Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

5 menit baca
Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha
Ditulis oleh Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha diterbitkan
Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)

“Malu, ih”, “aneh, mahal, dan tidak menarik”, “ide yang harus dipendam’’.

Komentar-komentar itu membanjiri salah satu konten TikTok @puka_id yang menampilkan scrunchie (ikat rambut) buatan para penyandang disabilitas yang bekerja di PUKA. Dessy Nur Anisa Rahma, founder PUKA, membaca komentar-komentar tersebut. Namun, alih-alih berhenti berkarya, ia justru melihat peluang. Benar saja, komentar-komentar pedas itu justru menjadi salah satu pendongkrak penjualan produk mereka, konten yang ramai dengan hate comment itu pun ikut ramai dibeli.

“Alhamdulillah kami ada bahan buat bikin kontennya. Kalau memang ke produknya ya silahkan. Tapi kalau ke anak-anaknya, awas aja, kita lawan itu mah,” kata Dessy.

PUKA pun membuat konten balasan, para teman-teman yang bekerja di PUKA membacakan komentar-komentar itu langsung di depan kamera, santai, tanpa amarah.

Produk yang tadinya jadi sasaran hate comment itu akhirnya menjadi best seller PUKA. Dessy pun menyadari, di balik ramainya komentar negatif, tidak sedikit yang justru menyukai produk mereka dan akhirnya membeli.

Menyulap Kain Goni Menjadi Bisnis Sosial

Jauh sebelum video-video TikTok itu ramai dikomentari, PUKA lahir dari sebuah hobi sederhana pada 2015. Saat itu, Dessy iseng membuat tas laptop dari karung goni yang dihiasi pom-pom, kebetulan memang pom-pom sedang tren. Ia membawanya ke kampus, dan respons teman-temannya mengejutkan, mereka menyukainya.

“Saya ngeliat kayaknya ada potensi nih di sini,’’ ujar Dessy.

Berawal dari satu tas, lahirlah pouch, tempat pensil, hingga sling bag, semuanya masih ia kerjakan sendiri. Akan tetapi, seiring permintaan pasar yang meningkat, mengharuskan Dessy mulai mencari mitra produksi. Setelah menganalisis berbagai opsi, pilihannya jatuh pada teman-teman berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa. Di sana, ia menemukan bahwa para siswa sudah dilatih keterampilan tangan lewat mata pelajaran vokasional, mulai dari memasak, merias, hingga crafting.

“Kayaknya memang harus terus-terusan dicoba deh agar mereka bisa lebih terbiasa untuk menyulam, untuk membuat makrame dan teknik-teknik crafting lainnya,’’ kata Dessy.

Upaya tersebut akhirnya membawa hasil. Pada 2016, PUKA resmi menjadi bisnis sosial yang fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Nama PUKA sendiri diambil dari bahasa Sunda, Pulas Katumbiri, yang berarti goresan pelangi. Nama itu diibaratkan seperti pelangi yang muncul setelah hujan, PUKA hadir sebagai warna baru bagi mereka yang selama ini kesulitan menemukan tempatnya di dunia kerja.

Goresan Pelangi di Jalan Jati

Kini, di sebuah rumah di Jalan Jati No. 35, Paledang, Kec. Lengkong, Kota Bandung, sebanyak 15 penyandang disabilitas bekerja aktif di PUKA. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari disabilitas tuli, cerebral palsy, grahita, down syndrome, autism, hingga daksa. Tidak semuanya hadir setiap hari, sebagian bekerja dari rumah, terutama penyandang disabilitas daksa, karena kesulitan mengakses lokasi produksi yang berada di lantai dua. Meski begitu, keterbatasan itu tidak menghalangi mereka untuk tetap berkarya. Bahan baku dikirim ke rumah mereka, lalu hasil kerjanya dikirim balik ke rumah produksi.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)

Terlihat di ruang produksi, suasana kerja terasa hangat dan akrab. Mereka yang bekerja di lokasi saling membantu satu sama lain. Komunikasi tidak selalu lewat kata-kata, gestur, isyarat, dan kesabaran menjadi bahasa yang mereka pahami bersama. Di sela waktu kerja, sesekali terdengar gelak tawa kecil, menandakan bahwa bekerja di PUKA bukan sekadar soal menghasilkan produk, tapi juga soal merasa diterima dan dibutuhkan.

