banyak membahas nuklir namun hanya sebatas teoritis dan tidak memiliki kegunaan praktis (Ada 4 akademi Sains di Soviet, dua di Leningrad, satu di Moskow, dan satu terletak di Kharkov). 

Namun, riset nuklir di Soviet tampak seperti mimpi di siang bolong, masih terasa tidak mungkin dicapai karena pendanaan yang sedikit. Petr Kapitsa mengungkapkan pendapatnya pada bulan Februari 1940: “Kita tidak akan menggunakan energi atom dengan mudah, bahkan mungkin tidak akan pernah menggunakannya sama sekali”.

Prediksi yang ternyata salah, karena di kemudian hari Soviet berhasil membuat bom atom. Tetapi pesimisme fisikawan tersebut mempunyai alasan, birokrat Soviet tidak menganggap penting riset nuklir sehingga para saintis harus mengirim surat pada Molotov agar pemerintah mengulurkan bantuannya dalam melakukan riset nuklir.

Pasalnya di tahun 1939, sebuah penemuan ternyata menunjukkan uranium dapat dibelah yang artinya bom atom dapat dihasilkan, para saintis Soviet seperti Vernadskii, Khlopin dan Aleksandr Fersman memperingatkan bahwa Uni Soviet dapat tertinggal dari Amerika Serikat dalam riset nuklir seandainya para birokrat tidak mendukung para saintis.

Seperti diungkapkan oleh Campbell Craig & Sergey Radchenko The Atomic Bomb and the Origins of the Cold War usaha pertama untuk membuat bom atom datang dari dua orang ilmuwan bernama Viktor Maslov dan Vladimir Shpinel pada tanggal 17 Oktober 1940 menulis surat pada Biro Pertahanan. Maslov dan Shpinel menjelaskan tentang kekuatan destruktif yang dapat dihasilkan dari bom atom yang tidak pernah ada sebelumnya. Maslov bahkan meminta untuk menggunakan uranium sebagai bahan bakar untuk pesawat, kapal, dan tank. Tetapi ternyata tidak satu pun surat dari Maslov digubris.

Progres Soviet dalam pembuatan bom atom semakin tersendat ketika Jerman membuka front kedua dengan menyerang Soviet pada 22 Juni 1941. Dalam satu minggu, Belarusia, Latvia, Lithuania, dan Estonia dibawah pendudukan Jerman. Puncaknya, di bulan September Wehrmacht berhasil mengepung kota Leningrad, sebuah wilayah Soviet dengan potensi industri dan agrikultural yang paling berkualitas.

Dengan didudukinya wilayah Soviet oleh tentara Jerman berhasil memporak-porandakan Uni Soviet; institusi akademi Soviet nuklir sains harus dipindahkan dari Leningrad ke wilayah pedalaman. Tidak hanya itu, banyak saintis nuklir harus ‘banting stir’ dari riset nuklirnya.

Seorang saintis bernama Igor Kurchatov harus meninggalkan laboratorium di LFTI ke Laut Hitam Sebastopol yang disitu ia harus mengerjakan tugas yang tidak relevan dengan kapasitasnya, mengawasi pemindahan kapal yang mengangkut tambang magnetik. Saintis lainnya yaitu Iulii Khariton, yang kemudian menjadi direktur Saintifik dari proyek atom Soviet, saat perang hanya menjadi pembuat bom konvensional untuk tentara. Invasi tentara Jerman menunda riset nuklir Soviet. 

Baca Juga: Persib Juara Divisi Utama 1986, Tiga Pemain Diberi Beasiswa

Pada Desember 1941 dan Maret 1942 Kaftanov, orang yang mengawasi riset sains, menerima surat dari seorang Saintis nuklir Soviet bernama Georgy Flerov yang telah menemukan pembelahan (fisi) uranium secara spontan pada tahun 1940 (sebelum perang) dengan Konstantin Pertzhak di sebuah laboratorium tepatnya di Institut Radium Leningrad yang peralatan eksperimennya terletak 60 meter dibawah tanah stasiun Dinamo Metro Moskow,  setelah Jerman menginvasi Soviet, ia tergabung ke dalam Angkatan Udara Soviet.

Flerov dengan jelas dalam suratnya kepada Stalin meminta agar segera mengadakan proyek pembuatan bom atom agar tidak tertinggal dari Inggris, Amerika, bahkan Jerman. Kaftanov kemudian juga melakukan hal yang sama yaitu mengirim surat pada Stalin agar mulai melakukan riset uranium (untuk bom atom) di Soviet.

Surat yang dikirimkan para saintis kepada Stalin mirip seperti tindakan yang dilakukan Leo Szilard dan Einstein yang menyurati Roosevelt agar segera membuat bom atom karena takut Jerman dibawah Hitler terlebih dahulu berhasil membuatnya. Stalin merespon surat dengan memanggil Kaftanov dan menanyakan berapa banyak biaya yang diperlukan dalam riset tersebut. Kaftanov kemudian menyebutkan sejumlah angka (jutaan).

Stalin kemudian menyetujuinya 'it has to be done'.

