Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

6 menit baca
Rizal ahmad
Ditulis oleh Rizal ahmad diterbitkan
Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Drama Teach You a Lesson menjadi cermin persoalan pendidikan, mulai dari perundungan, tekanan sosial, ketidakadilan, hingga relasi guru dan murid yang kompleks.

  • Pendidikan berisiko terjebak pada obsesi terhadap prestasi, ketika nilai, ranking, dan pencapaian akademik menjadi ukuran utama keberhasilan serta harga diri anak.

  • Pendidikan seharusnya memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh, bukan sekadar memenangkan kompetisi, tetapi membantu mereka memahami diri, orang lain, dan lingkungan sosialnya.

Para penggemar K-Drama mungkin taka asing mendengar serial baru yaitu Teach You a Lesson, series yang bertemakan aksi drama sekolah ini diproduksi pada tahun 2026. Diangkat dari Webtoon populer berjudul Get Schooled yang mengisahkan inspektur khusus badan perlindungan hak-hak guru yang dikirim ke sekolah-sekolah untuk menindak keras pelaku perundungan. Dibintangi oleh Kim Mu-yeol sebagai inspektur Na Hwa-ji series ini memberikan inspirasi sekaligus realita pendidikan yang sedang dialami di Korea khususnya perundungan yang terjadi di sekolah.

Ada kalanya sebuah drama tidak hanya hadir untuk menghibur, tetapi juga menjadi cermin. Ia membuat kita tertawa, marah, kecewa, bahkan bertanya: “Jangan-jangan, apa yang kita lihat di layar itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita?”. Serial drama Korea Teach You a Lesson menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai cerita tentang sekolah, guru, dan peserta didik, melainkan sebagai pintu masuk untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih luas. Di balik ruang kelas yang tampak sederhana, terdapat persoalan tentang kekuasaan, ketidakadilan, tekanan sosial, relasi guru dan murid, serta bagaimana sistem pendidikan kadang lebih sibuk mengejar hasil daripada memahami manusia yang sedang tumbuh di dalamnya.

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan menggugah penonton untuk sadar bahwa sebenarnya pendidikan dalam skala global mengalami hal yang serupa. Secara global, data lembaga PBB seperti UNESCO dan UNICEF menunjukkan bahwa 1 dari 3 siswa (atau sekitar 32% hingga 33%) berusia 13–15 tahun mengalami perundungan (bullying) di sekolah setidaknya sekali dalam sebulan terakhir. Fenomena ini merupakan masalah sistemik global yang berdampak serius pada kesehatan mental dan capaian akademik anak-anak. Statistik Utama dan Prevalensi Global memaparkan bahwa jumlah total terdampak: Lebih dari 246 juta anak dan remaja di seluruh dunia mengalami berbagai bentuk kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah setiap tahunnya. Kekerasan Fisik: Hampir 1 dari 3 siswa global dilaporkan pernah diserang secara fisik oleh sesama siswa di sekolah minimal sekali dalam setahun. Perundungan Siber (Cyberbullying): Tren digital memicu peningkatan tajam, di mana kini 1 dari 10 anak (10%) di seluruh dunia menjadi korban cyberbullying. Lalu berdasarkan gender dan kelompok rentan, analisis data dari laporan komparatif UNESCO mengidentifikasi perbedaan pola perundungan: Siswa Laki-Laki: Lebih rentan menjadi korban sekaligus pelaku perundungan fisik serta ancaman kekerasan. Siswa Perempuan: Lebih sering mengalami perundungan psikologis (seperti pengucilan sosial dan gosip) serta perundungan siber berbasis gender. Status Sosio-Ekonomi: Siswa yang berasal dari keluarga miskin atau berstatus sebagai imigran di negara-negara maju memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk dirundung.

