Antara Popularitas dan Progres: Sepuluh Bulan Pemerintahan Farhan–Erwin

Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan Kamis 04 Des 2025, 15:06 WIB
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)

Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)

Bandung selalu punya cara membuat warganya jatuh cinta dan jatuh kecewa. Sejak Muhammad Farhan dan Erwin resmi memimpin Kota Bandung per tanggal 20 Februari 2025, cinta dan kecewa itu bertemu dalam satu pertanyaan sederhana namun mendasar: “Bandung kita ini, sudah berubah menjadi lebih baik atau masih berjalan di tempat?”

Memasuki Desember 2025, Redaksi AyoBandung melalui kanal AyoNetizen membuka tema “Catatan Warga untuk Wali Kota Bandung.” Catatan yang lahir bukan dari analisis gedung tinggi, tetapi dari langkah kaki warga di trotoar bolong, dari sabar menunggu angkot yang tak kunjung modern, dari bau sampah yang kadang tak kenal waktu, dan dari harapan yang tetap hidup, meski kadang redup.

Penulis mengurai catatan ini sebagai satu suara kecil dari banyak warga Bandung. Bukan untuk menjatuhkan, bukan pula memuja, tetapi untuk mengingatkan, mengoreksi, dan merawat kota dengan cara paling sederhana: berkata jujur.

Farhan datang dengan janji besar sejak masa kampanye. Ia ingin menjadikan Bandung lebih baik, membuka komunikasi dengan seluruh pihak, dan memastikan tak ada “penumpang gelap” yang menunggangi pemerintahannya.

Visi besarnya terang ditulis dalam dokumen Bandung UTAMA, sebuah gagasan untuk mewujudkan Bandung yang Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agamis . Namun kenyataan kota tidak bergerak secepat slogan. Banyak warga merasakan bahwa gebrakan yang dijanjikan terutama soal transportasi publik, sampah, dan tata ruang belum muncul dalam wujud nyata. Bahkan pakar kebijakan publik Yogi Suprayogi menyebut, belum terlihat apa prioritas Wali Kota Bandung. Gebrakan besar tidak muncul. Sementara Jejen Jaelani menilai: Bandung tidak butuh Wali Kota yang rajin tampil di media sosial, tapi yang berpikir sistematis dan mengeksekusi. Pakar Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan ikut menyoroti kinerja Farhan-Erwin yang dianggapnya belum bisa menunjukkan gebrakan sesuai dengan apa yang dijanjikan semasa kampanye. Kelihatannya belum, mungkin belum masif, ada tidaknya belum masif, diinformasikan dan disosialisasikan. Seyogyanya Farhan Erwin tampil  cepat, ngabret dan berlari kencang untuk Kota Bandung sebagai ikon Jabar.  Farhan juga seharusnya  bisa cepat merespon setiap yang keluhan dan keresahan yang dialami warga. Kritik ini bukan tentang pribadi Farhan, melainkan arah dan langkah pemerintah kota.

Hasil survei Parameter Konsultindo (Parmet) terhadap 485 responden dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin error sekira 4,5%, tingkat kepercayaan 95%, dengan pelaksanaan survei pada 3-10 Mei 2025 menunjukkan kalau 44% masyarakat Bandung puas dengan kinerja Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Wakil Wali Kota Erwin. Sebanyak 47,6 persen tidak puas, dan 8,5 persen warga tidak tahu atau tidak menjawab. Masalah yang paling banyak disebut warga berdasarkan survei tersebut yaitu sampah, pengangguran, dan kemacetan. Tiga maslah tersebut bukan data mengejutkan melainkan memang wajah harian Kota Bandung.

Pertama, masalah sampah. Program unggulan Pasukan Warga tercantum jelas dalam Bandung UTAMA memperkuat pasukan Gober dan menginisiasi skema Public-Private Partnership dalam pengelolaan sampah. Namun 8 bulan berjalan, warga belum melihat transformasi signifikan. TPS penuh di jam-jam tertentu masih biasa kita temui. Edukasi pemilahan sampah belum masif. TPA masih jauh dari ideal.

