Membaca Kemana Konflik China-AS, Setelah Keseimbangan Tercapai

5 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Banyak pihak memperkirakan China akan sederajat pada 2030 dan tiga perkembangan di atas menunjukkan perkiraan itu masuk akal. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Banyak pihak memperkirakan China akan sederajat pada 2030 dan tiga perkembangan di atas menunjukkan perkiraan itu masuk akal. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)

Ditulis oleh Sjarifuddin Hamid

AYOBANDUNG.ID – Ada tiga perkembangan yang menunjukkan China makin kokoh dalam persaingan dengan Amerika Serikat.

(1) Berhasil mendorong  pemerintahan Presiden Donald Trump untuk berunding membahas masalah tarif perdagangan di Jenewa, 11-12 Mei 2025.

(2) Presiden Xi Jinping tampil bersama Presiden Vladimir Putin, puluhan kepala pemerintahan, kepala negara serta para pejabat tinggi dari seluruh dunia untuk memperingati ulang tahun  ke 80  kemenangan dalam Patriotik Besar Uni Soviet di Moskow pada 9 Mei 2025. Mereka yang hadir umumnya mempunyai kerjasama ekonomi, perdagangan dan lain-lain dengan China dan Rusia. 

(3) Pesawat tempur J-10 Chengdu dan peluru kendali udara ke udara  buatan China berhasil menjatuhkan tiga pesawat Rafale buatan Prancis, satu Mig-29 dan sebuah SU-30 MKI dalam pertempuran udara Pakistan-India di atas Kashmir dan di berbagai lokasi lainnya,  pada 9-10 Mei 2025. Sebaliknya  satu AWACS Pakistan yang berada dalam hangar di  Bandara Bholari dihancurkan empat rudal Brahmos India.

Disebutkan keberhasilan Pakistan itu disebabkan karena kemampuannya mengkoordinasikan peran satelit, pesawat yang memiliki sistem pengendalian dini dan pengendalian udara (AWACS), markas  komando darat dan setidaknya 40 J-10 Chengdu.  

Tiga fakta di atas memperlihatkan fakta, posisi China yang semakin menguat dalam hubungan dengan AS, ditinjau dari aspek kekuatan ekonomi, hubungan internasional dan teknologi militer. 

Puncak dari ketiga fakta itu adalah keteguhan kepemimpinan nasional China dalam menghadapi tekanan negara adidaya.

Pernah dikisahkan dalam perundingan dagang antara delegasi Amerika Serikat dengan Jepang di Tokyo, belasan tahun lalu. Seorang anggota delegasi AS yang merasa unggul, sengaja melipat-lipat kertas usulan lawannya menjadi burung-burungan.  Kemudian melemparkannya ke udara.  

Fenomena di atas tak terjadi dalam perundingan di Jenewa. Washington sepakat menurunkan bea masuk atas produk China dari 145% menjadi 30%. Sebaliknya China menurunkan bea masuknya dari 125% menjadi 10%. Padahal dalam perkembangan sebelumnya Presiden Trump melancarkan diplomasi verbal yang penuh tekanan.

Bandingkan dengan hasil perundingan Indonesia dengan  Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Washington menaikkan bea masuk untuk produk tekstil Indonesia, negara yang tergolong Most Favoured Nation (MFN), sebanyak 10% menjadi 47%. Selain itu berbagai produk ekspor Indonesia lainnya juga ditambah dengan 10%. Delegasi Indonesia gagal untuk menurunkan bea masuk dan malah ditambah. Dari 32% menjadi 47%.

Baca Juga: Jangan Biarkan Sungai di Bandung Jadi Noda Peradaban

Mengapa Berhasil?

Keberhasilan China untuk mengalahkan tekanan Amerika Serikat sebetulnya berpangkal dari keteguhan dan  konsistensi mencapai target dari para pemimpinnya. Dalam konteks ini patut disebut nama Zhou Enlai dan Deng Hsiao Ping, diikuti Zhang Zemin, Hu Jintao dan Xi Jinping . 

Mulanya  berawal dari Mao Zedong (26 Desember 1893). Dia merupakan pendiri RRC yang karismatik yang berhasil menghimpun seluruh rakyat untuk mencapai tujuan politik ekonomi   melalui pelaksanaan program yang penuh darah, airmata dan berbagai bentuk pengorbanan rakyat. Melalui program (1) Lompatan Jauh Ke Depan yang bertujuan mencapai perekonomian berdasarkan industri (1958-1962). (2) Gerakan Pendidikan Sosialis (1963) dan (2) Revolusi Kebudayaan (1966).  

Sekalian programnya itu sekalipun menuntut pengorbanan yang luar biasa dari mereka yang tidak setuju namun Mao, sebagai pendiri negara, masih dihormati hingga sekarang. Fotonya yang berukuran besar dipajang di atas pintu masuk Istana Terlarang, menatap Lapangan Merah dan mausoleum-nya yang dikunjungi ribuan orang setiap hari.

