Di masa kolonial Belanda, Indonesia kehilangan hampir seluruh identitas bangsa. Dimulai dari wilayah-wilayah di Nusantara yang diraup sehingga perlahan menjadi Hindia Belanda, sistem pemerintahan yang diubah, bahasa, budaya, dan lain sebagainya yang direkonstruksi kembali oleh bangsa Belanda.
Berdasarkan penelitian mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta, semenjak masuknya koloni Barat ke Indonesia, mulai banyak kain bercorak lokal yang bercampur dengan corak Barat.
Selain itu, mulai bermunculan seniman-seniman yang melukis dengan gaya lukis Eropa, salah satunya adalah Raden Saleh. Tentunya, dampak dari kolonisasi bangsa Eropa di Hindia Belanda berpengaruh pada semua tatanan kebudayaan yang kemudian menjadi pondasi lahirnya kesenian modern.

Awal bercampurnya kebudayaan lokal dengan budaya Barat adalah dimulai dengan datangnya para pedagang dari Eropa ke perairan Indonesia. Mereka membawa beberapa cenderamata untuk diberikan kepada penguasa lokal, seperti lukisan, ragam perhiasan emas, kain sutra, porselen Cina, dan lain sebagainya.
Menurut buku Seni Rupa Masa Kolonial karya Setianingsih Purnomo (2014), para pedagang Belanda yang datang untuk mengkoloni, mereka membawa tukang gambar (draftmen) amatir untuk mendokumentasikan perjalanan mereka selama di Hindia Belanda, membuat peta geografis, seperti letak posisi gunung api, karang, teluk, benteng, flora dan fauna.

Namun, demi menjaga kepentingan Belanda di Timur, gambar-gambar awal perjalanan biasanya berakhir di lemari simpan administrator VOC di Belanda.
Menurut kumparan.com, perkembangan seni modern di Indonesia terjadi dalam beberapa periode, bermula dari periode Raden Saleh. Kontribusi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang membagikan hasil pendidikannya setelah belajar di Eropa. Ia dikenal sebagai pelopor seni lukis modern.

Lalu, periode Hindia Molek (yaitu sebutan dari S. Sudjojono kepada seniman-seniman Eropa dan sedikit seniman Indonesia). Pada waktu itu, para seniman berfokus pada penggambaran keindahan serta pesona alam Indonesia.
Terdapat juga pelukis dari luar, baik yang tinggal di Indonesia maupun yang hanya berkunjung, yang mengabadikan keindahan tanah air antara tahun 1920 dan 1938.

Selanjutnya, periode PERSAGI atau Persatuan Ahli Gambar Indonesia yang didirikan di Jakarta pada tahun 1938 di bawah kepemimpinan Agus Jaya Suminta. Organisasi ini bertujuan memberikan kesempatan bagi para seniman di Indonesia untuk menciptakan karya seni yang mencerminkan identitas Indonesia.
Kemudian, antara tahun 1942 dan 1945, seniman di Indonesia mendapat tempat di balai budaya Keimin Bunka Shidoso. Tahun 1945-1950, Affandi menata tempat untuk berkumpul seni lukis masyarakat Indonesia, yaitu Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun.

Di masa kini, seni mulai dihargai dan diapresiasi oleh masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi dunia, banyak seniman yang beralih menggunakan gadget untuk membuat karya seni. Baru-baru ini terjadi kasus unjuk rasa "17+8 Tuntutan Rakyat" yang merupakan penyaluran aspirasi dan desakan rakyat kepada pemerintah masa Presiden Prabowo melalui media sosial. Para ilustrator menyalurkan unjuk rasa mewakili emosi dan perasaan dalam bentuk gambar visual yang merupakan bagian dari seni modern.
Perkembangan kesenian modern di Indonesia dilalui dengan proses yang panjang. Dimulai dari para pedagang Barat yang menghadirkan cenderamata berupa lukisan, emas, kain sutra, porselen Cina, hingga tukang gambar untuk mendokumentasikan perjalanan dan membuat peta.

Hal ini tentu mempengaruhi gaya seni lokal di Indonesia hingga adanya pelukis Indonesia yang menghasilkan lukisan bergaya Indonesia, dan kelompok PERSAGI yang dibuat agar seniman asal Indonesia dapat meninggalkan gaya Barat untuk mencari jati diri seni kebudayaan Indonesia. Sampai saat ini, seni modern menjadi semakin populer.
Banyaknya masyarakat yang memanfaatkan teknologi sebagai media penyaluran karya seni dan pesan sosial. Secara keseluruhan, kesenian modern Indonesia saat ini adalah perpaduan antara kemajuan teknis global dan semangat perjuangan lokal yang tetap relevan dengan perkembangan zaman. (*)