Praktik Ekologis Rakyat: Menolak Gengsi, Melawan Siasat Pemasaran

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi ramah lingkungan. (Sumber: Pexels/Cats Coming)
Ilustrasi ramah lingkungan. (Sumber: Pexels/Cats Coming)

Gaya hidup yang ramah lingkungan kerap dibayangkan secara terbatas pada diet vegan yang serbasayur dan buah, tisu eco-friendly, atau hobi bersepeda yang dipandang lebih green vehicle. Sedotan stainless lebih dikagumi karena bisa digunakan ulang ketimbang yang berbahan plastik. Apalagi punya nilai tambah estetika daripada sedotan murahan yang warna-warni.

Promosi praktik kecil sehari-hari memang penting, terlebih melihat tantangan krisis iklim yang makin parah. Namun benarkah kita sedang benar-benar mendorong cara hidup yang lebih lestari? Atau lagi “jualan” gaya hidup elitis yang tidak peka pada masalah kelas yang menyertainya?

Pada akhirnya melakukan aksi penyelamatan bumi terkesan mahal. Atribusi pro-lingkungan hanya tersemat pada segilintir orang atas. Akses yang terbatas justru melanggengkan pandangan bahwa rakyat tiak punya komitmen luhur untuk mencintai lingkungan. Malah citra kumuh dekat sekali dengan kehidupan mereka. Orang miskin dipandang sebagai massa yang tidak bertanggung jawab dalam mengelola sampahnya sendiri.

Atas dasar itu bicara praktik-praktik kecil saja tidak cukup. Narasi yang dibingkai harus berpihak pada rakyat yang paling terdampak, tepatnya mereka yang dimiskinkan akibat eksplotasi alam besar-besaran. Bukan malah memperkuat posisi para pemodal, yang membersihkannya dari dosa-dosa ekologis.

Dengan begitu narasi ekologis yang lahir lebih bisa menjangkau banyak orang. Termasuk mempertimbangkan aspek penting yang mudah diduplikasi oleh orang biasa.

Bukannya menawarkan solusi paradoksal, membersihkan bumi dengan gaya hidup yang konsumtif. Membangun peta jalan pendidikan ekologi yang rumit, butuh biaya, dan ekslusif. Rakyat dituding-tuding dan dikoreksi, menjadi target pembinaan tanpa sensitivitas masalah ekonomi.

Di tengah lautan label dan jenama, yang meletakkan kualitas diri pada harga dari barang-barang yang kita kenakan. Gelombang pemasaran canggih datang membawa biang masalah baru dengan nama seperti netral karbon, tanpa emisi, dan donasi hutan. Termasuk memperlengkapi merek baju, gawai, sampai kopi yang tidak mau dibilang keren saja tanpa mengikuti tren dengan klaim produk hijaunya.

Menengok Hidup Rakyat

Greenwashing adalah praktik menyesatkan yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasi untuk memberikan kesan bahwa produk, layanan, atau operasi mereka lebih ramah lingkungan. (Sumber: Pexels/Alena Koval)
Greenwashing adalah praktik menyesatkan yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasi untuk memberikan kesan bahwa produk, layanan, atau operasi mereka lebih ramah lingkungan. (Sumber: Pexels/Alena Koval)

Coba tengoklah bapak-bapak yang pergi ke kebun. Mereka memakai baju olahraga bekas anaknya dahulu sekolah. Kadang juga jersey bola atau kaus partai yang sudah pudar. Termasuk ibu-ibu yang tetap setia memakai daster koyak kesayangannya. Bagi mereka pakaian cukup berguna buat menutup badan bukan validasi sosial. Mereka menolak patuh pada strandar hidup yang dijual oleh para kapitalis.

Potret teladan yang sederhana ini tertinggal di kampung dan gang-gang sempit di pinggiran kota. Caping pengayuh becak yang ditambal kain dan gantungan jemuran putar yang terwariskan dari generasi ke generasi, tidak pernah ada dalam pamflet kampanye biru.

Tapi nyatalah hal seperti ini yang menjelma jadi etos keugaharian, yang tiak ada di etalase toko kekinian. Rakyat telah berbuat banyak dengan menanggalkan rasa gengsinya, bertahan di tengah gempuran perang pasar yang terbuka. Bukankah praktik seperti ini yang lebih mudah ditiru banyak orang?

Belum lagi soal tali dari karet ban dalam bekas yang telah menjaga sayur-sayur hasil panen sehingga tak tumpah. Barang yang sama telah menambal pipa saluran air warga dan dirakit menjadi ketapel.

