Bangkit Bergerak, Melawan Rebahan dan Scroll Medsos

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Berlatih Panjat Tebing di Boulder Climbing Training Center (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Berlatih Panjat Tebing di Boulder Climbing Training Center (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik berbincang dengan tiga kawan di sebuah kedai sederhana, ditemani segarnya es kelapa muda Al Fatih yang berada sebelum rental mobil Zaki, dekat Puskesmas Cibiru, salah seorang kawan melontarkan tantangan agar obrolan tetap fokus dan santai.

“Taruh semua HP di depan. Kalau dalam waktu lima menit ada yang mengambil, berarti kecanduan,” selorohnya sambil tertawa.

Ternyata benar, belum genap tiga menit sudah ada yang mengambil ponselnya. Alasannya sederhana, ya ingin cek media sosial (Instagram, Facebook, Tiktok), takut ada yang baru update status WhatsApp.

Aplikasi penyedia media sosial yang paling banyak dipakai masyarakat Indonesia, Januari 2024 (Sumber: GoodStats | Foto: Istimewa)
Aplikasi penyedia media sosial yang paling banyak dipakai masyarakat Indonesia, Januari 2024 (Sumber: GoodStats | Foto: Istimewa)

Indonesia Juara Medsos Sambil Rebahan

Kini keberadaan media sosial tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dari 278,7 juta penduduk, setidaknya 185,3 juta di antaranya telah terhubung dengan internet.

Laporan We Are Social bertajuk Data Digital Indonesia 2024 mencatat, 49,9% masyarakat dari Sabang sampai Merauke memiliki akun media sosial. Angka ini setara dengan 139 juta identitas pengguna di tanah air.

“Sebanyak 75% dari total pengguna internet di Indonesia menggunakan setidaknya satu platform media sosial pada Januari 2024. Dari jumlah tersebut, 46,5% adalah perempuan dan 53,5% laki-laki.”

Mari bandingkan dengan data lain menunjukkan 57,1% responden menggunakan media sosial untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman; 53,1% mengikuti akun milik kerabat (sahabat); 58,9% responden mengaku memanfaatkannya untuk mengisi waktu luang; terlihat dari 42,8% yang mengikuti akun band (penyanyi); 41,4% yang menyukai akun hiburan, meme (parodi).

Menariknya, WhatsApp menjadi platform media sosial paling populer dengan tingkat penggunaan mencapai 90,9%. Disusul Instagram, Facebook, TikTok, Telegram, dan X yang semuanya menembus lebih dari 50% pengguna. Di papan bawah, ada Facebook Messenger (47,9%), Pinterest (34,2%), Snack Video/Kuaishou (32,4%), dan LinkedIn (25%).

Meski paling banyak dipakai, WhatsApp bukanlah aplikasi dengan waktu penggunaan terlama. Rata-rata, pengguna Indonesia menghabiskan 26 jam 13 menit per bulan di aplikasi ini, menempatkannya di posisi ketiga. Peringkat pertama ditempati TikTok dengan 38 jam 26 menit, diikuti YouTube dengan 31 jam 28 menit.

Menurut data World Visualized, Indonesia menempati posisi keempat dunia dalam jumlah pengguna WhatsApp 86,9 juta. Di atasnya ada India (535,8 juta), Brasil (139,3 juta), dan Amerika Serikat (91,3 juta). WhatsApp sendiri menduduki peringkat keenam aplikasi dengan unduhan terbanyak di Indonesia pada Januari 2024 dan WhatsApp Business ada di posisi kedelapan.

Victoria Grand, Wakil Presiden WhatsApp Bidang Urusan Global dan Pasar Strategis, menegaskan posisi Indonesia sangat penting bagi WhatsApp. “WhatsApp memiliki komitmen kuat untuk Indonesia. Kami termotivasi oleh dampak positif dari kerja sama kami dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan dunia bisnis."

