AYOBANDUNG.ID -- Sejarah sering kali bersemayam dalam ruang-ruang yang tampak biasa, namun menyimpan lapisan kisah yang mendalam. Kawasan Cihapit di Bandung adalah salah satunya. Dari masa kolonial hingga pendudukan Jepang, kawasan ini menjadi saksi bisu pergulatan sosial, politik, dan budaya.
Kini, jejak itu kembali hidup melalui sebuah resto bernama House of Tjihapit (HoT), yang berdiri bukan hanya sebagai tempat makan, melainkan sebagai pengingat akan memori kolektif yang pernah membentuk wajah kota.
Pada masa pendudukan Jepang, Cihapit dijadikan kampung penjara bagi ribuan orang Eropa, terutama Belanda. Sekitar 14 ribu orang dikumpulkan, dipisahkan berdasarkan usia dan gender, lalu ditempatkan dalam pengawasan ketat. Kawasan yang dulunya dirancang sebagai pemukiman sehat berubah menjadi ruang penuh keterbatasan, menandai babak kelam dalam sejarah Bandung.
Namun jauh sebelum itu, Cihapit dikenal dengan nama Bloemenkemp. Kawasan ini dibangun dengan konsep lingkungan sehat, lengkap dengan perumahan, taman terbuka atau plein, serta pasar. Pada 1920-an, Bloemenkemp bahkan mendapat predikat sebagai contoh pemukiman sehat yang dihuni oleh warga golongan menengah.
“Pada 1920-an, kawasan ini mendapat predikat sebagai contoh pemukiman sehat yang dihuni oleh warga golongan menengah,” ujar Tian, pengurus Komunitas Blogger Bandung, yang menekankan bahwa identitas sosial-ekonomi kawasan ini masih terasa hingga kini.
Pasar Cihapit, yang tetap hidup sampai sekarang, menjadi bukti kesinambungan itu. Konsumen dari kalangan menengah ke atas masih menjadikan pasar ini sebagai tujuan utama, memperlihatkan bagaimana ruang ekonomi dan sosial tetap bertahan meski zaman berganti.
“Sebagian pedagang juga menceritakan bahwa sebelumnya pasar ini juga dikenal sebagai istal (kandang) kuda pada masa penjajahan Jepang," lanjut Tian.
Cerita ini memperkaya lapisan sejarah Cihapit, menjadikannya bukan sekadar pasar, melainkan ruang yang menyimpan memori kolektif. Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung juga menegaskan bahwa kawasan Cihapit termasuk dalam daftar kawasan bersejarah kota, dengan nilai penting sebagai cagar budaya kelas B. Status ini meneguhkan posisi Cihapit sebagai ruang yang harus dirawat, bukan hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai warisan sejarah.

Dalam lanskap yang sarat makna ini, House of Tjihapit hadir dengan wajah modern. Fasilitas yang mendukung, suasana nyaman untuk berbagai kebutuhan acara seperti meeting, seminar, dan gathering menjadikan resto ini juga sebagai menjadi ruang pertemuan, ruang komunitas, hingg ruang perayaan.
Menu andalan HoT adalah Soto Tangkar dan Sop Djanda. Dua hidangan ini bukan sekadar kuliner, melainkan simbol autentisitas cita rasa Cihapit. Soto Tangkar hadir dengan kuah gurih kaya rempah, potongan daging lembut, dan aroma comforting, membangkitkan memori kuliner rumahan premium.
Sementara itu, Sop Djanda menawarkan kuah bening segar dengan isian melimpah. Rasa ringan namun tetap kaya rasa menjadikannya pilihan yang menghadirkan sensasi hangat, seolah menyatukan kesederhanaan dengan kehangatan khas Bandung.
Keunikan menu ini pun memperkuat identitas HoT sebagai resto yang mengakar pada tradisi kuliner Bandung. Lanaran destinasi ini tak hanya menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman rasa yang autentik.
Selain kuliner, HoT menyediakan event space multifungsi. Ruangan ini mendukung berbagai kegiatan komunitas, mulai dari workshop, acara lamaran, hingga pertemuan komunitas seni dan olahraga. Dengan lokasi strategis di pusat kota, HoT menjadi titik temu yang ideal bagi komunitas kreatif Bandung.
“House of Tjihapit adalah resto dengan ambience yang hangat, homey, dan cozy. Berlokasi di tengah kota sehingga sangat strategis dan mudah dijangkau,” ujar Tian.
Data dari Badan Pusat Statistik Kota Bandung pun menunjukkan bahwa Kelurahan Cihapit memiliki komposisi penduduk menengah yang stabil. Kondisi ini mendukung ekosistem bisnis kuliner dan kreatif, menjadikan HoT bagian dari lanskap ekonomi yang terus tumbuh.

Kehadiran HoT memperkuat identitas Bandung sebagai kota kreatif yang berakar pada memori kolonial dan perjuangan. Tempat ini juga menjadi simbol bagaimana sejarah bisa berpadu dengan cita rasa, menghadirkan ruang yang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk mengenang dan merayakan Bandung sebagai kota yang terus hidup.
“House of Tjihapit adalah simbol bahwa sejarah dan cita rasa bisa berpadu, menghadirkan ruang yang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk mengenang dan merayakan Bandung sebagai kota yang terus hidup,” ujar Tian.
Alternatif kuliner Bandung atau produk serupa:
