Adaptasi Jadi Kunci Hadapi Krisis Iklim: Mulai Kebijakan Global hingga Gotong Royong Masyarakat Lokal

7 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi 2024 dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri. Kegiatan kongkret berperan penting menyerap karbon.
Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi 2024 dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri. Kegiatan kongkret berperan penting menyerap karbon.

AYOBANDUNG.ID – Selain isu greenwashing yang menarik untuk dikuliti, soal adaptasi perubahan iklim pun menjadi topik hangat yang dibahas dalam Business and Climate Media Initiative Virtual Workshop yang diinisiasi oleh Earth Journalism Network (EJN).

Pakar lingkungan asal Bangladesh, Ahsan Uddin Ahmed, menegaskan bahwa adaptasi merupakan kunci penting agar masyarakat mampu bertahan menghadapi dampak perubahan iklim yang kian nyata dan tak bisa dicegah.

Ahmed memaparkan hasil telaahnya tentang distribusi pendanaan iklim global yang masih timpang, di mana sebagian besar mengalir ke proyek mitigasi.

Dalam konteks perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi memiliki fokus yang berbeda.

Mitigasi merujuk pada upaya untuk menghindari dan mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Tujuannya adalah untuk mengatasi akar penyebab perubahan iklim dengan mengurangi jumlah gas yang memerangkap panas. Contoh tindakan mitigasi termasuk beralih ke sumber energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, dan mengurangi deforestasi.

Sedangkan adaptasi adalah upaya untuk mempersiapkan dan menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang sudah terjadi atau yang akan datang. Tujuannya adalah untuk mengurangi kerentanan terhadap dampak-dampak tersebut. Contoh tindakan adaptasi seperti menghemat air, mengelola sampah, menanam pohon, serta menggunakan transportasi ramah lingkungan. Upaya ini bisa diperkuat dengan membangun rumah yang lebih hemat energi, menjaga kesiapsiagaan bencana, dan menumbuhkan kesadaran bersama sejak dini.

Singkatnya, mitigasi berupaya mencegah atau mengurangi laju perubahan iklim, sedangkan adaptasi berupaya menyesuaikan diri dengan dampak yang sudah terjadi atau tidak dapat dihindari. Keduanya sangat penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim secara komprehensif.

Pakar lingkungan asal Bangladesh, Ahsan Uddin Ahmed. (Sumber: CCDB Climate Centre)
Pakar lingkungan asal Bangladesh, Ahsan Uddin Ahmed. (Sumber: CCDB Climate Centre)

Menurut Ahmed, adaptasi belum mendapat perhatian sebesar mitigasi, padahal ancaman perubahan iklim sudah di depan mata. Fenomena banjir, kenaikan muka air laut, hingga gagal panen sudah dirasakan langsung oleh masyarakat di negara-negara rentan. Tanpa dukungan adaptasi, beban sosial dan ekonomi akan semakin berat.

Dalam presentasinya, Ahmed menjelaskan bahwa mitigasi memang penting untuk menekan emisi gas rumah kaca, tetapi adaptasi menyangkut kesiapan menghadapi dampak yang tidak bisa dihindari. Ia menekankan, strategi adaptasi harus berjalan beriringan dengan mitigasi agar dunia lebih tangguh menghadapi krisis iklim.

Data terbaru menunjukkan mayoritas dana global justru terserap pada proyek energi dan transportasi. Sebaliknya, proyek adaptasi masih kurang diminati, baik oleh pemerintah maupun investor swasta. Padahal, di banyak wilayah Asia-Pasifik, kebutuhan adaptasi semakin mendesak untuk melindungi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ahmed menilai, investasi dalam adaptasi lebih dekat dengan kepentingan manusia. Contoh nyata adalah pembangunan tanggul di daerah pesisir, penyediaan air bersih di wilayah rawan kekeringan, hingga memperkuat sistem kesehatan menghadapi penyakit yang menyebar akibat perubahan iklim.

Ia juga menyinggung bahwa sejak 2003, proyek mitigasi jauh lebih dominan dibanding adaptasi di kawasan Asia-Pasifik. Pola kebijakan dan pendanaan yang berat sebelah ini dinilai berpotensi memperburuk risiko, sebab masyarakat tidak disiapkan secara memadai menghadapi dampak perubahan iklim.

Dalam paparannya, Ahmed mengingatkan bahwa adaptasi tidak melulu soal infrastruktur. Pengetahuan lokal, kearifan masyarakat, serta tata kelola yang inklusif juga menjadi bagian penting dari strategi bertahan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi sipil, dan komunitas lokal sangat dibutuhkan.

Pemerintah, menurutnya, harus berani mengambil peran melalui kebijakan yang berpihak pada adaptasi. Regulasi tata ruang, insentif inovasi hijau, hingga perlindungan sosial bagi kelompok rentan bisa menjadi langkah konkret yang memperkuat ketahanan masyarakat.

