“Malu, ih”, “aneh, mahal, dan tidak menarik”, “ide yang harus dipendam’’.
Komentar-komentar itu membanjiri salah satu konten TikTok @puka_id yang menampilkan scrunchie (ikat rambut) buatan para penyandang disabilitas yang bekerja di PUKA. Dessy Nur Anisa Rahma, founder PUKA, membaca komentar-komentar tersebut. Namun, alih-alih berhenti berkarya, ia justru melihat peluang. Benar saja, komentar-komentar pedas itu justru menjadi salah satu pendongkrak penjualan produk mereka, konten yang ramai dengan hate comment itu pun ikut ramai dibeli.
“Alhamdulillah kami ada bahan buat bikin kontennya. Kalau memang ke produknya ya silahkan. Tapi kalau ke anak-anaknya, awas aja, kita lawan itu mah,” kata Dessy.
PUKA pun membuat konten balasan, para teman-teman yang bekerja di PUKA membacakan komentar-komentar itu langsung di depan kamera, santai, tanpa amarah.
Produk yang tadinya jadi sasaran hate comment itu akhirnya menjadi best seller PUKA. Dessy pun menyadari, di balik ramainya komentar negatif, tidak sedikit yang justru menyukai produk mereka dan akhirnya membeli.
Menyulap Kain Goni Menjadi Bisnis Sosial
Jauh sebelum video-video TikTok itu ramai dikomentari, PUKA lahir dari sebuah hobi sederhana pada 2015. Saat itu, Dessy iseng membuat tas laptop dari karung goni yang dihiasi pom-pom, kebetulan memang pom-pom sedang tren. Ia membawanya ke kampus, dan respons teman-temannya mengejutkan, mereka menyukainya.
“Saya ngeliat kayaknya ada potensi nih di sini,’’ ujar Dessy.
Berawal dari satu tas, lahirlah pouch, tempat pensil, hingga sling bag, semuanya masih ia kerjakan sendiri. Akan tetapi, seiring permintaan pasar yang meningkat, mengharuskan Dessy mulai mencari mitra produksi. Setelah menganalisis berbagai opsi, pilihannya jatuh pada teman-teman berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa. Di sana, ia menemukan bahwa para siswa sudah dilatih keterampilan tangan lewat mata pelajaran vokasional, mulai dari memasak, merias, hingga crafting.
“Kayaknya memang harus terus-terusan dicoba deh agar mereka bisa lebih terbiasa untuk menyulam, untuk membuat makrame dan teknik-teknik crafting lainnya,’’ kata Dessy.
Upaya tersebut akhirnya membawa hasil. Pada 2016, PUKA resmi menjadi bisnis sosial yang fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Nama PUKA sendiri diambil dari bahasa Sunda, Pulas Katumbiri, yang berarti goresan pelangi. Nama itu diibaratkan seperti pelangi yang muncul setelah hujan, PUKA hadir sebagai warna baru bagi mereka yang selama ini kesulitan menemukan tempatnya di dunia kerja.
Goresan Pelangi di Jalan Jati
Kini, di sebuah rumah di Jalan Jati No. 35, Paledang, Kec. Lengkong, Kota Bandung, sebanyak 15 penyandang disabilitas bekerja aktif di PUKA. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari disabilitas tuli, cerebral palsy, grahita, down syndrome, autism, hingga daksa. Tidak semuanya hadir setiap hari, sebagian bekerja dari rumah, terutama penyandang disabilitas daksa, karena kesulitan mengakses lokasi produksi yang berada di lantai dua. Meski begitu, keterbatasan itu tidak menghalangi mereka untuk tetap berkarya. Bahan baku dikirim ke rumah mereka, lalu hasil kerjanya dikirim balik ke rumah produksi.

Terlihat di ruang produksi, suasana kerja terasa hangat dan akrab. Mereka yang bekerja di lokasi saling membantu satu sama lain. Komunikasi tidak selalu lewat kata-kata, gestur, isyarat, dan kesabaran menjadi bahasa yang mereka pahami bersama. Di sela waktu kerja, sesekali terdengar gelak tawa kecil, menandakan bahwa bekerja di PUKA bukan sekadar soal menghasilkan produk, tapi juga soal merasa diterima dan dibutuhkan.