Dengan mendapat persetujuan Stalin, pembuatan atom kemudian menjadi sebuah proyek yang mendapat sokongan dari negara dengan tenggat waktu yang diberikan hingga 1 April 1943, Stalin ingin para saintis memberikan bukti bahwa bom atom bukanlah mimpi di siang bolong dan bisa menjadi kenyataan. Uang digelontorkan untuk membeli peralatan dan bahan uji coba, selain itu wilayah Kazan digunakan untuk laboratori eksperimen.

Baca Juga: Suara yang Tertinggal dari Pasar Banjaran

Michael Blow dalam bukunya The Atomic Bomb mengatakan kalau orang yang bertanggung jawab dan memegang manajemen proyek pembuatan bom atom Soviet ialah seorang kepala Leningrad Physical Techincal Institute (LFTI), Abram Ioffe, seorang fisikawan Soviet yang sangat dihormati. Kurchatov yang pada tahun 1941-1942 bekerja memantau pemindahan magnet, dipindah tugaskan ke Kazan, tempat para Saintis Soviet melakukan eksperimen di laboratorium kerjanya.

Para saintis yang bekerja di laboratorium mengalami kesulitan karena kekurangan peralatan laboratorium yang memadai. Georgy Flerov mengatakan: “Kami betul-betul miskin ketika memulai pekerjaan kami dan harus mengumpulkan peralatan kami dari sisa-sia yang tersedia di pangkaan militer dan institusi akademi”.

Bahkan untuk mendapatkan peralatan yang memadai, seorang saintis harus mengambilnya di institusi tempat dulu ia bekerja, seperti Flerov yang harus pergi ke kota Leningrad pada tahun 1943 yang saat itu masih dikepung oleh tentara Nazi Jerman untuk mengambil peralatan laboratoriumnya di LFTI.

Georgy Flerov. (Sumber: Store norske leksikon | Foto: Association GOZNAK of the Ministry of Finance of the Russian Federation)

Flerov sampai jatuh sakit dan berhasil selamat atas inisiatif saintis lainnya, Kurchatov yang mengevakuasi Flerov hingga tiba dengan peralatannya dalam keadaan selamat, sementara pemerintah tidak mengapresiasi apa yang telah dilkukn Flerov. Tidak hanya itu, para saintis di Kazan harus kesulitan mendapatkan sebuah tempat untuk dijadikan tempat riset atau laboratorium kerja, bahkan di bulan Desember para saintis Soviet harus mencari tempat untuk ruang laboratorium nuklirnya dan harus memikirkan listrikk dan gasnya yang seringkali tidak berfungsi.

Dengan keadaan yang serba kekurangan, riset nuklir berjalan dengan lambat, pada 23 Januari 1943 Ioffe dan Kaftanov menuliskan surat ke Moskow bahwa tenggat waktu yang ditargetkan lebih lambat dari yang seharusnya dijadwalkan.

Molotov kemudian memberikan keputusan pada 11 Februari bahwa riset uranium (bom atom) harus dilakukan di laboratorium Moskow dengan Kurchatov yang memegang proyek tersebut. Kurchatov diberikan tenggat waktu bahwa pada 1 Juli 1943 harus diberikan jawaban yang jelas.

Keadaan saintis di Moskow tidak jauh berbeda dari sebelumnya, kali ini mereka memiliki laboratorium kerja di bekas Institusi Kesehatan Medis untuk menampung anjing-anjing pengujian hewan. Para birokrat komunis Soviet tidak terlalu peduli terhadap proyek pembuatan bom atom.  

Ketertinggalan Soviet dalam pembuatan bom atom membuat Soviet harus mengandalkan laporan intelijen terkait progres riset nuklir yang dibuat Amerika. Kurchatov belajar bahan pembuatan bom atom menggunakan plutonium melalui laporan intelijen.

Baca Juga: Buruh dalam Bahasa Sunda

Pada 22 Maret 1943, Kurchatov melaporkan pada Pervukhin tentang membuat bom atom dari putonium. Langkah Kurchatov yang mengandalkan riset Amerika dalam pembuatan nuklir mendapat protes dari kolega saintis lainnya, Petr Kapitsa memprotes “plagiarisme” ini dengan menulis surat pada Stalin di tanggal 25 November 1945: “Kita terlalu membuntut pada Amerika dan tidak mencoba membuat jalan kita sendiri”.

Sementara Kurchatov berargumen dengan logis: “Karena laboratorium ini tidak memiliki bangunan, peralatan, sumber daya manusia, bahan-bahan (uranium) yang memadai, karenanya perlu jalan pintas yaitu dengan melihat hasil kerja saintis Amerika pada eksperimen bom nuklir”.

Stalin ingin segera menciptakan bom atom untuk keseimbangan kekuatan setelah perang berakhir dan proyek bom atom diambil alih oleh Lavrenti Beria pada tahun 1944 atas perintah Stalin yang ingin segera memiliki bom itu dengan biaya berapa pun. (*)

Baca bagian 2: Sejarah Bom Atom Soviet Bagian 2: Eropa setelah perang

Penulis, Jatmika Aji Santika, adalah seorang lulusan sejarah dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)