Pada masa pendudukan Jepang ada sebuah kantor barisan propaganda yang disebut dengan Johobu (Departemen Penyiaran), departemen Johobu ini kemudian berganti menjadi departemen Sendenbu atau departemen propaganda pada tanggal 30 Oktober 1942.
Sendenbu di Priangan berpusat di kota Bandung dipimpin oleh Tanaka dan Nakara. Semua itu bertujuan melakukan pergerakan dalam bidang media massa dan komunikasi massa. Keadaan kota Bandung dengan adanya Sendenbu tidak lagi memberi ruang bagi media massa dan pers berbahasa Sunda, seperti Sipatahunan.
Pers pada saat itu dijadikan media baru dalam membangun suatu usaha dalam membangun masyarakat baru di pulau Jawa, guna mencapai kemenangan perang Asia Timur Raya. Pada tanggal 8 Juni 1942 semua kantor berita dan surat kabar di Bandung dilebur menjadi satu surat kabar yaitu Tjahaja yang dipimpin oleh Oto Iskandar Dinata, pimpinan redaksinya adalah A. Hamid, pimpinan administrasinya adalah Niti Sumantri, pimpinan propaganda dan reklame adalah Branata, pimpinan percetakan adalah Ali Ratman, anggota redaksi pusat dan bagian umum adalah B. Ananda, anggota redaksi pusat dan sosial anggota redaksi oleh M. Tabrani, Jamal Ali, Khambali, Ace Bastaman, Hisyawara Darmaputra dan Dayat (keterangan ini didapat pada surat kabar Tjahaja pada 10 Juni 1942). Kantor redaksi Tjahaja terletak di Groote Posweg Oost (jalan Raya Timur, sekarang Jalan Ahmad Yani, Bandung) no 54 – 56.
Badan sensor berita dilakukan sangat ketat oleh pemerintah militer Jepang, sehingga kebebasan para wartawan Tjahaja tidak ada hingga mereka merasa tidak puas. Wartawan dan redaksi Tjahaja seperti Jamal dan Hisywara adalah juga pimpinan angkatan muda Bandung.
Pemerintah militer Jepang di Bandung menempatkan ahli radionya di studio Bandung (Bandung Hosokyoku) yang berada di jalan Moh Toha sekarang, area bekas studio bersejarah ini sekarang berada di kawasan Gereja Kristen Immanuel Jemaat Gloria, dekat lapangan Tegalega. Kepala studio saat itu tahun 1942 bernama Tarawa, sebagai kepala penyiaran adalah Hidoki, dan kepala tata usaha adalah Hoshi. Warga pribumi ditempatkan di studio tersebut sebagai pekerja biasa di bagian penyiaran, teknik dan siaran di tempat, mereka itu adalah, E. Badrun, B. Sukiun, Sofyan Junaid, Abdul Razak, R.A. Darya (data ini didapat dari buku Sejarah Kota Bandung Pada Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1950).
Pada tanggal 21 Januari 1944 dibuka Nippon Gekko (bagian perguruan) oleh walikota Bandung saat itu yaitu R.A. Atmadinata di jalan Cimanuk no 1, yang diikuti oleh 88 orang guru dan para pegawai campuran (Tjahaja, 13 April 1944). Pada tanggal 21 dan 22 Maret 1944 diselenggarakan ujian masuk Sekolah Teknik Bandung (Bandung Kogyo Daigaku) dengan syarat, untuk kelas 1 daigaku harus tamat sekolah menengah tingkat ilmu alam atau sederajat, bekas pelajar kelas 1 Sekolah Teknik Tinggi Bandung, bekas pelajar kelas 2, kelas 3, 4 diterima di kelas 1 namun harus tetap diuji kepandaiannya.
Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. Pihak Jepang menjalankan sejumlah kampanye psikologis, politik dan budaya yang sangat terencana. Salah satu caranya adalah pihak Jepang memberikan kelonggaran dan mendirikan majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), untuk mengambil hati umat Islam, nantinya MIAI ini akan berubah menjadi Masyumi. Di Bandung MIAI ini berada di jalan Logeweg no 11 (jalan Wastukancana No. 11).
Poster-poster propaganda pun bertebaran di mana-mana, terutama di kawasan padat penduduk dan kawasan perekonomian. Dalam mobilisasi para pemuda, pihak pemerintah militer Jepang mendirikan organisasi-organisasi semi militer dan militer seperti Seinendan, Keibondan, Fujingkai, Heiho hingga PETA.
Dalam bidang seni dan budaya pun pihak pemerintah militer Jepang melakukan pendekatan, salah satunya dibentuklah wadah untuk penyalur kegiatan kesenian di Bandung, yang bernama Pusat Kesenian Priangan atau Puseur Kabinangkitan Priangan, wadah ini bertujuan untuk menyelidiki kesenian asli dari Priangan, memelihara agar kesenian agar tetap lestari, memelihara kesenian sesuai dengan perkembangan zaman dan menjadi pusat penerangan tentang masalah kesenian.
Para pengurus dari wadah kesenian atau Priangan Shuchokan dalam balutan propaganda Jepang ini adalah, ketua yaitu Surya Angganagara, wakil ketua 1 yaitu Jayadireja, wakil ketua 2 yaitu Sastraatmadja, penulis/sekretaris yaitu Sastranegara, pembantu umum yaitu Puradiredja dan anggota yaitu Martakusumah, riwayat dan kesusastraan yaitu D.K. Ardiwinata, gambar yaitu D. Saleh, tarian yaitu Uning dan kerajinan tangan yaitu Lasmadipura (Tjahaja 3 Februari 1943). Di kalangan pengurus dan pegawai kotapradja Bandung pun didirikan Pusat Kesenian dengan ketuanya yaitu dr. Djunjunan Setiakusumah.

Untuk memperkenalkan budaya Jepang kepada masyarakat Bandung, dengan maksud mengubah mentalitas ke alam pikiran pemerintah militer Jepang / Nippon, khususnya semangat Boshido di tengah kota Bandung didirikanlah Priangan Shuchu Kurabu. Selain itu di jalan Lengkong Besar didirikan Zai San Kanri Kyoku, yang menempati sebuah kantor bekas perkumpulan Jepang Tempo dulu ketika masih dalam masa pemerintahan kolonial Belanda.
Pada masa pendudukan pemerintah militer Jepang banyak sekali yang berubah, warga Bandung pada masa itu dipaksa untuk cepat beradaptasi dan mau tidak mau merasakan perubahan-perubahan drastis dari berbagai segi kehidupan sehari-hari. Terutama bahasa dan perubahan struktur dalam berbagai aspek kehidupan, dari mulai pendidikan, budaya, bahasa, kinerja, hingga perekonomian. Semua hal ini dilakukan pemerintah militer Jepang untuk dapat cepat mengubah tatanan yang telah terdoktrin oleh masa pendudukan pemerintah kolonial Belanda mampu dirubah dalam waktu yang sangat singkat dan mendatangkan keuntungan sepihak bagi Jepang. (*)