Raya, Bukti Nyata Potret Buram Penanganan Kesehatan di Negeri Ini

10 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Raya, balita di Sukabumi yang meninggal akibat cacingat akut. (Sumber: Screenshoot Video Rumah Teduh)
Raya, balita di Sukabumi yang meninggal akibat cacingat akut. (Sumber: Screenshoot Video Rumah Teduh)

Maafkan orang tuamu ya nak, yang enggak bisa mengurus raya dengan benar sejak bayi, yang membiarkan raya bayi selalu bermain tanah di kolong rumah panggung raya, bersama ayam-ayam dan banyak kotoran lain yang kemudian terbawa masuk ke tubuh raya selang 4 tahun raya hidup. Maafkan pemerintah negeri ini ya nak, yang tidak bisa cepat tanggap melihat rakyat yang menderita seperti ini. Dan maafkan kami juga ya nak, yang terlambat tahu tentang penderitaan raya. Raya udah bahagia kan sekarang ? udah enggak kesakitan lagi.

Sebuah video berdurasi 9 menit 9 detik yang sudah diposting oleh Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin, membuat hati saya tercabik-cabik, meringis kesakitan, penuh perasaan sesak yang menghimpit dada.

Betapa mirisnya negeri ini, negeri yang baru saja merayakan kemerdekaan yang ke-80 ini. Penuh euforia dengan jajaran para pemangku negara yang berjoget ria saat selesai melaksanakan upacara. Penuh girang hingga menari-nari saat mereka (para anggota dewan) selesai menghadiri sidang tahunan MPR.

Mendengar pidato Prabowo yang katanya sudah membawa nakhoda pembangunan selama 10 bulan dengan on the track, baik perihal swasembada, baik perihal penegakan hukum, baik perihal "kesejahteraan rakyat", baik perihal makanan bergizi dan lain sebagainya. Katanya ini adalah bentuk kegembiraan kawan-kawan.

Kesejahteraan mana yang dimaksud? Video di atas justru menjadi cuplikan nyata bagaimana kondisi masyarakat yang terabaikan negeri ini. Bagaimana sistem birokrasi mempersulit masyarakat untuk mendapatkan fasilitas pelayanan baik kesehatan atau data kependudukan. Bagaimana sistem yang nir empati di negeri ini mengombang-ambing kehidupan yang sedang berada di ambang batas.

Raya seorang balita yang baru berusia 4 tahun yang berasal dari Kampung Padangenyang Desa Sianaga di pelosok Sukabumi Jawa Barat. Seorang balita yang kurang beruntung karena hidup pada garis kemiskinan. Diurus oleh seorang ibu yang ternyata memiliki kesehatan mental (ODGJ, nenek buyut yang sudah tua renta juga ketidakberdayaan sang Ayah yang sedang mengidap TBC. Raya adalah salah satu bentuk nyata buramnya potret kesehatan di Indonesia.

Kilas Balik Raya Memperjuangkan Hidupnya

Minggu, 13 Juli 2025, Rumah Teduh Teh Iin mendapat laporan dari call center ambulan tentang kondisi raya dan saat dijemput kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Di tengah akses jalan yang sulit karena infrastruktur yang rusak, Rumah Teduh membawa raya ke IGD RSUD dan pihak rumah sakit segera memasukan raya ke ruangan PICU. Bentuk penanganan dengan respon yang baik untuk ukuran RSUD.

Rumah Teduh baru menyadari bahwa raya ternyata tidak memiliki kartu identitas yang secara otomatis tidak memiliki kartu BPJS baik bantuan pemerintah apalagi mandiri. Rumah Teduh menjaminkan raya ke bagian administrasi dan pihak rumah sakit memberikan waktu 3x 24 jam untuk mengurus kartu identitas dan kartu BPJS dengan catatan jika melampaui waktu yang telah disepakati, maka administrasi raya akan dihitung sebagai pasien dengan pembayaran tunai.

Dalam waktu yang singkat relawan Rumah Teduh berusaha mencari bantuan dana untuk raya. Mirisnya relawan tersebut di ombang-ambing oleh para aparat setempat, mulai dari Dinsos Kota ke Dinsos Kabupaten, Sampai Dinsos Kabupaten ke Kabid Limjansos, dari Kabid Limjansos ke Dinas Kesehatan Sukabumi dan kemudian mendapatkan pernyataan sebagai berikut:

Dinkes kabupaten tidak memiliki anggaran dan MOU dengan RSUD kota. Dan bahkan dinkes memberikan solusi agar raya yang sudah berhari-hari dalam keadaan koma dipindahkan saja ke rumah sakit Jampang.

