Ketika Sempadan Sungai Tergusur, Bandung Kehilangan Nilai Luhur

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Salah satu aliran sungai di Kota Bandung yang tidak punya sempadan dan ekosistemnya rusak akibat pencemaran berat. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Salah satu aliran sungai di Kota Bandung yang tidak punya sempadan dan ekosistemnya rusak akibat pencemaran berat. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Bencana kekeringan mulai mencekam. Desa dan kota mengalami kekurangan air untuk sanitasi maupun irigasi pertanian.  Kondisi musim kemarau yang seperti itu membuat orang melihat ke sungai.

Namun sungai sudah banyak yang rusak, debitnya sangat minim bahkan mengalami pencemaran berat. Lebih tragis lagi sempadan sungai tergusur oleh bangunan. Sehingga ekosistem sungai kian rusak parah. Seperti yang terlihat  pada 15 sungai yang mengalir di Kota Bandung.

Ketika sempadan sungai yang melewati Bandung tergusur oleh bangunan, maka kota ini kehilangan nilai luhur yang diajarkan oleh nenek moyang.

Sempadan sungai adalah kawasan di kiri dan kanan palung sungai yang berfungsi sebagai ruang penyangga untuk melindungi kelestarian fungsi sungai, mencegah erosi, dan mengamankan aliran air.

Wilayah ini bertindak sebagai batas perlindungan alami antara ekosistem perairan dan daratan. Fungsi utama sempadan sungai adalah menjaga aliran air agar tidak meluap atau menyebabkan banjir. Menahan erosi dan longsor di pinggir sungai. Menyaring kotoran atau bahan pencemar sebelum masuk ke air. Menjadi tempat hidup bagi tumbuhan dan hewan.

Sebenarnya ada peraturan dan batasan yang tidak boleh dipakai untuk membangun rumah atau gedung permanen. Jarak batas aman (garis sempadan) berbeda-beda, tergantung ukuran sungai dan apakah berada di dalam atau di luar kota. Pemanfaatan hanya diizinkan secara terbatas untuk fasilitas umum seperti jembatan, pipa air, atau kabel listrik.

Kearifan tentang Air

Bandung lestari alamnya jika segenap warga kota terus berusaha memuliakan air dan memahami siklus hidrologi.

Kota Bandung perlu berpikir keras untuk menghadapi kondisi curah hujan dengan berbagai intensitas lalu ditabung untuk kehidupan yang berkelanjutan. Banyak cara kota Bandung menabung hujan, seperti adanya danau, situ, embung, kolam retensi hingga bendungan.

Kota Bandung mestinya sudah memiliki solusi yang bagus untuk mitigasi bencana hidrometeorologi. Baik bencana banjir maupun kekeringan yang berakibat krisis air.

Jangan sampai kota Bandung kehilangan filosofi, ilmu dan kearifan tentang air. Filosofi pemuliaan air seharusnya menjadi visi kota yang komprehensif. Sebagai cara pandang positif segala sesuatu tentang air yang dibakukan dalam kaidah ilmu hidrologi. Perlu rekayasa sosial agar masyarakat tidak semakin cenderung sewenang wenang terhadap air dan siklusnya.

Budaya pemuliaan air dan ilmu pengetahuan terkait sungai harus dihidupkan lagi lewat kurikulum pendidikan maupun swadaya masyarakat. Agar kepedulian dan kecintaan masyarakat akan sungai bisa tumbuh dan sekaligus menjadi solusi untuk mengatasi masalah pencemaran sungai dan kasus-kasus perusakan lingkungan.

Pemahaman terhadap pemuliaan dan pemaknaan air memiliki akar yang kuat dalam masyarakat Sunda.  Masyarakat memiliki warisan budaya kearifan lokal terkait air. Aliran sungai yang lestari tergambar dalam bentuk seni budaya berupa irama musik degung.  Lagu-lagu tradisional degung menggambarkan lingkungan budaya perairan sungai.

 Bagi masyarakat Sunda, mata air dalam kawasan tertentu disebut mata air Kabuyutan yang dikeramatkan.

Kondisi hidrologi wilayah Kota Bandung dilewati oleh 15 sungai sepanjang 265,05 km, yaitu Sungai Cikapundung, Sungai Cipamokolan, Sungai Cidurian, Sungai Cicadas, Sungai Cinambo, Sungai Ciwastra, Sungai Citepus, Sungai   Cibedug, Sungai Curug Dog-dog, Sungai Cibaduyut, Sungai Cikahiyangan,  Sungai  Cibuntu,  Sungai  Cigondewah,  Sungai Cibeureum, dan Sungai Cinanjur. Sungai-sungai tersebut selain dipergunakan sebagai saluran induk dalam pengaliran air hujan, juga oleh sebagian kecil penduduk masih dipergunakan untuk keperluan MCK.

