Pengunjung Menurun Bikin Cuan Seret, Pedagang Teras Cihampelas Tagih Janji Revitalisasi bukan Cuma Wacana Saja

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di depan sebuah toko, suara mesin jahit milik Otang masih berdengung pelan. Tangannya cekatan menjahit pakaian, meski pikirannya melayang ke masa silam, saat Cihampelas tak pernah sepi dari wisatawan. Dahulu, jalan ini selalu dipenuhi tawa, kamera, dan hiruk-pikuk tawar-menawar.

Otang, lelaki berusia 69 tahun yang sejak awal Reformasi sudah bertahan sebagai penjahit di sana, menyimpan semua kenangan itu dalam kepala yang masih jernih.

“Dulu mah penuh terus, susah nutup kios karena banyak pesanan,” ucapnya, Kamis, 10 Juli 2025.

Bukan tanpa alasan Cihampelas menjadi tujuan favorit para pelancong. Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, kawasan ini punya daya tarik unik: bangunan toko yang dihiasi tokoh fiksi superhero raksasa di bagian depannya. Mulai dari Superman, Batman, Spiderman, hingga Rambo, semua menjadi ikon yang memikat mata.

Sebagian besar toko di Cihampelas menjajakan produk fesyen seperti celana jins, kemeja, dan berbagai jenis pakaian lain. Kualitasnya dikenal bagus—stylish dan tahan lama. Otang masih ingat betul, saat akhir pekan, kawasan ini padat oleh pengunjung. Ia berkata, kala itu bukan toko yang menunggu pembeli, tapi pembeli yang menanti toko buka. “Kalau sekarang mah, ah, lesu,” keluhnya.

Masa kejayaan Cihampelas turut dirasakan langsung oleh Otang. Ia pernah menerima hingga 100 pesanan dalam sehari. Keuntungan yang ia peroleh kala itu bisa mencapai Rp100 ribu, jumlah yang cukup besar pada masanya.

Ia menyebut wisatawan mancanegara sering berlalu-lalang, bersaing dengan wisatawan lokal, terutama yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Tak heran jika setiap akhir pekan Jalan Cihampelas selalu macet dan sesak oleh pengunjung.

Namun kondisi ramai itu tidak pernah ia keluhkan. Justru ia rindu masa-masa ketika geliat ekonomi terasa hidup. Kini, meski jalanan ramai kendaraan, denyut ekonominya terasa lesu.

Otang mengaku tidak tahu pasti kapan dan mengapa Cihampelas mulai kehilangan pamor. Namun, menurut pengamatannya, hal itu mulai terasa sejak proyek skywalk bernama Teras Cihampelas mulai dibangun. Pada masa awal wacana proyek, pemerintah dan para pedagang sempat bersitegang karena kekhawatiran akan kehilangan pelanggan.

Di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, Pemkot Bandung menyediakan kios-kios khusus untuk PKL di atas Teras Cihampelas. Proyek tahap pertama menghabiskan dana Rp48 miliar dan ditargetkan rampung pada 2016.

“Pas dibangun juga tetap sepi, karena kan ada proyek. Jadi yang mau belanja susah datang,” kenangnya.

Penyelesaian proyek pun molor satu tahun dari target. Meski begitu, warga Bandung tetap menyambut antusias. Otang termasuk yang antusias. Ayah enam anak itu bahkan takkan lupa momen saat bisa bertemu Presiden RI ke-7 Joko Widodo ketika Teras Cihampelas diresmikan.

Suasana sepi Teras Cihampelas di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis 11 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)
Suasana sepi Teras Cihampelas di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis 11 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)

Sayangnya, masa gemilang itu tak bertahan lama. Menjelang akhir 2019, pandemi Covid-19 mulai merebak. Masyarakat panik, pemerintah bertindak, namun vaksin belum tersedia. PPKM pun diterapkan. Ekonomi jatuh drastis. UMKM terpukul. Wisata dibatasi, termasuk kunjungan ke Teras Cihampelas.

“Waktu Covid mulai sepi karena ada pembatasan dari pemerintah. Covid-nya hilang, tapi pengunjung juga hilang,” katanya.

Sejak 2022 hingga kini, Cihampelas tak lagi seramai dulu. Wisatawan memang masih datang, tapi jumlahnya jauh menurun. Sekarang, kata Otang, orang lebih banyak ke Cihampelas Walk atau hanya mampir ke toko oleh-oleh. Sebagian besar hanya singgah, beli jajanan khas Bandung, lalu pulang.

“Waktu sepi, tempat ini malah dipakai anak-anak nakal. Main semalaman di sini, pacaran, minum miras,” ceritanya.

Belakangan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan pembongkaran Teras Cihampelas dan pelepasan aset karena dianggap mempersempit trotoar dan menghalangi pertumbuhan pohon. Namun, Wali Kota Bandung saat ini, Muhammad Farhan, tak langsung menyetujui. Ia memilih mengkaji bersama instansi dan DPRD Kota Bandung.

