Kisah Kaum Urban: Hikayat Urang Pasar (Bagian 2) ‘Bank Himpunan Saudara’

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Pasar baru bandung pasca kemerdekaan. (Sumber: KITLV)
Pasar baru bandung pasca kemerdekaan. (Sumber: KITLV)

Kisah dalam tulisan ini berdasarkan data-data tertulis dalam buku 100 tahun Bank Saudara yang diterbitkan oleh Yayasan Yusuf Panigoro, 2006, buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto, dan data-data lisan keluarga besar Pasar Baru Bandung khususnya keluarga Apandi.

Cerita perjalanan itu berawal dari sebuah pasar di sudut kota Bandung pada 18 April 1906. Di sanalah para saudagar batik membuat langkah untuk membentuk perkumpulan yang bertujuan untuk memudahkan mereka melakukan kegiatan berniaga. Tak dinyana, buah hasil pikiran mereka tersebut dapat menembus waktu hingga 100 tahun lebih.

Dalam sejarah perbankan Indonesia, hanya ada satu-dua bank yang dapat menembus umur satu abad. Bank Saudara melalui lorong waktu dengan berbagai kondisi. Susah, senang, dan hampir pula ditutup, namun semua itu bisa dilalui dengan semangat kesetiaan dari para pemilik, pengurus, dan nasabah. Kuncinya adalah kebersamaan, kesetiaan, kerja keras dan prinsip kehati-hatian. Empat prinsip itu yang mampu memberangus semua tantangan dan halangan, termasuk badai besar 1998.

Berangkat dari rasa kebersamaan dalam berniaga, sepuluh orang saudagar batik asal Pasar Baru Bandung mendirikan perkumpulan kecil yang bernama “Himpunan Saudara”, sebuah kegiatan yang awalnya hanya untuk saling membantu dalam membeli kain batik dan kulit, perkumpulan ini pun akhirnya dapat berkembang pesat.

Mereka pergi ke arah timur Jawa dalam sebuah masa, mereka meninggalkan anak dan istri mereka. Rombongan ini berangkat dengan membawa peralatan lengkap, makanan dan alas tidur, dan tentu saja segepok uang. Itu sebabnya pula dalam rombongan itu terdapat begundal bersenjata lengkap membawa tombak, kelewang dan nyali yang tak pernah putus.

Untuk keluarga leluhur saya, para begundal yang dibawa ikut serta adalah mereka yang dahulunya tinggal di kawasan Banceuy, yang dahulu terkenal dengan banyaknya pedati-pedati yang dijaga (pedati perkebunan kopi yang telah saya jelaskan dalam kisah kampung Apandi).

Buyut kakek saya adalah seorang wanita pejuang yang pandai bela diri. Nama aslinya adalah Banowati, seorang wanita kalang yang selain pandai urusan dapur dan pupur juga lihai memainkan tombak. Pada saat perjalanan keluarga Pasar Baru menuju timur Jawa, Banowati atau Khodijah ini ikut serta, ia telah banyak melawan para begal yang sering ditemui di kawasan perbatasan.

Perjalanan mereka para saudagar batik memang mengundang bahaya. Tidak hanya binatang buas yang muncul sesekali, tapi juga kawanan begal yang kerap mengancam. Tapi kuda-kuda mereka tidak pernah kelelahan, bagaikan khafilah. Selama berminggu-minggu mereka bergerak terus menembus hutan, gunung dan wilayah pedesaan.

Seperti itulah ritual yang selalu dilakukan para pedagang dari kawasan Priangan, Jawa Barat. Dalam kurun waktu tertentu, mereka mengadakan perjalanan mengelilingi kawasan pembuat batik, seperti Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Banyumas dan Lasem, tujuan mereka adalah mengambil ratusan helai kain batik untuk dijual di Bandung dan tempat-tempat lainnya di Jawa Barat.

Kisah ini ditulis pula oleh sang kuncen Bandung, bapak Haryoto Kunto, dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya. Disebutkan bahwa kegigihan para saudagar ini dalam menempuh perjalanan yang kadang harus berhadapan dengan begal. Kisah ini menurut pak Haryoto Kunto banyak diangkat menjadi kisah-kisah dalam buku sekolah dasar di Bandung pasca kemerdekaan.

Batik dahulu adalah komoditas yang menawan. Bagi kaum priyayi, batik bukan hanya busana tapi merupakan simbol status sosial selain merupakan busana yang tren saat itu. Batik berkualitas baik, seperti batik tiga negeri, harganya bisa mencapai 10 Gulden, sementara harga beras saja hanya 75 sen per liter, dan gaji seorang guru pada saat itu sekitar 75 Gulden, jadi dapat dibayangkan begitu mahalnya harga selembar kain batik pada saat itu.

Awalnya, para saudagar batik ini hanya menerima barang komisi, tapi lama kelamaan menjadi penjual grosir dengan melayani berbagai pelanggan hingga pelanggan Eropa. Para pelanggan tiba dari berbagai kawasan di Jawa Barat, namun yang paling terkenal adalah para pelanggan dari seantero Bandung, Lembang, Subang, Cianjur, Soreang, Sumedang dan Cicalengka.

Bandung segera dikenal sebagai pusat grosir batik pada saat itu di Jawa Barat. Dalam sehari pendapatan toko di Pasar Baru Bandung tidak kurang dalam 1000 Gulden. Tak heran mengapa para saudagar tersebut hingga rela mencari kain batik hingga ke tempat yang jauh ratusan kilometer dari tempat tinggal mereka.

Kota Bandung saat itu pun sedang tumbuh pesat. Berangkat dari pemindahan keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung tahun 1862, orang Eropa yang menyambangi Bandung pun terus bertambah. Apalagi pemerintah kolonial kian intensif membuka daerah perkebunan baru setelah dikeluarkannya Undang-Undang Agraria pada 1870 yang memperkenankan kepemilikan tanah oleh pihak swasta.

Lalu dibukanya jalur kereta api Cianjur–Bandung pada 1884, disusul Batavia–Surabaya yang melewati Bogor, Bandung, Solo dan Yogyakarta pada 1894, makin memicu kegiatan perekonomian dan meningkatnya mobilitas penduduk. Masyarakat pribumi dari seputar keresidenan Priangan, Cirebon, Batavia, dan Palembang tergoda mencoba peruntungan di Bandung ini.

Dalam kurun waktu 10 tahun saja, jumlah penduduk yang menghuni Bandung langsung naik dua kali lipat. Sebagai gambaran, cacah jiwa penduduk Bandung pada 1896 terdiri dari 1134 orang Eropa, 2001 Tionghoa, dan Bumiputra 41393 jiwa. Seiring dengan perkembangan kota, volume investasi serta berbagai kegiatan perekonomian tumbuh di Bandung.

Lalu bagaimanakah Bank Himpunan Saudara terbentuk? Kita akan simak di tulisan selanjutnya ya! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)