Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Pengunjung Menurun Bikin Cuan Seret, Pedagang Teras Cihampelas Tagih Janji Revitalisasi bukan Cuma Wacana Saja

Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan Selasa 15 Jul 2025, 09:17 WIB
Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di depan sebuah toko, suara mesin jahit milik Otang masih berdengung pelan. Tangannya cekatan menjahit pakaian, meski pikirannya melayang ke masa silam, saat Cihampelas tak pernah sepi dari wisatawan. Dahulu, jalan ini selalu dipenuhi tawa, kamera, dan hiruk-pikuk tawar-menawar.

Otang, lelaki berusia 69 tahun yang sejak awal Reformasi sudah bertahan sebagai penjahit di sana, menyimpan semua kenangan itu dalam kepala yang masih jernih.

“Dulu mah penuh terus, susah nutup kios karena banyak pesanan,” ucapnya, Kamis, 10 Juli 2025.

Bukan tanpa alasan Cihampelas menjadi tujuan favorit para pelancong. Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, kawasan ini punya daya tarik unik: bangunan toko yang dihiasi tokoh fiksi superhero raksasa di bagian depannya. Mulai dari Superman, Batman, Spiderman, hingga Rambo, semua menjadi ikon yang memikat mata.

Sebagian besar toko di Cihampelas menjajakan produk fesyen seperti celana jins, kemeja, dan berbagai jenis pakaian lain. Kualitasnya dikenal bagus—stylish dan tahan lama. Otang masih ingat betul, saat akhir pekan, kawasan ini padat oleh pengunjung. Ia berkata, kala itu bukan toko yang menunggu pembeli, tapi pembeli yang menanti toko buka. “Kalau sekarang mah, ah, lesu,” keluhnya.

Masa kejayaan Cihampelas turut dirasakan langsung oleh Otang. Ia pernah menerima hingga 100 pesanan dalam sehari. Keuntungan yang ia peroleh kala itu bisa mencapai Rp100 ribu, jumlah yang cukup besar pada masanya.

Ia menyebut wisatawan mancanegara sering berlalu-lalang, bersaing dengan wisatawan lokal, terutama yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Tak heran jika setiap akhir pekan Jalan Cihampelas selalu macet dan sesak oleh pengunjung.

Namun kondisi ramai itu tidak pernah ia keluhkan. Justru ia rindu masa-masa ketika geliat ekonomi terasa hidup. Kini, meski jalanan ramai kendaraan, denyut ekonominya terasa lesu.

Otang mengaku tidak tahu pasti kapan dan mengapa Cihampelas mulai kehilangan pamor. Namun, menurut pengamatannya, hal itu mulai terasa sejak proyek skywalk bernama Teras Cihampelas mulai dibangun. Pada masa awal wacana proyek, pemerintah dan para pedagang sempat bersitegang karena kekhawatiran akan kehilangan pelanggan.

Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, Pemkot Bandung menyediakan kios-kios khusus untuk PKL di atas Teras Cihampelas. Proyek tahap pertama menghabiskan dana Rp48 miliar dan ditargetkan rampung pada 2016.

“Pas dibangun juga tetap sepi, karena kan ada proyek. Jadi yang mau belanja susah datang,” kenangnya.

Penyelesaian proyek pun molor satu tahun dari target. Meski begitu, warga Bandung tetap menyambut antusias. Otang termasuk yang antusias. Ayah enam anak itu bahkan takkan lupa momen saat bisa bertemu Presiden RI ke-7 Joko Widodo ketika Teras Cihampelas diresmikan.

Suasana sepi Teras Cihampelas di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis 11 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)
Suasana sepi Teras Cihampelas di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis 11 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)

Sayangnya, masa gemilang itu tak bertahan lama. Menjelang akhir 2019, pandemi Covid-19 mulai merebak. Masyarakat panik, pemerintah bertindak, namun vaksin belum tersedia. PPKM pun diterapkan. Ekonomi jatuh drastis. UMKM terpukul. Wisata dibatasi, termasuk kunjungan ke Teras Cihampelas.

“Waktu Covid mulai sepi karena ada pembatasan dari pemerintah. Covid-nya hilang, tapi pengunjung juga hilang,” katanya.

Sejak 2022 hingga kini, Cihampelas tak lagi seramai dulu. Wisatawan memang masih datang, tapi jumlahnya jauh menurun. Sekarang, kata Otang, orang lebih banyak ke Cihampelas Walk atau hanya mampir ke toko oleh-oleh. Sebagian besar hanya singgah, beli jajanan khas Bandung, lalu pulang.

“Waktu sepi, tempat ini malah dipakai anak-anak nakal. Main semalaman di sini, pacaran, minum miras,” ceritanya.

Belakangan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan pembongkaran Teras Cihampelas dan pelepasan aset karena dianggap mempersempit trotoar dan menghalangi pertumbuhan pohon. Namun, Wali Kota Bandung saat ini, Muhammad Farhan, tak langsung menyetujui. Ia memilih mengkaji bersama instansi dan DPRD Kota Bandung.

