Ketika Panggilan 'Sayang' Hanya Bagian dari Jobdesk: Dramaturgi para Ladies Companion (LC)

4 menit baca
Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Ditulis oleh Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom diterbitkan
Ilustrasi Ladies Companion (LC). (Sumber: Ayobandung.id)
Ilustrasi Ladies Companion (LC). (Sumber: Ayobandung.id)

Udara terasa berat oleh campuran aroma parfum refil murah, alkohol, dan asap rokok yang menari-nari di bawah cahaya lampu yang temaram. Bola disko di langit-langit berputar malas dan monoton, memecah kegelapan dengan serpihan cahaya yang memantul di dinding beludru merah kusam , sepertinya sudah lama tidak divakum.

Di lorong dengan banyak pintu di kiri kanannya, terdengar samar-samar raungan sumbang beberapa pria yang mencoba menyanyikan lagu rock lawas. Namun, saat masuk ke dalam ruang privat berukuran 4x5 meter ini, semua kebisingan itu luruh.

“Sayang mau aku nyalain rokoknya?” suara lembut keluar dari mulut seorang wanita selagi bersandar di bahu lelaki setengah baya. Padahal 5 menit sebelumnya mereka hanya dua orang asing yang tidak akan saling menyapa jika berpapasan.

Begitulah malam-malam yang dijalani Dara (bukan nama sebenarnya) sebagai Ladies Companion alias LC di salah satu tempat karaoke di pinggiran selatan Kota Bandung. Di dunia para LC, panggilan sayang bukanlah tanda cinta romantis seperti di film-film, ini hanyalah bagian dari profesionalitas kerja. Kata-kata manis adalah skrip yang dihafal di luar kepala, dan senyum hangat adalah kostum wajib yang tak boleh tanggal ketika bekerja. Mereka, layaknya karakter Irish dalam film Companion karya Drew Hancock , hadir untuk menemani, mengisi kekosongan, dan memenuhi hasrat para penyewa.

Di atas kertas, pekerjaan mereka adalah bernyanyi untuk menemani tamu berkaraoke, menyiapkan daftar putar lagu, dan memastikan gelas tak pernah kosong. Realitasnya, tugas utama mereka adalah “melayani” pelanggan dengan cara menciptakan “ilusi keintiman”.

Dalam ekosistem bisnis ini, mereka dibayar untuk berpura-pura mencintai para tamunya, sementara tamu yang membayar secara dengan kesadaran penuh -meski dalam keadaan teler mengetahui bahwa mereka sedang dibohongi. Ini bukan bentuk kemunafikan, semua demi kenyamanan, “yang penting happy” itu prinsipnya. Flirting dan kata-kata manis serta sikap manja yang ditunjukan para LC pada para tamu adalah senjata dalam pekerjaan mereka layaknya pisau di tangan seorang dokter bedah.

Para LC sejatinya adalah seniman. Mereka adalah aktris yang pentas di ruang-ruang gelap dan remang-remang itu. Goffman dalam teori dramaturgi mengatakan bahwa dunia adalah panggung sandiwara yang memiliki tampak depan dan tampak belakang. LC benar-benar mempraktikkan teori ini sekalipun mereka sepertinya tidak pernah mendengarnya apalagi mempelajari teorinya.

Mereka akan selalu berkata “Aku tunggu kamu kesini lagi ya minggu depan sayang”, meski dalam hati mereka mungkin bilang “B*ngsat, badan lu bau bawang”.

Pada tampak depan ketika sedang nge-room, mereka menggunakan nama-nama samaran, baju-baju seksi yang menggoda dan make up yang terlihat menarik di ruang gelap. Dijajakan seperti donat di etalase, untuk dipilih dan siap “disantap” oleh tamu tempat hiburan.

Di tampak belakang, mereka hanyalah perempuan biasa dengan peran masing-masing, ada yang seorang istri, seorang ibu atau juga seorang anak yang bekerja untuk menafkahi orang tuanya yang sudah tak bisa lagi bekerja.

“Tamu boleh pilih LC yang mana aja, tapi LC gak bisa milih pengen ngelayanin tamu yang kayak gimana, apapun kondisinya tamu harus happy. Kalo lagi beruntung dapet yang ganteng, yang baik, kita enjoy. Kadang kalo lagi apes dapet yang jelek, rese, pelit, tetep harus dipaksa enjoy.” ujar Dara berusaha menarik celana pendeknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya ketika diwawancarai.

Ilustrasi bayangan LC. (Sumber: Pexels/Sümeyye Bal)
Ilustrasi bayangan LC. (Sumber: Pexels/Sümeyye Bal)

Dalam drama “Intim-intiman” di ruang karaoke, tidak semua tamu kooperatif dan mengerti aturan main. Banyak tamu yang mungkin terlalu terbawa suasana sehingga lupa bahwa mereka ini LC, bukan kekasih mereka dan juga bukan Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Emang ada beberapa LC yang nyambi 'BO', tapi gak banyak dan biasanya mereka selektif banget. Kalo aku gak bisa, aku disini cuma kerja abis itu pulang karena anak aku nungguin di rumah. Tapi kadang susah juga ngejelasin ke tamu. Makanya setiap ngeroom biar tamu gak macem-macem, aku selalu pake pantyliner biar ada alasan haid, padahal ini cuma pantyliner bukan pembalut” jelas Dara sambil membuka botol bir di hadapannya.

Dalam buku “The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling”, Sosiolog Arlie Hochschild mengemukakan konsep Emotional Labor atau kerja emosional yang merujuk pada usaha yang dilakukan seseorang untuk mengelola emosi agar sejalan dengan tuntutan pekerjaan mereka. Dan percayalah bahwa ini bukan hal yang mudah.

Dalam konteks pekerjaan sebagai LC di tempat hiburan malam, Mereka dituntut menampilkan sikap ramah, menggoda dan penuh perhatian, meski mereka tidak merasa demikian. Perasaan lelah, bosan, takut, bahkan jijik atau apa pun emosi negatif yang sedang mereka rasakan sebisa mungkin harus diredam demi memenuhi ego tamu mereka. Ketika seorang tamu menyanyikan lagu dengan nada fals yang memekakkan telinga, mereka harus bertepuk tangan paling meriah. Ketika seorang tamu menceritakan lelucon yang tidak lucu, mereka harus tertawa paling keras.

Bahkan mungkin kemampuan mereka dalam mengelola emosi tamunya lebih utama daripada kemampuan mereka dalam bernyanyi. Kenyamanan dan keintiman palsu inilah yang mereka monetisasi dan menjadi sumber penghasilan mereka.

“Orang-orang gak ada yang tau kalo kita juga punya perasaan, kita bukan boneka yang gak punya hati.” keluh Dara.

“Jelas aku ada keinginan untuk berhenti dari kerja kayak gini, tapi kita (para LC) gak tau harus kerja apa kalo berhenti, dan hampir semua yang kerja di sini punya tanggungan masing-masing di rumahnya,” lanjut Dara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Pemerhati Budaya | Alumnus Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)