Salah satu pekerja yang hadir di rumah produksi adalah Mas Rafi, 27 tahun, yang sudah dua tahun bekerja di sini. Mas Rafi merupakan penyandang disabilitas autism.

“Seneng banget,’’ ujarnya penuh semangat, ketika ditanya bagaimana rasanya bekerja di PUKA.

Mas Rafi juga menceritakan berbagai hal, salah satunya momen ketika dirinya diwawancarai media. Ia senang karena karyanya bisa tampil dan dikenal lebih banyak orang.

Rafi, salah satu pekerja PUKA, saat diwawancarai di ruang produksi (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Rafi, salah satu pekerja PUKA, saat diwawancarai di ruang produksi (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)

Momen seperti itu bukan hanya berkesan untuk Mas Rafi. Bagi beberapa pekerja lain, setiap kali wajah mereka muncul dalam konten media sosial PUKA, kabar itu langsung disebarkan ke keluarga masing-masing, sebuah kebanggaan besar bagi mereka.

“Mereka suka mantengin konten PUKA,’’ kata Dessy.

Sementara Nana, salah satu pekerja yang merupakan penyandang disabilitas down syndrome, punya ukuran kebahagiaannya sendiri di PUKA. Ditanya soal momen paling berkesan, jawabannya tanpa ragu yaitu “Makan.’’

Tawa langsung pecah di ruangan. Di PUKA sendiri setiap harinya memang selalu ada makan bersama, ritual kecil yang rupanya menjadi bagian terpenting dari hari-hari mereka.

Tak hanya soal produksi, PUKA juga hadir sebagai ruang untuk bertumbuh dan bersosialisasi. Dessy menyadari bahwa para pekerjanya butuh lebih dari sekadar rutinitas kerja, mereka juga perlu ruang untuk bernapas dan menikmati hari bersama. Maka sesekali, PUKA mengadakan kegiatan outing bersama, memberi kesempatan bagi para pekerja untuk keluar sejenak, menyegarkan pikiran, dan sekadar bersenang-senang di luar jam kerja.

Inklusivitas yang Tidak Mudah

Semua kehangatan itu tidak datang tanpa tantangan. Tren fashion bergerak cepat, membuat PUKA harus menghadirkan setidaknya empat desain baru per tahun agar selalu mengikuti perkembangan zaman. Dari sisi internal, menyesuaikan target produksi dengan kemampuan masing-masing pekerja bukan perkara mudah.

“Kita yang menyesuaikan kemampuannya mereka. Kalau misalnya ingin sesuai dengan target kuantiti, ya berarti kita harus hire lebih banyak lagi teman disabilitas,’’ kata Dessy.

Realita di luar PUKA juga tak kalah berat. Salah satu pekerja, pernah mencoba magang di sebuah restoran. Ia hanya bertahan dua minggu saja, karena kurang ramah untuk disabilitas. Akhirnya, ia kembali ke PUKA.

''Susah banget cari pekerjaan yang memang ramah disabilitas,’’ ujar Dessy.

Pelangi di Tengah Kebisingan

Kisah PUKA mengajarkan banyak hal. Salah satunya, mereka yang datang dengan komentar negatif, tak disangka dapat membantu menghidupkan konten yang kemudian menjadi ramai dan memperluas cerita ini ke lebih banyak orang. Produk yang semula diragukan kini menjadi best seller, sebuah pembalikan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Lebih dari sekadar bisnis kerajinan, PUKA adalah salah satu dari sedikit ruang yang benar-benar terbuka bagi para penyandang disabilitas untuk bekerja secara bermartabat. Tangan-tangan yang selama ini diragukan kini membuktikan bahwa karya mereka layak untuk dibanggakan. Keterampilan yang mereka miliki bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal kepercayaan diri yang tumbuh perlahan namun pasti dan semangat itulah yang tercermin dalam tagline mereka:

From Disability to Artability

PUKA adalah bukti nyata bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan. Ia bisa diwujudkan dan dijalankan setiap hari, di sebuah rumah sederhana di Jalan Jati, Kota Bandung. Di sana, tangan-tangan yang pernah diragukan terus bergerak, berkarya, dan membuktikan satu hal bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar membatasi hanya butuh ruang yang tepat untuk bertumbuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha
Halo, saya adalah mahasiswa aktif Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)