Bandung sebelum Daendels, Bandung Setelah Kita: Tekad Bioregionalisme 2026

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 06 Jan 2026, 17:33 WIB
Cekungan Bandung, foto ini diambil dari Gunung Batu di Bandung Utara. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lokamaya)

Cekungan Bandung, foto ini diambil dari Gunung Batu di Bandung Utara. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Lokamaya)

Bandung sering disebut kota. Tempat orang-orang mencapai mimpinya, bersekolah, mengejar karir, bahkan menumpahkan segala ide intelektualitasnya. Kawasan urban ini tak pernah lepas selalu dirindu menjadi labuhan wisata. Katanya adem, kulinernya enak-enak, tapi lumayan serba ada kalau mau menyoal kemajuaan. Bioskop, tempat gym, taman-taman, halte, ataupun penginapan berkabin.

Kata “kota” diulang seperti mantra, seolah cukup untuk menjelaskan segalanya. Tapi sayangnya Bandung bukan sekadar kota. Ia adalah “bendung”, sebuah cekungan yang dilingkungi gunung. Lintasan yang mempertemukan Citarum dan Cikapundung. 

Bandung adalah ruang hidup yang tidak dibentuk ketika Daendels menancapkan tongkatnya di sebuah titik pada September 1810. Jauh sebelum tanggal 25 di bulan itu, wilayah ini telah berdenyut sebagai Tatar Ukur, sebuah bentang kuasa yang berakar pada kerajaan lokal Sunda dari Timbanganten hingga Sumedang Larang. Sejak abad ke-17, daerah ini telah berstatus Kabupaten yang beribukota di Krapyak.

Namun demikian, Bandung juga tidak dilahirkan oleh peradaban manusia semata. Ia muncul dari mereka yang bersemayam di kelanggengan, Dayang Sumbi, Tumang, dan Sangkuriang. Sebuah ingatan kultural-ekologis yang jauh lebih tua daripada arsip kolonial.

Bandung dibentuk oleh bentang alam yang bergerak pelan namun menentukan.  Letusan gunung api purba, pergeseran sesar, dan danau besar yang pernah menenggelamkan dataran rendahnya. Lanskap ini telah lebih dulu menetapkan logika ruang hidup jauh sebelum batas kota, tugu kabupaten, dan provinsi digambar di atas peta administratif.

Terpecah di Atas Peta Modern

Fosil-fosil yang ditemukan di Cekungan Bandung memberi isyarat bahwa wilayah ini pernah menjadi habitat gajah Elephas dan Stegodon, rusa dan bovidae besar, badak jawa, harimau, sampai trenggiling raksasa. Mereka bergerak mengikuti alur air, vegetasi, dan dataran kering, membentuk pagar geografis yang jauh sebelum manusia menggambar batas dan nama.

Ketika tubuh-tubuh satwa itu lenyap, ingatan tentangnya bertahan dalam bahasa ruang. Toponimi Bandung Raya seperti Leuwigajah, Bojongsoang, Cikalong, Rancaekek, merekam jejak biodiversitas yang pernah hidup di sana.

Ironisnya, ruang hidup yang sejak awal dibentuk oleh alur diri nonmanusia itu kini dipotong-potong atas nama peradaban. Bandung terbelah menjadi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Garis-garis yang tampak rapi di peta, namun asing bagi tanah, air, dan ingatan ekologis yang melampaui batas tersebut.

Air dari Bandung Utara mengalir ke hilir tanpa bertanya wilayah mana yang berwenang. Sampah bergerak mengikuti arus konsumsi, bukan keputusan rapat birokrasi. Di sinilah persoalan bermula. Ketika Lembang dan sekitarnya dialihfungsikan, dampaknya dirasakan di selatan. Ketika Sarimukti menumpuk, bau dan risikonya menembus batas RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah).

Fragmentasi tata kelola membuat krisis ekologis berubah menjadi arena saling tuding. Daenah mana yang salah, warga pejabat mana yang lalai, lalu siapa yang mau bertanggung jawab?

Mobilitas Sehari-hari

Bandung adalah tubuh yang bergerak. Setiap pagi, ribuan orang meninggalkan rumah di kabupaten untuk bekerja di kota. Para pengemudi ojek online menjadi pembuluh darah yang menghubungkan titik-titik yang tidak pernah benar-benar terpisah. Mahasiswa, buruh pabrik, pekerja kreatif, dan pedagang kecil bergerak mengikuti desakan ekonomi, bukan logika administratif.