Namun, tidak semua negara membuka akses terhadap WhatsApp. Tiongkok memblokir aplikasi ini dengan alasan keamanan nasional. Untuk di Korea Utara, justru Meta selaku pengembang yang membatasi penggunaannya. Lain lagi dengan Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania yang menerapkan pembatasan, terutama pada layanan panggilan suara dan video. (www.goodstats.id)

Ilustrasi asyiknya bermedia sosial. (Sumber: pixabay.com | Foto: Istimewa)
Ilustrasi asyiknya bermedia sosial. (Sumber: pixabay.com | Foto: Istimewa)

Paradoks Era Digital, dari Dopamine jadi Candu

Salah satu dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Atwar Bajari, membeberkan paradoksnya era digital secara detail yang dialami saat ini sejak bangun tidur sampai obo deui.

Teknologi telah menjanjikan efisiensi, tetapi sekaligus merampas kemampuan untuk menikmati waktu tanpa interupsi. Notifikasi yang da­tang bertubi-tubi membuat otak bekerja seperti lampu darurat yang harus menyala terus tanpa kesempatan pa­dam. Ujungnya lupa bagai­mana totalitas rasa hening.

Bayangkan pada saat pagi yang santai. Seduhan kopi masih mengepul, koran belum disentuh, namun bunyi ting gawai memecah suasana. Otomatis, tangan meraih gawai.

Padahal, kita tidak sedang menunggu pesan penting. Itulah sebuah kekuatan kecil yang bernama dopamine hit. Sebuah leda­k­an singkat rasa senang yang datang setiap kali notifikasi hadir, meski isinya sering ka­li tidak penting bahkan “sampah” yang memenuhi ruang aplikasi untuk percakapan (Lembke, 2021).

Fenomena ini bukan se­ka­dar kebiasaan modern, me­lain­kan bentuk jejak bio­kimia yang biasanya bekerja dalam otak. Dopamin, zat kimia yang selama ini dikenal sebagai “hormon bahagia,” sebenarnya lebih tepat disebut “hormon antisipasi.” Sebuah proses yang muncul ketika otak berharap ada reward, kabar, atau peng­aku­an dari lingkungan yang terbentuk lewat ruang-ruang percakapan (Kesner, 2022).

Setiap kali layar ponsel me­nyala, dopamin bekerja oto­matis sehingga keluar perca­kapan interpersonal, seperti siapa tahu ada sesuatu yang pen­ting untuk saya. Begitulah tubuh dilatih untuk menanggapi notifikasi. Gejala ini nyatanya bukan sekadar dugaan.

Studi global menunjukkan tren orang dewasa rata-rata membuka pon­sel 58 kali sehari, sementara survei lain mencatat rata-rata bisa mencapai 144 kali per hari. Generasi muda lebih ekstrem statistiknya; 80% langsung me­nge­cek notifikasi kurang dari lima menit setelah muncul.

Kajian ini menegaskan ihwal dopamine hit telah membentuk kebiasaan baru yang nyaris otomatis, hingga di­duga gejala ini yang membuat pengguna gelisah bila ponsel hening terlalu lama.

Masalahnya, dopamine hit kini berubah jadi candu. Kita selalu terdorong membuka Whatsapp setiap lima menit, menggulir Instagram tanpa tujuan, atau menunggu tanda centang biru de­ngan jantung berdebar.

Komuni­ka­si yang sejatinya sa­rat mak­na ber­ubah jadi sekadar reaksi oto­matis terhadap rang­sangan digital. Kita tidak lagi benar-benar menyaring waktu dan “la­wan” bicara, hanya gawai yang memilih­kan. (Pikiran Rakyat edisi 28 Agustus 2025).

Ilustrasi kaum rebahan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Sekar Aghna Az Zahra)
Ilustrasi kaum rebahan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Sekar Aghna Az Zahra)

Jebakan Medsos dan Perangkap Algoritma

Medsos itu ibarat jebakan yang bikin kita nggak sadar udah terperangkap. Kita buka HP cuma niatnya ngecek sebentar, eh tau-tau udah sejam lebih. Pernah ngalamin kayak gitu? Kalau iya, berarti lo nggak sendirian. Banyak dari kita yang tanpa sadar udah kecanduan media sosial. Tapi sebenernya, kenapa sih kita bisa begitu? Apa yang bikin medsos begitu menarik sampai kita susah lepas?

