Kesadaran Kesehatan Meningkat, Obat Cacing makin Langka di Lapangan

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ilustrasi obat cacing. (Sumber: Pexels/Miguel Á. Padriñán)
Ilustrasi obat cacing. (Sumber: Pexels/Miguel Á. Padriñán)

Kesadaran kesehatan di masyarakat seringkali muncul ketika ditemukannya sebuah studi kasus. Salah satunya apa yang terjadi dengan raya, bagaimana penderitaan yang raya rasakan akibat kehadiran cacing gelang (askariasis) bisa merenggut nyawanya. Membuat masyarakat takut dan berbondong-bondong membeli obat cacing ke apotek.

Kesadaran masyarakat tiba-tiba meningkat. Tak perlu banyak edukasi tak perlu banyak sosialisasi, tanpa diminta masyarakat mendadak sadar sendiri. Berbeda halnya ketika suatu wabah penyakit belum benar-benar menjangkit, masyarakat tidak akan berbuat banyak. Istilahnya masyarakat kita lebih suka mengobati dibandingkan dengan melakukan upaya pencegahan.

Misalnya saja, pada kasus DBD (Demam Berdarah Dengue), penyakit ini terbilang wabah yang sudah lama terjadi di Indonesia. Kemunculannya di Indonesia ditandai dengan dilaporkannya sebuah kasus pada tahun 1968 di Surabaya dan DKI Jakarta.

DBD sendiri termasuk ke dalam penyakit endemik (suatu penyakit yang selalu ada pada suatu daerah atau kelompok tertentu). Iklim yang tropis juga mempengaruhi kehadiran penyakit endemik lainnya seperti TBC hingga malaria.

Kehadirannya di negara berkembang seringkali menyebabkan penyebaran yang cepat jika wabah terjadi. Beberapa penyakit endemik ini juga termasuk menjadi masalah penting di beberapa negara berkembang lainnya yang memiliki iklim tropis.

Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti seringkali mudah berkembang pada musim penghujan. Nyamuk ini biasa hidup dalam genangan air seperti kaleng bekas, ban, pot bunga atau penampungan bak di kamar mandi.

Umumnya masyarakat tidak begitu mengindahkan upaya-upaya yang sudah disosialisasikan oleh tenaga kesehatan. Tentunya kesadaran tersebut akan hadir dan menular jika terjadi suatu kasus pada seseorang.

Begitu juga dengan penyakit askariasis (cacing gelang). Masyarakat sering abai terhadap anak-anak yang bermain di tanah tanpa menggunakan alas kaki. Tidak memotong kuku anak yang sudah panjang. Tidak mengingatkan anak untuk cuci tangan sebelum menyantap sebuah makanan.

Mengindahkan petugas kesehatan ketika penyaluran program kesehatan melalui pemberian obat cacing 2x dalam setahun. Juga tidak membiasakan beberapa upaya kebersihan yang mendasar.

Sebagai seorang nakes yang mengabdi pada pelayanan di apotek, saya melihat penjualan obat cacing tidak begitu masif. Dalam satu bulan operasional, paling hanya 2-3 botol yang terjual, itu pun tidak selalu sama dinamika tiap bulannya. Bahkan dalam satu bulan terkadang tidak ada sama sekali yang membeli obat cacing tersebut.

Semenjak kasus Raya ramai diperbincangkan di media, mendadak penjualan obat cacing meningkat. Dalam satu hari bisa terjual 10-25 botol, sungguh luar biasa mencapai 5-8 x lipatnya. Fenomena tersebut semakin menunjukkan bahwa kesadaran akan meningkat seiring kasus terkuak.

Ilustrasi obat. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ilustrasi obat. (Sumber: Pexels/Pixabay)

Saat kesadaran masyarakat meningkat, permintaan pasar pun kian meroket. Munculah permasalahan baru yaitu kelangkaan sebuah produk. Salah satu merk obat cacing yang terkenal dan familiar di masyarakat adalah combantrin. Selang beberapa hari kasus raya naik, mendadak ketersediaan obat tersebut langka di PBF (Pedagang Besar Farmasi).

Beberapa pihak yang mengerti situasi pasar tentu tidak hanya tinggal diam, dia akan bermain di dalamnya, memanfaatkan peluang yang ada. Beberapa apotek besar seringkali membeli habis ketersediaan barang yang sedang ramai dicari masyarakat.

Hal ini tentu membuat obat tidak terdistribusi secara merata. Bahkan apotek besar seringkali mendapat previlage dari PBF berupa informasi atau penawaran produk dalam jumlah yang tidak masuk akal. Bahkan jika ada konspirasi, apotek besar sudah tau, jauh lebih dahulu, bahkan sebelum wabah yang bersangkutan terjadi di masyarakat.

Sementara masyarakat yang resah akan dengan susah payah mencari obat tersebut ke setiap apotek yang ada di kotanya. Jarak tak menjadi halangan karena yang terpenting bisa mendapatkan barang tersebut. Kasus kelangkaan memang seringkali menjadikan sebuah produk lebih berharga dari apapun.

Tak hanya itu, kelangkaan juga menyebabkan hadirnya permainan harga di pasaran, harga bisa tiba-tiba melonjak tak masuk akal. Sama seperti kasus masker pada wabah Covid-19, dari harganya yang Rp. 20.000/box bisa menjadi Rp.150.000- Rp.300.000/box. Sistem kapitalis ekonomi memang seringkali merugikan banyak pihak. Tak hanya konsumen tapi juga pedagang ecer dalam jumlah kecil.

Begitu juga dengan kasus obat combantrin ini, harga pasaran normal biasanya dibanderol seharga Rp.23.000/botol menjadi Rp.24.000-Rp.30.000 untuk sediaan sirup. Sementara untuk sediaan tablet yang biasanya dibanderol Rp.20.000 naik jadi Rp.23.000-Rp.25.000.

Fenomena serupa juga terjadi hampir di seluruh apotek yang ada di kota/kabupaten Bandung. Saya juga mengkonfirmasi kepada beberapa rekan sejawat yang bertugas di apotek lain melalui pesan whatshapp pun mengalami keluhan yang serupa.

"Rame teh tiap hari order, tiap hari juga habis. Tapi yaitu teh susah banget dapat barangnya, kadang ada, kadang engga. Aneh ya di Indonesia mah, harus viral dulu baru masyarakatnya sadar" tukasnya sambil menambahkan emoticon ketawa dengan kepala miring. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)