#BudayaBeberes KFC adalah Kampanye Absurd dan Tidak Nasionalis

4 menit baca
Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Ditulis oleh Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom diterbitkan
Restoran cepat saji KFC. (Sumber: Pexels/Huu Huynh)
Restoran cepat saji KFC. (Sumber: Pexels/Huu Huynh)

Sudah beberapa tahun terakhir ini saya gerah dengan kampanye #BudayakanBeberes di KFC. Setiap kali makan di meja bisnis kapitalis ini dan melihat gambar serta tulisan itu di dindingnya, gejolak batin ini langsung berontak.

Bagi saya, kampanye ini benar-benar absurd dan tidak nasionalis.

KFC pernah dikritik soal ini, dan jawaban menohok dari admin Instagram mereka justru menyalak, “Itu kan sampahmu sendiri, kenapa gak kamu bersihin sendiri?

Mulailah bermunculan di kolom komentar para SJW (Sudden-sudden Jadi Wijaksana) yang ramai-ramai membela KFC dengan dalih yang polanya sama, “Apa susahnya sih bantu pekerjaan orang?”, “Menjaga kebersihan itu sebagian dari iman!”, dan “Di luar negeri juga begitu, kok!”

Sekali lagi saya katakan, ini absurd. Mari kita bedah satu per satu.

Pertama, tidak ada korelasi antara membuang sampah bekas makan di meja KFC dengan menjaga lingkungan atau gerakan Go Green yang mereka tunggangi.

Sederhananya begini, jika Anda makan dine-in di KFC dan tidak membereskan bekas makan Anda sendiri, tetap akan ada orang yang membereskannya. Siapa? Ya, petugas kebersihan KFC, karena itu tugas mereka.

Mereka digaji untuk memastikan meja bersih dan siap digunakan oleh pelanggan berikutnya. Kebersihan dan estetika restoran adalah tanggung jawab penyedia , bukan konsumen.

Tidak mungkin KFC secara sengaja membiarkan bekas makanan yang tidak dibereskan itu tetap di atas meja karena itu akan mengurangi nilai estetika dan menyebabkan meja tidak dapat digunakan oleh pengunjung lain. Siapa yang rugi jika dibiarkan? Tentu saja KFC.

Kedua, argumen “membantu pekerjaan orang lain” ini adalah jebakan logika. Ada yang namanya Doorman Fallacy.

Screenshoot komentar admin @kfcindonesia di Instagram
Screenshoot komentar admin @kfcindonesia di Instagram

Bayangkan di sebuah apartemen mewah, para penghuninya dengan bijaksana selalu membuka pintu sendiri dan dengan perasaan bangga "membantu" meringankan pekerjaan si penjaga pintu (doorman). Si penghuni akan merasa bahwa dia baik hati karena mengurangi beban si doorman.

Namun, jika semua penghuni melakukan hal yang sama secara masif dan konsisten, apa yang terjadi kemudian? Manajemen apartemen itu akan berpikir, "Hmm, posisi doorman ternyata tidak lagi dibutuhkan, ya? Kan, semua orang bisa buka pintu sendiri, self-service." Ujung-ujungnya apa? Si doorman kehilangan pekerjaannya.

Jika sesekali Anda membereskan bekas makanan Anda sendiri, jelas ini akan membahagiakan atau “membantu” petugas kebersihan KFC. Namun, jika ini dilakukan secara masif, justru posisi mereka sebagai petugas kebersihan di KFC inilah yang dipertaruhkan.

Anggaplah biasanya satu outlet KFC memiliki 2-3 orang petugas kebersihan, mungkin jika #BudayaBeberes sudah sukses, mereka hanya perlu satu petugas kebersihan saja sudah cukup.

Percayalah, ini bukan soal kampanye moral, apalagi soal environmental ethics. Ini hanya akal-akalan jangka panjang untuk mengurangi tenaga kerja.-TITIK.

Jika masih tidak percaya, coba sesekali perhatikan betapa sibuknya pelayan KFC. Fenomena understaffing di KFC sudah jadi rahasia umum. Satu orang staf bisa punya tiga jobdesk. Dia yang jadi kasir, dia juga yang catat pesanan, dia juga yang lari-lari menyiapkan pesanan.

Dia bisa melakukan ini sendirian sampai kewalahan dan bikin antrean panjang. Kenapa? Ya, karena pihak perusahaan enggan me-hire lebih banyak tenaga kerja.

Dari sini kita bisa lihat bahwa KFC jelas punya DNA untuk menekan pengeluaran untuk tenaga kerja sekeras mungkin. Kampanye #BudayaBeberes ini seolah-olah memberikan satu tugas tambahan bagi pengunjung yang seharusnya bisa jadi satu jobdesk khusus untuk satu orang tenaga kerja.

