Bandung sebelum Daendels, Bandung Setelah Kita: Tekad Bioregionalisme 2026

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Cekungan Bandung, foto ini diambil dari Gunung Batu di Bandung Utara. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lokamaya)
Cekungan Bandung, foto ini diambil dari Gunung Batu di Bandung Utara. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lokamaya)

Bandung sering disebut kota. Tempat orang-orang mencapai mimpinya, bersekolah, mengejar karir, bahkan menumpahkan segala ide intelektualitasnya. Kawasan urban ini tak pernah lepas selalu dirindu menjadi labuhan wisata. Katanya adem, kulinernya enak-enak, tapi lumayan serba ada kalau mau menyoal kemajuaan. Bioskop, tempat gym, taman-taman, halte, ataupun penginapan berkabin.

Kata “kota” diulang seperti mantra, seolah cukup untuk menjelaskan segalanya. Tapi sayangnya Bandung bukan sekadar kota. Ia adalah “bendung”, sebuah cekungan yang dilingkungi gunung. Lintasan yang mempertemukan Citarum dan Cikapundung. 

Bandung adalah ruang hidup yang tidak dibentuk ketika Daendels menancapkan tongkatnya di sebuah titik pada September 1810. Jauh sebelum tanggal 25 di bulan itu, wilayah ini telah berdenyut sebagai Tatar Ukur, sebuah bentang kuasa yang berakar pada kerajaan lokal Sunda dari Timbanganten hingga Sumedang Larang. Sejak abad ke-17, daerah ini telah berstatus Kabupaten yang beribukota di Krapyak.

Namun demikian, Bandung juga tidak dilahirkan oleh peradaban manusia semata. Ia muncul dari mereka yang bersemayam di kelanggengan, Dayang Sumbi, Tumang, dan Sangkuriang. Sebuah ingatan kultural-ekologis yang jauh lebih tua daripada arsip kolonial.

Bandung dibentuk oleh bentang alam yang bergerak pelan namun menentukan.  Letusan gunung api purba, pergeseran sesar, dan danau besar yang pernah menenggelamkan dataran rendahnya. Lanskap ini telah lebih dulu menetapkan logika ruang hidup jauh sebelum batas kota, tugu kabupaten, dan provinsi digambar di atas peta administratif.

Terpecah di Atas Peta Modern

Fosil-fosil yang ditemukan di Cekungan Bandung memberi isyarat bahwa wilayah ini pernah menjadi habitat gajah Elephas dan Stegodon, rusa dan bovidae besar, badak jawa, harimau, sampai trenggiling raksasa. Mereka bergerak mengikuti alur air, vegetasi, dan dataran kering, membentuk pagar geografis yang jauh sebelum manusia menggambar batas dan nama.

Ketika tubuh-tubuh satwa itu lenyap, ingatan tentangnya bertahan dalam bahasa ruang. Toponimi Bandung Raya seperti Leuwigajah, Bojongsoang, Cikalong, Rancaekek, merekam jejak biodiversitas yang pernah hidup di sana.

Ironisnya, ruang hidup yang sejak awal dibentuk oleh alur diri nonmanusia itu kini dipotong-potong atas nama peradaban. Bandung terbelah menjadi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Garis-garis yang tampak rapi di peta, namun asing bagi tanah, air, dan ingatan ekologis yang melampaui batas tersebut.

Air dari Bandung Utara mengalir ke hilir tanpa bertanya wilayah mana yang berwenang. Sampah bergerak mengikuti arus konsumsi, bukan keputusan rapat birokrasi. Di sinilah persoalan bermula. Ketika Lembang dan sekitarnya dialihfungsikan, dampaknya dirasakan di selatan. Ketika Sarimukti menumpuk, bau dan risikonya menembus batas RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).

Fragmentasi tata kelola membuat krisis ekologis berubah menjadi arena saling tuding. Daenah mana yang salah, warga pejabat mana yang lalai, lalu siapa yang mau bertanggung jawab?

Mobilitas Sehari-hari

Bandung adalah tubuh yang bergerak. Setiap pagi, ribuan orang meninggalkan rumah di kabupaten untuk bekerja di kota. Para pengemudi ojek online menjadi pembuluh darah yang menghubungkan titik-titik yang tidak pernah benar-benar terpisah. Mahasiswa, buruh pabrik, pekerja kreatif, dan pedagang kecil bergerak mengikuti desakan ekonomi, bukan logika administratif.

Ketika DAS Citarum meluap, yang terjebak bukan hanya warga Dayeuhkolot, melainkan kelas pekerja yang setiap hari hilir-mudik lintas kota dan kabupaten. Yang lumpuh bukan sekadar satu kawasan, melainkan seluruh sirkulasi hidup Bandung Raya. Di sini terlihat terang benderang bahwa krisis ekologis selalu juga berwajah sosial. Yang paling terdampak bukan mereka yang merancang kebijakan, tetapi mereka yang hidup dari keterhubungan ruang.

Peta Cekungan Bandung. (Sumber: X/@malikarrahiem)
Peta Cekungan Bandung. (Sumber: X/@malikarrahiem)

Kawasan ini juga hidup dari pariwisata. Kawah Putih, Maribaya, Ranca Upas, Punclut, Braga, atau Dago membentuk imajinasi kolektif green city tentang keindahan dan pelarian. Alam “liar” berhasil ditaklukan lewat proses ekstraksi yang halus. Ada eksotisme udara sejuk Priangan yang dijual, ada seksualisasi objektifikasi “teteh Bandung cantik-cantik” atau “akang Bandung ganteng dan lucu”. Lalapan jadi ajang nativisme, Bandung tenggelam dalam lautan kolonialisme baru di tengah jenama “Paris van Java”.

Menutup “Salawe” Pertama di Milenium ini

Menyongsong 2026, memungkas seperempat abad yang telah berlalu, Bandung nyata-nyata tidak pernah tunggal. Ia adalah kesatuan hidup yang berdiri sebagai penanda ekologis bahkan kosmologis. Ia adalah sungai yang mengalirkan kehidupan dan limbah sekaligus. Ia adalah bekas kolonialisme yang membentuk jalur kereta, kawasan industri, dan segregasi ruang. Ia juga adalah coffeeshop, kontrakan sempit, dan kecemasan pembangunan yang siapa tahu ingkar pada janji keberlanjutan.

Bioregionalisme Bandung tidak memusuhi modernitas semata, tetapi menuntut pertanggungjawaban etis pada tata kelola kawasan. Ia mengajak kita berhenti memperlakukan tanah sebagai bidang kosong dan sungai sebagai saluran teknis. Bandung harus ditegaskan sebagai ruang hidup yang menuntut etika keadilan sosial lagi ekologis.

Baca Juga: Bambu Ramah Lingkungan

Resolusi kita tahun ini bukanlah daftar proyek, melainkan perubahan cara memandang kota dan sekitarnya. Mimpi yang mengajak semua pihak tertutama para pemangku kekuasaan untuk menata Bandung Raya sebagai satu kesatuan ekologis, menempatkan kolaborasi yang bermakna, membangun transportasi yang mengakui keterhubungan wilayah, dan mengembangkan lokalitas yang membumi.

Lebih dari itu, resolusi ini adalah refleksi untuk belajar tinggal kembali di Bandung, bukan sebagai penakluk apalagi penjarah ruang, tetapi sebagai bagian dari tubuh wilayah itu sendiri. Sebab masa depan Bandung tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai satu kantor pemerintahan setempat, melainkan oleh sejauh mana kita mau mendengar gunung, sungai, dan mereka yang hidup di antaranya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)