Namun bagaimana Rumah Teduh bisa mengikuti saran dari Dinkes Kabupaten yang meminta raya dipindahkan ke rumah sakit yang lebih kecil di Jampang. Di mana kondisi raya sudah kritis dan bahkan RSUD Kota Sukabumi sebagai rumah sakit yang lebih besar kewalahan menangani kasus raya.

Rabu, 16 Juli 2025 batas yang diberikan oleh RSUD sudah habis namun bantuan dari pemerintah tak kunjung datang. Tidak ada satu pun pihak dari dinas yang tersentuh melihat kondisi yang dialami oleh raya.

Padahal Rumah Teduh sudah menunjukan ke berbagai aparat setempat terkait CT-Scan dan rontgen raya yang menunjukkan ratusan cacing sudah bersemayam dalam kepalanya. Rumah Teduh menunjukkan bagaimana cacing gelang sepanjang 15 cm ditarik secara langsung dari hidungnya.

Bagaimana cacing yang masih hidup keluar juga dari mulut raya. Rumah Teduh menunjukkan bagaimana ratusan cacing keluar dari kemaluan dan anus raya. Rumah Teduh menunjukkan kondisi raya sudah kritis dan bahkan 1 kg cacing yang dikeluarkan dari tubuhnya tidak juga kunjung habis.

Kondisi Cacing dalam Pampers Raya (Sumber: Screenshoot Video Rumah Teduh)
Kondisi Cacing dalam Pampers Raya (Sumber: Screenshoot Video Rumah Teduh)

Pada akhirnya tagihan harus dibayar secara tunai dan Rumah Teduh menanggung biaya perawatan raya selama 3 hari sebesar Rp.11.669.950. Sebetulnya ini juga tidak mudah, terlebih Rumah Teduh juga memiliki operasional yang besar untuk membayar kontrakan yang disewa oleh 21 Rumah Teduh yang tersebar di berbagai kota.

Namun karena tidak ada satupun dari pihak pemerintah yang bersedia bertanggung jawab, Rumah Teduh turut mengambil tanggung jawab tersebut.

Bahkan setelah raya meninggal tagihan yang mesti dibayar berkisar 23 juta. Meski demikian pihak Rumah Teduh tidak pernah menyesalinya karena sudah berusaha sampai batas maksimal kehidupan raya.

Pada akhirnya raya menyerah kepada Panggilan-Nya, berpulang pada Kamis sore, 22 Juli 2025 setelah 9 hari mendapatkan perawatan secara intensif. Raya seorang balita yang bahkan belum tahu apa makna sebuah kehidupan. Tapi kehidupannya sendiri sudah dirampas kejam oleh garis kemiskinan. Bahkan ketika masih memiliki kesempatan untuk hidup, orang sekitar, kerabatnya dan aparat setempat justru mengabaikan raya, seolah satu nyawa bernama raya ini tidak berarti keberadaannya.

Bukti Nyata Hak Kesehatan Belum Merata

Kesehatan masyarakat menjadi penyirat bagaimana bobroknya kondisi ekonomi sebuah negara. Kesehatan tidak hanya mahal karena harga obat yang melambung tinggi, perawatan yang bisa menyentuh belasan hingga ratusan juta tapi juga karena sistem birokrasi yang kerap kali mempersulit administrasi serta penanganan berkelanjutan.

Kondisi ekonomi keluarga raya yang kurang dari kata cukup, membuat raya sempat di bawa ke gunung untuk mencari kayu bakar, saat usianya masih 2 bulan. Kondisi rumah raya tampak seperti rumah panggung yang terbuat dari GRC. Jauh dari kata layak karena fasilitas MCK yang ala kadarnya. Bahkan raya bayi hidup berdampingan dengan tanah, peliharaan ayam juga kotoran lainnya yang secara tidak langsung berpotensi masuk ke dalam tubuhnya.

Kondisi ayah raya yang mengidap TBC seharusnya mendapatkan pengobatan secara intensif selama 6-9 bulan tergantung dengan tingkat keparahan penyakit. Saya pernah memiliki teman seorang Apoteker yang bertugas di Puskemas di Kab. Bandung.

Teman saya sempat bercerita bagaimana para tenaga kesehatan yang berada di Puskesmas tersebut bekerja sama untuk memantau, memberikan edukasi, membujuk hingga melakukan tahap pendampingan bagi warga sekitar yang terjangkit penyakit TBC.