Beda dengan Zhou Enlai yang lebih sabar dan taktis, Deng sampai dua kali disingkirkan Mao karena perbedaan pandangan. Lagi-lagi Zhou yang menyelamatkannya.

Ketika Mao semakin uzur (73), Zhou membangun hubungan dengan AS dengan menerima Menlu Kissinger di Beijing pada 1969, yang melakukan lawatan rahasia dengan terbang tengah malam dari Rawalpindi, Pakistan.

Dalam konteks ini, AS memerlukan sekutu untuk menghadapi Uni Soviet di Eropa. Jadi dengan membangun hubungan baik dengan China, maka AS bisa mengurangi separuh kekuatan militernya di Asia Timur dan mengalihkannya ke Eropa. 

Puncak hubungan kedua negara ditandai dengan kunjungan Presiden Richard Milhous Nixon ke China  pada 21-28 Februari 1972. Normalisasi hubungan ini hampir gagal. Buat menyelamatkan perundingan Zhou Enlai mengajak makan malam Kissinger di restoran bebek panggang Quanjude di Wangfujing. Cerita ini sangat fenomenal.

Baca Juga: Serunya Pacu Kuda di Tegallega

Siapakah yang lebih memanfaatkan normalisasi ini?

AS vs China. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)

Sekutu-sekutu AS seperti Jepang segera mengadakan hubungan bisnis dan investasi. China mengambil manfaat seraya menerapkan peraturan yang ketat. Dampaknya, kedua pihak, tuan rumah maupun pendatang, mengambil keuntungan bersama.

Deng Xiaoping yang menjabat mulai 1982-1987 menyingkirkan ajaran-ajaran komunis yang tidak perlu dan membuka program investasi yang luas dan terbuka. Dia membuka kawasan ekonomi khusus di Fujian, Shantou, Shenzhen, Shanghai dan sebagainya. Lalu mengirim jutaan pemuda belajar ke negara lain, terutama Amerika Serikat. Tak heran jika mereka yang pernah ke Beijing mendapati para pegawai yang lancar berbahasa Inggris, Prancis, Jepang dan lainnya. Xi Jinping misalnya, fasih berbahasa Inggris.

Maka terjadilah alih teknologi. Para pemuda itu  kembali ke negaranya, dengan membawa keahlian tingkat tinggi di bidang teknologi hingga hukum bisnis. Nasionalisme-nya tidak luntur.     

Bila diteliti, para pejabat China yang sekarang bersikeras mendebat kebijaksanaan Donald Trump, kebanyakan lulusan berbagai universitas di Amerika Serikat. Mereka menghabiskan waktu belasan tahun di AS sehingga memahami perilaku kebijaksanaan pemerintah dan pejabatnya.       

Kebijaksanaan Deng secara konsisten diikuti para petinggi berikutnya. Terbuka terhadap investor asing tanpa menggadaikan kepentingan nasional, termasuk menembak mati para koruptor.

Kebijaksanaan itu sangat terencana. Belakangan, China bersama dengan Afrika Selatan, Rusia, India dan Brasil membentuk BRICS. Tujuannya menciptakan integrasi dan koordinasi ekonomi serta  geopolitik.

 Di samping itu China juga memprakarsai BRI (Inisiatif Sabuk dan Jalan) di Kazakhstan (September) dan Indonesia (Oktober) 2013. Pendekatan China terhadap lebih dari 135 negara berkembang semata-mata berpusat ekonomi dan investasi. Tetapi ketat dalam pembagian manfaat lantaran berprinsip mereka yang mengeluarkan dana lebih besar berhak memperoleh laba yang lebih besar. China juga memperoleh kesempatan menempatkan tenaga kerja dan  produk-produknya di proyek-proyek BRI.  Tampaknya konsep ini antara lain diberlakukan dalam pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung dan penambangan nikel di Halmahera Utara.

Baca Juga: Kutu Buku dalam Perayaan Hari Buku Nasional 2025

Sederajat Atau Melebihi?

Banyak pihak memperkirakan China akan sederajat pada 2030 dan tiga perkembangan di atas menunjukkan perkiraan itu masuk akal. Resikonya, AS akan menghindari berkompetisi langsung dengan China lantaran mendapat tantangan keras.

Sebagaimana biasa Washington dan sekutu-sekutunya akan mempertahankan dan mencari pasar dan  sumber daya alam yang baru, karena China juga berbuat hal yang sama. Dengan demikian Washington dan Beijing bakal bersaing di negara-negara ketiga antara lain, Pasifik Selatan, Laut China Selatan dan Indonesia, terutama di Papua.

Tidak berlebihan bila intensitas konflik terbuka maupun tertutup di negara ketiga akan meningkat pada tahun-tahun mendatang. Apalagi Rusia juga sudah lama bahkan belakangan minatnya diungkap lagi memiliki basis pangkalan militer dan peluncuran satelit di pulau Biak.

Seperti biasa, Indonesia tidak akan diganggu secara terbuka melainkan dengan aksi-aksi tertutup karena  mayoritas bangsa Indonesia mempunyai tingkat nasionalisme yang tinggi.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)