Antara Popularitas dan Progres: Sepuluh Bulan Pemerintahan Farhan–Erwin

5 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)

Bandung selalu punya cara membuat warganya jatuh cinta dan jatuh kecewa. Sejak Muhammad Farhan dan Erwin resmi memimpin Kota Bandung per tanggal 20 Februari 2025, cinta dan kecewa itu bertemu dalam satu pertanyaan sederhana namun mendasar: “Bandung kita ini, sudah berubah menjadi lebih baik atau masih berjalan di tempat?”

Memasuki Desember 2025, Redaksi AyoBandung melalui kanal AyoNetizen membuka tema “Catatan Warga untuk Wali Kota Bandung.” Catatan yang lahir bukan dari analisis gedung tinggi, tetapi dari langkah kaki warga di trotoar bolong, dari sabar menunggu angkot yang tak kunjung modern, dari bau sampah yang kadang tak kenal waktu, dan dari harapan yang tetap hidup, meski kadang redup.

Penulis mengurai catatan ini sebagai satu suara kecil dari banyak warga Bandung. Bukan untuk menjatuhkan, bukan pula memuja, tetapi untuk mengingatkan, mengoreksi, dan merawat kota dengan cara paling sederhana: berkata jujur.

Farhan datang dengan janji besar sejak masa kampanye. Ia ingin menjadikan Bandung lebih baik, membuka komunikasi dengan seluruh pihak, dan memastikan tak ada “penumpang gelap” yang menunggangi pemerintahannya.

Visi besarnya terang ditulis dalam dokumen Bandung UTAMA, sebuah gagasan untuk mewujudkan Bandung yang Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agamis . Namun kenyataan kota tidak bergerak secepat slogan. Banyak warga merasakan bahwa gebrakan yang dijanjikan terutama soal transportasi publik, sampah, dan tata ruang belum muncul dalam wujud nyata. Bahkan pakar kebijakan publik Yogi Suprayogi menyebut, belum terlihat apa prioritas Wali Kota Bandung. Gebrakan besar tidak muncul. Sementara Jejen Jaelani menilai: Bandung tidak butuh Wali Kota yang rajin tampil di media sosial, tapi yang berpikir sistematis dan mengeksekusi. Pakar Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan ikut menyoroti kinerja Farhan-Erwin yang dianggapnya belum bisa menunjukkan gebrakan sesuai dengan apa yang dijanjikan semasa kampanye. Kelihatannya belum, mungkin belum masif, ada tidaknya belum masif, diinformasikan dan disosialisasikan. Seyogyanya Farhan Erwin tampil  cepat, ngabret dan berlari kencang untuk Kota Bandung sebagai ikon Jabar.  Farhan juga seharusnya  bisa cepat merespon setiap yang keluhan dan keresahan yang dialami warga. Kritik ini bukan tentang pribadi Farhan, melainkan arah dan langkah pemerintah kota.

Hasil survei Parameter Konsultindo (Parmet) terhadap 485 responden dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin error sekira 4,5%, tingkat kepercayaan 95%, dengan pelaksanaan survei pada 3-10 Mei 2025 menunjukkan kalau 44% masyarakat Bandung puas dengan kinerja Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Wakil Wali Kota Erwin. Sebanyak 47,6 persen tidak puas, dan 8,5 persen warga tidak tahu atau tidak menjawab. Masalah yang paling banyak disebut warga berdasarkan survei tersebut yaitu sampah, pengangguran, dan kemacetan. Tiga maslah tersebut bukan data mengejutkan melainkan memang wajah harian Kota Bandung.

Pertama, masalah sampah. Program unggulan Pasukan Warga tercantum jelas dalam Bandung UTAMA memperkuat pasukan Gober dan menginisiasi skema Public-Private Partnership dalam pengelolaan sampah. Namun 8 bulan berjalan, warga belum melihat transformasi signifikan. TPS penuh di jam-jam tertentu masih biasa kita temui. Edukasi pemilahan sampah belum masif. TPA masih jauh dari ideal.

Kedua, masalah transportasi publik. Seorang pakar menyebut Bandung 25–30 tahun stagnan di moda angkot. Bandung UTAMA sebenarnya menyebut peningkatan mobilitas manusia berbasis infrastruktur yang baik sebagai pilar pembangunan. Namun hingga saat ini modernisasi angkot belum terlihat, jalur bus kota tak bertambah, dan kemacetan makin padat.  Transportasi publik adalah jantung mobilitas kota. Tanpa gebrakan, Bandung tetap kota macet yang hidup “per ritase”.