Farhan akhirnya menolak usulan itu. Ia berkomitmen untuk merenovasi Teras Cihampelas agar tetap bermanfaat. “Wacana pembongkaran memang ada sejak saya dilantik. Tapi saya tidak bisa asal putuskan. Setelah dilakukan appraisal, nilai Teras Cihampelas saat ini mencapai Rp80 miliar,” katanya, Selasa, 8 Juli 2025.

Sebagai warga, Otang juga punya pandangan. Ia mendukung apapun langkah pemerintah, selama hasilnya positif bagi masyarakat, terutama pedagang kecil. “Kalau memang nggak dirawat, mah setuju dibongkar,” ujarnya tegas.

Respon Pedagang

Aan Suherman (53) tak bisa menyembunyikan kegelisahannya soal rencana pembongkaran Teras Cihampelas. Setiap hari berjualan di sana, ia khawatir jika harus pindah lokasi karena pelanggan bisa hilang. Meski pemerintah menjanjikan relokasi, ia tak yakin hasilnya sebanding.

“Omzet bakal menurun. Soalnya pelanggan sudah tahu saya di sini. Banyak yang langganan dari Ciwalk,” katanya, Selasa, 8 Juli 2025.

Dari jam 11.00 hingga 18.00 WIB, Aan masih bisa meraup pendapatan Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari. Jauh menurun dibanding tahun 2017 saat Teras Cihampelas baru diresmikan. Kala itu, penghasilannya bisa tembus Rp2 hingga Rp3 juta per hari.

“Sekarang mah paling sedikit Rp800 ribu, paling besar Rp1 juta. Kalau dulu hampir Rp2 sampai Rp3 juta,” akunya.

Menurut Aan, solusi terbaik adalah penataan ulang kawasan, bukan pembongkaran. Ia yakin, jika difasilitasi dan ditata dengan baik, pengunjung akan kembali datang.

“Mending juga ditata kembali, diperbaiki lagi. Biar pengunjung pada datang,” ucapnya.

Aan Suherman seorang pedagang di Teras Cihampelas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Aan Suherman seorang pedagang di Teras Cihampelas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Harapan serupa disampaikan Supadi (60), pedagang kopi dan mi kocok. Meski pendapatannya kecil, ia tetap bertahan. Ia tak keberatan jika kawasan dibongkar, asal tempat relokasi tetap strategis.

“Kalau dikasih tempat baru, kira-kira bisa rame seperti dulu, atau tetap begini-begini aja?” tanyanya.

Ia sadar betul akan komitmen awal saat mulai berdagang di sana. “Kita dulu memang sudah tanda tangan, kalau sewaktu-waktu tempat ini dipakai pemerintah, enggak boleh menuntut. Enggak akan ada ganti rugi. Enggak apa-apa,” ujarnya.

Potret Proyek Tak Belum Terasa Manfaatnya

Teras Cihampelas jadi satu dari banyak proyek pemerintah yang dinilai belum membawa manfaat signifikan bagi masyarakat. Selain itu, masih ada beberapa proyek lain yang menuai kritik serupa.

Kolam Retensi Gedebage adalah salah satunya. Dibangun untuk mengurangi banjir di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, kolam ini menampung 7.515 meter kubik air. Namun banjir masih sering terjadi. Kapasitas kolam dinilai belum sebanding dengan volume genangan air yang datang dari hulu.

Kepala DSDABM Kota Bandung, Didi Ruswandi, menyebut masih ada sekitar 16.000 meter kubik genangan yang belum bisa diatasi. Sebagai solusinya, Pemkot membangun kolam retensi tambahan di Ciporeat, Ujungberung.

Selain itu, proyek ducting kabel bawah tanah juga jadi sorotan. Dilakukan bersama PT Bandung Infra Investama, proyek ini dikerjakan di 143 ruas jalan protokol. Namun warga mengeluhkan bekas galian yang tidak rata dengan permukaan jalan, hingga memicu kecelakaan, seperti yang terjadi di Jalan Tamansari pada Desember 2024 lalu.

Tak kalah jadi perhatian adalah proyek Flyover Nurtanio yang hingga kini mangkrak. Pembangunan yang dimulai awal 2024 itu seharusnya selesai akhir tahun, lalu mundur ke Mei 2025, tapi belum juga rampung. Jalan di sekitar proyek rusak, berlubang, dan macet parah, membuat warga geram.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan banyak warga yang mulai mempertanyakan kelanjutan proyek tersebut. Ia berencana menemui pemerintah pusat untuk meminta kejelasan.

Alih-alih memberi manfaat luas, sejumlah proyek pemerintah justru menyisakan kekecewaan bagi warga. Janji peningkatan ekonomi tak kunjung terwujud. Yang tersisa hanyalah fasilitas setengah jadi dan pedagang kecil yang terus bertahan di tengah ketidakpastian. (*)

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)