Belajar Ceramah, Menebar Risalah

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kajian Talkshow di Masjid Raya Al-Jabbar, Gedebage (Sumber: AyoBandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Kajian Talkshow di Masjid Raya Al-Jabbar, Gedebage (Sumber: AyoBandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Ada rasa bahagia yang tak tergantikan saat menerima kiriman video dari istri. Dalam video itu, Aa Akil, anak kedua (10 tahun), tampil membawakan pidato (kultum pertama) sebelum Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025).

Sungguh membanggakan keberanian Faraz Mutawakil (biasa disapa di sekolah) bisa berdiri dan berbicara di depan banyak orang dengan penuh percaya diri.

Kultum pembuka pengajian bulanan di Masjid Al-Amanah itu disampaikannya menggunakan Bahasa Sunda, dengan tema Ngajaga Lingkungan.

Flyer undangan susunan acara Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025). (Sumber: Dokumentasi Panitia DKM Al-Amanah)
Flyer undangan susunan acara Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025). (Sumber: Dokumentasi Panitia DKM Al-Amanah)

Pudarnya Identitas Ki Sunda

Di tengah semakin jarangnya penggunaan Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, penampilan ini menjadi pengingat berharga. Betapa tidak, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan menurunnya penggunaan Bahasa Sunda dari generasi ke generasi.

Dalam laporan Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, merinci angka penyusutannya dari Generasi Pre Boomer (lahir 1945 ke bawah) masih tinggi menggunakan bahasa daerah, khususnya Sunda, dengan persentase 84,73% di lingkungan keluarga.

Namun, Generasi Baby Boomer (1946–1964) menurun menjadi 79,9%. Generasi Milenial (1981–1996) tinggal 73,92%. Untuk Gen Z (1997–2012) semakin berkurang, 72,44%. Apalagi Generasi Post Gen Z (2013–sekarang) turun tajam hingga 63,99%.

Kemerosotan serupa terjadi pada penggunaan bahasa daerah di lingkungan tetangga (kerabat), Pre Boomer 83,06%; Baby Boomer 78,16%; Milenial 70,59%; Gen Z 70,96% dan Post Gen Z (alpha) 63,20%.

Ada banyak faktor yang menyebabkan penurunan ini mulai dari rasa minder, kekhawatiran orang tua karena dianggap berbahasa kasar, perkawinan lintas etnis, hingga orang tua yang tidak lagi menggunakan (mengajarkan) Bahasa Sunda di rumah.

Jika tren ini terus berlanjut, Basa Ibu bukan hanya semakin jarang digunakan, justru bisa mengancam runtuhnya identitas budaya Sunda itu sendiri. (detikJabar, 7 Maret 2023 06:45 WIB).

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Memang keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau.

Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar bahasa Sunda. Sekedar contoh, kaula muda lebih bangga berkomunikasi dengan bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan.

Padahal Ajip Rosidi pernah memprediksikan kemungkinan hilangnya bahasa Sunda dari muka bumi ini. Dengan menuliskan, "Menurut perhitungan para ahli, saat ini ada sekitar 6.000 bahasa di dunia. Pada akhir abad ini, jumlah itu akan tersisa sekitar setengahnya. Artinya, 3.000 bahasa akan punah pada abad ke-21. Itu berarti 30 bahasa hilang setiap tahun, atau sekitar dua setengah bahasa lenyap setiap bulan. Dengan kata lain, kira-kira setiap 10 hari ada satu bahasa yang menghilang dari dunia. Bahasa Sunda termasuk dalam antrean bahasa yang terancam punah, karena orang Sunda sudah tidak mau lagi berbicara menggunakan bahasa Sunda.”

Sungguh kekhawatiran itu terlahir dari kecintaan terhadap nilai-nilai kesundaan yang kian pudar. Hal itu tampak dari penggunaan bahasa Sunda di masyarakat luas yang semakin hari semakin memprihatinkan (Majalah Cupumanik, No. 11, Juni 2004: 23 dan Pikiran Rakyat, 30 Mei 2005).

