PPPK Langsung Jadi PNS, antara Lompatan Karier dan Loncatan Logika

Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan Jumat 14 Nov 2025, 16:51 WIB
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)

Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)

Ada yang sedang hangat di akun-akun instragam yang bahas tentang ASN belakangan ini, bukan sekadar undangan halal bihalal atau undangan webinar, tapi kabar manis, rencana pengangkatan langsung PPPK menjadi PNS.

Bagi sebagian, ini terdengar seperti lagu kebangsaan baru birokrasi, “akhirnya nasib kami disamakan juga!” Bagi sebagian lain, terutama yang sudah bertahun-tahun melewati ritual CPNS, pelatihan dasar, hingga ujian psikotes penuh keringat, kabar ini terasa seperti, “loh, kok mereka naik kelas tanpa ikut ujian remedial?”

Begitulah, di republik yang penuh kehangatan politik ini, setiap kebijakan punya dua sisi, satu untuk optimisme, satu lagi untuk sinisme.

***

Mari kita mulai dari yang rasional. PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) sejatinya adalah solusi cepat untuk menambal kekurangan tenaga di sektor publik, terutama guru, tenaga kesehatan, dan penyuluh. Mereka bekerja keras, sering kali di pelosok, dengan masa kontrak yang tidak menentu dan sistem karier yang belum seindah PNS.

Wajar jika kemudian muncul gagasan, “kalau sudah terbukti loyal dan berprestasi, kenapa tidak langsung jadi PNS saja?”

Namun, masalahnya tidak semudah itu. PNS dan PPPK lahir dari dua filosofi yang berbeda, yang satu career-based system, yang lain position-based system. Yang satu diangkat untuk jangka panjang, yang lain berdasarkan perjanjian kerja.

Menyatukannya tanpa desain yang jelas seperti mencoba mencampur minyak goreng dengan air gallon, sama-sama penting, tapi tak bisa disatukan begitu saja.

Birokrasi kita, yang dikenal ahli dalam segala bentuk “kaget administratif”, tentu menyambut kabar ini dengan beragam ekspresi.

Di kantor-kantor pemerintahan, mulai muncul dua kelompok, yang satu mengirimkan emoji tangan berdoa di grup WA sambil berucap “semoga jadi kenyataan”, yang lain memilih diam tapi menyimpan rasa getir dalam hati, campuran antara heran dan nostalgia akan perjuangan masa lalu.

Seorang ASN senior pernah berkelakar, “dulu saya jadi PNS butuh tiga kali gagal tes dan satu tahun diklat dasar, sekarang orang bisa langsung naik kelas hanya bermodal SK PPPK.”

Ada canda, tapi juga luka kecil di baliknya. Karena bagi birokrat, status bukan sekadar formalitas, ia simbol perjalanan panjang menuju pengakuan profesional.

Politik di Balik Seragam

Mari jujur saja, setiap kali isu kesejahteraan ASN muncul menjelang tahun politik, publik sudah bisa menebak arahnya. Ada aroma populisme yang samar, tapi familiar, memanjakan aparatur jelang pemilu adalah jurus klasik.

Siapa yang tak mau dicintai oleh empat juta lebih ASN dan keluarga mereka yang tersebar dari Sabang sampai Merauke?

Namun, kebijakan publik idealnya tidak lahir dari rasa ingin disukai, melainkan dari perhitungan rasional dan keadilan struktural.

Pertanyaannya, apakah pengangkatan PPPK menjadi PNS ini disertai dengan evaluasi kinerja, kebutuhan formasi, dan kajian keuangan negara?

Ataukah ini sekadar bentuk “terima kasih politik” yang dikemas dengan jargon meritokrasi?

Karena tanpa perencanaan yang matang, kebijakan yang niatnya mulia bisa menjadi beban fiskal yang panjang, atau bahkan menimbulkan rasa tidak adil di antara sesama aparatur.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: dinkominfo.demakkab.go.id)
Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: dinkominfo.demakkab.go.id)

Mengubah status PPPK menjadi PNS tanpa proses kompetitif mengandung risiko logika yang menarik,  jika kontrak bisa otomatis jadi karier, maka apa bedanya dengan sistem CPNS yang selama ini dijaga ketat dengan merit system?

Jika PPPK bisa “naik kelas” tanpa ujian, lalu bagaimana nasib mereka yang menunggu formasi CPNS dengan sabar bertahun-tahun?

Dalam birokrasi, rasa keadilan itu penting. Sebab ASN tidak hanya bekerja dengan aturan, tetapi juga dengan rasa. Begitu rasa keadilannya terkoyak, loyalitas akan ikut goyah. Dan itu berbahaya bagi lembaga publik yang hidup dari kolaborasi dan kepercayaan internal.

Menyamakan atau Menyederhanakan?

Pendukung kebijakan ini punya argumen kuat, PPPK telah lama berkontribusi di sektor vital, bahkan lebih produktif dari sebagian PNS yang nyaman di zona nyaman. Mereka berhak mendapat pengakuan formal atas pengabdiannya.
Tetapi pengakuan tidak harus selalu berbentuk penyamaan status.

Ada banyak cara lain seperti jalur konversi dengan uji kompetensi, sistem karier fungsional terbuka, atau penghargaan berbasis kinerja dan lama pengabdian. Semuanya bisa memberikan rasa adil tanpa mengorbankan merit system.

Karena yang berbahaya bukanlah kesetaraan, melainkan penyederhanaan yang gegabah. Reformasi ASN seharusnya memperkuat struktur, bukan mengaburkan batas tanggung jawab dan jenjang profesionalisme.

Fenomena ini menegaskan satu hal, birokrasi kita hidup di era sensasi kebijakan. Yang penting terdengar manis, viral, dan penuh empati sosial. Namun, setelah euforia mereda, tinggal para administrator dan bendahara yang pusing menyusun regulasi turunan, anggaran, dan sistem penggajian baru.

Padahal, jika benar ingin meningkatkan kesejahteraan ASN, jalannya bukan hanya lewat status, tapi lewat sistem kerja yang sehat dan penghargaan berbasis kompetensi. PPPK dan PNS mestinya bisa tumbuh berdampingan, bukan saling iri, tapi saling isi. Satu punya fleksibilitas, satu punya keberlanjutan. Keduanya bisa jadi duet sempurna dalam birokrasi modern.

Baca Juga: Bandung sebagai Wisata Literasi: Kota Kreatif yang Menulis Dirinya Sendiri

Akhirnya, isu PPPK jadi PNS ini seperti cermin kecil dari wajah birokrasi kita: selalu hidup antara logika dan rasa, antara harapan dan kecurigaan. Setiap kebijakan baru menimbulkan tawa di satu sisi, dan gumaman getir di sisi lain.

Tapi begitulah seni menjadi ASN di negeri ini, selalu harus siap antara kemungkinan naik pangkat dan naik darah.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menilai reformasi birokrasi dari status, dan mulai menilainya dari dampak. Karena di ujung hari, masyarakat tidak peduli apakah pelayan publiknya PNS atau PPPK yang penting, mereka hadir, melayani, dan bekerja dengan hati.

Dan kalaupun nanti PPPK benar-benar bisa langsung jadi PNS, semoga bukan karena tekanan politik, tapi karena negara sudah punya keyakinan, mereka memang pantas. Kalau tidak, jangan-jangan, birokrasi kita justru makin banyak pejabat baru, yang bingung membedakan antara “melayani publik” dan “melayani kebijakan.” (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)