Dago dan 'Mata di Jalan'

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Dago, Bandung. Foto: Djoko Subinarto.
Warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Dago, Bandung. Foto: Djoko Subinarto.

DAGO bukan sekadar jalan atau nama kawasan. Dago adalah lanskap. Ia juga bukan cuma sebuah titik koordinat di peta Kota Bandung, melainkan simpul sejarah, budaya, dan ekologis yang terus bertransformasi.

Di zaman baheula, kala masa Walanda, Dago dikenal sebagai kawasan hunian eksklusif bagi kalangan kaum Eropa. Letaknya yang berada di ketinggian dan berhawa sejuk dianggap ideal untuk beristirahat.

Bangunan bergaya art deco dan vila-vila kolonial di sekitarnya menjadi penanda masa lampau Dago. Dulu sekali, Dago bukan ruang publik, melainkan sebuah enclave kelas atas yang sulit diakses warga lokal.

Kini, gulir roda zaman telah mengubah wajah Dago. Siapa pun bisa mengakses Dago untuk beragam aktivitas. Entah itu cuma lelarian di pagi hari, berswafoto, atau hanya menikmati rimbunnya pepohonan, atau -- bagi yang punya kapital -- berbisnis demi meraup cuan.

Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern.

Namun, di balik pusaran perubahan yang terus bergulir, satu tanya mengapung: siapa yang harus merawat Dago? Siapa yang seharusnya menjaganya dari kepungan beton dan kerakusan kapital?

Sekadar sasapu jalan

Merawat Dago bukan hanya sekadar sasapu jalan atau menanam kembang warna-warni di sepanjang Dago. Tapi, perlu pula dibarengi dengan keberpihakan terhadap lingkungan dan warga sekitar. Perawatan sejati menuntut keberanian menolak proyek yang merusak ruang hidup bersama.

Kita sama-sama tahu Dago semakin sesak. Bangunan komersial kian mengokupasi kawasan Dago. Taman-taman kecil yang tersisa di Dago kian terdesak. Di balik jargon eco-lifestyle, banyak properti baru dibangun dengan jargon hijau yang kadang sekadar tempelan.

Padahal, Dago -- terutama kawasan Dago atas -- menyimpan kerentanan ekologis yang mungkin luput dari perhatian. Letaknya yang berada di perbukitan menjadikannya rentan terhadap longsor dan banjir, terutama bila prinsip-prinsip tata ruang diabaikan demi kepentingan jangka pendek.

Kita sama-sama paham, setiap batang pohon yang ditebang bukan hanya mengubah lanskap visual, tetapi juga menghapus jejak biologis yang telah tertanam selama puluhan, bahkan ratusan tahun, sebuah jejak yang tak mungkin dikembalikan begitu saja.

Namun, Dago bukan hanya terkait dengan kawasan hijau yang perlu dijaga. Ia juga merupakan ruang ilmu yang tumbuh dari akar sejarah kota ini. Di kawasan ini berdiri kampus-kampus, sekolah, dan ruang diskusi yang menjadi nadi dari semangat progresif Bandung. Ruang belajar ini tumbuh berdampingan dengan lanskap alamnya, sebuah harmoni yang semakin langka di kota-kota besar kiwari.

Ada yang bilang bahwa kota tanpa ruang publik yang sehat adalah kota yang kehilangan ruh. Dan Dago bisa menjadi contoh terbaik atau kegagalan paling kentara dalam soal ini.

Ketika ruang-ruang di Dago hanya didefinisikan oleh fungsi ekonomi -- kafe, hotel, dan properti mewah -- maka makna kebersamaan, kesetaraan, dan inklusi pelan-pelan tergerus. Padahal, ruang publik bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga ruang ekspresi, kontestasi gagasan, dan pertemuan antarwarga tanpa sekat kelas sosial.

Laboratorium kota

Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Jika Dago dikelola dengan visi ekologis dan sosial yang berimbang, ia bisa menjadi laboratorium kota yang manusiawi. Bayangkan Dago sebagai ruang yang bukan hanya ramah bagi turis berkantong tebal, tapi juga menyambut para lansia, anak-anak, balita, kaum difabel, pelaku seni, pesepeda, maupun mereka yang nikreuh.

Kota yang sehat bukan kota yang sekadar tampil cantik campernik di media sosial, melainkan kota yang menyediakan ruang tumbuh secara nyata bagi semua warganya -- ruang untuk bernapas, berdialog, dan merajut mimpi bersama.