Selama ini kita sering membayangkan sekolah sebagai tempat yang ideal: guru mengajar, murid belajar, kemudian semua berjalan sebagaimana mestinya. Kenyataannya, sekolah adalah ruang sosial yang jauh lebih kompleks. Di dalamnya terdapat berbagai kepentingan. Ada guru dengan tuntutan administrasi dan target pembelajaran. Ada peserta didik dengan tekanan akademik, persoalan keluarga, pertemanan, dan pencarian identitas. Ada orang tua yang berharap anaknya memperoleh nilai terbaik. Ada pula institusi yang dituntut menghasilkan prestasi. Akhirnya, sekolah berpotensi berubah menjadi arena kompetisi. Anak tidak hanya belajar untuk memahami sesuatu, tetapi belajar untuk mendapatkan angka. Mereka tidak hanya berusaha menjadi pribadi yang berkembang, tetapi juga berusaha menjadi “yang terbaik”. Ranking, nilai ujian, prestasi lomba, hingga masuk sekolah atau perguruan tinggi tertentu sering menjadi ukuran keberhasilan. Pertanyaannya: apakah pendidikan memang hanya tentang siapa yang memperoleh nilai paling tinggi? Jika jawabannya iya, kita mungkin sedang lupa bahwa manusia bukanlah angka di dalam rapor.

Drama pendidikan sering memperlihatkan sosok guru yang berada dalam posisi dilematis. Guru dituntut menjadi pendidik, tetapi pada saat yang sama harus memenuhi berbagai target institusi. Realitasnya pun tidak jauh berbeda, guru sering berada di antara idealisme pendidikan dan tuntutan administratif. Guru ingin mengenal peserta didiknya lebih dekat, tetapi waktu tersita oleh berbagai pekerjaan. Guru ingin memberikan pembelajaran yang bermakna, tetapi dihadapkan pada target kurikulum. Guru ingin memperhatikan kondisi psikologis anak, tetapi jumlah peserta didik dalam satu kelas membuat perhatian individual menjadi tidak mudah. Pada akhirnya muncul paradoks, guru diminta mendidik manusia tetapi sering dinilai berdasarkan angka dan administrasi.

Padahal, keberhasilan seorang guru tidak selalu dapat dilihat dari nilai ujian. Bisa jadi seorang siswa tidak memperoleh nilai tertinggi, tetapi setelah bertahun-tahun ia mengingat gurunya karena pernah membuatnya percaya bahwa dirinya berharga. Ada pula siswa yang mungkin tidak pernah menjadi juara kelas, tetapi berkat seorang guru ia menemukan keberanian untuk berbicara, membaca, berkarya, atau sekadar kembali percaya kepada dirinya sendiri. Sayangnya, keberhasilan semacam itu sulit dimasukkan ke dalam tabel penilaian.

Salah satu persoalan pendidikan modern adalah kecenderungan memperlakukan anak sebagai proyek prestasi. Sejak kecil, sebagian anak telah diperkenalkan pada kompetisi. Harus mendapat nilai tinggi, harus berprestasi, harus masuk sekolah favorit, harus diterima di perguruan tinggi ternama, dan kelak harus memperoleh pekerjaan yang dianggap sukses. Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah, masalahnya muncul ketika prestasi menjadi satu-satunya ukuran harga diri seorang anak. Ketika anak gagal mendapatkan nilai yang diharapkan, ia merasa dirinya gagal sebagai manusia. Ketika tidak masuk sekolah favorit, ia merasa masa depannya telah berakhir. Ketika melihat temannya lebih berprestasi, ia merasa dirinya tertinggal. Padahal, setiap anak tumbuh dengan kecepatan dan jalannya masing-masing.

Dalam perspektif sosiologi, sekolah tidak berdiri di ruang hampa. Sekolah merupakan bagian dari struktur sosial. Pendidikan memang dapat menjadi sarana mobilitas sosial. Anak dari keluarga sederhana dapat memperoleh pendidikan yang kemudian membuka kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya. Namun, pendidikan juga dapat mereproduksi ketimpangan apabila akses dan kualitas pendidikan tidak merata. Anak-anak dari keluarga yang memiliki modal ekonomi, sosial, dan budaya lebih kuat sering mempunyai berbagai keuntungan sejak awal. Mereka memiliki buku, perangkat digital, lingkungan belajar yang mendukung, akses bimbingan belajar, serta orang tua yang memiliki waktu dan pengetahuan untuk mendampingi. Sementara itu, anak lain mungkin memiliki kemampuan yang sama, tetapi tidak mendapatkan kesempatan yang sama.

