Masih Adakah Gerakan Nasional Revolusi Mental?

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)
Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)

Benarkah kebijaksanaan hadir di tengah kehidupan kita saat ini? Mencari kesejatian diri yang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Sepekan ini kita disuguhkan peristiwa yang sangat mendebarkan dan menegangkan. 

Pejabat yang berwenang menunjukkan ketidakadilan. Perilaku koruptif menggemparkan dan menjadi cela yang tidak bisa dilepaskan dari stigma masyarakat.

Apakah dengan vonis hukum yang cenderung ringan setelah mengorupsi menjadi citra negatif terhadap negeri ini? Seolah kita selalu disuguhkan dunia hukum paling mencurigakan.

Lalu peristiwa anak menangisi ayahnya karena dugaan maling ayam harus menjadi tangisan bagi abainya sikap toleransi. Sedangkan koruptor meraih kemenangan dengan cara culas dan tidak ada hukuman brutal dari masyarakat.

Wajah hukum Indonesia yang terbalik. Sesama rakyat main hakim sendiri. Sedangkan untuk maling uang rakyat disebut pahlawan yang disebut dikriminalisasi. Dan masih banyak lagi peristiwa yang terbalik-balik.

Bagaimana sikap kita dalam menilai tindakan tersebut? Tindakan yang dilakukan terang-terangan berbeda perlakuan. Mirisnya jika kita belum menyuarakan apapun tentang peristiwa yang terjadi. Kondisi ini sudah menimpa negeri kita tercinta. Seringkali kita menghadapi situasi yang sulit untuk memilih namun setiap kondisi yang terjadi membuat kita kebingungan dan duka selalu hadir di tengah-tengahnya. 

Apalah daya, sebagai masyarakat yang tidak mampu menyatakan ketidaksetujuan. Masyarakat tidak bisa menyuarakan kekejian yang sudah ada. Koruptor sangat nyata menghabiskan seluruh anggaran dari dana rakyat. Tetapi koruptor selalu melenggang tanpa bersalah dan tidak sadar akan perbuatannya. Nyatanya, mustahil bagi masyarakat untuk membuat petisi. 

Respons Masyarakat

Kendala masyarakat dalam merespon situasi yang kontradiktif ini sangat menyesakkan. Di satu sisi media sosial adalah ruang digital yang memberikan kemudahan bagi pengguna tetapi pembatasan akun sering menjadi kendalanya. Masyarakat ingin membagikan pendapatnya. Tetapi rasa takut berkepanjangan. Misalnya, jika terjadi komentar yang terlalu sarkas, tidak terkontrol, dan otomatis mendapatkan ancaman atas komentar tersebut.

Keadilan sering tajam kepada masyarakat, dan tumpul bagi pelaku ketidakbijaksanaan. Makanya, seiring media sosial yang dibatasi. Maka muncul istilah, negara yang tidak adil kepada masyarakatnya sendiri. 

Ketidakberdayaan masyarakat sudah menjadi polemik sejak adanya undang-undang ITE, belum lagi jika tidak memiliki kekuatan apapun, kriminalisasi membuat masyarakat tidak berdaya. Keterlibatan masyarakat memandang atas peristiwa di negeri ini memunculkan pendapat yang beragam. 

Menelusuri data dari KPK dan ICW, bahwa koruptor yang telah ditangkap dari tahun 2021 sampai dengan 2026 mencapai 5.000 orang. Tahun 2021: terdapat 1.173 orang dijadikan tersangka dari total 533 kasus. Pada tahun 2022 terdapat 1.396 orang ditetapkan sebagai tersangka dari total 579 kasus. Pada tahun 2023 terdapat 1.695 orang ditetapkan sebagai tersangka, mencatatkan lonjakan masif dengan total 791 kasus.

Pada tahun 2024 terdapat 888 orang dijadikan tersangka dari total 364 kasus. Meskipun jumlah tersangkanya menurun, estimasi kerugian negara melonjak fantastis hingga Rp279,9 triliun akibat megakorupsi tata niaga komoditas PT Timah Tbk. Pada tahun 2025, bahwa terdapat proses hukum terus berjalan secara masif, dengan akumulasi penindakan KPK sejak 2004 hingga akhir 2025 yang sukses menjaring total 1.904 pelaku korupsi (didominasi 91% pria dan 9% wanita). Dan pada tahun 2026 (Semester I) bahwa khusus dari penindakan KPK, terdapat 45 pelaku korupsi baru yang diproses hukum dalam enam bulan pertama. Di luar itu, KPK juga telah menerima 5.080 laporan pengaduan masyarakat terkait dugaan korupsi baru.

Kenyataan ini mengharuskan masyarakat terima. Kondisi yang nggak bisa dianggap remeh. Bahwa masyarakat hanya menyaksikan para koruptor yang telah menghabiskan uang rakyat. Namun hukumannya tidak sesuai dengan harapan dari masyarakat. Padahal koruptor ini telah menyengsarakan masyarakat. 

Masyarakat bahkan menganggap tindakan koruptor ini seharusnya setimpal, korupsi dana rakyat dan hukumannya berat. Buktinya tidak. Hakim menjatuhkan hukuman yang tidak adil dibandingkan dengan rakyat kecil yang diamuk massa, atau karena terpaksa mencuri demi kebutuhan hidup sehari-hari. Adilnya dimana? 

Revolusi Mental 

Sepuluh tahun era kepemimpinan presiden Joko Widodo, menanamkan amanah tentang revolusi mental di setiap sektor. Revolusi mental yang dianggap sebagai pergerakan yang mampu membuat gebrakan untuk menghidupkan kembali semangat mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, perilaku, dan cara kerja masyarakat Indonesia agar berorientasi pada kemajuan dan kemakmuran bangsa. 

Konsep Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) ini diawali pertama kali dilontarkan oleh ⁠Presiden Soekarno pada pilar kebangsaan untuk menggembleng manusia baru Indonesia yang berjiwa merdeka setelah berabad-abad dijajah. Dilanjutkan pada era Presiden Joko Widodo yang dicantumkan pada Nawacita, terdiri atas 5 (lima) gerakan yaitu Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu yang dituangkan kepada Permenko PMK nomor 4 tahun 2017.

Dari GNRM ini muncullah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, dengan GNRM ini seluruh rakyat dan pemerintahannya menjalin kolaborasi dan kerjasama meningkatkan gerakan berbasis gotong royong dan tentu saja menghilangkan budaya koruptif. 

Tetapi kenyataan bahwa setelah adanya peraturan tentang GNRM tampaknya tidak sesuai dengan harapan apapun. Masyarakat merasakan kekecewaannya. Masyarakat tidak puas dengan kondisi tersebut. GNRM seolah hanya slogan tanpa penindakan yang konstruktif.

Meskipun kini sudah berganti nama pada Presiden Prabowo bernama, Gerakan Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa (PKJB). Pendekatan baru ini diperluas untuk menyelaraskan arah pembangunan dengan visi misi ⁠Asta Cita, yang berfokus pada internalisasi nilai budi pekerti dan ideologi Pancasila sejak dini lewat sistem pendidikan.

Gerakan PKJB ini belum benar-benar menjadi kebanggaan masyarakat indonesia. Akhirnya kita sampai pada pertanyaan yang sama: masih adakah revolusi mental? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muh Husen Arifin
Dosen Aktif di Prodi PGSD UPI Kampus Cibiru

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)