Hingga kini, banyak yang datang ke Dago untuk mencari udara segar. Tapi, ironisnya, kemacetan dan polusi kendaraan justru meningkat saban akhir pekan. Jalanan yang seharusnya menjadi koridor hijau justru berubah menjadi lorong berisik yang penuh emisi.

Maka, alih-alih menenangkan, suasana Dago malah kerap memicu stres baru bagi mereka yang datang dengan maksud “melarikan diri” dari kepenatan kota.

Dalam teori Henri Lefebvre, kota adalah ruang produksi sosial. Dago tidak lepas dari hal ini. Ruangnya kini diproduksi ulang terus-menerus oleh beragam aktivitas dan relasi kekuasaan.

Oleh sebab itu, merawat Dago juga berarti mempertanyakan ihwa siapa yang punya kuasa atas ruang. Apakah warga bisa berpartisipasi penuh atau hanya jadi penonton?

Sekadar ilustrasi, ketika sebuah proyek properti skala besar dibangun di Dago, kira-kira suara siapa yang paling didengar? Apakah warga setempat, atau hanya investor dan pemegang izin? Bukankah seharusnya ruang kota dirancang untuk hidup bersama, bukan hanya untuk keuntungan segelintir pihak?

Dalam konteks ini, merawat Dago bukanlah nostalgia romantik mengenang masa-masa silam semata. Ini soal keberlanjutan hidup kota secara keseluruhan. Merawat Dago berarti pula memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat merasakan udara segar, ruang terbuka, dan kekayaan budaya yang selama ini menjadi identitas Bandung.

Itu semua adalah tanggung jawab kolektif untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Cara Baru Menulis di Ayobandung.id, Tak Perlu Kirim Tulisan ke Email

Aktivis urban seperti Jane Jacobs mengajarkan pentingnya ihwal apa yang diistilahkan sebagai "mata di jalan", yakni pengawasan kolektif dari warga sebagai penjaga alami ruang publik.

Dan di Dago, "mata di jalan" itu bisa datang dari komunitas sepeda, pejalan kaki, pelari yang rutin lelarian di Dago, atau bahkan dari seorang juru parkir yang paham betul ihwal perubahan lingkungan sekitar.

Akan tetapi, keterlibatan warga hanya bisa tumbuh jika ada akses informasi dan ruang partisipasi yang nyata. Tanpa transparansi dalam pengambilan keputusan, warga akan merasa dijauhkan dari proses yang menentukan masa depan lingkungan mereka sendiri.

Ruang partisipasi yang terbuka memungkinkan beragam suara -- dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi -- untuk didengar dan diperhitungkan. Hanya dengan demikian, perawatan Dago dapat menjadi ikhtiar bersama yang bermakna dan berkelanjutan.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Sebagai aset ekonomi

Pemerintah Kota Bandung seyogianya tidak melihat Dago hanya sebagai aset ekonomi belaka, tetapi juga melihatnya sebagai ruang ekosistem sosial dan ekologis. Penataan Dago harus berbasis prinsip keadilan spasial, bukan semata logika investasi.

Konsep kota spons yang menyerap air dan menjaga keseimbangan tanah bisa diterapkan untuk menghindari bencana ekologi di Dago.

Program penghijauan harus mengutamakan vegetasi lokal, bukan sekadar pohon hias eksotis yang fotogenik tapi tidak ekologis. Lebih dari itu, Dago selalu perlu forum warga yang aktif dan diberi ruang untuk ikut memutuskan arah pembangunan kawasan.

Dago yang dirawat bukan Dago yang dikurung pagar mewah, tapi Dago yang hidup lewat interaksi dan rasa memiliki bersama. Kampanye cinta lingkungan tidak akan berarti jika ruang hijau terus dijual. Komitmen ekologis harus diuji lewat kebijakan yang konsisten.

Pemerintah tidak cukup hanya menanam pohon seremonial. Perlu ada audit ekologis menyeluruh dan rutin terhadap dampak pembangunan di kawasan Dago. Karena Dago bukan sekadar koridor bisnis maupun koridor wisata, tapi ruang identitas kota Bandung yang terus berproses.

Kita tak bisa terus-menerus menjadi generasi yang hanya mewarisi keindahan, tapi juga mewariskan kehancuran. Merawat Dago sejatinya adalah bentuk cinta yang utuh kepada Bandung -- sebuah cinta yang tidak sekadar mengagumi, tetapi juga bertanggung jawab dengan menjaga dan melindunginya.

Karena sejatinya, kota yang baik bukanlah yang paling modern atau canggih, melainkan yang mampu merawat warisan budaya dan alamnya sekaligus mengayomi seluruh warganya dengan adil dan berkelanjutan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)