Fenomena Turisme Bandung: dari Romantika Kolonial ke Euforia Modern

4 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Suasana di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Reynaldo Yodia)
Suasana di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Reynaldo Yodia)

Sejarah mencatat, Bandung sudah menjadi destinasi wisata sejak 1920-an. Para bangsawan Belanda kala itu menjuluki kota ini sebagai “Parijs van Java”, kota sejuk dengan lanskap kolonial dan udara yang menenangkan. Lalu 1980-an menjadi masa keemasan baru, ketika pariwisata menyumbang 40 persen pendapatan kota (Agung Sutrisno, 2012).

Bandung memang selalu dirindukan. Namun, di balik citra romantisnya, tersimpan kisah panjang bagaimana kota ini tumbuh dari pesona kolonial menuju euforia pariwisata modern. Dan kini, tengah menimbang kembali arti “wisata” bagi identitasnya sendiri.

Bandung pernah menjadi simbol keindahan Hindia Belanda. Sejak awal 1900-an, para arsitek kolonial membangun vila dan taman-taman tropis di utara kota. Julukan “Parijs van Java” melekat bukan tanpa alasan: Bandung menjadi tempat pelarian kaum elit Eropa dari panasnya Batavia.

Pada masa itu, wisata bukan tentang konten, melainkan tentang ketenangan dan elegansi. Jalan Braga menjadi ikon kemewahan: butik, restoran, dan bioskop menampilkan wajah modernitas ala Eropa. Bandung hidup dalam romantika kolonial yang memikat sekaligus paradoksal karena keindahannya lahir di tengah ketimpangan sosial.

Setelah kemerdekaan, citra Bandung perlahan berubah. Ia menjadi kota pelajar, kota kreatif, dan kota perjuangan. Namun, daya tarik wisata tak pernah benar-benar pudar. Justru, ia tumbuh bersama semangat baru: wisata yang berakar pada kreativitas anak muda dan kearifan lokal.

Dua dekade terakhir, Bandung mengalami transformasi besar. Dari pusat distro dan factory outlet tahun 2000-an, kini menjadi surga kuliner, wisata tematik, hingga kafe estetik.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh pada 2023 menjadi katalis. Perjalanan Jakarta–Bandung yang dulunya memakan waktu tiga jam kini hanya sekitar 45 menit. Efeknya luar biasa: arus wisatawan melonjak drastis. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mencatat hingga triwulan III tahun 2025, ada lebih dari 6,5 juta wisatawan yang datang, mayoritas dari Jabodetabek.

Kawasan Lembang, Dago, dan Braga menjadi magnet utama. Namun, di balik kemeriahan itu, muncul tanda-tanda kelelahan: kemacetan panjang, peningkatan volume sampah, hingga harga properti yang melambung. Warga mulai merasa kehilangan ruang. Kota yang dulu identik dengan kesejukan kini kian panas oleh kepadatan.

“Bandung terlalu disukai,” ujar seorang warga di Ciumbuleuit dengan nada getir.
Kalimat sederhana itu merangkum paradoks kota wisata modern: antara kebanggaan dan beban.

Fenomena wisata Bandung kini tidak lepas dari budaya media sosial. Destinasi bukan lagi soal keindahan, tapi soal “instagramable.” Tempat seperti The Great Asia Africa, Lembang Park & Zoo, dan Floating Market menjadi simbol tren baru: wisata cepat saji.

Para pengunjung datang, berfoto, lalu berpindah tempat. Wisata menjadi ritual digital lebih untuk diunggah daripada dinikmati. Dalam logika semacam ini, makna “berwisata” kehilangan kedalaman. Ia berubah menjadi aktivitas konsumsi yang berputar cepat, mengikuti tren algoritma dan ekspektasi visual.

Namun, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan wisatawan. Industri pariwisata sendiri membentuk pola ini dengan menciptakan “pengalaman instan” yang mudah dijual. Akibatnya, kota menjadi semacam panggung besar, dan warga tanpa sadar menjadi figuran di rumah sendiri.

Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kawasan Lembang, Dago, hingga Cihampelas kini padat hampir setiap akhir pekan. Kemacetan parah, parkir liar, pungutan tidak resmi, dan sampah menumpuk menjadi wajah lain pariwisata Bandung. Banyak warga setempat mulai merasa “asing di kota sendiri” karena ruang publik kini lebih banyak dikuasai aktivitas komersial wisata. Menurut pengamat perencanaan kota Muhammad Najih Fasya, Bandung termasuk dalam tiga destinasi di Indonesia yang sudah menunjukkan tanda-tanda overtourism, bersama Bali dan Yogyakarta.

Fenomena ini mengingatkan Bandung untuk tidak kehilangan jati dirinya.
Kota yang kreatif seharusnya tidak hanya melahirkan destinasi, tetapi juga gagasan baru tentang wisata yang berkelanjutan.

Ada tiga hal penting yang patut dipertimbangkan: Pertama, Menata ulang arah pariwisata. Wisata Bandung perlu bergeser dari konsumtif ke reflektif, mendorong pengunjung memahami sejarah, budaya, dan ekologi kota. Kedua, Memberdayakan warga lokal.  Ekonomi pariwisata harus berpihak pada warga, bukan hanya pada investor besar. Program seperti wisata komunitas, pasar kreatif, dan homestay berbasis budaya bisa menjadi solusi. Ketiga, Mengembalikan ruang hidup kota. Bandung perlu memastikan keseimbangan antara ruang komersial dan ruang publik. Taman, jalur pedestrian, dan transportasi publik harus dipulihkan agar kota kembali nyaman, bukan sekadar ramai.

***

Bandung akan selalu memesona, dari sejuknya pagi di Dago hingga senja di Braga. Tapi pesona itu tak boleh membuat kita lupa, bahwa kota bukan hanya milik mereka yang datang, melainkan juga mereka yang tinggal.

Romantika kolonial mungkin telah berganti menjadi euforia modern, tapi keduanya membawa pelajaran yang sama: bahwa keindahan sejati bukan diukur dari banyaknya wisatawan, melainkan dari kemampuan kota menjaga dirinya tetap hidup, ramah, dan bernapas.

Barangkali, sudah saatnya Bandung tidak hanya dirayakan karena keindahannya, tapi juga dijaga karena keberlanjutannya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi publik, eks Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)