3 menit di Pukul 10 Pagi (MERAWAT CINTA YANG HAMPIR HILANG)

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Menyanyikan Indonesia Raya di jam yang sama, di berbagai kota, adalah cara untuk meneguhkan perasaan “kita”. (Sumber: Pexels/Deden R)
Menyanyikan Indonesia Raya di jam yang sama, di berbagai kota, adalah cara untuk meneguhkan perasaan “kita”. (Sumber: Pexels/Deden R)

Jam menunjukkan pukul 09.58, saya sedang berbincang di salah satu ruang kantor pemerintah bersama beberapa rekan. Obrolan mengalir, membahas hal-hal teknis, sampai tiba-tiba mereka melirik jam dinding dan berkata pelan, “Sebentar ya.”

Kami semua berdiri, musik mulai mengalun, lalu menguat, lagu Indonesia Raya pun dinyanyikan. Tiga menit itu semua aktivitas berhenti, tidak ada suara printer, tidak ada ketukan keyboard, bahkan ponsel juga diletakkan.

Beberapa hari kemudian, pengalaman serupa terulang kembali, tapi di tempat yang berbeda, yaitu di SPBU Pertamina. Saya baru saja mematikan mesin kendaraan, petugas tiba-tiba menghentikan langkah, tangan yang tadinya sigap memegang nozzle kini terdiam.

Ia berdiri tegak, dan lagu Indonesia Raya kembali terdengar di jam yang sama. Saya ikut berdiri di samping motor, memperhatikan orang-orang di sekitar. Ada yang bernyanyi lantang, ada yang hanya tersenyum tipis, dan ada yang berdiri kaku sambil melirik jam.

Fenomena ini bukan kebetulan, beberapa instansi pemerintah, termasuk BUMN, kini menerapkan kebijakan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pukul 10 pagi. Tujuannya sederhana, untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme di tengah masyarakat yang kian sibuk dengan urusan masing-masing.

Dari kacamata kajian budaya, apa yang terlihat sederhana ini sebenarnya adalah ritual nasionalisme, serangkaian tindakan simbolik yang diulang secara terjadwal untuk memperkuat identitas kolektif. Kita mengenalnya dalam bentuk upacara bendera di sekolah, peringatan hari kemerdekaan, atau lagu kebangsaan yang dikumandangkan sebelum pertandingan olahraga.

Benedict Anderson, dalam bukunya Imagined Communities (1983), menyebut bangsa sebagai “komunitas terbayang”, sebuah entitas besar yang anggotanya tidak saling kenal, tapi merasa terhubung melalui simbol, bahasa, dan ritual bersama.

Menyanyikan Indonesia Raya di jam yang sama, di berbagai kota, adalah cara untuk meneguhkan perasaan “kita”. Kita mungkin tidak saling mengenal, tapi di momen itu, kita melakukan hal yang sama, untuk alasan yang sama.

Antara Ritual dan Makna

Pada realitanya, simbol tidak selalu sejalan dengan makna. Clifford Geertz (1973), dalam The Interpretation of Cultures, memandang simbol sebagai pembawa makna yang hanya hidup jika dipahami dan dihayati oleh komunitas yang menggunakannya.

Ritual seperti menyanyikan lagu kebangsaan setiap pukul 10 pagi memiliki fungsi ganda, ia adalah model of reality (cerminan nilai kebangsaan yang kita anut) dan sekaligus model for reality (alat untuk membentuk nilai itu agar terus hidup).

Namun, tanpa keterlibatan kesadaran, simbol itu bisa kehilangan daya hidupnya, yang tersisa hanyalah gerakan tubuh dan lantunan nada, sementara makna yang menyertainya memudar di balik rutinitas.

Di titik inilah muncul pertanyaan, apakah kebiasaan menyanyikan Indonesia Raya setiap pagi benar-benar memperbarui rasa cinta tanah air, ataukah ia perlahan berubah menjadi ritual yang dijalankan tanpa rasa?