Selain pemerintah, sektor swasta juga memiliki kontribusi besar. Dunia usaha dapat menyesuaikan model bisnis mereka dengan risiko iklim, sekaligus menghadirkan solusi yang membantu masyarakat. Skema asuransi untuk petani yang gagal panen akibat cuaca ekstrem menjadi salah satu contoh produk yang relevan.

Ahmed menekankan bahwa pendanaan adaptasi tidak seharusnya hanya berbasis utang. Negara-negara maju perlu menepati janji hibah iklim sebesar 100 miliar dolar AS per tahun yang disepakati sejak 2009. Dana tersebut idealnya lebih proporsional dialokasikan untuk adaptasi, bukan hanya mitigasi.

Ia juga menegaskan pentingnya langkah adaptasi di tingkat komunitas. Meski berskala kecil, langkah sederhana seperti pola tanam yang menyesuaikan iklim atau pengelolaan sumber air bersama mampu memperkuat daya tahan masyarakat. Jika dilakukan konsisten, langkah ini bisa memberi dampak besar.

Kesenjangan informasi menjadi salah satu hambatan. Tidak semua komunitas memiliki akses terhadap data iklim atau teknologi yang memadai. Karena itu, Ahmed menilai kerja sama lintas negara dan lembaga sangat penting agar pengetahuan dan teknologi dapat menjangkau masyarakat paling rentan.

Dalam kerangka keadilan iklim, Ahmed mengingatkan bahwa negara-negara yang paling sedikit menyumbang emisi justru sering kali menanggung dampak paling parah. Dengan memperkuat adaptasi, dunia menunjukkan kepedulian bahwa keadilan lingkungan harus diwujudkan dalam praktik, bukan sekadar janji.

Lebih jauh, adaptasi dipandang sebagai peluang untuk membangun masa depan berkelanjutan. Investasi di bidang pertanian tahan iklim, kota hijau, hingga energi terbarukan lokal bukan hanya memperkuat ketahanan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru.

Kebijakan Pemerintah Indonesia

Sama halnya dengan negara lain, Indonesia menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejak 1981 hingga 2018 suhu rata-rata di Indonesia naik sekitar 0,03 derajat Celsius setiap tahun. Sementara itu, data Bappenas tahun 2021 menunjukkan kenaikan muka laut sebesar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun, padahal 65 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir.

Kondisi ini membuat upaya adaptasi menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah berkomitmen menyiapkan langkah nyata agar masyarakat tetap tangguh menghadapi dampak iklim yang makin terasa. Salah satu strategi yang dilakukan adalah menerapkan Climate Budget Tagging (CBT), yakni penandaan anggaran khusus untuk mitigasi dan adaptasi iklim dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Mekanisme ini mulai dijalankan sejak 2016 dan terus diperkuat. Dalam sistem tersebut, pemerintah mengalokasikan kode anggaran tersendiri untuk adaptasi. Anggaran ini difokuskan pada peningkatan ketahanan ekonomi, sosial, dan ekosistem. Tujuannya, mengurangi kerugian yang ditimbulkan akibat perubahan iklim, seperti kerusakan infrastruktur, penurunan hasil pertanian, hingga kerentanan kesehatan masyarakat.

Rata-rata belanja untuk aksi iklim sejak 2016 hingga 2022 mencapai Rp81,3 triliun per tahun atau sekitar 3,5 persen dari total APBN. Persentase ini bahkan lebih tinggi dibanding mayoritas negara lain.

Melalui CBT, setiap kementerian dan lembaga dapat lebih mudah mengidentifikasi apakah program yang mereka jalankan berkontribusi terhadap adaptasi iklim. Misalnya, proyek yang meningkatkan ketahanan pangan, memperkuat layanan kesehatan, atau melindungi ekosistem pesisir dapat masuk ke dalam kategori adaptasi.

Pemerintah berharap, penandaan anggaran ini mendorong transparansi, keterlibatan pemangku kepentingan, serta memastikan alokasi dana adaptasi benar-benar digunakan secara efektif. Dengan begitu, upaya adaptasi tidak lagi bersifat seremonial, melainkan betul-betul menyentuh kebutuhan masyarakat yang paling rentan terhadap dampak iklim.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat

Adaptasi perubahan iklim selama ini kerap dipandang sebagai urusan besar: konferensi global, komitmen negara-negara, pendanaan hingga miliaran rupiah dari anggaran pemerintah dan swasta. Padahal, di balik usaha global tersebut, ada peran masyarakat lokal yang sama pentingnya. Adaptasi tidak hanya lahir dari keputusan politik, tetapi juga dari tindakan sederhana yang dilakukan sehari-hari di rumah, lahan pertanian, hingga lingkungan sekitar.

