Samping Kebat Membalut Alegori Makna Agama

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi pembuatan samping kebat. (Sumber: Pexels/Noel Snpr)
Ilustrasi pembuatan samping kebat. (Sumber: Pexels/Noel Snpr)

Corak batiknya bermacam-macam, hewan atau tanaman. Ada juga garis, lingkar spiral, maupun percik berwarna-warni. Barang ini menjadi hadiah pertama kami, sejenak setelah lahir tubuh mungil yang dibedong dengannya.

Bahannya tidak begitu tebal, kalau basah mudah kering cukup diangin-angin saja. Kelak saat mati datang, kain yang sama menutupi tubuh kami lagi untuk diguyur air pemandian yang berkembang rupa-rupa. Setelah itu kami ditutupi lagi kebat yang bersih, dihampiri tetangga yang berbela sungkawa.

Kebat dalam bahasa ibu kami berarti terus atau langsung. Sebuah harapan dari kosmologi Sunda agar kami meneratas laju perjalanan ke kelanggengan tanpa tantangan penghalang. Ia adalah wujud nyata dari gagasan tentang misteri agung.

Teka-teki yang kadang sangat jauh dan abstrak, tapi kerap mendadak turun mendekat membuat suasana kalut, takjub, dan takut.

Sekalipun ia berbicara tentang lahir dan mati, kebat berada di dunia manusia yang punya banyak fungsi praktis. Dalam keseharian warga, kain ini bisa untuk menggendong anak sampai mengelap gumohnya. Kainnya sangat pantas dipakai sebagai busana dalam upacara persembahyangan dalam tradisi agama apapun.

Terhormat baik bagi perempuan maupun laki-laki. Kebat yang panjangnya dua meteran itu bisa menjadi pengganti dadakan untuk selimut atau handuk. Dipakai yang sakit dan yang sehat, dibuntel acak maupun dilipat rapi. Kebat, membuat kami merasa punya segalanya.

Agama seperti Samping Kebat

Ada sesuatu yang serupa dengannya. Ialah agama yang telah banyak berbuat bagi dunia, menggugah dan mengubahkan kita. Suka tidak suka, sebagian dari dunia adalah buah-buahnya. Seperti kebat, digadang-gadang barang lama tetapi tetap akrab dan terus relevan dengan keseharian.

Agama adalah cerminan kehidupan manusia, yang kompleks dan mempesona. Agama telah menjadi salah satu tanda tanya terbesar manusia yang merindu pada kepastian yang sejati.

Di kolong langit ini, setidaknya sepanjang menjadi manusia, kita sudah beberapa kali terkesima dengan berbagai kejadian baik yang terpola maupun yang ganjil. Kita mencoba mencari penjelasan yang bernalar, nyaman, dan syahdu.

Dengan narasi agama, kita menjadi lebih terbiasa menjalani hidup, menerangkan alasan keberadaan kita. Kita pun menjadi pribadi yang lebih tekun mempelajari arti penting dari pengalaman akan percaya pada sesuatu dan melakukan gerak-gerik peribadatan. Sekarang kita baru tersadar bahwa menjawab kehidupan tidak kalah memusingkan dengan soal kematian.

Dalam agama, manusia menunjukkan tingkah laku yang unik mulai mengundi keberuntungan dengan ramalan, bergantung harapan kepada para dewa melalui bunga, menyerap energi kosmik lewat kultivasi diri, mematuhi hukum Tuhan dengan rajin doa, hingga mencapai kesadaran tertinggi dengan bermeditasi.

Tentunya hal seperti ini membutuhkan kesadaran tingkat tinggi. Manusia mengerahkan seluruh potensi dirinya untuk membayangkan dunia yang lebih besar dari sekadar pencerapan inderawi. Dan kitalah si manusia itu yang mampu menemukan cerita yang tersembunyi. Soal kisah dan waktu, ada dan makna, struktur dan unsur, visi dan fungsi, serta kuasa dan estetika.   

Agama seperti pusat kota yang ramai. Di sana ada pengadilan dan kantor polisi, klinik apotek yang buka 24 jam, laboratorium canggih, museum tua, taman bermain, jalan-jalan pameran seni, kampus ternama, dan termasuk tempat sampah diolah. Kita bisa menemukan banyak hal.

Tapi setiap agama punya pusat kotanya masing-masing. Boleh jadi sebuah pasar tradisional menjadi fokus bagi satu agama, sedangkan bandara lebih menarik bagi agama lainnya. Tidak ada rancangan khusus untuk tata kota bagi wilayah yang bernama agama. Replikasi mungkin saja terjadi bagi kota-kota lain, bahkan membuat kawasan metropolitan.

Menerima Warisan yang Kaya

Ilustrasi samping kebat. (Sumber: Unsplash/Iniizah)
Ilustrasi samping kebat. (Sumber: Unsplash/Iniizah)

Kita menerima gagasan soal pentingnya berkesadaran melalui praktik meditasi untuk mengurangi kecemasaan. Kemampuan kita menerima keadaan sekarang dan di sini yang tidak kekal itu (annica), telah diajarkan Sang Buddha lima abad Sebelum Masehi.

Nah, masehi sendiri adalah warisan Kekristenan yang sudah jelas sekali menjadikan kehidupan Kristus sebagai patokan waktu. Cara memahami waktu yang linear ini, yang kita persepsikan garis lurus masa lalu, sekarang, dan masa depan, merupakan hadiah dari Yahudi memaknai sejarah, sebagaimana kitab Tanakh tersusun indah.

Asia Timur yang kita kenal mementingkan harmoni sosial khususnya melalui bakti terhadap orang tua, mencerminkan ajaran Konfusianisme. Termasuk pandangan yang memprioritaskan pendidikan dan relasi antar-manusia sebagai inti dari kehidupan.

Ide soal kehendak bebas dan bingkai film kepahlawanan di antara perjuangan kebaikan dan kejahatan, adalah pandangan Zoroaster. Sedangkan gaya hidup veganisme berdetak kuat pada jantung ahimsa Jainisme. Pun penghindaran pada konsumerisme. Ini semua kita telah terima juga menjadi bagian dari nadi hari-hari kita.

Jadi bagaimana mungkin kita menyangkal bahwa agama telah membentuk kemanusiaan kita? Sejauh apapun arus yang menyeret manusia kiwari berada, ia tetap tersimpan dalam memori kita. Agama memang berkesan, memberi banyak kenang-kenangan.

Ada Kemiripan

Di luar sana banyak yang punya pola mirip agama. Misalnya praktik sihir atau spiritualitas, mungkin punya ritual, simbol, dan keyakinan yang membuat orang merasa terkoneksi dengan sesuatu yang lebih besar.

Ideologi politik juga begitu. Sosialisme atau kapitalisme sering diperlakukan seperti agama lengkap dengan “kitab suci”, dogma, dan tokoh yang dianggap tak bisa salah.

Baca Juga: Keunikan Sunda: Agama Bisa Apa Saja, Pola Pikirnya Tetap Kirata Basa

Hal yang sama juga terlihat pada nasionalisme. Rasa cinta tanah air bisa menjelma semacam iman dalam politik, seperti di Korea Utara atau narasi Amerika sebagai bangsa pilihan. Belum lagi sakralnya upacara dan lambang negara. Sains pun kadang diperlakukan begitu.

Dari yang awalnya disiplin ilmu bisa berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya punya jawaban mutlak untuk semua hal. Tapi semua itu bukanlah agama, lalu apa itu agama? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)