Ketika DAS Citarum meluap, yang terjebak bukan hanya warga Dayeuhkolot, melainkan kelas pekerja yang setiap hari hilir-mudik lintas kota dan kabupaten. Yang lumpuh bukan sekadar satu kawasan, melainkan seluruh sirkulasi hidup Bandung Raya. Di sini terlihat terang benderang bahwa krisis ekologis selalu juga berwajah sosial. Yang paling terdampak bukan mereka yang merancang kebijakan, tetapi mereka yang hidup dari keterhubungan ruang.

Peta Cekungan Bandung. (Sumber: X/@malikarrahiem)
Peta Cekungan Bandung. (Sumber: X/@malikarrahiem)

Kawasan ini juga hidup dari pariwisata. Kawah Putih, Maribaya, Ranca Upas, Punclut, Braga, atau Dago membentuk imajinasi kolektif green city tentang keindahan dan pelarian. Alam “liar” berhasil ditaklukan lewat proses ekstraksi yang halus. Ada eksotisme udara sejuk Priangan yang dijual, ada seksualisasi objektifikasi “teteh Bandung cantik-cantik” atau “akang Bandung ganteng dan lucu”. Lalapan jadi ajang nativisme, Bandung tenggelam dalam lautan kolonialisme baru di tengah jenama “Paris van Java”.

Menutup “Salawe” Pertama di Milenium ini

Menyongsong 2026, memungkas seperempat abad yang telah berlalu, Bandung nyata-nyata tidak pernah tunggal. Ia adalah kesatuan hidup yang berdiri sebagai penanda ekologis bahkan kosmologis. Ia adalah sungai yang mengalirkan kehidupan dan limbah sekaligus. Ia adalah bekas kolonialisme yang membentuk jalur kereta, kawasan industri, dan segregasi ruang. Ia juga adalah coffeeshop, kontrakan sempit, dan kecemasan pembangunan yang siapa tahu ingkar pada janji keberlanjutan.

Bioregionalisme Bandung tidak memusuhi modernitas semata, tetapi menuntut pertanggungjawaban etis pada tata kelola kawasan. Ia mengajak kita berhenti memperlakukan tanah sebagai bidang kosong dan sungai sebagai saluran teknis. Bandung harus ditegaskan sebagai ruang hidup yang menuntut etika keadilan sosial lagi ekologis.

Baca Juga: Bambu Ramah Lingkungan

Resolusi kita tahun ini bukanlah daftar proyek, melainkan perubahan cara memandang kota dan sekitarnya. Mimpi yang mengajak semua pihak tertutama para pemangku kekuasaan untuk menata Bandung Raya sebagai satu kesatuan ekologis, menempatkan kolaborasi yang bermakna, membangun transportasi yang mengakui keterhubungan wilayah, dan mengembangkan lokalitas yang membumi.

Lebih dari itu, resolusi ini adalah refleksi untuk belajar tinggal kembali di Bandung, bukan sebagai penakluk apalagi penjarah ruang, tetapi sebagai bagian dari tubuh wilayah itu sendiri. Sebab masa depan Bandung tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai satu kantor pemerintahan setempat, melainkan oleh sejauh mana kita mau mendengar gunung, sungai, dan mereka yang hidup di antaranya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:10 WIB

Kairo Menguji, Mesir Membentuk: Perjalanan Mahasiswa Indonesia Bertahan di Negeri Baru

Di kota inilah Nabil Irtifa, mahasiswa asal Bandung kelahiran 2003, belajar bahwa merantau bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan soal bertahan.
Komunitas Literasi Masisir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nabil Irtifa)
Ayo Jelajah 08 Jan 2026, 19:03 WIB

Sejarah Gempa Sesar Cimandiri Tahun 1910, Hancurkan Rumah dan Rel Kereta di Bandung Barat

Getaran kuat sesar Cimandiri pada pagi hari 1910 mengubah Cipatat dan Padalarang menjadi ladang reruntuhan.
Ilustrasi kerusakan gempa Cianjur tahun 1879. (Sumber: KITLV)
Ayo Jelajah 08 Jan 2026, 18:35 WIB

Tragedi Miras Oplosan Cicalengka 2018, Racikan Murah yang Memanggil Kematian

Kisah miras oplosan Cicalengka 2018 dari racikan murah Samsudin hingga puluhan nyawa melayang dalam hitungan hari.
Petugas saat ekspose miras maut Cicalengka di rumah tersangka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 08 Jan 2026, 17:49 WIB

Lonjakan Pengiriman Hewan Peliharaan di Nataru Jadi Cermin Gaya Hidup Baru Masyarakat Urban

Periode Nataru 2025/2026 menjadi saksi bagaimana mobilitas masyarakat tidak hanya meningkat dalam bentuk perjalanan manusia, tetapi juga dalam arus pengiriman hewan peliharaan.
Periode Nataru 2025/2026 menjadi saksi bagaimana mobilitas masyarakat tidak hanya meningkat dalam bentuk perjalanan manusia, tetapi juga dalam arus pengiriman hewan peliharaan. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 17:06 WIB

Resolusi untuk Pahlawan Devisa Sang Pencerah Ekonomi Keluarga

Resolusi 2026 Kota Bandung yang amat urgen adalah transformasi pekerja migran agar menjadi pekerja yang lebih terampil dan kompeten
Pelepasan Pekerja Migran Indonesia asal Jawa Barat ke Korea Selatan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 16:29 WIB

Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter

Peran orang tua, teladan, pembiasaan, dan komunikasi dalam membentuk nilai moral anak di tengah tantangan zaman.
Ilustrasi orang tua. (Sumber: Pexels/Daria Obymaha)
Ayo Biz 08 Jan 2026, 15:58 WIB

Mengupas Tren Perjalanan 2025: Bandung di Puncak, Jawa Barat Jadi Provinsi Favorit

Jawa Barat menegaskan dominasinya sebagai provinsi dengan pemesanan perjalanan domestik terbanyak sepanjang 2025, mencatat lebih dari 17,7 juta perjalanan wisatawan nusantara.
Ilustrasi lonjakan wisatawan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 15:15 WIB

Yang Kita Telan sebagai Kota: Makanan, Gaya Hidup, dan Bandung 2026

Dari aci, seblak, lalapan, hingga kopi. Tapi di balik melimpahnya kuliner, tubuh kita lelah. Cara makan hari ini mencerminkan ketimpangan dan masa depan.
Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 13:53 WIB

Harmoni Tradisi: Melestarikan Budaya Munggahan di Babakan Ciparay

Mempertahankan budaya munggahan dalam era modern anak muda.
Hidangan khas Sunda tersaji rapi dalam tradisi munggahan, momen kebersamaan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan pada Selasa, 25 Maret 2025. (Sumber: Sela | Foto: Dalvin)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 12:22 WIB

Bisakah Frugal Living dan Slow Living Diterapkan di Sukabumi?

Benarkah frugal living dan slow living mustahil diterapkan di kota industri?
Suasana asri di salah satu sudut Sukabumi, pengingat bahwa ketenangan sejati sering kali ada di depan mata jika kita mau sejenak melambat. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Beranda 08 Jan 2026, 11:58 WIB

JPO di Lokasi Strategis Kota Bandung Kinclong, yang di Pinggiran Dibiarkan Seadanya

Ketimpangan fasilitas dan pemeliharaan JPO terlihat jelas. Faktor strategis kawasan kerap menjadi penentu seberapa layak sebuah JPO dirawat dan diperhatikan.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 11:01 WIB

Lapangan Futsal: Ruang Kedua Anak Muda Kota Bandung

Lapangan futsal bukan sekadar tempat bermain bagi mahasiswa KPI UIN Bandung.
Lapangan Futsal Zone 73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Muhammad Adil Rafsanjani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 09:59 WIB

Kenapa Mahasiswa Bangga Begadang? Sains Membongkar Kebiasaannya

Menyoroti kebiasaan begadang mahasiswa dalam serta pengaruhnya dalam kacamata sains.
ilustrasi begadang (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 08:54 WIB

Bisakah Transportasi Publik Memutus Rantai Kemacetan?

Kemacetan Bandung makin parah, minimnya transportasi umum dianggap menjadi masalah utama.
Kemacetan yang terjadi di Buah Batu pada Rabu (03/12/25) (Foto: Aliffa Irniesya)
Ayo Netizen 07 Jan 2026, 20:11 WIB

Keberaniannya Nangkap Ular Bawa “Bocil Dika” Bertemu KDM di Lembur Pakuan

Aksi Dika kerap diabadikan oleh Kang Moel dan diunggah ke media sosialnya.
Dika saat bertemu KDM. (Sumber: Youtube | Foto: KANG DEDI MULYADI CHANNEL)
Ayo Netizen 07 Jan 2026, 19:47 WIB

Suara yang Disapu Banjir

Bertahan di tengah banjir, warga Aceh Tamiang berbagi ruang, makanan, dan harapan akan pemulihan yang lebih cepat.
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)
Ayo Biz 07 Jan 2026, 19:10 WIB

Dari Kopi ke Senyum Putih, Tren Pasta Gigi Pemutih di Era Millennials & Gen Z

Pasta gigi kini tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang menekankan estetika.
Pasta gigi kini tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang menekankan estetika. (Sumber: Freepik)