Lebih dari kreatif, begitulah cara rakyat membangun resiliensi meskipun tanpa intervensi program penyuluhan daur ulang yang anggarannya besar. Tapi kembali lagi ke akar persoalannya, siapa yang berkepentingan dengan hidup rakyat?

Gubuk di ladang dan pos ronda yang dindingnya terbuat dari banner kampanye politik atau iklan produk pabrikan, mungkin membuat kita menyeringai. Suka tidak suka, justru hal seperti inilah yang menunjukkan keberanian mempraktikkan efisiensi ala lokal.

Dengan daya inovasi yang tak terbatas, rakyat mengambil barang yang tersedia di sekitar lalu menggunakannya kembali. Tidak ada pertimbangan “Ah gak estetik! Gak kalcer!”. Sebab dalam alam pikir mereka bukan kriteria instagrammable, tapi kehidupan yang layak diperjuangkan tanpa harus konsumsi berlebihan. Sayangnya pabrik-pabrik akan banyak yang gulung tikar kalau model ini yang terus disosialisasikan.

Daerah pinggiran telah banyak mengingatkan kita. Lewat prank lucu-lucuan, seperti kaleng biskuit yang berisi rengginang atau wadah es krim yang ketika dibuka ada ayam ungkepnya. Tapi bisakah kita mengerti sekali lagi, bahwa semuanya tampak sederhana kalau tidak membawa rasa gengsi?

Tamparan buat kita sendiri yang selalu check-out karena tergiur promo wadah-wadah baru yang katanya mendukung daur ulang. Padahal galon bekas yang disulap jadi pot tanaman atau ember cat yang kemudian jadi tempat cuci piring, bukan cuma mengajarkan hemat tapi kesadaran mendalam dan kritik pada greenwashing yang menjebak.

Kekuatan Lokal

Komunitas 1.000 Kebun lahir dari keresahan akan gaya hidup urban yang semakin jauh dari alam. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Komunitas 1.000 Kebun lahir dari keresahan akan gaya hidup urban yang semakin jauh dari alam. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Estetika lokal bukan melulu batik dan kain adat yang dibeli tiap mau pergi ke hajatan. Tapi juga tentang cara hidup yang tidak mau tergoda dengan bujuk rayu iklan di aplikasi.

Estetika lokal menggandeng nilai etik dengan menolak fast fashion yang menuntut kebaruan model. Inilah seni bertahan dari budaya konsumtif yang merongrong ketangguhan ekonomi rakyat. Praktik ini yang seharusnya didokumentasikan dan disebarkan seluas-luasnya.

Jika kita punya gagasan tentang memerdekakan bumi, seharusnya kita juga merebut kembali kemerdekaan kita untuk benar-benar bisa pakai barang sampai rusak, merasa cukup, dan tidak lagi terbawa arus gaya hidup yang menguras dompet dengan dalih pindai kode batang, bayar nanti, COD, atau pinjaman daring. Naas, negara belum merespons masalah ini dengan serius.

Di samping kerja advokasi yang mutlak harus didukung, mulai sekarang kita yang punya komitmen pada nasib dunia yang lestari akan berjalan dalam keputusan yang wajar. Melaluinya kita akan merengkuh rakyat sebagai sumber pengetahuan yang otentik dalam merawat bumi.

Kita tidak mau lagi jadi pribadi yang muluk-muluk. Jadi kalau besok-besok melihat orang yang mengelem sendalnya yang putus, kita akan menghargai dan mengikuti. Termasuk memandang dengan penuh rasa hormat pada profesi bengkel payung, patri panci, dan tukang sol sepatu, sebagai perjumpaan yang ciamik antara cara rakyat mendukung alam dan bertahan dari kemiskinan struktural.

Sebab dengan memutus jarak dengan rakyat, kita sedang belajar terus. Meneguk kebaikan untuk hidup yang lebih waras di dunia yang sudah kenyang dengan iming-iming gengsi dan klaim paling peduli bumi. Setelah membaca ulang kehidupan marginal, beranikah kita menantang rasa malu bahwa baju tahun lalu masih pantas dipakai?

Gengsikah kita pergi ke mana dengan membawa tempat minum sendiri tanpa harus mencari barang yang branded terlebih dahulu? Dalam keputusan-keputusan kecil inilah kita diuji. Dengan menggunakan barang-barang seperti ini juga sejatinya kita sedang melawan sistem yang bikin kita boros dan membuat bumi rusak. Begitulah pentingnya praktik yang membumi, menyehari, dan tulus apa adanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)