Ketiga, masalah  ekonomi & lapangan kerja. Visi mengatakan ingin menciptakan SDM unggul, ekonomi produktif, dan inkubator bisnis di setiap kecamatan. Sebagian program baru masuk tahap sosialisasi dan belum menunjukkan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Dalam dokumen visi visi Bandung utama, Farhan–Erwin menekankan Bandung sebagai kota terbuka dan “kota yang menerima kritik dan gagasan”.  Langkah seperti Sidang Rakyat Jumaahan sebenarnya menarik, warga bisa bertemu langsung Wali Kota setiap Jumat. Namun tantangannya: Apakah ruang itu benar-benar menyerap suara warga atau sekadar ritual simbolik? apakah keluhan warga tindak-lanjut-nya terukur? dan apakah laporan warga dimonitor secara transparan?. Seyogyanya, Bandung membutuhkan mekanisme partisipasi yang bukan hanya mengundang, tetapi juga mengolah, mengimplementasikan, dan melaporkan kembali.

Dalam beberapa kesempatan, Farhan sering menyampaikan bahwa kepemimpinannya menggunakan soft power, bukan hard power, pemimpin yang dipatuhi karena kebijaksanaan, bukan ancaman . Sebuah visi yang baik. Tapi soft power tanpa kejelasan prioritas, timeline, dan keberanian mengambil keputusan berisiko berubah menjadi soft performance, ramah di media sosial, tetapi lemah dalam eksekusi.

Bandung butuh sosok Wali Kota yang mampu mengurai masalah secara sistematis, berani mengambil langkah tidak populer, mempercepat transformasi transportasi, memperkuat manajemen sampah berbasis data, mengoptimalkan program-program Bandung UTAMA dengan target terukur, kembali pada janji awal: Bandung harus lebih baik.

Beberapa harapan tersematkan kepada pupuhu Kota Bandung. Pertama, Tetapkan 3 prioritas 2026. Warga butuh fokus. Misalnya: sampah – transportasi – ekonomi warga. Tiga itu saja dulu. Eksekusi dalam bentuk regulasi, anggaran, dan timeline. Kedua, luncurkan dashboard kinerja publik. Sesuai visi kota terbuka dan akuntabel. Semua program dilaporkan real-time: progres, hambatan, anggaran, dan capaian. Ketiga, modernisasi transportasi dalam 1 Tahun. Mulai dari hal yang paling mungkin: jalur angkot prioritas, digitalisasi rute, integrasi pembayaran, dan uji coba rute bus baru. Keempat,  revolusi pengelolaan sampah. Bandung butuh social engineering dan skema PPP (Public–Private Partnership), skema kemitraan pemerintah dan swasta yang nyata. Pilot project di 5 kecamatan dengan insentif ekonomi pada pemilahan sampah. Kelima, perbesar kolaborasi warga. Bandung UTAMA menyebut triple helix—pemerintah, akademisi, pengusaha. Tapi jangan lupa helix keempat: warga. Bandung tanpa warga bukan apa-apa.

Baca Juga: Muhammad Farhan: Kota Bandung Darurat Sampah!

Kota ini tidak menuntut kesempurnaan dari pemimpinnya. Bandung hanya menuntut konsistensi, kehadiran nyata, dan keberanian mengubah. Bandung adalah kota yang dibangun dari gotong royong, dari budaya sauyunan, dari cinta yang tidak pernah berhenti meski sering dikecewakan. Karena itu, catatan warga ini bukan bentuk kemarahan melainkan bentuk perhatian. Bentuk rasa memiliki. Bentuk cinta yang ingin kota ini tetap indah, nyaman, dan manusiawi. Kita menagih janji bukan karena benci, tapi karena peduli.

Dan seperti kata Farhan sendiri: “Jika kita berbicara tentang Bandung, kita tidak sedang berkompetisi, tapi sedang berkolaborasi.”  Maka catatan ini adalah ajakan: Mari benar-benar berkolaborasi. Pemerintah dan warga. Demi Bandung yang benar-benar UTAMA. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)