Jawabannya ada di cara kerja otak kita sendiri. Setiap kali kita dapat notifikasi, otak kita melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang bikin kita merasa senang. Ini sama kayak efek yang ditimbulkan dari makan makanan enak atau bahkan dari kecanduan lainnya, seperti judi.

Setiap kali ada yang like (komen) di postingan kita, kita merasa dihargai dan itu bikin kita ketagihan buat terus ngecek HP. Semakin sering kita dapat interaksi, semakin kita ingin lebih banyak lagi. Nggak heran kalau akhirnya kita terus-terusan scrolling tanpa sadar.

Tapi, yang bikin makin parah adalah algoritma media sosial yang memang dirancang buat bikin kita betah selama mungkin. Coba deh perhatiin, kenapa setiap kali kita buka TikTok, Instagram, atau YouTube Shorts, kita selalu dikasih konten yang bener-bener menarik buat kita? Itu karena algoritma udah mengenali kebiasaan kita, apa yang sering kita tonton, like, (komen).

Jadi, mereka kasih kita lebih banyak hal yang mirip supaya kita nggak bisa berhenti. Ini yang bikin kita susah lepas dan selalu merasa pengen lihat "satu video lagi" atau "satu postingan lagi" sampai akhirnya waktu kita habis.

Selain bikin kita kehilangan banyak waktu, kecanduan media sosial juga bisa berdampak buruk ke kesehatan mental kita. Pernah nggak sih lo ngerasa cemas atau nggak tenang kalau seharian nggak buka medsos? Itu tanda-tanda FOMO alias Fear of Missing Out. Kita takut ketinggalan tren, takut nggak update, takut nggak tahu gosip terbaru.

Akhirnya, kita jadi selalu terhubung ke dunia maya dan lupa buat menikmati kehidupan nyata. Padahal, kalau kita pikir-pikir lagi, ngga semua hal di media sosial benar-benar penting buat hidup kita. (Boy Anto Ando Silitonga [Editor], 2025:5-6)

Wisatawan saat mengunjungi gua di kawasan tebing Citatah 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 16 Agustus 2025 (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisatawan saat mengunjungi gua di kawasan tebing Citatah 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 16 Agustus 2025 (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Coba 7 Strategi Ini untuk Menghentikannya ala Psikologi

Ya hampir semua dari kita pernah mengalami kecanduan scroll ponsel di media sosial. Niatnya hanya membuka sebentar, tetapi tanpa sadar waktu satu jam sudah habis begitu saja.

Ponsel memang alat yang luar biasa. Namun, jika digunakan berlebihan tanpa kendali, kita bisa kehilangan banyak momen berharga dalam hidup.

Dikutip dari Blog Herald, jika ingin mengurangi kebiasaan ini, cobalah tujuh latihan sederhana berikut yang dapat membantu otak lebih fokus dan tidak mudah terjebak dalam scrolling tanpa henti.

1. Teknik 5-5-5 untuk Menghentikan Autopilot

Setiap kali ingin scroll tanpa alasan jelas, coba lakukan teknik 5-5-5 ini. Tarik napas lima kali dengan perlahan dan dalam. Perhatikan lima hal di sekitar yang mungkin sebelumnya tidak disadari. Lakukan lima peregangan ringan, seperti putar bahu (regangkan) leher. Latihan ini bisa membantu otak kembali ke momen saat ini dan menghindari kebiasaan autopilot.

2. Ubah Kebosanan Jadi Rasa Ingin Tahu

Scrolling sering terjadi saat kita bosan. Tapi, daripada mengambil ponsel, cobalah untuk lebih sadar dengan lingkungan sekitar.

Perhatikan detail ruangan yang belum pernah disadari. Dengarkan suara sekitar, seperti burung, lalu lintas. Amati ekspresi orang-orang di sekitar. Dengan melatih rasa ingin tahu, otak akan lebih aktif tanpa perlu bergantung pada layar.