Farhan akhirnya menolak usulan itu. Ia berkomitmen untuk merenovasi Teras Cihampelas agar tetap bermanfaat. “Wacana pembongkaran memang ada sejak saya dilantik. Tapi saya tidak bisa asal putuskan. Setelah dilakukan appraisal, nilai Teras Cihampelas saat ini mencapai Rp80 miliar,” katanya, Selasa, 8 Juli 2025.

Sebagai warga, Otang juga punya pandangan. Ia mendukung apapun langkah pemerintah, selama hasilnya positif bagi masyarakat, terutama pedagang kecil. “Kalau memang nggak dirawat, mah setuju dibongkar,” ujarnya tegas.

Respon Pedagang

Aan Suherman (53) tak bisa menyembunyikan kegelisahannya soal rencana pembongkaran Teras Cihampelas. Setiap hari berjualan di sana, ia khawatir jika harus pindah lokasi karena pelanggan bisa hilang. Meski pemerintah menjanjikan relokasi, ia tak yakin hasilnya sebanding.

“Omzet bakal menurun. Soalnya pelanggan sudah tahu saya di sini. Banyak yang langganan dari Ciwalk,” katanya, Selasa, 8 Juli 2025.

Dari jam 11.00 hingga 18.00 WIB, Aan masih bisa meraup pendapatan Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari. Jauh menurun dibanding tahun 2017 saat Teras Cihampelas baru diresmikan. Kala itu, penghasilannya bisa tembus Rp2 hingga Rp3 juta per hari.

“Sekarang mah paling sedikit Rp800 ribu, paling besar Rp1 juta. Kalau dulu hampir Rp2 sampai Rp3 juta,” akunya.

Menurut Aan, solusi terbaik adalah penataan ulang kawasan, bukan pembongkaran. Ia yakin, jika difasilitasi dan ditata dengan baik, pengunjung akan kembali datang.

“Mending juga ditata kembali, diperbaiki lagi. Biar pengunjung pada datang,” ucapnya.

Aan Suherman seorang pedagang di Teras Cihampelas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Aan Suherman seorang pedagang di Teras Cihampelas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Harapan serupa disampaikan Supadi (60), pedagang kopi dan mi kocok. Meski pendapatannya kecil, ia tetap bertahan. Ia tak keberatan jika kawasan dibongkar, asal tempat relokasi tetap strategis.

“Kalau dikasih tempat baru, kira-kira bisa rame seperti dulu, atau tetap begini-begini aja?” tanyanya.

Ia sadar betul akan komitmen awal saat mulai berdagang di sana. “Kita dulu memang sudah tanda tangan, kalau sewaktu-waktu tempat ini dipakai pemerintah, enggak boleh menuntut. Enggak akan ada ganti rugi. Enggak apa-apa,” ujarnya.

Potret Proyek Tak Belum Terasa Manfaatnya

Teras Cihampelas jadi satu dari banyak proyek pemerintah yang dinilai belum membawa manfaat signifikan bagi masyarakat. Selain itu, masih ada beberapa proyek lain yang menuai kritik serupa.

Kolam Retensi Gedebage adalah salah satunya. Dibangun untuk mengurangi banjir di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, kolam ini menampung 7.515 meter kubik air. Namun banjir masih sering terjadi. Kapasitas kolam dinilai belum sebanding dengan volume genangan air yang datang dari hulu.

Kepala DSDABM Kota Bandung, Didi Ruswandi, menyebut masih ada sekitar 16.000 meter kubik genangan yang belum bisa diatasi. Sebagai solusinya, Pemkot membangun kolam retensi tambahan di Ciporeat, Ujungberung.

Selain itu, proyek ducting kabel bawah tanah juga jadi sorotan. Dilakukan bersama PT Bandung Infra Investama, proyek ini dikerjakan di 143 ruas jalan protokol. Namun warga mengeluhkan bekas galian yang tidak rata dengan permukaan jalan, hingga memicu kecelakaan, seperti yang terjadi di Jalan Tamansari pada Desember 2024 lalu.

Tak kalah jadi perhatian adalah proyek Flyover Nurtanio yang hingga kini mangkrak. Pembangunan yang dimulai awal 2024 itu seharusnya selesai akhir tahun, lalu mundur ke Mei 2025, tapi belum juga rampung. Jalan di sekitar proyek rusak, berlubang, dan macet parah, membuat warga geram.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan banyak warga yang mulai mempertanyakan kelanjutan proyek tersebut. Ia berencana menemui pemerintah pusat untuk meminta kejelasan.

Alih-alih memberi manfaat luas, sejumlah proyek pemerintah justru menyisakan kekecewaan bagi warga. Janji peningkatan ekonomi tak kunjung terwujud. Yang tersisa hanyalah fasilitas setengah jadi dan pedagang kecil yang terus bertahan di tengah ketidakpastian. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)