Ritual yang terus diulang memang punya kekuatan membentuk identitas kolektif. Ia bisa menanamkan rasa kebersamaan dan membangun kesadaran bahwa kita bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Tetapi, tanpa keterlibatan emosi dan kesadaran makna, ritual itu berisiko berubah menjadi empty ritual (ritual kosong) yang dijalankan semata-mata untuk memenuhi kewajiban administratif. Meski begitu, dalam studi budaya kontemporer ada istilah habitual patriotism, yaitu bentuk patriotisme yang tumbuh dari kebiasaan tubuh.

Berdiri tegak, menatap bendera, dan melafalkan lirik lagu kebangsaan adalah latihan yang, ketika diulang terus-menerus, dapat menanamkan rasa kebangsaan pada tingkat hampir otomatis. Sama halnya seperti gerakan salat lima waktu yang membentuk keterhubungan spiritual, meski tingkat penghayatan setiap orang bisa berbeda-beda.

Ritual pukul 10 pagi bekerja dengan logika serupa. Tubuh dilatih untuk mengingat, bahkan saat pikiran sedang melayang entah ke mana. Dan sering kali, tubuh yang sudah terbiasa akan membantu pikiran untuk kemudian menyusul menghayati. Ada saatnya kita baru benar-benar merasakan makna ketika sudah lama melakukannya.

Dalam konteks ini, formalitas bukanlah musuh makna, ia justru bisa menjadi pintu masuk yang perlahan membawa kita pada penghayatan yang lebih dalam.

Cinta yang Hampir Hilang

Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels/bima)
Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels/bima)

Jika kita jujur, rasa nasionalisme memang kerap naik turun. Ia memuncak di momen-momen tertentu, seperti saat menonton pertandingan olahraga internasional atau ketika bencana alam membuat kita saling membantu tanpa memandang perbedaan. Tapi di luar itu, cinta ini sering memudar, tersisih oleh rutinitas hidup dan riuhnya berita politik yang melelahkan.

Ritual seperti menyanyikan Indonesia Raya setiap pagi adalah salah satu cara untuk “menyiram” cinta itu. Apakah cukup? Tentu tidak. Cinta pada bangsa tidak bisa hanya dirawat dengan tiga menit nyanyian, sama seperti hubungan pribadi tidak bisa dipelihara hanya dengan ucapan manis sesekali.

Ia butuh tindakan nyata, kepedulian pada sesama warga, kejujuran dalam bekerja, dan keberanian menjaga nilai-nilai bersama.

Namun, seperti menyiram tanaman, kita tetap perlu memulai dari hal kecil. Menyanyi di pukul 10.00 mungkin hanyalah setetes air, tapi tanpa tetes-tetes itu, tanaman akan kering. Di titik ini, tugas kita sebagai individu adalah memastikan ritual itu tidak sekadar formalitas.

Anthony Giddens (1991) dalam konsep reflexive project of the self menyebut bahwa di dunia modern, tindakan kita hanya bermakna jika disertai kesadaran dan refleksi. Menyanyikan lagu kebangsaan setiap pukul 10.00 sebenarnya bisa menjadi ruang jeda, tiga menit untuk menoleh ke dalam, mengingat siapa kita sebagai bagian dari bangsa, dan apa yang ingin kita wariskan.

Kesadaran ini tidak perlu selalu berupa renungan besar, bahkan mengucap doa singkat untuk negeri pun sudah cukup untuk mengisi ritual dengan makna. Tanpa refleksi, lagu itu hanyalah rangkaian nada yang lewat begitu saja. Dengan refleksi, ia bisa menjadi momen yang mengikat tubuh, hati, dan sejarah dalam satu tarikan napas.

Mungkin, di tengah hidup yang semakin cepat, pukul 10 pagi bisa menjadi pengingat bahwa kita bukan hanya individu yang sibuk mengejar target masing-masing, tapi bagian dari cerita yang lebih besar. Sebuah cerita yang disebut Indonesia.

Dan mungkin, cinta yang hampir hilang itu tidak benar-benar lenyap. Ia hanya butuh diingat, dirawat, dan diperbarui. Bukan hanya lewat kata, tapi juga lewat momen sederhana seperti berdiri sejenak dan menyanyikan lagu yang mengikat kita semua. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)