Pada akhirnya, Teach You a Lesson dapat kita baca sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang guru yang mengajar dan murid yang menerima pelajaran. Pendidikan adalah relasi manusia, guru belajar dari murid. Murid belajar dari guru. Sekolah belajar dari masyarakat dan masyarakat seharusnya terus belajar dari sekolah. Barangkali sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan hanya: “Berapa nilai anakmu?”, tetapi: “Apa yang sudah dipelajari anakmu tentang kehidupan?”, bukan hanya: “Sekolah mana yang paling unggul?”, tetapi: “Sekolah mana yang mampu membuat anak merasa aman untuk tumbuh?”, dan bukan hanya: “Guru mana yang paling berhasil meningkatkan nilai siswa?”, tetapi juga: “Guru mana yang berhasil membuat muridnya percaya bahwa dirinya mampu menjadi manusia yang lebih baik?”.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mencetak manusia yang mampu memenangkan kompetisi. Pendidikan seharusnya membantu manusia memahami dirinya, memahami orang lain, dan memahami masyarakat tempat ia hidup. Jika drama Korea mampu membuat kita bercermin pada persoalan pendidikan mereka, mungkin sudah waktunya kita menggunakan cermin yang sama untuk melihat pendidikan kita sendiri. Sebab barangkali persoalan terbesar pendidikan Indonesia bukan karena kita tidak memiliki orang-orang pintar. Persoalannya adalah apakah sistem pendidikan kita benar-benar memberi ruang bagi setiap anak untuk tumbuh menjadi manusia?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rizal ahmad
Tentang Rizal ahmad
Seorang pendidik yang ingin berkontribusi lewat tulisan yang bertemakan sosial politik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 16:40

Romantisme Membaca Majalah Monitor : Ketika TVRI Menjadi Jendela Hiburan Keluarga

Membuka kembali Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 seperti membuka jendela kecil menuju masa lalu.

Majalah Monitor edisi perdana, Agustus 1980, menjadi salah satu bacaan panduan bagi penonton dan pemirsa TVRI untuk mengetahui beragam acara televisi yang ditayangkan pada masa itu. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 15:14

Hari Lahir Kemenlu dan Bandung Gudangnya Diplomat Ulung

Banyaknya diplomat asal Kota Bandung yang berprestasi memberikan citra positif bangsa di mata dunia.

Ilustrasi Gedung Pancasila terkait dengan hari jadi Kementerian Luar Negeri, 19 Agustus (Sumber: galeri kemlu.go.id)
Wisata & Kuliner 20 Agu 2026, 13:22

Panduan Wisata Kebun Raya Kuningan: Taman Batu, Bunga Kuning, dan Udara Ciremai

Panduan lengkap Kebun Raya Kuningan, mulai dari harga tiket, jam buka, Rock Garden, Taman Kuning, hingga tips berkunjung ke kaki Gunung Ciremai.

Kebun Raya Kuningan.
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 13:01

DAMRI Leuwi Panjang—Cibiru: Antara Antusiasme Penumpang dan Berbagi Jatah dengan Angkot

Membicarakan transportasi umum di Bandung memang cukup rumit—baik pembagian rute maupun keterbatasan trayek yang bisa menjangkau setiap sudut Kota Bandung.

Antusiasme Pengguna DAMRI tidak sebanding dengan armada dan waktu yang disediakan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 11:14

Wujudkan Furnitur Fungsional yang Ergonomik untuk Mall di Bandung

Ada kecenderungan Mall yang kini banyak dikunjungi oleh masyarakat karena memiliki furnitur fungsional dan taman yang luas.

Kolase foto penulis disekitar furnitur fungsional Mall Sumaba (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Beranda 20 Agu 2026, 09:44

Menelusuri Jejak Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Arcamanik, Lapang Golf sampai Buruan Sae

Data BPS 2019–2024 mengungkap luas ruang terbuka hijau tiap kelurahan di Kecamatan Arcamanik, dari taman raksasa Sukamiskin hingga kebun warga Buruan Sae.

Pengendara melintasi jalan Pacuan Kuda Arcamanik pada Rabu, 19 Agustus 2026. Tampak jalan tersebut teduh karena masih ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)