Salah satu pekerja yang hadir di rumah produksi adalah Mas Rafi, 27 tahun, yang sudah dua tahun bekerja di sini. Mas Rafi merupakan penyandang disabilitas autism.
“Seneng banget,’’ ujarnya penuh semangat, ketika ditanya bagaimana rasanya bekerja di PUKA.
Mas Rafi juga menceritakan berbagai hal, salah satunya momen ketika dirinya diwawancarai media. Ia senang karena karyanya bisa tampil dan dikenal lebih banyak orang.

Momen seperti itu bukan hanya berkesan untuk Mas Rafi. Bagi beberapa pekerja lain, setiap kali wajah mereka muncul dalam konten media sosial PUKA, kabar itu langsung disebarkan ke keluarga masing-masing, sebuah kebanggaan besar bagi mereka.
“Mereka suka mantengin konten PUKA,’’ kata Dessy.
Sementara Nana, salah satu pekerja yang merupakan penyandang disabilitas down syndrome, punya ukuran kebahagiaannya sendiri di PUKA. Ditanya soal momen paling berkesan, jawabannya tanpa ragu yaitu “Makan.’’
Tawa langsung pecah di ruangan. Di PUKA sendiri setiap harinya memang selalu ada makan bersama, ritual kecil yang rupanya menjadi bagian terpenting dari hari-hari mereka.
Tak hanya soal produksi, PUKA juga hadir sebagai ruang untuk bertumbuh dan bersosialisasi. Dessy menyadari bahwa para pekerjanya butuh lebih dari sekadar rutinitas kerja, mereka juga perlu ruang untuk bernapas dan menikmati hari bersama. Maka sesekali, PUKA mengadakan kegiatan outing bersama, memberi kesempatan bagi para pekerja untuk keluar sejenak, menyegarkan pikiran, dan sekadar bersenang-senang di luar jam kerja.
Inklusivitas yang Tidak Mudah
Semua kehangatan itu tidak datang tanpa tantangan. Tren fashion bergerak cepat, membuat PUKA harus menghadirkan setidaknya empat desain baru per tahun agar selalu mengikuti perkembangan zaman. Dari sisi internal, menyesuaikan target produksi dengan kemampuan masing-masing pekerja bukan perkara mudah.
“Kita yang menyesuaikan kemampuannya mereka. Kalau misalnya ingin sesuai dengan target kuantiti, ya berarti kita harus hire lebih banyak lagi teman disabilitas,’’ kata Dessy.
Realita di luar PUKA juga tak kalah berat. Salah satu pekerja, pernah mencoba magang di sebuah restoran. Ia hanya bertahan dua minggu saja, karena kurang ramah untuk disabilitas. Akhirnya, ia kembali ke PUKA.
''Susah banget cari pekerjaan yang memang ramah disabilitas,’’ ujar Dessy.
Pelangi di Tengah Kebisingan
Kisah PUKA mengajarkan banyak hal. Salah satunya, mereka yang datang dengan komentar negatif, tak disangka dapat membantu menghidupkan konten yang kemudian menjadi ramai dan memperluas cerita ini ke lebih banyak orang. Produk yang semula diragukan kini menjadi best seller, sebuah pembalikan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Lebih dari sekadar bisnis kerajinan, PUKA adalah salah satu dari sedikit ruang yang benar-benar terbuka bagi para penyandang disabilitas untuk bekerja secara bermartabat. Tangan-tangan yang selama ini diragukan kini membuktikan bahwa karya mereka layak untuk dibanggakan. Keterampilan yang mereka miliki bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal kepercayaan diri yang tumbuh perlahan namun pasti dan semangat itulah yang tercermin dalam tagline mereka:
From Disability to Artability
PUKA adalah bukti nyata bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan. Ia bisa diwujudkan dan dijalankan setiap hari, di sebuah rumah sederhana di Jalan Jati, Kota Bandung. Di sana, tangan-tangan yang pernah diragukan terus bergerak, berkarya, dan membuktikan satu hal bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar membatasi hanya butuh ruang yang tepat untuk bertumbuh. (*)