Hal penting yang perlu disadari semua pihak terkait budaya dan bahasa daerah adalah masalah pewarisan. Rosidi (2006: xiv–xvii) menyebut pewarisan mencakup dua hal. pewarisan keterampilan dan pewarisan apresiasi kepada generasi muda. Budaya, termasuk kesenian, tanpa apresiasi akan perlahan punah.

Dalam konteks bahasa Sunda, Wahya dan Adji (2016: 81–82) menegaskan penerusan antargenerasi menjadi salah satu faktor kegagalan pengajaran bahasa Sunda di Jawa Barat. Banyak orang tua, terutama di perkotaan, jarang mengajak anak-anaknya berbahasa Sunda.

Di sekolah pun, anak-anak lebih sering menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan teman, guru, maupun petugas sekolah. Kehadiran sekolah ternyata belum mampu menjadi wadah pembelajaran bahasa daerah secara optimal tanpa dukungan orang tua dan masyarakat.

Fenomena ini terjadi merata di kota-kota besar, termasuk Bandung. Karena itu, orang tua dan masyarakat dengan penuh kesadaran perlu membantu anak-anak belajar bahasa daerah. Tanggung jawab ini tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Dunia pendidikan, sebagai salah satu jalur pewarisan budaya dan bahasa, harus menghadirkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran dengan alokasi waktu yang memadai, terutama di perkotaan, di mana peran orang tua semakin berkurang.

Lauder (2015) mengutip laporan UNESCO yang menyebutkan hanya 30% bahasa di dunia yang mengalami penerusan antargenerasi. Dengan demikian, 70% bahasa di dunia tidak lagi diwariskan kepada generasi berikutnya dan terancam punah. Fakta ini jelas harus menjadi perhatian serius masyarakat global.

Untuk itu, pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa serta budaya Sunda di berbagai daerah perlu segera dilakukan, berlandaskan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah. Tanpa langkah nyata, bahasa Sunda berisiko tidak lagi dikenal oleh anak-anak sebagai generasi penerus.

Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahasa Sunda memang bukan perkara mudah, karena menyangkut sikap berbahasa. Untuk itu diperlukan berbagai upaya, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan masyarakat, agar sikap positif terhadap bahasa Sunda dapat tumbuh dan berkembang (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat UNPAD, Vol. 4, No. 3, 2020: 1–6).

Hasil tangkap layar saat Aa Akil menyampaikan kultum tentang Ngajaga Lingkungan sebelum Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025). (Sumber: Instagram/@masjidalamanahcileunyi)
Hasil tangkap layar saat Aa Akil menyampaikan kultum tentang Ngajaga Lingkungan sebelum Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025). (Sumber: Instagram/@masjidalamanahcileunyi)

Menggali Potensi, Raih Prestasi

Ihwal penampilan kultum pertama ini tidak bisa dilepaskan dari proses panjang latihan yang penuh kesungguhan dan keseriusan. Semua itu berawal dari keikutsertaannya dalam lomba Biantara Putra (Pidato Bahasa Sunda) pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kecamatan Cileunyi yang digelar di SDN Percobaan Bandung, Sabtu (23/8/2025).

Berkat dorongan, arahan, bimbingan dan kerja sama para guru, terutama Bu Dedeh lahirlah prestasi yang membanggakan sekolah. Juara 3.

Usai lomba, potensi anak ini terus digali dan diberi ruang untuk berkembang, khususnya dalam upaya melestarikan Bahasa Sunda sejak dini.

Ketika guru meminta izin untuk mengikutsertakan siswa kelas lima ini dalam Tabligh Akbar, muncul keraguan dari istri yang khawatir anaknya tidak percaya diri menghadapi suasana dengan peserta (ibu-ibu, bapak-bapak, siswa SD, SMP) lebih banyak dan lingkup lebih luas.