Kenyataannya, dampak perubahan iklim sudah nyata terasa di Indonesia. Suhu yang terus meningkat, musim yang tak menentu, hingga kenaikan permukaan laut menjadi tantangan bagi banyak orang. Meski pemerintah menyiapkan mekanisme anggaran khusus adaptasi, daya tahan bangsa ini juga ditentukan oleh kesadaran warganya untuk ikut menyesuaikan diri.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Di kota Bandung, misalnya, sebagai bentuk konkret adaptasi perubahan iklim, warga RW 19 Antapani Tengah, membangun kawasan bebas sampah melalui pengolahan terintegrasi di Jasmine Integrated Farming sejak 2020. Dengan mengelola sampah organik menggunakan metode modern serta memaksimalkan bank sampah untuk sampah anorganik, kawasan ini mampu menekan beban pengiriman ke TPA hingga satu ton per minggu. Upaya ini tidak hanya mengurangi emisi dari sampah, tetapi juga menghadirkan model urban farming yang memberi manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat beradaptasi menghadapi krisis iklim melalui solusi lokal yang berkelanjutan.

Sementara itu, Yayasan Odesa melalui program filantropinya memiliki banyak program untuk adaptasi perubahan iklim ini. Salah satunya pemulihan lingkungan di Kecamatan Cimenyan yang termasuk Kawasan Bandung Utara. Tantangan besar yang mereka hadapi adalah kondisi tanah gersang, yang sering disebut “tanah sakit” karena sulit ditanami. Odesa menawarkan solusi agroekologi dengan budidaya tanaman hanjeli, tanaman yang mampu tumbuh di lahan marginal sekaligus memperbaiki struktur tanah agar kembali subur. Inisiatif ini bukan hanya menghidupkan kembali lahan kritis, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat, sehingga menjadi langkah nyata menghadapi dampak perubahan iklim secara berkelanjutan.

Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)
Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)

Adaptasi berbasis komunitas terbukti efektif di banyak tempat. Dua Tindakan kongkret di atas contoh gotong royong menghadapi iklim yang makin sulit diprediksi dan tak bisa dicegah.

Semua upaya sederhana ini jika digabungkan akan melengkapi kebijakan dan pendanaan besar pemerintah. Adaptasi bukan semata urusan global, melainkan tanggung jawab bersama yang berawal dari rumah dan lingkungan sekitar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jul 2026, 20:11

Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Sektor logistik merupakan asa bagi karyawan Posindo.

Ilustrasi kondisi Posindo yang sedang menghadapi badai disrupsi namun masih ada harapan yang tersisa. (Sumber: Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:20

Saat Medium Musik Menjadi Jembatan Emosi antara Institusi dan Publik

Konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik.

konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik. (Sumber: https://newsroom.spotify.com)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:01

Bagaimana Perusahaan Kosmetik Global Membentuk Opini Publik di Era Media Sosial?

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan.

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan. (Ilustrasi oleh AI)
Wisata & Kuliner 22 Jul 2026, 17:45

Wisata Edukasi Museum ITB Sabuga: Lokasi, Harga Tiket, dan Fasilitas

Berencana mengunjungi Museum ITB? Ketahui harga tiket, cara pemesanan online, jam buka, lokasi, dan fasilitas museum terbaru di Kampus Ganesha Bandung.

Museum ITB. (Sumber: Instagram @indonesiaartdocumentary)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 17:15

Butiran Debu Kapur yang Mengundang Gangguan Saluran Pernapasan

Sepanjang jalan dengan pemandangan pohon berwarna putih saya kira karena warnanya ternyata ada serpihan debu dari pertambangan. Dampaknya terhadap gangguan pernapasan perlu diperhatikan

Pohon yang penuh debu halus dari pertambangan kapur. (Minggu, 19/06/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 16:48

Festival Film Bandung, Jejak Panjang Apresiasi Independen Perfilman Indonesia

Selama hampir empat dekade, Festival Film Bandung terus bertahan melewati berbagai fase perkembangan sinema nasional.

Pengumuman daftar nominasi Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang digelar di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis, 16 Juli 2026. (Foto: Ratna Ayu Budhiarti)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 15:10

Parkir Kendaraan Konvensional di Area Pengisian Daya: Pelanggaran Etika dan Mengganggu Fungsi SPKLU

Parkir kendaraan konvensional di area pengisian daya bukan sekadar pelanggaran etika. Praktik ini dapat mengganggu fungsi SPKLU, mengurangi keandalan layanan, dan menurunkan kenyamanan pengguna.

Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 13:14

Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang nyaris sempurna.

Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ikon 22 Jul 2026, 12:58

Pempek Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Sejarah dari Era Sriwijaya

Pempek Palembang bukan sekadar makanan khas Sumatera Selatan. Simak sejarah, bahan utama, jenis-jenis pempek, dan kisah cuko yang membuatnya mendunia.

Pempek Palembang, salah satu kuliner legendaris Indonesia.
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 11:02

Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

Pendakian tektok ke Gunung Pangradinan membuktikan bahwa perjalanan terbaik bukan hanya soal puncak, tetapi juga orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.

Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 22 Jul 2026, 08:33

Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

Kemarau panjang yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober membuat debit air Situ Ciburuy terus surut, hingga dasar bendungan bersejarah berusia satu abad itu mulai terlihat.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 08:00

Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

Bagaimana membaca ingatan antara masa lalu dan kini. Titik pertemuan ini adalah sebuah rendezvous.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)