Kedua, masalah transportasi publik. Seorang pakar menyebut Bandung 25–30 tahun stagnan di moda angkot. Bandung UTAMA sebenarnya menyebut peningkatan mobilitas manusia berbasis infrastruktur yang baik sebagai pilar pembangunan. Namun hingga saat ini modernisasi angkot belum terlihat, jalur bus kota tak bertambah, dan kemacetan makin padat.  Transportasi publik adalah jantung mobilitas kota. Tanpa gebrakan, Bandung tetap kota macet yang hidup “per ritase”.

Ketiga, masalah  ekonomi & lapangan kerja. Visi mengatakan ingin menciptakan SDM unggul, ekonomi produktif, dan inkubator bisnis di setiap kecamatan. Sebagian program baru masuk tahap sosialisasi dan belum menunjukkan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Dalam dokumen visi visi Bandung utama, Farhan–Erwin menekankan Bandung sebagai kota terbuka dan “kota yang menerima kritik dan gagasan”.  Langkah seperti Sidang Rakyat Jumaahan sebenarnya menarik, warga bisa bertemu langsung Wali Kota setiap Jumat. Namun tantangannya: Apakah ruang itu benar-benar menyerap suara warga atau sekadar ritual simbolik? apakah keluhan warga tindak-lanjut-nya terukur? dan apakah laporan warga dimonitor secara transparan?. Seyogyanya, Bandung membutuhkan mekanisme partisipasi yang bukan hanya mengundang, tetapi juga mengolah, mengimplementasikan, dan melaporkan kembali.

Dalam beberapa kesempatan, Farhan sering menyampaikan bahwa kepemimpinannya menggunakan soft power, bukan hard power, pemimpin yang dipatuhi karena kebijaksanaan, bukan ancaman . Sebuah visi yang baik. Tapi soft power tanpa kejelasan prioritas, timeline, dan keberanian mengambil keputusan berisiko berubah menjadi soft performance, ramah di media sosial, tetapi lemah dalam eksekusi.

Bandung butuh sosok Wali Kota yang mampu mengurai masalah secara sistematis, berani mengambil langkah tidak populer, mempercepat transformasi transportasi, memperkuat manajemen sampah berbasis data, mengoptimalkan program-program Bandung UTAMA dengan target terukur, kembali pada janji awal: Bandung harus lebih baik.

Beberapa harapan tersematkan kepada pupuhu Kota Bandung. Pertama, Tetapkan 3 prioritas 2026. Warga butuh fokus. Misalnya: sampah – transportasi – ekonomi warga. Tiga itu saja dulu. Eksekusi dalam bentuk regulasi, anggaran, dan timeline. Kedua, luncurkan dashboard kinerja publik. Sesuai visi kota terbuka dan akuntabel. Semua program dilaporkan real-time: progres, hambatan, anggaran, dan capaian. Ketiga, modernisasi transportasi dalam 1 Tahun. Mulai dari hal yang paling mungkin: jalur angkot prioritas, digitalisasi rute, integrasi pembayaran, dan uji coba rute bus baru. Keempat,  revolusi pengelolaan sampah. Bandung butuh social engineering dan skema PPP (Public–Private Partnership), skema kemitraan pemerintah dan swasta yang nyata. Pilot project di 5 kecamatan dengan insentif ekonomi pada pemilahan sampah. Kelima, perbesar kolaborasi warga. Bandung UTAMA menyebut triple helix—pemerintah, akademisi, pengusaha. Tapi jangan lupa helix keempat: warga. Bandung tanpa warga bukan apa-apa.

Baca Juga: Muhammad Farhan: Kota Bandung Darurat Sampah!

Kota ini tidak menuntut kesempurnaan dari pemimpinnya. Bandung hanya menuntut konsistensi, kehadiran nyata, dan keberanian mengubah. Bandung adalah kota yang dibangun dari gotong royong, dari budaya sauyunan, dari cinta yang tidak pernah berhenti meski sering dikecewakan. Karena itu, catatan warga ini bukan bentuk kemarahan melainkan bentuk perhatian. Bentuk rasa memiliki. Bentuk cinta yang ingin kota ini tetap indah, nyaman, dan manusiawi. Kita menagih janji bukan karena benci, tapi karena peduli.

Dan seperti kata Farhan sendiri: “Jika kita berbicara tentang Bandung, kita tidak sedang berkompetisi, tapi sedang berkolaborasi.”  Maka catatan ini adalah ajakan: Mari benar-benar berkolaborasi. Pemerintah dan warga. Demi Bandung yang benar-benar UTAMA. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)