Namun, berkali-kali guru meyakinkan bocah ini memiliki potensi lebih dibandingkan rata-rata siswa lainnya. Karena itulah pihak sekolah wajar mempercayakan kesempatan berharga ini kepadanya.

Sepulang sekolah, Aa bercerita tentang pengalamannya tampil sebelum Tabligh Akbar. Bersama Fakhri, menyampaikan kultum dalam Bahasa Sunda dan Indonesia.

Acara sebelumnya diawali dengan pembukaan oleh Jelita Delianda dan Naazira Queenza, lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Alvin Caniago. Setelah itu, barulah Aa ke depan tampil (tempat mimbar) untuk menyiapkan bahasan Ngajaga Lingkungan.

“Aa sempat grogi saat dipanggil tampil. Awalnya Aa pikir tidak banyak orang yang akan menonton dan tidak akan terhibur. Ternyata banyak yang hadir, bahkan mereka tertawa ketika Aa membacakan pantun,” ujar Aa dengan wajah lega.

Hasil tangkap layar Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025). (Sumber: Instagram/@masjidalamanahcileunyi)
Hasil tangkap layar Tabligh Akbar bersama Ustadz Ucu Najmudin yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Amanah, Cileunyi, Bandung, Jumat (29/8/2025). (Sumber: Instagram/@masjidalamanahcileunyi)

Belajar Muhasabah di Majlis Ilmu

Dalam tausiyahnya, Ustadz Ucu Najmudin mengangkat tema “Mendidik dengan Cinta, Merawat Amanah Allah dengan Bahagia.”

Isti menuturkan bahwa penyampaian materi diawali dengan satu pertanyaan reflektif, “Benarkah kita sedang mendidik dengan cinta, atau sekadar menuntut tanpa jiwa?”

Pesan yang disampaikan mengandung pelajaran mendalam tentang hakikat cinta. Ustadz Ucu mengingatkan, ketika kita mencintai dengan keikhlasan, maka melepaskan bukan lagi menjadi peristiwa yang sulit.

Pasalnya, cinta sejati adalah cinta yang berlandaskan ridha Allah, bukan sekadar hasrat memiliki. Dalam cinta seperti itu, sabar, pengorbanan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bentuk pengabdian. Ikhlas menuntun kita agar tidak terikat pada dunia, dan sabar membimbing kita untuk menerima segala ketetapan-Nya dengan hati yang lapang.

Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari kajian ini menjadi penguat bagi kita semua untuk terus melangkah (maju, terdepan) di jalan-Nya dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan.

Ingat, saat hadir di majlis ilmu bukan sekadar tempat (ruang) berkumpul untuk mendengar ceramah, justru menjadi media yang dapat menghadirkan cahaya petunjuk dan ketenangan hati.

Ya, apa yang disampaikan Ustadz Ucu Najmudin tentang “mendidik dengan cinta dan merawat amanah Allah dengan bahagia” menjadi bukti atas majlis ilmu sebagai ladang untuk menumbuhkan keikhlasan, merawat (mengembangkan) kesabaran, dan meraih cinta sejati.

Di (dari) majlis ilmu, kita belajar cinta bukan sekadar rasa memiliki, melainkan pengabdian yang dilandasi ridha Allah. Di sinilah hati ditempa untuk ikhlas melepas, sabar menerima, dan tulus berkorban. Setiap nasihat yang lahir dari majlis ilmu ibarat pelita, membimbing, memberi arah kepada kita agar tetap teguh di jalan-Nya.

Dengan demikian, majlis ilmu tidak hanya menambah pengetahuan, wawasan, justru memperhalus jiwa, menguatkan iman, dan menumbuhkan cinta yang benar kepada Allah, alam, lingkungan dan sesama umat manusia.

Inilah esensi dari majlis ilmu. Ya selalu belajar (haus) mencari ilmu, mengamalkan (mempraktikkan) apa yang sudah didapat. Mari menyimpan hikmah dalam hati, lalu menyebarkan risalahnya sebagai cahaya bagi kehidupan sehari-hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)