Saya berpikir awalnya penyakit TBC itu penanganannya ringan, asal meminum obat secara rutin dan memulai gaya hidup sehat, semuanya akan selesai dan kembali lagi normal. Namun ternyata pemikiran saya keliru, justru TBC merupakan penyakit yang tidak mudah disembuhkan. Bukan karena obatnya tidak manjur tapi efek yang ditimbulkan pasien setelah mengkonsumsi yang justru menjadi permasalahan baru.

Bayangkan ketika seseorang harus mengkonsumsi 4 macam obat dalam sehari dengan aroma yang kurang sedap juga bisa merubah warna air liur dan air seni menjadi merah. Obat yang secara rutin harus dikonsumsi setiap hari tanpa ada waktu yang terlupa. Jika lupa atau terlewat maka pasien harus mengulangi pengobatan dari awal. Kasus ini memperlihatkan bahwa pasien yang sedang sakit, mau tidak mau mesti disiplin.

Permasalahan baru dari efek samping konsumsi obat TBC adalah rentan mengalami kesehatan mental seperti, rasa cemas, depresi, perasaan putus asa, ketidakberdayaan mental akibat diagnosa penyakit kronis serta stigma sosial buruk yang disematkan masyarakat terhadap pasien pengidap TBC.

Bahkan Apoteker yang saya kenal menceritakan ada beberapa kasus pasien TBC yang meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya karena tidak mendapat dukungan moral dari keluarga, lingkungan sekitar serta dampingan dari pihak tenaga kesehatan yang memantau perkembangan keteraturan konsumsi obat.

Raya, balita di Sukabumi yang meninggal akibat cacingat akut. (Sumber: Screenshoot Video Rumah Teduh)
Raya, balita di Sukabumi yang meninggal akibat cacingat akut. (Sumber: Screenshoot Video Rumah Teduh)

Sebetulnya rumah berbahan dasar GRC tidak secara langsung bisa menyebabkan penyakit TBC, karena penyebab terbesarnya adalah Mycrobacterium Tuberculosis. Namun kondisi lingkungan rumah yang buruk seperti teralu lembab, gelap dan kurangnya sirkulasi udara dapat membuat bakteri tersebut bertahan hidup lebih lama dan meningkatkan resiko penularan.

Saya tidak tahu persis kenapa ayah raya tidak mendapatkan pengobatan atau perhatian dari fasilitas kesehatan setempat. Sementara di sisi lain, bidan setempat mengaku sering memberikan obat cacing secara rutin kepada raya dan anak kecil setempat selama 2x dalam setahun. Bahkan Bidan setempat mengaku selalu memprioritaskan bantuan susu dan makanan yang diberikan pemerintah untuk raya.

Hanya saja tidak ada informasi khusus yang menjelaskan, apakah obat cacing tersebut dipastikan dikonsumsi raya atau tidak. Mengingat kondisi ibunya yang memiliki keterbatasan bersikap rasional karena kesehatan mental yang dideritanya. Juga menjadi pertanyaan kembali, ketika beberapa kali petugas kesehatan datang ke rumah raya tapi justru kondisi ayahnya luput dari pemantauan petugas kesehatan setempat.

Bahkan menurut Yanyan Rusyandi selaku PLT Dirut RSUD R Syamsudin penyebab penyakit pada raya bisa disebabkan oleh adanya meningitis TB (Kondisi radang pada selaput otak) yang disebabkan oleh adanya TBC selain karena penyebab utamanya dari infeksi cacing gelang.

KDM Menyoroti Kinerja Aparat dan Dinas Setempat

Setelah viralnya video yang diunggah oleh Rumah Teduh pada tanggal 14 Agustus 2025, ternyata berita ini sampai ke telinga KDM. Dalam sebuah video yang ditayangkan beberapa media KDM terlihat menyampaikan bela sungkawa sambil sesekali menangis sesak menceritakan ketanggapan dinas setempat dalam menanggulangi kasus raya.

Dalam video yang berdurasi kurang lebih 2 menit KDM memberikan sanksi dengan memberhentikan bantuan desa karena disinyalir aparat setempat tidak bisa mengurus rakyatnya. Bahkan kepala desa setempat yang juga mengaku sebagai bagian dari keluarga ayah raya, justru mengaku tidak mengetahui jika raya menjangkit penyakit tersebut. Menjadi fenomena miris untuk raya, bahkan orang-orang sekitarnya abai terhadap penderitaan raya.