Ketiga, argumen “Di luar negeri juga begitu”, selain bentuk flexing si pembuat komentar agar kelihatan pernah ke luar negeri, ini juga menunjukkan inferiority mentality atau mentalitas inlander yang sering kali kambuh pada masyarakat kita.

Jangan lupa juga bahwa tidak semua yang menurut masyarakat negara maju itu baik, lantas harus kita adopsi. Itu adalah sesat pikir (fallacy).

Di luar negeri, khususnya negara maju, upah per jam itu tinggi, sehingga budaya swalayan menjadi solusi menekan biaya. Di sana, restoran cepat saji seperti KFC dan McD itu setara Warteg dan rumah makan padang paket ceban di negeri kita. Di Indonesia, konteksnya beda. KFC menjadi makanan kelas menengah dengan pajak dan biaya layanan yang tinggi. Ditambah lagi, kita sedang surplus tenaga kerja. Mengadopsi budaya self-service tanpa melihat konteks dan situasi di negeri sendiri adalah sebuah kenaifan.

Ini yang saya sebut tidak nasionalis. Dalam situasi ekonomi sulit seperti ini, kita justru secara tidak langsung malah membantu KFC (yang notabene korporasi asing) untuk menekan biaya operasionalnya dan malah mengancam lapangan pekerjaan saudara-saudara kita, para petugas kebersihan di KFC ini.

Terakhir, jika memang mau sepenuhnya Go Green dan bicara soal etika lingkungan seperti yang digaungkan, harusnya KFC mengalihkan fokus mereka. --Tolong, jangan cherry-picking, deh.

Kenapa masih ada wadah plastik saus? Kan, bisa langsung dituang ke wadah makan. Kenapa malah pakai karton untuk wadah nasi, bukannya pakai piring dan gelas keramik yang bisa dicuci? Ah, atau jangan-jangan tidak mau menambah biaya untuk satu orang lagi yang tugasnya mencuci piring?

Dan kenapa masih memasukkan CD musik ke dalam paket pembelian, padahal sudah tahu sedikit orang yang menginginkannya? Bukankah CD itu, digunakan atau tidak, nantinya akan tetap jadi sampah yang sulit terurai? Hadeh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yaser Fahrizal Damar Utama , S.I.Kom
Pemerhati Budaya | Alumnus Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jun 2026, 20:07

Depresi pada Remaja dan Urgensi Aplikasi Konseling

Sejumlah remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, dan kurangnya akses terhadap layanan berkualitas.

Ilustrasi Talkshow Kesehatan Jiwa Happiness Project di Cafe Halaman, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farits)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 18:52

Ketika THR Berubah Menjadi Aset

Meninjau kebijakan PT ANTAM (Persero) Tbk meluncurkan emas tematik edisi Idulfitri 1447H/2026 bertema “Gempita Hari Raya”.

Emas Batangan Edisi Idulfitri 1447H.
Ayo Biz 22 Jun 2026, 17:24

Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

Dua desa di Kabupaten Sumedang membuktikan bahwa teladan ekonomi desa tidak butuh keistimewaan, justru hanya perlu sistem yang kuat untuk memutar roda nasib.

Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:15

Ketaatan Pengelolaan Risiko Kebakaran

Peran dinas damkar perlu transformasi sehingga paradigmanya berubah dari peran pemadam menjadi fungsi yang proaktif mencegah kebakaran. 

Ilustrasi kebakaran pabrik di daerah Cipadung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Fira Nursyabani)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:29

Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel Karees, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau. Yuk, ikut saya blusukan!

Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:13

Copy-Paste Birokrasi: Ketika Sistem Digital Belum Benar-Benar Digital

Saat sistem digital tidak saling terhubung, beban administratif tidak hilang, ia hanya berpindah wujud dari kertas ke layar.

Ilustrasi ekosistem digital yang melingkupi kehidupan modern (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 13:36

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Melihat kembali bagaimana arsitektur Art Deco di Kota Bandung bermunculan hingga akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 12:25

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Perkembangan singkat wewangian dari awal mula ketenarannya di Mesir sampai sekarang.

Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 11:30

'Don’t Buy This Jacket' Kampanye Jujur atau Strategi Manipulasi Persepsi?

Membedah paradoks kampanye "Don’t Buy This Jacket" Patagonia:

Penulis sedang menelaah konsep iklan 'Don't Buy This Jacket'.
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 11:27

Wisata Gratis di Surabaya: Jelajah Taman Bungkul Ikon Kota yang Selalu Ramai

Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata gratis paling populer di Surabaya dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman sepanjang hari.

Taman Bungkul Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:56

Indonesia dalam Angka

Algoritma Statistik memang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bukan berarti angka itu disusun hanya demi kepuasan publik. Sehingga fakta yang terjadi hanya sebatas retorika

Ilustrasi angka dalam kalkulator. (Sumber: Pexels | Foto: Yan Krukau)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)