3. Tetapkan Waktu "No-Scroll"

Buat aturan sederhana untuk tidak scroll di momen-momen tertentu, misalnya tidak scroll di tempat tidur sebelum tidur. Tidak melihat ponsel saat makan. Dengan membiasakan diri untuk tidak menyentuh ponsel di waktu tertentu, otak akan lebih terbiasa menikmati aktivitas nyata tanpa gangguan digital.

4. Ganti Scroll dengan Aktivitas Singkat yang Berfaedah

Jika merasa butuh jeda dari pekerjaan, alih-alih scroll tanpa tujuan, coba lakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Seperti Nonton tutorial singkat, belajar bahasa baru selama lima menit, baca artikel pendek yang informatif. Cara ini tetap memberikan hiburan, tetapi dengan manfaat tambahan.

5. Bayangkan Alternatif yang Lebih Positif

Sebelum mulai scroll, coba pikirkan satu kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan menyenangkan. Misalnya merapikan meja kerja, membaca buku sebentar, dan berjalan-jalan sejenak. Dengan membayangkan aktivitas ini, kemungkinan besar kita akan lebih tertarik untuk melakukannya daripada sekadar melihat layar.

6. Terapkan Aturan 15 Menit

Sebelum mengambil ponsel, berikan diri sendiri waktu 15 menit untuk melakukan hal lain lebih dulu, seperti merapikan ruangan kecil, mendengarkan lagu favorit, menyeduh dan menikmati secangkir teh. Setelah 15 menit, sering kali dorongan untuk scrolling sudah berkurang.

7. Pahami "Kenapa" Berscroll

Tanyakan pada diri sendiri, apa alasan sebenarnya di balik keinginan untuk scrolling:

Apakah karena stres? Apakah karena kesepian? Atau hanya menunda pekerjaan? Jika sudah tahu alasannya, coba cari solusi lain yang lebih efektif. Misalnya, jika merasa kesepian, hubungi teman daripada melihat media sosial. (Jawa Pos, Kamis, 20 Februari 2025 | 19:54 WIB)

Perajin menyelesaikan produksi kerajinan tas belanja dari limbah plastik di rumah produksi Kekeresekan Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Perajin menyelesaikan produksi kerajinan tas belanja dari limbah plastik di rumah produksi Kekeresekan Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di era digital ini, rebahan dan scroll medsos memang terasa nyaman, tapi jika berlebihan bisa membuat kita kehilangan momentum, semangat, bahkan dapat menggangu kesehatan mental. Tubuh menjadi malas bergerak, pikiran teralihkan pada yang serba instan. Tentunya segala impian yang seharusnya dikejar malah semakin jauh dan tidak terarah.

Dengan demikian, penting untuk mengingatkan diri agar bangkit bergerak. Tidak harus langsung melakukan yang besar. Mulailah dengan langkah kecil, seperti merapikan tempat tidur, berjalan keluar rumah, membaca buku, mengerjakan tugas yang tertunda, memasak, mengajak bermain dengan anak, istri. Gerakan kecil ini bisa memutus rantai malas (mager) dan memberi energi positif yang kuat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bermedia sosial tetap bisa bermanfaat dan digunakan dengan bijak mulai dari mencari inspirasi, menambah ilmu, wawasan, memperluas jaringan. Namun, jangan sampai kita hanya jadi penonton hidup orang lain karena hidup kita sendiri hanya berkutat dan dihabiskan di layar ponsel.

Saatnya melawan rebahan yang berlebihan. Ayo bangkitlah, bergerak, dan gunakan waktu dengan lebih berarti. Pasalnya hidup ini terlalu singkat untuk hanya dihabiskan dengan scroll tanpa henti.

Mari kita coba kiat dari seorang kawan sekaligus dosen yang aktif beraktivitas memberikan tantangan menarik, berani mencoba dua jam tanpa scroll (membuka dan menggulir) media sosial, yuk!

"Gunakan untuk ibadah, olah raga, belajar atau berkarya. Rasakan bedanya fokus, tenang dan lebih produktif. Berani coba? Tulis "saya siap" di komentar yaa!

Salam dari saya yang sedang di UNY Jogjakarta... Semoga kita sehat dan bugar sahabat produktif." (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)