Saat diwawancarai oleh Kompas Tv Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (dr. Vini Adian) mengaku pemerintah provinsi Jawa Barat sudah banyak memfasilitasi dinas kota/ kabupaten. Bahkan pihak terkait sudah menyimpan dan menyiapkan dana SKTM yang tidak tercover oleh BPJS untuk masyarakat miskin.

Pihaknya mengaku dinas mengeluarkan dana sebesar 1.2 Triliun tiap tahun untuk membantu pemenuhan BPJS kota dan kabupaten serta pembayaran diluar BPJS.

Namun Teh Iin selaku aktivis kemanusian sekaligus founder Rumah Teduh menanggapi pernyataan ketua dinkes yang disinyalir pernyataan tersebut tidak sesuai dengan realitas yang terjadi di lapangan.

Mau nangis saya nih dok, kan dokter bilang harusnya memberitahu, kan saya sudah memberitahu kemana-mana. Saya sudah tunjukan video-video ekstrimnya dan bahkan kita meminta nomor pimpinan kadinkesnya, kita chat kita telepon tidak diangkat-angkat. Seharusnya pihak terkait jika punya dana , urc atau apapun itu bisa merespon dan mengarahkan kita. Bahkan terakhir yang bikin saya nyesek ketika dinkes menyarankan agar raya dipindahkan ke kabupaten. Sementara raya sudah di PICU alasannya tidak memiliki MOU dengan rumah sakit kota. Kita berpikir raya harusnya masuk ke rumah sakit yang besar bukan di Jampang. Jadi kalau dokter bilang kenapa teh Iin ga ngontak, kan sudah setiap pihak kita kontak. Hingga pada akhirnya mereka bilang maaf ya keputusan bukan ada di kita dan maaf maaf yang lainnya

Kondisi di atas menyiratkan bahwa birokrasi seringkali menghambat pelayanan kesehatan di negeri ini. Hal ini diperparah dengan komunikasi yang buruk antara dinas terkait.

Beberapa tahun ke belakang saya juga sempat memiliki pengalaman dengan dinas kesehatan terkait di kota Bandung saat memperpanjang STRTTK (Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian) dan SIP (Surat Izin Kerja). Saat itu surat tersebut membutuhkan tanda tangan pejabat dinas terkait.

Saya sempat bolak-balik karena dijanjikan selesai pada beberapa waktu tapi setiap kali saya datang, petugas setempat selalu membuat jadwal ulang pengambilan surat tersebut. Alasannya surat bersangkutan belum ditandatangan karena petugas terkait sedang dinas di luar kantor.

Belum lagi kasus perihal perizinan fasilitas kesehatan berupa apotek juga seringkali mengalami hal yang demikian. Pengaju seringkali bolak-balik untuk menambahkan persyaratan yang tak kunjung berakhir.

Sekelas fasilitas berupa apotek yang dananya saja dikeluarkan oleh pihak pribadi masih juga dipersulit. Padahal apotek sendiri di masa depan akan menjadi penyumbang pajak bagi negara. Untuk hal yang bersifat tidak merugikan pemerintah pun, birokrasi tetap mempersulit. Apalagi jika masalah terkait membutuhkan dana bantuan langsung dari pemerintah, tak heran jika kasus raya luput dari perhatian.

Sebagaimana yang KDM sampaikan bahwa adanya kegagalan pelayanan dasar kesehatan dalam kasus ini. Kritik sebelumnya yang pernah saya tulis perihal kehadiran apotek desa yang menjadi program koperasi merah putih justru menjadi relevan ketika keberadaannya bukan menjadi solusi efektif yang ada untuk masyarakat.

Seharusnya pemerintah memaksimalkan peran puskesmas dan posyandu yang ada untuk memantau secara langsung kondisi masyarakat tiap desa atau kota. Bukan mendirikan atau memperbanyak fasilitas baru yang fungsinya justru tidak relevan dengan masalah yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Menilik kasus raya, ini sudah menjadi sebuah fakta bahwa peran puskesmas dan posyandu setempat belum berjalan sebagaimana mestinya.

Seharusnya dana yang bisa digelontorkan pemerintah melalui apotek desa bisa disalurkan untuk fasilitas rakyat setempat dalam meningkatkan taraf hidup kesehatan yang lebih sejahtera. Melalui dana yang bisa dimaksimalkan dan diolah secara tepat oleh puskesmas dan posyandu setempat demi kebermanfaatan masyarakat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)