Kota Bandung juga termasuk dalam wilayah Daerah Pengaliran Sungai (DPS) Citarum bagian hulu. Secara Nasional, DPS ini sangat penting karena merupakan pemasok utama waduk Saguling dan Cirata yang digunakan sebagai pembangkit  tenaga listrik, pertanian, dan lainnya.

Saat  ini  kondisi  sebagian  besar  sungai  di  Kota  Bandung  telah mengalami pencemaran. Sungai   Cikapundung merupakan salah satu sungai vital yang mengalir membelah Kota Bandung . Namun sungai ini  telah banyak kehilangan fungsi ekologisnya.

Wujudkan Ketahanan Air  

Yang paling relevan bagi bangsa Indonesia adalah tentang ketahanan air. Ketahanan sumber daya air sangat menentukan ketahanan pangan suatu bangsa.

Setetes air  memiliki arti penting ketika populasi dunia meningkat pesat dan kekurangan air menjadi masalah yang sangat serius. Pembangunan infrastruktur pengairan oleh bangsa-bangsa di dunia sungguh luar biasa.

Jika kita  melihat visi pengairan bangsa Tiongkok yang luar biasa, terlihat visi pengairan Indonesia ternyata masih kerdil. Kita masih terbelakang dalam pembangunan infrastruktur pengairan. Bahkan sistem irigasi saat era kolonial Belanda dulu beberapa hal tentang pengairan ternyata lebih baik.

Indonesia tergolong masih lemah dalam pembangun infrastruktur pengairan. Padahal. potensi sumber daya air kita  tergolong lima besar dunia. Ironisnya sebagai bangsa mengaku sebagai negara agraris justru kurang visioner dalam membangun infrastruktur pengairan. Baik untuk sanitasi rumah tangga, peternakan, perikanan, industri maupun untuk pertanian. Kini perkembangan dunia semakin menuju kepada sistem irigasi pertanian yang menyalurkan air secara langsung ke akar tumbuhan dengan jumlah yang pas.  

Penyelenggara pemerintah dan masyarakat semakin menyadari betapa berharganya sumber daya air dan bagaimana penggunaan serta pengelolaan air secara efisien. Teknologi irigasi yang didukung oleh bendungan merupakan solusi untuk menghadapi kekeringan dan cara yang tepat untuk meningkatkan produksi pangan nasional.

Pembangunan bendungan merupakan upayanya untuk memaksimalkan tabungan air hujan. Selain bendungan, embung  penampung air juga harus banyak dibangun dengan peruntukan utama untuk mengairi lahan pertanian. Pembangunan bendungan tidak hanya ditujukan untuk keperluan penampungan air saja namun bersifat multifungsi. Yakni untuk pembangkit listrik, pengendalian banjir, perikanan, dan rekreasi.

Betapa pentingnya pendayagunaan tetes-tetes air untuk menumbuhkan tanaman. Patut kita renungkan arti setetes air yang luar biasa kegunaannya. Kisah itu berawal di tahun 1930-an, di tengah gurun Negev.  

Seorang insinyur pengairan bernama Simcha Blass menemukan fenomena penting. Ia memperhatikan bahwa satu pohon di tanahnya tampaknya bertumbuh lebih cepat daripada tanaman di sekitarnya.

Ternyata ada pipa air yang bocor dekat pohon tersebut sehingga mengairi tanah di sekitarnya, setetes demi setetes dalam waktu yang teratur. Lalu Blass mulai berinovasi dan akhirnya berhasil menciptakan sistem irigasi tetesan yang terkenal hingga kini. Sistem ini dikembangkan di gurun pasir Tiongkok sehingga negeri ini mampu memproduksi pangan untuk rakyat yang jumlahnya terbesar di dunia. Bahkan kelebihan produknya bisa diekspor.

Masalah koordinasi pengelolaan air selama ini terjadi tumpang tindih dan respon yang lambat terkait masalah distribusi dan kebutuhan air untuk pertanian, industri dan rumah tangga. Hingga kini pengelolaan air belum efektif. Padahal laju peningkatan kebutuhan air mencapai 12 persen per tahun.

Laju peningkatan kebutuhan air irigasi mencapai 12 persen per tahun. Rendahnya perluasan sawah irigasi di Indonesia antara lain disebabkan oleh kecilnya anggaran untuk membangun infrastruktur irigasi dan derasnya konversi lahan sawah beririgasi sejak dua dasawarsa terakhir, khususnya di pulau Jawa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)